LOGINHappy Reading*****"Eh, kok, malah bengong sih?" Mega menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Ari. "Bu, kok, diem aja jawab pertanyaan saya dong."Ari tak sadar dan mulai menatap aneh pada asistennya. "Kamu ini apaan, sih. Hal apa yang harus aku ceritakan terlebih dahulu padamu. Emangnya kamu siapa?""Itu, saya mendengar dari karyawan-karyawan kalau ibu sama Pak Cakra lagi menjalin hubungan serius dan mau nikah. Bener gitu, Bu?" Mega memajukan bibirnya."Kalau iya, kamu mau apa?""Ya, nggak apa-apa, sih, tapi kenapa Bu Ari nggak cerita dulu ke saya. Kemarin, ditanya malah saya nggak boleh ikut campur. Saya sebagai asisten pribadinya Bu Ari merasa tersingkir, loh." Mega mulai merajuk, persis seperti anak kecil yang kemauannya tidak dituruti oleh orang tuanya.Ari terbahak mendengar perkataan asisten pribadinya. "Memangnya, aku nyingkirin kamu? Nggak kan?""Terus kenapa Bu Ari nggak cerita ke saya duluan? Malah konfirmasi langsung di live streaming.""Ada saatnya masalah pribadi
Happy Reading*****"Semena-mena gimana maksudmu? Aku nggak mau, ya, kalau sampai ada orang yang mengatakan Aku sama mas Cakra nggak bertanggung jawab setelah kita menikah nanti. Bukankah anaknya juga anakku? Tapi, semua itu terjadi jika dia benar-benar anaknya Mas Cakra, lho, ya, setelah hasil tes keluar nantinya," kata Ari masih dengan nada sinis.Boleh minta Felicia makin membulat sempurna. Perempuan itu tak percaya Ari bisa mengatakan hal seperti tadi. Padahal rencananya jelas-jelas ingin menggagalkan pernikahan antara Cakra dengan Ari. Namun, entah mengapa, perempuan yang dipilih dan dicintai Cakra itu malah mendukung setiap perbuatan bahkan masa lalu lelaki yang dicintai Felicia. "Kamu sadar dengan perkataanmu? Cakra itu nggak sebaik yang kamu perkirakan," tanya Felicia, masih berharap hubungan Ari dan Cakra akan goyah setelah semua yang dia katakan dan fakta yang dibeberkan tadi. Ari tersenyum mendengar perkataan Felicia. "Sadar. Kenapa? Mas Cakra itu orang baik, kalau dia bu
Happy Reading*****Cakra dan Ari saling menatap satu sama lai."Kenapa gadis kecil ini mirip sekali dengan mas Cakra gema mari dalam hati"Nggak ... nggak mungkin dia anakku. Aku sama sekali nggak merasa meniduri Felicia, tapi kenapa anak ini mirip sekali denganku?" kata hati Cakra.Ari dan Cakra terus saja melihat ke arah anak kecil yang tangannya digandeng oleh Felicia. Perempuan yang kemarin mengaku-ngaku sebagai mantan kekasihnya Cakra itu menatap remeh keduanya."Kenapa? Apa kalian takut setelah melihat anak ini yang begitu mirip dengan Cakra?" tanya Felicia dengan sombong dan penuh percaya diri. Merasa diremehkan, Ari menatapnya sinis. Jelas, Ari tidak akan pernah mengakui kekalahannya pada Felicia. Perempuan yang telah dipilih oleh Cakra itu, masih sangat percaya bahwa calon suaminya tidak akan pernah melakukan hal-hal yang melanggar norma dan syariat agama."Untuk apa kami takut? Hasil tes belum diumumkan, kita juga belum melakukan tes DNA itu. Wajahnya, secara fisik memang
Happy Reading****"Nggak usah banyak nanya, deh. Lakukan apa yang aku perintahkan. Pokoknya, apa pun hasilnya kamu nggak boleh menuliskan hubungan darah antara mereka berdua. Ngerti?" Bales Ari menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang yang dihubunginya."Jangan paksa aku dong, Ar. Aku punya kode etik sendiri untuk menjaga profesiku, kamu kan tahu itu. Sebelum benar-benar menjadi dokter, aku sudah disumpah jabatan dan tidak akan melanggar kode etik itu."'Please ini demi kebaikan semua orang. Demi menyelamatkan nama baik seseorang yang akan dicemarkan.""Maksudnya?""Aku akan jelaskan nanti, untuk saat ini berjanjilah bahwa kamu akan menuruti permintaanku. Sekali ini saja, tolong."Setelah membalas pesan sahabatnya, Ari mengendarai pelukan Cakra. Menatap sang kekasih penuh kasih sayang dan rasa iba. "Aku mau mandi dulu, Mas. Aku juga udah pesan makanan untuk kita berdua. Mas Cakra kalau mau mandi ada baju cowok di kamar tamu. Pakai aja nggak papa."Cakra mengerutkan kening, bola
Happy Reading*****Bukan cuma omongan di bibir saja, Ari benar-benar menghubungi Arimbi dan meminta ijin supaya Cakra bisa menginap di rumahnya, menemani perempuan itu malam ini yang tinggal sendirian di rumah pribadinya. Begitu panggilan Ari terangkan dia pun langsung berkata, "Ma, aku mau minta izin," ucapnya ketika terdengar sapaan dari Arimbi di seberang sana."Izin apa, Ar?'Ari melirik sebentar lelaki di sebelahnya, lalu berkata, "Ma, Mas Cakra boleh nggak menemani aku di rumah malam ini?"Hening sejenak, sepertinya Arimbi tengah menimbang perkataan sang calon menantu. Mencerna semua kata-kata yang dikeluarkan si bos saat ini. Berapa detik kemudian setelah menyadari permintaan Ari yang cukup aneh, barulah perempuan paruh baya itu mengeluarkan kalimatnya, "Ini maksudnya gimana, Ar? Menemani seperti apa? Pasti Mas Cakra yang memaksamu mengatakan semua hal ini pada Mam, ya? Dasar anak nakal, belum juga sah mau macam-macam aja."Mendengar umpatan mamanya Cakra pun mengambil alih p
Happy Reading*****Melihat reaksi tak biasa sang kekasih, Ari mulai curiga. Sedikit demi sedikit, kepercayaannya pada Cakra mulai terkikis. "Mas, jujur saja. Kalaupun kamu pernah melakukannya, aku nggak masalah. Lagian, semua itu sudah menjadi masa lalu dan aku nggak akan pernah mempermasalahkannya," ucap Ari. Mengubah posisi duduknya, menyamping dan menyapa Cakra lekat. Tangan kanannya menangkup di atas tangan kiri Cakra yang masih memegang tongkat perpindahan gigi. Tatapan mata si bos sangat dalam menembus pertahanan serta kekuatan Cakra untuk tidak menceritakan apa yang dulu dia alami. "Mas, aku siap mendengar semua kebenaran itu sekarang."Cakra mengambil napas panjang. Rasanya, tidak perlu lagi dia harus menutupi semua kesalahan di masa lalu. Ari adalah perempuan yang dipilihnya untuk menemani hingga tutup usia nanti. Jadi, tidak ada alasan bagi sulung keluarga Arimbi untuk terus menyimpan rahasia itu. "Beb, Mas memang pernah berniat untuk menjalin hubungan lebih dekat denga







