āđāļāđāļēāļŠāļđāđāļĢāļ°āļāļAruni, Gadis manis kesayangan papanya. Harus menerima kenyataan, mendapatkan keluarga baru dan tinggal di rumahnya. Nyonya Gina, dan putrinya Jenny yang tengah hamil. Karena kecelakaan, Jenny mati. Tapi Aruni yang harus menanggung kesalahan kecelakaan itu. Merawat bayi Jenny. Saat Nyonya Gina mengadu pada Aster, suami Jenny. Pria tampan, arogan, dan tempramental Semuanya berubah.ð
āļāļđāđāļāļīāđāļĄāđāļāļīāļĄPresentasi Aruni di depan para investor di Kuala Lumpur berjalan mulus bak air mengalir. Ia tampil bukan sekadar sebagai CEO, melainkan sebagai seorang visioner yang memahami pasar kecantikan dengan kedalaman emosional. Ia tidak menjual produknya sebagai sekadar barang untuk mempercantik wajah, tetapi sebagai bentuk penghargaan bagi wanita untuk merawat diri sendiri.âRuangan konferensi yang tadinya terasa dingin dan kaku perlahan mencair. Tepuk tangan meriah yang menyambutnya di akhir sesi bukan sekadar formalitas. Aruni melihat ketertarikan nyata di mata para calon mitra bisnisnya. Sepanjang sisa hari itu, jadwalnya dipenuhi dengan meeting meja makan, pertukaran kartu nama, hingga negosiasi kontrak yang jauh lebih menguntungkan dari yang ia bayangkan sebelumnya.âKetika hari terakhir di Kuala Lumpur tiba, Aruni duduk di tepi tempat tidur hotelnya sambil menatap angka-angka di layar tablet. Ia baru saja menandatangani kontrak eksklusif yang akan memperluas jaringan distribusi Aruni G
Suara pengumuman kapten pilot yang menyatakan bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur membangunkan Aruni dari tidur singkatnya yang tidak tenang. Ia mengerjapkan mata, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya kabin yang mulai menyala terang. Perasaan lega yang sempat ia rasakan akibat pesan Aster tadi perlahan bercampur dengan sisa-sisa kecemasan yang tertinggal di alam bawah sadar.âSaat roda pesawat berciuman dengan landasan pacu, Aruni menarik napas panjang. Ia merapikan penampilannya di cermin kecil yang ia bawa. Ia melihat pantulan dirinya sendiriâmata yang sedikit bengkak, sisa maskara yang hampir tak terlihatâtapi ia menegakkan bahu. Ia adalah Aruni, CEO yang dihormati, wanita yang telah membangun kerajaan bisnis kecantikan dari nol. Ia tidak akan membiarkan bayangan seorang Cassandra meruntuhkan profesionalismenya di negeri orang.âKeluar dari bandara, udara malam Kuala Lumpur menyambutnya dengan kehangatan yang berbeda dari Jakarta. Aruni seger
Langkah kaki Aruni terasa begitu berat, seolah lantai Terminal 3 yang mulus itu mendadak berubah menjadi hamparan lumpur isap yang menahan setiap pergerakannya. Ia tidak menoleh ke belakang, meski telinganya menangkap sayup-sayup suara tawa Cassandra yang melengking, kontras dengan deru mesin pesawat dan hiruk-pikuk bandara.âKenapa dia harus datang sekarang? Dan kenapa harus di saat aku sedang sangat rapuh? batin Aruni.âPikirannya melayang pada sosok Cassandra. Siapa yang tidak kenal wanita itu? Wajahnya menghiasi cover majalah, layar kaca, hingga papan reklame raksasa di sepanjang jalan protokol. Aruni menyadari posisinya sebagai pengusaha yang sibuk, tapi jauh di lubuk hatinya, rasa tidak percaya diri itu muncul tanpa diundang. Cassandra begitu memukau, begitu percaya diri, sementara dirinya? Aruni hanya wanita yang terlalu sibuk dengan tumpukan berkas dan riset formula produk.â"Mbak, silakan kartu identitas dan boarding pass-nya," suara petugas imigrasi membuyarkan lamunannya.â
Suasana hangat di dalam mobil terbawa hingga ke dalam rumah. Begitu melangkah masuk, Aruni langsung disambut oleh tumpukan berkas berkover logo Aruni Glow di meja kerjanya. Euforia keberhasilan menembus pasar ASEAN seketika berubah menjadi alarm kesibukan. Sesuai jadwal yang baru saja dikonfirmasi oleh asistennya lewat telepon, sore ini juga Aruni harus terbang ke Kuala Lumpur untuk menghadiri penandatanganan memorandum kesepahaman (MoU) dengan para distributor Malaysia.âDi kamar, Aruni tampak sibuk mondar-mandir memasukkan pakaian formal, laptop, dan beberapa sampel produk ke dalam koper kecilnya. Aster bersandar di pintu kamar sambil menggendong Abam yang sibuk mengemut mainan karetnya.â"Ni, yakin nggak ada yang ketinggalan? Paspor? Charger? Skincare andalan kamu?" tanya Aster memastikan.â"Udah semua kok, Mas. Ini lagi aku cek ulang dokumen dari tim legal," sahut Aruni tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Aduh, Mas, jujur aku deg-degan banget. Ini pertama kalinya aku lepa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.