MasukAruni, Gadis manis kesayangan papanya. Harus menerima kenyataan, mendapatkan keluarga baru dan tinggal di rumahnya. Nyonya Gina, dan putrinya Jenny yang tengah hamil. Karena kecelakaan, Jenny mati. Tapi Aruni yang harus menanggung kesalahan kecelakaan itu. Merawat bayi Jenny. Saat Nyonya Gina mengadu pada Aster, suami Jenny. Pria tampan, arogan, dan tempramental Semuanya berubah.💞
Lihat lebih banyak"Kau tidak akan selamat, saat Aster kembali. Dia tak akan membiarkan kau hidup!"
Teriak Nyonya Gina pada Aruni. Yang masih duduk bersimpuh. Menangis sambil mendekap putra dari Jeny, yang baru saja meninggal dunia. Akibat kecelakaan, malam tadi. Hatinya masih kalut dan tak bisa menerima kenyataan jika putri kesayangannya telah tiada. Siapa lagi yang harus dia salahkan sebagai kambing hitam, demi untuk keselamatannya sendiri. Bagaimana dia harus bertanggung jawab pada Aster, yang pada saat ini dalam perjalanan pulang menuju kemari dari Amerika. "Tapi, bukan aku penyebab kecelakaan Jeni, tante. Itu karena malam itu dia mabuk. Aku sudah memperingatkannya agar dia tidak usah keluar lagi. Bahkan berulang kali menelponnya, agar dia kembali. "Tutup mulut kotormu itu, gadis hina!" Bentak nyonya Gina lagi. Tak terima jika Aruni terus membela dirinya. "Kau yang akan bertanggung jawab atas penderitaanku, kehilangan putriku satu-satunya." Tapi Nyonya Gina tak menampakan gurat sedih pada wajahnya. Hanya terus saja menyalahkan Aruni. Nyonya Gina kemudian berlalu pergi meninggalkan Aruni sendirian di ruangan itu. Selama ini Aruni sudah tak tahan dengan perlakuan nyonya Gina dan Jeni dalam rumah ini. Sedang papanya hanya sibuk dengan dunia bisnisnya. Pergi dari satu pulau ke pulau yang lain. Yang entah sampai kapan dia akan kembali. Aruni ingin kembali bebas seperti dulu lagi. Menjadi gadis yang berprestasi dengan banyak bakat. Merasakan cinta kasih papanya, tanpa terus terus disalahkan dan disudutkan. Sejak Jeni melahirkan Bayi Abram, semua tanggung jawab mengurus bayi itu ada di tangan Aruni. Sedang Jeni masih terus kelayapan ke club setiap malam bersama teman-temannya. Dia begitu bebas, karena suaminya tinggal jauh di luar negri. Kini suaminya kembali, hanya karena dia telah meninggal dunia. "Ini dia, gadis penyebab istrimu meninggal nak." Tunjuk nyonya Gina pada seorang pria yang sedang berdiri. Dia dan tante Gina baru masuk kembali di ruang tengah menemui Aruni yang masih tak bergeming dari tempat dia bersimpuh. Beruntung bayi Abam, tak rewel, dia tetap nyaman tertidur dalam dekapan Aruni. Pria yang bersama tante Gina memandang lekat wajah Aruni, dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelan jas mahal, buatan desainer kelas atas tak mampu menutupi aura maskulinnya, tubuh tinggi tegap dan kekar semakin menambah kesan, dia pria seperti mahakarya patung porselin dewa Yunani. Aster menunduk, dan menjentikan jari telunjuknya pada dagu Aruni. "Ikut aku!" Perintahnya dingin. Namun, karena kondisi Aruni terlalu lemah dia masih belum sanggup untuk berdiri. "AKU BILANG, IKUT AKU. SEKARANG JUGA," teriak Aster dengan suara bariton menggelagar dalam ruangan itu, yang sanggup membuat Aruni tersentak kaget. Serta bayi Abam, juga ikut kaget dan menangis. Tatapan tante Gina terlihat girang, menyaksikan Aruni yang ketakutan seperti itu. Dalam hatinya berbicara, ini baru permulaannya gadis sial. Kau akan merasakan pembalasanku, melalui kebencian Aster pada dirimu. Lalu tante Gina berlalu pergi. Membiarkan Aster membawa Aruni menuju ke kamar tamu. Aruni mengikuti langkah pria arogan yang baru saja membentak dirinya. Dalam hatinya masih penuh dengan tanya apa salah dan dosanya hingga dia harus menerima perlakuan buruk pria ini padanya. "Letakan bayi itu di ranjang." Tanpa menunggu lama Aruni langsung melakukan perintah pria itu. Takut jika pria itu akan berteriak lagi. Sambil duduk dan kemudian menyalakan rokok, pria itu menatap Aruni yang sedang memegang ujung bajunya. Tidak ada tatapan rasa bersalah di dalam dirinya. Hanya wajah polos tanpa polesan make up, tapi tidak bisa disangkal juga wajah cantik Aruni yang putih bersih dan mulus. "Apa yang sudah kau lakukan pada Jeni? Begitu hebatnya kamu hingga membuat Jeni kecelakaan dan kini kau membuat putra kami kehilangan seorang ibu?" "Bagaimana kau harus bertanggung jawab atas perbuatannmu itu, huh?" Pria itu menekan Aruni. Seolah-olah disini benar dialah yang membunuh Jeni dengan sengaja. Aruni sangat yakin, tante Gina pasti sudah banyak menceritakan kebohongan pada pria ini. "JAWAB!" Mungkin pria ini tak bisa hidup bila tak berteriak dan membentak orang lain, Aruni menjadi kesal dalam hati tapi enggan memperlihatkan kekesalannya itu. Sikap kasar dan arogan, tak tau cara memperlakukan wanita dengan baik dan sopan. "Jika kamu terus menutup mulutmu. Aku akan menjahit mulutmu hingga kamu tak bisa berbicara lagi seumur hidupmu." Desaknya lagi. "Aku sangat tak suka, jika apa yang aku perintahkan tak digubris. Apalagi oleh gadis lemah seperti kamu." Kini nada bicara pria itu melunak, namun penuh dengan tersirat ancaman mematikan bagi Aruni. Aruni mematung di tempatnya, sedang Aster masih menunggu jawabannya. Seorang pengawal masuk ke kamar itu, membawakan sebuah kotak, lalu memberikannya pada Aster. Aster dengan tenang membuka kotak itu, mengambil sebuah jarum dan benang operasi dan mulai menyimpulkannya. Kemudian mata Aster menuju pada kedua pengawalnya lagi. Seakan mengerti instruksi bosnya, kedua pria itu mendekati Aruni. Lalu menggenggam kedua tangan Aruni, dan membuat Aruni berlutut di bawah lantai. Perlahan, Aster mendekati Aruni dengan jarum tangannya. Langkahnya pelan tapi pasti. Hati Aruni mulai ketakutan, apakah pria ini akan berani untuk melakukan kejahatan padanya. Selama ini perlakuan buruk Jeni dan tante Gina sudah sangat keterlaluan pada dirinya. Dan kini dia harus menerima kejahatan pria asing ini? Tangan pria itu sudah mulai menyentuh bibir Aruni. Perlahan bergerak memajukan jarum itu pada bibirnya. "MENIKAHLAH DENGAN AKU. LALU PERLAKUKAN AKU DENGAN BAIK. MAKA AKU AKAN SEPENUH HATI MENCINTAI PUTRAMU ITU." Jawab Aruni dengan lantang dan suara yang cepat, sambil menutup matanya. Masih tak berani memikirkan kegilaan apa yang akan diperbuat oleh pria jahat di depannya ini. Yang pasti dia sedang tidak bermain-main dengan ancamannya. Aster tersenyum miring. Tak menyangka dengan jawaban berani dari gadis yang dia sebut lemah ini. "Menarik," bisiknya dengan tatapan tajam mata elangnya. Seolah sedang menusuk jantung Aruni.Mobil Raka berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Aruni. Hari sudah beranjak malam, dan lampu jalanan menyorotkan bayangan panjang di atas aspal."Terima kasih untuk hari ini, Rak. Benar-benar hari yang melelahkan tapi luar biasa," kata Aruni sambil melepas sabuk pengaman.Raka tersenyum dari balik kemudi, ekspresinya hangat. "Sama-sama. Ingat, CEO, istirahatlah. Besok kita punya agenda besar untuk kampanye transparan itu. Jangan memikirkan Aster dulu, oke?"Aruni mengangguk, lalu melangkah keluar. Ia sempat melambaikan tangan sebelum Raka memutar balik mobilnya. Begitu ia memasuki pekarangan, suasana sunyi menyambutnya. Rumah itu tampak megah, namun malam ini terasa begitu dingin dan hampa. Lampu-lampu kristal di ruang tamu tidak dinyalakan, hanya ada beberapa lampu sorot kecil yang menerangi koridor utama.Gelap, pikirnya. Aster tidak ada di rumah.Aruni berjalan pelan menuju kamar Abam. Pintu kamarnya sedikit terbuka, dan dari celah itu ia bisa melihat lampu tidur berwarn
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar Aruni. Tidak ada suara alarm yang melengking paksa, karena Aruni sudah terjaga bahkan sebelum jarum jam menunjukkan pukul tujuh. Ia merasa segar, sebuah sensasi yang sudah lama absen dari rutinitasnya.Tepat pukul sembilan, klakson mobil Raka terdengar di depan pagar. Aruni segera meraih tasnya, memastikan dokumen strateginya tersusun rapi. Saat ia masuk ke kursi penumpang, aroma kopi americano memenuhi kabin mobil Raka."Tepat waktu. Nice," sapa Raka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Ia terlihat rapi dengan kemeja biru muda yang digulung sampai siku. "Sudah siap buat 'tes' hari ini?"Aruni menyesap kopi yang disodorkan Raka. "Tes apa? Tes mental atau tes operasional?""Keduanya," jawab Raka santai. "Kita bakal bertemu orang-orang yang dulu mungkin meremehkan Aruni Glow karena mereka pikir kamu cuma 'istri Aster'. Hari ini, mereka bakal tahu kalau kamu adalah CEO yang bicara dengan data, bukan dengan koneksi suami."Arun
Langkah Aruni terasa ringan, meski dadanya masih menyisakan sisa-sisa debu emosi dari percakapannya dengan Aster. Ia tidak segera memanggil taksi daring. Ia memilih berjalan kaki menuju halte terdekat, membiarkan angin malam Jakarta yang lembap menyapu wajahnya."Rapuh, ya?" gumamnya pelan, mengulang judul bab kehidupan yang sedang ia jalani di dalam kepalanya sendiri. "Lucu sekali. Selama ini aku pikir akulah yang rapuh, ternyata suamiku pun punya retakan yang sama dalamnya."Ponsel di tasnya bergetar lagi. Bukan Aster, melainkan Raka. Sebuah pesan singkat masuk: Jangan lupa, besok jam 9 pagi kita ke kantor distributor. Jangan begadang mikirin masa lalu, Aruni. Fokus ke masa depan.Aruni tersenyum. Raka adalah tipe orang yang tidak perlu banyak bicara untuk memberikan rasa aman. Ia tidak menawarkan janji manis, tapi ia memberikan kepastian logis.Tiba-tiba, sebuah mobil sedan perak berhenti tepat di samping trotoar tempat Aruni berjalan. Kaca jendela turun, menampakkan wajah Rak
Raka berjalan di samping Aruni menuju parkiran, langkah mereka serempak. Aruni masih merasakan sisa-sisa adrenalin yang bergejolak di dadanya. Tangannya yang memegang tas sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa ia bisa—dan mampu—menutup pintu bagi Aster."Kamu tadi keren banget," celetuk Raka, memecah keheningan saat mereka sampai di dekat mobil Raka.Aruni tersenyum tipis, kali ini senyumnya lebih tulus. "Keren? Aku merasa lebih seperti sedang berakting di drama Korea kelas dua. Tapi, entahlah, Rak. Aku capek. Capek harus pura-pura kalau semuanya baik-baik saja."Raka bersandar pada badan mobilnya, menatap Aruni dengan pandangan teduh. "Kamu nggak harus pura-pura. Kamu tahu kan, di dunia kedokteran, luka yang dibiarkan terus menerus tanpa dibersihkan bakal infeksi? Begitu juga perasaanmu.""Dan kamu sedang menawarkan diri jadi antiseptiknya?" tanya Aruni dengan nada bercanda, berusaha mencairkan suasana yang mulai berat."Aku cuma teman
Jeni tertawa renyah, suara tawanya yang nyaring terasa sangat sumbang di tengah heningnya ruang tengah yang mendadak mencekam. Ia melangkah anggun, memutari Aster seperti predator yang sedang mengamati mangsanya yang sudah terpojok."Kunci? Pintu yang mengurungku?" Jeni mengulang kata-kata Aster d
Langkah Aruni terasa berat saat ia menaiki tangga menuju kamar. Setiap derap langkahnya di anak tangga kayu itu terasa seperti sedang menghitung sisa waktu yang ia miliki sebelum benar-benar harus melepaskan kenyamanan yang selama ini ia bangun bersama Aster. Di dalam kamar, ia segera membuka lem
Langkah kaki Jeni yang menjauh menyisakan keheningan yang menyesakkan di ruang keluarga. Aster masih berdiri di sana, mematung, sementara Papa Handi terduduk lemas di sofa kulitnya, memijat pelipis yang terasa berdenyut hebat."Dia benar-benar sudah berubah, Aster," gumam Papa Handi pelan, matanya
Mesin mobil sport Aster menderu halus, membelah jalanan kota yang mulai lengang. Di dalam kabin, suasana yang tadinya penuh dengan rencana masa depan Aruni tentang kuliah kedokteran, kini berubah menjadi hening yang mencekam. Aster sesekali mencuri pandang melalui spion tengah, memperhatikan Aruni






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.