LOGINKetika penderitaan karena penyesalan itu tak bisa diperbaiki lagi, Sulis mendapat kesempatan kedua untuk memulai hidup baru. Berbekal pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, Sulis mulai merubah nasibnya untuk menghadapi dunia yang begitu kejam.
View MorePRANG!
Pecahan gelas terlempar kemana-mana. Sulis refleks menutup mata dan telinganya dengan kuat. Tubuhnya gemetar dan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Pecahan beling kecil terpental ke kakinya, meninggalkan goresan yang lumayan dalam di kulit. Erangannya ia tahan, ia tahu apa yang akan terjadi jika suaranya terdengar ke luar rumah. Udara di ruangan itu terasa menekan dada Sulis. Rohmat, suaminya, berdiri dengan tangan mengepal. Dadanya naik turun. Rahangnya mengeras setelah melempar gelas yang berisi kopi ke lantai. "Otak lo kemana? Itu kopi rasanya asin!" teriak Rohmat. "M-maaf, Mas. Saya salah ambil toples..." Napas Sulis tercekat, ia mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan bicaranya. "...lagian saya belum tidur Mas, jadi mata saya berkunang-kunang." Rohmat mengangkat tangannya tinggi-tinggi. PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi kiri Sulis. Saking kerasnya, Sulis sampai terjatuh ke lantai. "Alesan aja lo, sialan. Istri nggak berguna!" Rohmat meraih kerudung Sulis dan melepasnya dengan kasar, lalu mencengkram rambut Sulis dan menariknya dengan kuat. "AKH!" Kepala Sulis mengikuti tarikan tangan Rohmat. Sulis mencoba melepaskan cengkraman Rohmat dengan sisa tenaganya. Namun usaha itu sia-sia, tenaganya kalah jauh. Rohmat menarik kepala Sulis ke lantai, membuat wajah Sulis menyentuh lantai yang sudah tergenang dengan air kopi. "Nih, minum! Asin, kan!" Rohmat menekan kepala Sulis, memaksanya meminum tumpahan kopi. Sulis menyemburkan kopi yang mulai masuk ke mulutnya, menolak untuk minum. Rohmat menduduki tubuh Sulis dan memegangi kepalanya menghadap ke bawah, membuat genangan kopi itu masuk ke dalam mulut dan hidung Sulis. Sulis terus meronta, ia kesulitan bernapas. Hidungnya terasa perih karena kemasukan air. Tiba-tiba, terdengar suara pintu terbuka. Ridwan dan adiknya Riska, mendapati ibu mereka sedang di siksa oleh ayah mereka. Mereka berdua menatap lurus dari pintu depan. Karena rumah mereka hanya kontrakan kecil yang ada di kota, pemandangan itu pun menjadi yang pertama kali mereka lihat saat masuk ke rumah. Rohmat berdiri. Ia melempar kepala Sulis, melepas genggaman tangannya dari rambut istrinya itu. Sulis terbatuk dengan keras. Ia perlahan duduk sambil mengusap wajahnya yang basah dengan air kopi. Ridwan dan Riska menatap ibunya datar. Tak ada emosi, apalagi simpati, seperti sudah terbiasa melihat ibunya seperti ini. Mereka masuk dan melemparkan tas mereka ke sudut ruangan. "Udah jam segini kalian baru pulang?" ucap Rohmat bertolak pinggang. Ridwan merogoh saku celananya. "Nih, hasil judi tadi siang." Ia memberikan beberapa lembar uang kertas ke tangan ayahnya. "Hm~ lumayan. Kalo lo, Riska?" Riska memutar bola matanya malas dan berkata, "Lagi nggak ada, sepi klien." Rohmat mendekat. Ia membusungkan dada, tangannya mengepal dan tatapannya menusuk ke arah Riska. "Coba bilang sekali lagi?" Wajah Riska berubah pucat, ia mundur setengah langkah. Tubuhnya gemetar hebat, matanya menunduk takut. "Hari ini beneran nggak ada yang chat aku, Yah... Nggak ada yang mesen sama sekali." "Harusnya lo hubungin lagi si Rudi, duit dia banyak! Bikin dia puas di ranjang biar setoran lo lancar ke gue!" bentak Rohmat. Ia menarik lengan Riska dengan kasar membuat Riska meringis kesakitan. Ridwan hanya menatap datar. Ia berlalu pergi dan duduk bersandar di dinding dekat pintu. Memantik dan menghisap rokoknya lalu meniup asapnya ke udara. Riska meronta, mencoba melepaskan cengkraman ayahnya yang begitu kuat. "Gue nggak mau tau, lo hubungin si Rudi atau gue jual lo!" ancam Rohmat. Ia pun melepas genggamannya, dan berlalu pergi melewati Riska. Sulis yang masih duduk dengan napas tersengal tak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba bangkit, membersihkan wajahnya dengan kerudung dan mengusap tangannya ke gamis lusuhnya. Dengan langkah yang tertatih, ia menghampiri Riska yang masih berdiri membeku. Sulis mengulurkan tangannya, mencoba mengusap air mata anak gadisnya yang masih berusia delapan belas tahun. "Riska..." suaranya lirih, ia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Tapi... PLAK! Tangan Sulis ditepis dengan cepat oleh Riska. "Jangan sentuh gue!" Sulis menarik tangannya dan mengusap kulit yang terasa perih akibat tepisan Riska. "M-maaf, Nak. Kamu nggak pa-" "Halah!" Riska memotong perkataan ibunya yang belum selesai. "Nggak usah sok peduli!" Riska menatap tajam ibunya, menunjuk lurus tepat di depan wajah Sulis. "Nggak usah sok-sokan jadi ibu gue, karena gue nggak sudi punya ibu kayak lo!" Riska meraih lagi tas tangannya yang tadi ia lempar ke sudut ruangan, dan pergi dengan menghentakkan kaki. Sulis menekan dadanya. Rasa sakit dari tubuhnya seolah tak terasa setelah mendengar Riska tak mengakui dirinya sebagai ibu. Ridwan yang sejak tadi menyaksikan semuanya dalam diam mulai angkat suara. "Makanya jadi orang tuh yang becus..." Ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya perlahan. "...laganya pengen jadi ibu, punya otak tuh di pake!" Kaki Sulis bergetar, jantungnya berdetak dengan kencang. Darah dagingnya sendiri berani menghinanya seperti ini. Ia memandangi anak pertamanya dengan tatapan sendu, "Sebenarnya kenapa kalian begini sama ibu? Apa salah ibu?" Suaranya gemetar, kini air matanya mengalir lebih deras. Ridwan menoleh dengan ekspresi malas. "Salah lo karena lo maksa nikah sama bajingan itu! Lo gak mikir kayak apa hinaan yang gue terima?" Tiba-tiba emosi Ridwan memuncak ketika ia mengingat cacian orang-orang yang terlintas dipikirannya. Ia bangkit berdiri dan menghampiri Sulis yang sudah tak bertenaga. Sulis refleks mundur hingga tubuhnya menabrak dinding di belakangnya. Hanya tinggal beberapa sentimeter, Ridwan menatap kesal raut wajah ibunya yang lengket karena tumpahan kopi tadi. "Lo tau orang-orang menghina gue apa?" Sulis terdiam, ia memandangi mata putra sulungnya yang berkilat di bawah cahaya lampu. "Gue dihina anak haram! Lo bayangin! Masa depan gue hancur cuma gara-gara punya bapak bajingan dan status gue yang lahir diluar nikah!" Sulis menatap anaknya tanpa berkedip. Untuk kesekian kalinya, hatinya teriris oleh kenyataan yang kembali diingatkan oleh putranya. Penyesalan yang terus Sulis rasakan selama lima belas tahun terakhir begitu menyiksanya. Sulis pun menunduk malu, tak sanggup menatap anak yang ia besarkan dengan kasih sayang. Dalam keheningan sesaat itu, Ridwan mengalihkan pandangannya. Ia mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh di depan ibunya. "Ini terakhir kalinya gue ngomong sama lo..." Mata Ridwan berkaca-kaca, tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Sulis mengangkat wajahnya perlahan, menunggu kalimat yang akan dikatakan anak pertamanya itu dengan gelisah. Ridwan memandangi wajah ibunya yang kini berkerut karena dimakan usia. Lebam di pipi dan di sudut bibir, mata sayu karena lelah menangis, membuat Ridwan sedikit merasa iba. Tapi luka lamanya membuat ia hilang akal, kata-kata yang seharusnya tak ia ucapkan keluar begitu saja. "Gue berharap... gue bukan anak lo."Keesokan malamnya, Pak Andre dan Sulis diam-diam sibuk di ruang makan ketika Bu Mira sedang pergi. Kardus-kardus lama dibuka, foto-foto jadul berserakan di meja."Itu jangan dilipat, Yah!" ujar Sulis cepat saat ayahnya asal menaruh foto."Iya iya ..." Pak Andre mengangguk, ia malah gugup sendiri.Sulis menghela napas kecil. Baru kali ini ia melihat ayahnya tegang seperti murid yang takut dipanggil guru BP.Di tengah tumpukan barang, Sulis menemukan sebuah surat lusuh dengan tulisan tangan Bu Mira di sampulnya. "Mira untuk Andre." Sulis mengangkat alis. "Ayah masih nyimpen beginian?"Wajah Pak Andre langsung memerah, ia salah tingkah dan merebut suratnya cepat dari tangan Sulis. "Jangan dibaca!"Sulis malah terkekeh kecil. Untuk sesaat, suasana yang tadinya suram sedikit membaik oleh kehangatan."Nah, bagus." ucap Sulis bertolak pinggang. "Kita pakai semua ini.""Pakai buat apa?""Bikin ibu inget kalau hubungan kalian nggak dibangun sehari dua hari."Pak Andre menatap anaknya lama. Mat
Rumah itu kembali sunyi. Hanya ketegangan yang menekan, tak ada yang berani memulai pembicaraan.Napas Bu Mira memburu, tangannya masih bergetar sambil mengepal erat. Ia terus memunggungi suaminya sambil memijat kening. Langkahnya terhenti di dekat sofa, tangannya langsung berpegangan di sana.Pak Andre hanya berdiri kaku, tak bisa menyangkal. Meski begitu akhirnya ia memberanikan diri memanggil istrinya. "Bu ..."Tak ada jawaban dari Bu Mira. Satu detik. Dua detik. Hening. Bahkan Sulis yang masih berdiri di dekat pintu refleks menahan napas.Setelah Bu Mira menghela napas panjang, ia berbalik, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Kamu tahu kan apa konsekuensinya kalau kamu selingkuh?""Kamu salah paham Bu, aku belum ngapa-ngapain sama Rini!" Pak Andre maju selangkah, mencoba mendekat. "Dia yang masuk ke ruang kerja dan ngerayu aku.""Terus kenapa kamu ngumpetin cewek itu di bawah meja?" suara Bu Mira mulai bergetar."Aku nggak mau kamu berpikiran macem-macem, jadi pas kalian pergi aku
Pak Andre buru-buru membuka pintu, tampak Bu Mira sedang berjongkok merapihkan pecahan gelas di lantai. "Eh, Mas, maaf ya ganggu, tadi tanganku licin jadi gelasnya jatoh." ujar Bu Mira.Pak Andre terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk takut ketahuan. "Katanya kamu udah tidur?" pria itu asal bicara karena panik.Tangan Bu Mira mendadak berhenti bergerak, ia menoleh cepat, "Kata siapa?"Mata Pak Andre membulat, ia sudah salah bicara. "Eh ... nggak ..., biasanya kan kamu tidur jam segini."Bu Mira menyipitkan mata, "Loh, ini kan masih sore," ia bangkit setelah selesai membereskan pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah. "Biasanya kan aku bikinin Mas kopi dulu.""Nggak usah!" ujar Pak Andre cepat, suaranya sedikit meninggi, membuat Bu Mira semakin curiga. "Kenapa?""Itu ... aku ..." Mata pria itu bergetar memilih kata-kata. "... udah bikin sendiri." ucapnya gugup. Tatapan Bu Mira semakin lekat, ia melihat tangan suaminya sedikit gemetar."Kenapa Bu?" suara Sulis dari lantai atas me
Bu Mira maju dan melangkah masuk. “Rini, kamu keluar pake baju kayak gini?”Rini langsung salah tingkah. Tangan yang tadi terlipat di dada turun dengan cepat, jari-jarinya buru-buru menarik ujung tanktop tipis yang seolah bisa tiba-tiba panjang sendiri. “E-enggak keluar kok, Tante ... cuma di rumah aja,” jawab Rini cepat dengan senyum yang dipaksakan.Sulis diam memerhatikan. Dalam hati ia sudah yakin kalau ayahnya bakal marah besar. Biasanya sedikit saja bajunya terlalu pendek, Pak Andre langsung menegur panjang lebar. Bahkan pernah menyuruhnya ganti pakaian sebelum duduk makan bersama.Namun sekarang ...Pak Andre justru berjalan santai melewati mereka. Tatapannya berhenti pada Rini, dan tak lama ia berlalu pergi.Rini menangkap perubahan sikap Pak Andre dari tatapan matanya. Dibalik wajah polosnya, ia mulai merencanakan sesuatu.Sulis mengernyit kecil, wajahnya terlihat jelas keheranan. Sikap tak biasa ayahnya menganggu pikirannya.Bu Mira menghela napas pelan. “Bukan masalah kelua






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews