تسجيل الدخولHari ini, Aldrian benar-benar terpaku pada buku catatan Kyna. Sambil mengangkatnya, dia menyuruh Kyna melihatnya dengan saksama. "Lihat kalimat ini dan baca dengan lantang!" Kyna tetap diam."Kyna, asal kamu tahu, semuanya sudah terlambat. Kamu yang mulai permainan ini, tapi bukan kamu yang bisa tentukan kapan permainan ini berakhir.""Baca!" Baiklah, pria ini benar-benar sudah gila hari ini ...."Umm ...." Kyna berkata dengan terbata-bata, "Jangan pernah ... menyukai ... Aldrian ...." Mendengar Kyna mengucapkannya dengan lantang, Aldrian tertawa kesal. "Aku nggak peduli apa yang kamu pikirkan saat menulis kalimat itu. Aku akan beri tahu kamu sekarang, kamu yang duluan menggodaku. Setelah aku menyerah, kamu yang kembali menggodaku, melarangku melakukan ini dan itu. Setelah menggodaku, kamu mau melarikan diri lagi. Itu nggak mungkin." Aldrian merobek halaman itu sedikit demi sedikit, sampai hancur berkeping-keping."Tunggu, Aldrian ...." Kyna merasa perlu mengklarifikasi semuanya. "
"Persetan dengan nggak penting!" Aldrian benar-benar mengumpat. "Apa yang kulakukan dengan Anara nggak penting bagimu, 'kan?"Kyna pun terdiam. Kenapa topiknya melenceng? "Kalau nggak penting, kenapa kamu datang ke hadapanku sambil menangis? Kenapa kamu bilang nggak suka melihatku bersamanya? Kenapa kamu rebut kuota kontes pidato? Kenapa kamu bersikeras mengusirnya dari restoranku? Kenapa kamu meremas pahaku seperti orang mesum ....""Tunggu!" Setelah Aldrian menyebutkan daftar panjang "kejahatan" Kyna, Kyna tentu saja harus menyela, "Siapa yang mesum? Aku melakukannya karena ...."Kyna tidak bisa mengungkapkan alasannya. Perasaan ini membuatnya sangat frustrasi .... Dia memang pernah melakukan setiap hal yang disebutkan Aldrian, tetapi motifnya bukanlah seperti yang dipikirkan Aldrian ...."Kenapa? Katakan padaku!" Tatapan Aldrian sangat menakutkan dan membuatnya terlihat agresif.Kyna menutupi wajahnya. Dia tidak mungkin mengatakan dengan jujur bahwa dia takut kakinya menjadi pinc
Kyna langsung menegang. Darahnya seketika mengalir deras ke kepalanya. Dia secara refleks meraih buku catatan itu. Namun, sudah terlambat.Aldrian sudah terlebih dahulu memungut buku catatan itu. Senyum di wajah Aldrian seketika membeku saat membaca kata-kata itu.Kyna mendengar napas Aldrian yang tiba-tiba berat dan tidak tahu harus berkata apa. Jari-jari Aldrian mencengkeram buku catatan itu. Tatapannya perlahan beralih dari kata-kata di halaman itu ke wajah Kyna."Apa maksudmu?" tanya Aldrian dengan suara serak. Setiap patah kata seolah-olah diucapkannya dengan susah payah. "Memangnya aku begitu menyebalkan?""Nggak ada maksud apa-apa ...." Kyna mencoba mengambil buku catatannya kembali dari genggaman Aldrian.Namun, Aldrian mencengkeramnya lebih erat lagi. Tatapannya terasa sangat mengintimidasi. "Kyna, jelaskan apa maksudnya. Apa yang kulakukan hingga kamu begitu membenciku?" Suaranya dipenuhi amarah."Kamu nggak melakukan apa-apa." Kyna berbisik, "Ini masalahku sendiri dan ngga
"Apa yang kamu takutkan?" Suara dingin Aldrian terdengar dari belakang Kyna.Kyna berhenti di tempat. Takut? Apa yang dia takutkan?"Takut guru akan mengira kita berpacaran?" Suara Aldrian terdengar menuduh dan agak agresif.Kyna berbalik dengan terkejut. "Mana ada!""Lalu, apa yang kamu takutkan?" Tatapan Aldrian sedingin es. "Kita nggak punya hubungan apa-apa. Apa yang kamu takutkan?""Aku ...." Kyna bergumam, "Aku salah bicara dan nggak berpikir panjang untuk sesaat ...." Aldrian menatap Kyna dengan dingin, lalu turun tanpa mengatakan apa-apa lagi.Kyna merasa sedikit bingung. Dia tidak tahu kapan Aldrian datang, atau untuk apa dia datang ....Malam itu, pikiran Kyna sangat kacau. Bukan karena fitnahan atau difoto, melainkan karena Aldrian dan Sonny. Saat mencoba tidur malam itu, wajah mereka terus terlintas di benaknya. Dia bahkan tidak tahu bagaimana akhirnya dia tertidur.Tidur Kyna juga sangat tidak nyenyak malam itu. Dia terus mendengar suara. Itu adalah suara Intan dan Gabe.
Sonny mengirimkan video rekaman CCTV kepada Kyna. Itu adalah video yang sengaja dihapus Wiranto.Kyna merasa terkejut dan bingung. "Kok kamu bisa mendapatkannya?""Aku punya cara sendiri. Kamu nggak usah peduli soal itu." Sonny berpikir sejenak lalu melanjutkan, "Yang penting kamu tahu siapa pelakunya. Aku akan mengurus sisanya." Kyna menatapnya. "Jangan bilang kamu minta izin di sore hari untuk melakukan hal ini?" Sonny tersenyum, tetapi tidak menjawab."Sonny ...." Kyna merasa suaranya sedikit serak. Dia berdeham, lalu berusaha agar suaranya terdengar tenang. "Gimana sebenarnya kamu mendapatkannya? Aku nggak mungkin benar-benar nggak peduli dan diam saja."Sonny terlihat sedikit tidak berdaya, lalu menjawab, "Sistem keamanan sekolah punya celah, aku temukan cara untuk masuk dan ambil data asli yang sudah dihapus." Kyna pun terkejut. "Kamu meretas sistem keamanan sekolah? Kok kamu bisa melakukan itu? Kamu .... Bukannya kamu murid jurusan IPS? Kapan kamu belajar ilmu komputer?""Kam
Seusai berbicara, Ariel berlari lagi. Dia benar-benar terluka dan sakit hati atas apa yang dialami Kyna hari ini, juga atas persahabatannya dengan Aldrian.Melihat Ariel seperti itu, Kyna juga merasa sangat sakit hati. Jadi, dia segera turun. Dia bertemu dengan Ariel yang berlari ke arahnya dari sisi gedung pengajaran. Ariel sangat terkejut saat melihat Kyna. Kemudian, dia menyeka air matanya dengan buru-buru karena tidak ingin Kyna melihatnya menangis. Namun, makin diseka, makin banyak pula air mata yang mengalir.Kyna merasakan kesedihan yang mendalam. Sebenarnya, sejak kembali ke dunia ini, usia mentalnya berbeda dari Ariel dan yang lain. Dia tidak lagi memiliki masa muda yang penuh semangat, ataupun kebebasan untuk tertawa dan menangis seperti mereka.Dari Anara yang menyebarkan rumor tentangnya hari ini, saat dirinya hampir ditindas di kamar mandi, hingga Aldrian yang menghilang seharian dan membela Anara, Kyna tidak merasakan gejolak emosi yang besar. Dia tidak marah, bahkan tid
Sesuai dugaan, Kyna lebih tidak suka mendengarnya dan langsung keluar dari lift. "Ya sudah, kamu naik saja. Aku akan tunggu yang lain.""Kyna!" Aldrian merasa tidak berdaya. Dia meraih bahu Kyna dan mendorongnya kembali ke dalam lift. "Aku cuma mau antar kamu.""Nggak perlu." Kyna segera menekan tom
"Luar biasa!" ejek William."Lalu, untuk apa kamu bekerja?" balas Naldo."Apa yang kita katakan waktu itu? Untuk bisa menegakkan kepala, sukses, dan lebih unggul dari orang lain!" jawab William."Jadi, apa yang membuatmu begitu nggak fokus hari ini?" tanya Naldo. "Jangan-jangan, kamu bertengkar sama
Kemudian, Anara memperhatikan kalung di leher Kyna dan menggeleng. Dia menghela napas berulang kali sebelum berujar, "Kalungmu ini juga. Di luar, kamu mewakili reputasi Aldri. Bisa-bisanya kamu pakai kalung imitasi seperti itu! Kalung itu sudah hampir berkarat, lho! Memangnya kamu nggak takut memper
Satpam itu menatap Anara dan menyahut, "Kalau begitu, kami justru nggak boleh biarkan kamu pergi. Gimana kalau terjadi sesuatu padamu di jalan? Kami akan hubungi ambulans untukmu." 'Apanya yang panggil ambulans!' umpat Anara dalam hati. Memanfaatkan kelengahan para satpam, dia bergegas keluar dan b







