ログインFara Sukma Anjani hidup dari rencana yang rapi, hingga satu proyek di sebuah resort mempertemukannya dengan Pandu Dharma, pria yang terasa tenang, dewasa, dan seperti diciptakan untuk mengisi ruang kosong di hatinya selama ini. Pertemuan yang awalnya profesional perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Bukan cinta yang meledak, melainkan yang tumbuh diam-diam di sela percakapan, tatapan, dan kebersamaan yang tak pernah mereka rencanakan. Namun, tidak semua yang terlihat utuh adalah kebenaran. Bayang Lukaku adalah kisah tentang pertemuan yang membuatmu 'pulang'.
もっと見るFara POV – Saat Ini
Saat aku membuka mata, kamarku sudah terang benderang. Cahaya matahari tanpa permisi telah masuk melalui jendela yang tirainya memang tak aku tutup sejak semalam, membuat mataku yang bengkak lebih terasa perih. Kulirik jam meja yang ada di sebelah tempat tidur, pukul sepuluh lebih lima belas.
Aku menarik kembali selimut, berusaha mengejar kembali kedamaian dengan masuk ke alam mimpi, namun suara itu mengusikku lagi. Tak jauh dari bantalku, ponselku menyala dan bersuara. Biasanya aku membisukannya, entah kenapa semalam tak aku lakukan. Mungkin karena aku terlalu rindu.
Berdesir hatiku membaca namanya lagi di layar ponsel. Sayangnya, desiran halus itu kemudian diikuti oleh rasa sakit yang bertubi-tubi hingga mataku basah. Napasku tersengal seakan ada batu besar yang menindih dadaku. Dengan satu sentuhan cepat, kutekan tombol merah untuk mengakhiri penderitaanku, meski sesaat.
Mas Pandu, meski namanya sudah menghilang dari layar, namun setelah mataku terbuka, hanya itu yang mengisi kepalaku. Mungkin karena itu, akhir-akhir ini aku sangat suka tidur. Agar ia menghilang, agar kerinduan dan rasa sakitnya tak kurasakan.
Aku menyerah, sepertinya mimpi sudah tak mau lagi menjemputku. Lagi pula perutku keroncongan, kuseret kakiku ke dapur. Masih ada sisa nasi dan telur. Tak butuh waktu lama, nasi goreng sudah tersaji di hadapanku. Setiap gerakan rasanya seperti usaha menghindari pikiranku sendiri.
Mengapa aku harus mengiyakan desakan Kamila untuk istirahat. Aku tidak sakit, aku bisa membantu Wirya untuk event product launching-nya. Atau sekedar ke kantor, ikut rapat event selanjutnya, apa saja asal tidak di rumah.
Terlalu banyak kenangan Mas Pandu di sini. Meski dia tak sering datang, namun aku masih bisa mengingat saat ia berdiri di dapur ini, membuat sendiri kopinya. Aku juga masih ingat bagaimana ia memotret kumpulan lego di atas lemari pajangan, seakan mereka adalah benda peninggalan sejarah.
Rasa sakit di dada menyadarkanku kembali. Segera kuhabiskan nasi goreng yang tinggal sedikit dan meneguk segelas air putih.
Mataku memandang sekeliling rumah. Hampir tak ada hal yang perlu aku kerjakan. Bu Rumi pasti baru datang kemarin, bahkan tong sampah pun masih terlihat bersih.
Kuambil lagi ponsel di dekat piring kosongku, berharap ada pesan yang menyuruhku keluar rumah untuk sesuatu. Dari kisi jendela memang terlihat langit agak mendung, tapi siapa peduli. Cuaca di luar tak semendung hatiku.
Mendung? Lebih tepatnya seperti habis terkena badai. Semua rusak, rapuh, nyeri. Dan semua itu karena satu orang yang saat ini fotonya aku pandangi.
Foto ini adalah satu-satunya foto kami yang tersisa. Entah mengapa aku belum bisa menghapusnya. Mungkin karena di sana kami terlihat sangat ceria, sangat ‘jatuh cinta’.
“Bodoh!” umpatku pada diri sendiri sebelum menjatuhkan kembali ponselku. Aku kembali pada piring dan gelas kotor di hadapanku, membawanya lalu mencucinya dengan seksama untuk membunuh waktu.
Siangnya, aku mandi lalu keluar rumah. Tak kupedulikan gelegar guntur yang bergemuruh. Tak kupedulikan ke mana aku akan membawa mobilku. Setidaknya, otakku berkonsentrasi pada jalanan, bukan mengingat masa lalu.
Tapi otak manusia diciptakan untuk mengingat, bukan melupakan. Entah di antara belokan jalan, atau di lagu yang aku dengar dari radio, aku masih mengingatnya duduk di belakang setir mobil ini dan aku di sebelahnya.
Bagaimana kami tertawa karena lelucon receh yang ia keluarkan, bagaimana kami bernyanyi jika ada lagu yang kami kenali di radio. Semuanya masih tergambar jelas. Tentu masih jelas, baru seminggu ini aku menolak bertemu dengannya setelah apa yang aku lihat di resort minggu lalu.
Entah apa yang ada di pikiranku, atau kaki dan tanganku memiliki memorinya sendiri, mobilku melambat dan berhenti di depan Cethik Resort. Tempat yang seharusnya aku hindari karena di sinilah semuanya diawali dan diakhiri.
Gerbang resort itu kini dihiasi dengan sepasang janur melengkung, menandakan ada perayaan yang sedang diadakan di sana. Sejak resort ini dibuka, memang sudah banyak acara yang digelar.
Tepatnya sepuluh bulan lalu, aku menerima job untuk menangani event pembukaan Cethik Resort. Event yang awalnya aku kira hanya sebuah pekerjaan biasa, ternyata menjadi awal pertemuanku dengan Mas Pandu. Resort ini menjadi saksi bagaimana seorang Fara Sukma Anjani yang gila kerja, akhirnya luluh oleh seorang pria. Namun resort ini juga menjadi saksi, bagaimana pria tersebut menghancurkan hatinya dalam satu malam.
Chapter 6Pandu POV – FlashbackTak ada satu pun yang akan datang ke Jogja untuk peresmian besok. Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak juga Lena. Bagi Papa resort ini tak lebih dari kios kecil jika dibandingkan dengan aset-asetnya yang lain. Sedangkan Mama, akan selalu berada di belakang suaminya, di mana pun itu.Untuk beberapa detik, aku hanya diam. Bukan karena terkejut, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah.Apa yang aku rasakan sekarang mirip ketika dulu tak ada yang datang saat koleksi foto-fotoku dipajang dalam sebuah pameran kontemporer. Hanya Diana yang datang bersama teman-temannya, membanggakanku sebagai kakaknya.Lena tak seperti Mama. Dia lebih mirip partner dibanding istri. Dia baru bisa keluar kota seminggu lagi. Itu pun jika salon barunya sudah cukup stabil untuk ditinggal. Dan tanpa Lena, tentu saja, tak ada Fero.Dia tangguh sebagai seorang pengusaha. Sering kulihat tatapan kagum Papa padanya. Mungkin Papa berharap Lena
Fara POV – FlashbackResort masih cukup sepi saat aku dan para tim mulai bekerja pagi ini. Hanya beberapa tamu yang sedang sarapan terlihat lalu lalang memilih menu. Belum banyak karena memang belum dibuka secara resmi.H-3 selalu menjadi fase yang rawan. Terlalu dekat untuk bersantai namun juga terlalu jauh untuk panik. Kertas layout yang aku bawa sudah penuh coretan pensil.“Fer, ikut aku.” Feri langsung menghentikan pekerjaannya lalu mengikutiku.Aku berjalan dari pintu masuk, berhenti, lalu berjalan lagi ke arah kursi VIP, dan mengulang dari awal. Feri mengikutiku tanpa banyak tanya, mereka sudah paham cara kerjaku.“Jalur VIP terlalu sempit. Kalau ada yang berhenti di sini, yang di belakang akan kebingungan.” Feri mengangguk. Kami berdiskusi singkat sebelum akhirnya sepakat.Aku sedikit jongkok menyerupai orang duduk di kursi pada beberapa titik, memastikan pandangan para tamu nantinya ke arah panggung tak terhalang apa pun. Aku tak peduli mungkin beberapa pasang mata melihat ke
Pandu POV – FlashbackPuluhan ikan koi berebut butir-butir pelet ikan yang aku tebarkan. Suara kecipak air menghiasi pagiku yang damai. Aku masih mengenakan celana pendek dan kaos semalam, bukan kemeja atau jas. Slow morning, kenyamanan yang sangat jarang aku rasakan.Menunggu jam delapan bisa terasa sangat lamban, namun jika aku menelepon terlalu pagi, Fero pasti masih mandi atau sarapan.“Halo, Fero,” sapaku setelah telepon diterima. Mbak Nani, pengasuh Fero sudah tahu jadwal kami.“Papa!” sapanya meriah dengan wajah yang memenuhi layar ponsel. “Liat ikan!” Wajah Fero menjadi terlalu dekat, hanya satu matanya yang aku lihat jelas.“Ngobrol sama Papa dulu,” kataku. Layarnya bergoyang-goyang. Lalu terlihat Fero yang sudah duduk di playmat-nya. Pasti Nani mendudukkannya.“Fero sarapan apa tadi?”“Ayam goleng.”“Habis makannya?”“Abis.” Kepalanya oleng ke kiri.Nani mengoreksi, ada wortel yang tidak Fero makan. Fero memang agak susah makan sayur, mirip Mamanya.“Papa pulang,” katanya sa
Fara POV - FlashbackEntah sudah berapa lama aku mengetukkan jariku ke penyangga tangan kursi kayu ini, namun rasanya memang sudah cukup lama. Ruangan di hadapanku masih kosong. Karyawan yang tadi menyilakanku menunggu juga belum memberi kabar apa-apa.Sialan, sudah setengah jam lebih aku di sini dan belum mendapat apa-apa. Padahal aku dan Kamila sudah membuat janji dengan Pak Nizar kemarin. Dari dulu aku paling tidak suka menunggu tanpa kepastian. Waktu adalah ukuran seberapa serius seseorang memandang sesuatu.Perusahaan event organizer kami akan menangani grand opening resort ini enam hari lagi. Semua detail sebenarnya sudah kami rencanakan sejak pertemuan pertama dengan Pak Nizar dua minggu lalu, namun hari ini aku perlu menunjukkan sesuatu padanya sebelum eksekusi akhir.Empat puluh lima menit, dan kesabaranku ikut menipis. Kuangkat punggungku yang terasa panas karena sejak tadi duduk. Aku mendekati meja sekretaris.“Bagaimana, Mbak? Apa sudah ada kabar lagi dari Pak Nizar?” Aku
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.