Se connecterAruni, Gadis manis kesayangan papanya. Harus menerima kenyataan, mendapatkan keluarga baru dan tinggal di rumahnya. Nyonya Gina, dan putrinya Jenny yang tengah hamil. Karena kecelakaan, Jenny mati. Tapi Aruni yang harus menanggung kesalahan kecelakaan itu. Merawat bayi Jenny. Saat Nyonya Gina mengadu pada Aster, suami Jenny. Pria tampan, arogan, dan tempramental Semuanya berubah.💞
Voir plusMobil Raka berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Aruni. Hari sudah beranjak malam, dan lampu jalanan menyorotkan bayangan panjang di atas aspal."Terima kasih untuk hari ini, Rak. Benar-benar hari yang melelahkan tapi luar biasa," kata Aruni sambil melepas sabuk pengaman.Raka tersenyum dari balik kemudi, ekspresinya hangat. "Sama-sama. Ingat, CEO, istirahatlah. Besok kita punya agenda besar untuk kampanye transparan itu. Jangan memikirkan Aster dulu, oke?"Aruni mengangguk, lalu melangkah keluar. Ia sempat melambaikan tangan sebelum Raka memutar balik mobilnya. Begitu ia memasuki pekarangan, suasana sunyi menyambutnya. Rumah itu tampak megah, namun malam ini terasa begitu dingin dan hampa. Lampu-lampu kristal di ruang tamu tidak dinyalakan, hanya ada beberapa lampu sorot kecil yang menerangi koridor utama.Gelap, pikirnya. Aster tidak ada di rumah.Aruni berjalan pelan menuju kamar Abam. Pintu kamarnya sedikit terbuka, dan dari celah itu ia bisa melihat lampu tidur berwarn
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar Aruni. Tidak ada suara alarm yang melengking paksa, karena Aruni sudah terjaga bahkan sebelum jarum jam menunjukkan pukul tujuh. Ia merasa segar, sebuah sensasi yang sudah lama absen dari rutinitasnya.Tepat pukul sembilan, klakson mobil Raka terdengar di depan pagar. Aruni segera meraih tasnya, memastikan dokumen strateginya tersusun rapi. Saat ia masuk ke kursi penumpang, aroma kopi americano memenuhi kabin mobil Raka."Tepat waktu. Nice," sapa Raka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Ia terlihat rapi dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku. "Sudah siap buat 'tes' hari ini?"Aruni menyesap kopi yang disodorkan Raka. "Tes apa? Tes mental atau tes operasional?""Keduanya," jawab Raka santai. "Kita bakal bertemu orang-orang yang dulu mungkin meremehkan Aruni Glow karena mereka pikir kamu cuma 'istri Aster'. Hari ini, mereka bakal tahu kalau kamu adalah CEO yang bicara dengan data, bukan dengan koneksi suami."Arun
Langkah Aruni terasa ringan, meski dadanya masih menyisakan sisa-sisa debu emosi dari percakapannya dengan Aster. Ia tidak segera memanggil taksi daring. Ia memilih berjalan kaki menuju halte terdekat, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menyapu wajahnya."Rapuh, ya?" gumamnya pelan, mengulang judul bab kehidupan yang sedang ia jalani di dalam kepalanya sendiri. "Lucu sekali. Selama ini aku pikir akulah yang rapuh, ternyata suamiku pun punya retakan yang sama dalamnya."Ponsel di tasnya bergetar lagi. Bukan Aster, melainkan Raka. Sebuah pesan singkat masuk: Jangan lupa, besok jam 9 pagi kita ke kantor distributor. Jangan begadang mikirin masa lalu, Aruni. Fokus ke masa depan.Aruni tersenyum. Raka adalah tipe orang yang tidak perlu banyak bicara untuk memberikan rasa aman. Ia tidak menawarkan janji manis, tapi ia memberikan kepastian logis.Tiba-tiba, sebuah mobil sedan perak berhenti tepat di samping trotoar tempat Aruni berjalan. Kaca jendela turun, menampakkan wajah Rak
Raka berjalan di samping Aruni menuju parkiran, langkah mereka serempak. Aruni masih merasakan sisa-sisa adrenalin yang bergejolak di dadanya. Tangannya yang memegang tas sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa ia bisa—dan mampu—menutup pintu bagi Aster."Kamu tadi keren banget," celetuk Raka, memecah keheningan saat mereka sampai di dekat mobil Raka.Aruni tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih tulus. "Keren? Aku merasa lebih seperti sedang berakting di drama Korea kelas dua. Tapi, entahlah, Rak. Aku capek. Capek harus pura-pura kalau semuanya baik-baik saja."Raka bersandar pada badan mobilnya, menatap Aruni dengan pandangan teduh. "Kamu nggak harus pura-pura. Kamu tahu kan, di dunia kedokteran, luka yang dibiarkan terus menerus tanpa dibersihkan bakal infeksi? Begitu juga perasaanmu.""Dan kamu sedang menawarkan diri jadi antiseptiknya?" tanya Aruni dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang mulai berat."Aku cuma teman
Malam itu berlalu dengan sisa-sisa tawa Abam yang masih terngiang di ruang makan. Martabak cokelat kacang keju sukses menjadi "penengah" yang manis di antara ketegangan tersembunyi Aruni dan Aster. Namun, bagi Aruni, tidur malamnya tidak senyaman biasanya. Bayangan tatapan lembut Aster terus berput
Aruni meletakkan tas kerjanya di atas meja makan, lalu menarik napas panjang, menghirup aroma kopi sisa tadi pagi yang masih tertinggal tipis di udara. Ia menoleh ke arah Aster yang masih berdiri mematung di dekat pintu geser menuju taman belakang. Pria itu tampak seperti prajurit yang baru saja mem
Aruni tidak pulang ke rumah. Ia memacu mobilnya menuju sebuah apartemen kecil miliknya yang selama ini ia sewakan, namun kebetulan sedang kosong. Ia butuh ruang. Ia butuh oksigen yang tidak berbau parfum mahal Aster yang menyesakkan.Baru saja ia meletakkan tasnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan
Aruni melepaskan pegangan tangan Aster dengan perlahan namun tegas. "Satu kesempatan, Aster. Tapi bukan berarti semuanya kembali seperti dulu. Sekarang, obati lukamu. Aku tidak mau Abam takut melihat wajah ayahnya besok pagi."Tanpa menunggu balasan, Aruni melangkah pergi. Ia memilih menenggelamka
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.