LOGINSonny mengirimkan video rekaman CCTV kepada Kyna. Itu adalah video yang sengaja dihapus Wiranto.Kyna merasa terkejut dan bingung. "Kok kamu bisa mendapatkannya?""Aku punya cara sendiri. Kamu nggak usah peduli soal itu." Sonny berpikir sejenak lalu melanjutkan, "Yang penting kamu tahu siapa pelakunya. Aku akan mengurus sisanya." Kyna menatapnya. "Jangan bilang kamu minta izin di sore hari untuk melakukan hal ini?" Sonny tersenyum, tetapi tidak menjawab."Sonny ...." Kyna merasa suaranya sedikit serak. Dia berdeham, lalu berusaha agar suaranya terdengar tenang. "Gimana sebenarnya kamu mendapatkannya? Aku nggak mungkin benar-benar nggak peduli dan diam saja."Sonny terlihat sedikit tidak berdaya, lalu menjawab, "Sistem keamanan sekolah punya celah, aku temukan cara untuk masuk dan ambil data asli yang sudah dihapus." Kyna pun terkejut. "Kamu meretas sistem keamanan sekolah? Kok kamu bisa melakukan itu? Kamu .... Bukannya kamu murid jurusan IPS? Kapan kamu belajar ilmu komputer?""Kam
Seusai berbicara, Ariel berlari lagi. Dia benar-benar terluka dan sakit hati atas apa yang dialami Kyna hari ini, juga atas persahabatannya dengan Aldrian.Melihat Ariel seperti itu, Kyna juga merasa sangat sakit hati. Jadi, dia segera turun. Dia bertemu dengan Ariel yang berlari ke arahnya dari sisi gedung pengajaran. Ariel sangat terkejut saat melihat Kyna. Kemudian, dia menyeka air matanya dengan buru-buru karena tidak ingin Kyna melihatnya menangis. Namun, makin diseka, makin banyak pula air mata yang mengalir.Kyna merasakan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya, sejak kembali ke dunia ini, usia mentalnya berbeda dari Ariel dan yang lain. Dia tidak lagi memiliki masa muda yang penuh semangat, ataupun kebebasan untuk tertawa dan menangis seperti mereka.Dari Anara yang menyebarkan rumor tentangnya hari ini, saat dirinya hampir ditindas di kamar mandi, hingga Aldrian yang menghilang seharian dan membela Anara, Kyna tidak merasakan gejolak emosi yang besar. Dia tidak marah, bahkan tid
Sekarang hanya sekitar sepuluh menit sebelum sesi belajar mandiri malam. Ariel khawatir tentang Kyna dan menemaninya sampai ke kelas. Tempat duduk Kyna minggu ini berada di dekat jendela. Jendela tertutup, dan Kyna merasa sedikit pengap. Dia pun ingin membuka jendela untuk menghirup udara segar. Pada saat itulah, dia melihat pemandangan di bawah. Dia tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Hanya saja, terlihat Anara berdiri di depan Aldrian sambil menyeka air mata."Jangan bilang si idiot itu ditipu sama Anara lagi?" Ariel berbalik dan berlari keluar. Dia bahkan mengabaikan panggilan Kyna.Di bawah pohon, kedua orang itu tetap saling berhadapan. Entah apa yang mereka bicarakan, Anara tiba-tiba menerjang ke pelukan Aldrian.Kyna tidak ingin lanjut menonton dan hendak duduk. Namun, dia tiba-tiba mendengar seruan keras dari bawah, "Apa yang kalian lakukan? Apa kalian nggak tahu malu?"Itu suara Ariel .... Gadis itu benar-benar berlari sangat cepat.Mendengar seruan itu, keduanya se
Ariel menggenggam erat ponsel Yunita dan langsung membuka WhatsApp-nya. Dia menemukan riwayat obrolan dengan seseorang yang bernama "Narachan", lalu memutar pesan suaranya satu demi satu."Yunita, jangan takut. Ibuku sudah minta bantuan Pak Wiranto. Nggak ada seorang pun di sekolah ini yang akan menyentuhku. Lakukan saja apa yang kukatakan. Setelah urusannya selesai, perhiasan Van Cleef & Arpels itu akan kuberikan padamu."Di bawah pesan suara itu, terdapat bukti transfer uang 36 ribu dengan catatan "traktiran minum teh susu".Mendengarkan pesan suara itu, Kyna akhirnya mengerti kenapa Wiranto mencegahnya untuk melapor polisi. Sepertinya dugaannya benar. Insiden papan pengumuman itu adalah ulah Anara.Ariel juga terkejut untuk beberapa saat ketika mendengar nama "Pak Wiranto", tetapi dia segera mengarahkan kamera ke layar ponsel. Dia merekam seluruh riwayat obrolan yang menyebutkan "Pak Wiranto" dengan jelas dan detail transfer. Dia bahkan merekam dua kali, sekali dengan memutar pesan
Kamar mandi umum terdiri dari bilik-bilik individu yang ditutupi tirai. Kyna sudah selesai mandi dan mematikan air. Baru saja dia hendak mengambil handuk, tirai kamar mandi tiba-tiba terbuka.Lima atau enam orang telah berkumpul di luar tirai. Gadis yang berada di paling depan mengangkat ponselnya dan langsung mengarahkan kamera ke arah Kyna. Senyum jahat terukir di wajahnya. "Semuanya, ayo lihat seperti apa tampang pemenang peringkat atas pidato sekolah kita waktu mandi!"Kyna langsung membeku."Kulitnya putih juga! Sama putihnya dengan foto di papan pengumuman pagi ini. Hahaha!" Gadis itu mendekatkan ponselnya dan memancing tawa dari para pengikutnya."Ambil foto yang lebih jelas!" ejek orang lain.Kyna menutupi dirinya dengan handuk, lalu mengamati mereka dengan dingin."Buat apa sok suci? Bukannya semua orang di sekolah sudah melihat fotomu?" Gadis yang berada di paling depan menjadi makin angkuh karena Kyna masih diam.Tepat saat Kyna selesai membungkus diri dengan handuk dan hen
Wiranto akhirnya tidak mampu menghentikan tekad Kyna dan Melisa untuk menghubungi polisi. Melisa sendiri yang menelepon polisi di kantor Wiranto.Polisi merespons dengan cepat. Seperti yang dikatakan Melisa, para murid laki-laki itu sudah kembali ke kelas sebelum jam belajar mandiri pagi berakhir. Semua yang ditempel di papan pengumuman akhirnya dibawa pergi polisi sebagai bukti.Ketika polisi selesai mengambil keterangan, pelajaran pertama bahkan belum berakhir. Setelah polisi pergi, tatapan Wiranto ke arah Kyna dan Melisa membuat Kyna merasa bahwa Melisa mungkin tidak akan mendapatkan promosi tahun ini."Pak Wiranto, aku akan antar Kyna kembali ke kelas sekarang. Terima kasih," ucap Melisa sambil menarik lengan Kyna dan bersiap untuk pergi.Wiranto tidak mengatakan apa pun, juga tidak mencoba menghentikan mereka. Setelah mereka pergi, dia hanya menelepon kantor urusan akademik dan meminta mereka untuk mengundang orang tua ke sekolah. Meskipun masalah ini sudah melibatkan orang tua, k
"Luar biasa!" ejek William."Lalu, untuk apa kamu bekerja?" balas Naldo."Apa yang kita katakan waktu itu? Untuk bisa menegakkan kepala, sukses, dan lebih unggul dari orang lain!" jawab William."Jadi, apa yang membuatmu begitu nggak fokus hari ini?" tanya Naldo. "Jangan-jangan, kamu bertengkar sama
Kemudian, Anara memperhatikan kalung di leher Kyna dan menggeleng. Dia menghela napas berulang kali sebelum berujar, "Kalungmu ini juga. Di luar, kamu mewakili reputasi Aldri. Bisa-bisanya kamu pakai kalung imitasi seperti itu! Kalung itu sudah hampir berkarat, lho! Memangnya kamu nggak takut memper
Satpam itu menatap Anara dan menyahut, "Kalau begitu, kami justru nggak boleh biarkan kamu pergi. Gimana kalau terjadi sesuatu padamu di jalan? Kami akan hubungi ambulans untukmu." 'Apanya yang panggil ambulans!' umpat Anara dalam hati. Memanfaatkan kelengahan para satpam, dia bergegas keluar dan b
Nelly mendengus dingin dan tidak membantah.Anara masih menangis. Jadi, Naldo mendesaknya, "Cepat kemasi barang-barangmu, mereka akan mulai kerja lagi." Anara memaki Naldo "pecundang" dalam hati. Namun, melihat Nelly dan staf perusahaan pindahan yang berdiri di sana seperti malaikat pencabut nyawa







