เข้าสู่ระบบKiran dan Noah masuk ke toko parfum brand ternama.Di sana, Kiran memilih aroma parfum mana yang sekiranya cocok untuk dihadiahkan ke rekan bisnis sang kaka.Kiran mengambil salah satu parfum beraroma manis. Setelah mencium sendiri parfum itu. Kiran kini mendekatkan ke hidung sang kaka.“Bagaimana kalau ini? Selain manis, aromanya juga menyegarkan.” Noah mencium tester yang Kiran dekatkan ke hidungnya. Hingga dia terdiam mencium aroma itu.“Bagaimana?” Kiran memastikan.Kiran mengerutkan kening melihat Noah malah diam tak memberi tanggapan.“Noah, ada apa?” Kiran memastikan.Noah tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng pelan.“Bungkus saja mana yang kamu rasa cocok.” Setelah bicara, Noah pergi menuju ke kasir.Sedang Kiran mengerutkan kening. Noah yang mau memberi hadiah, kenapa jadi pasrah ke Kiran?Akhirnya Kiran memilih parfum yang menurutnya sesuai, lalu memberikan ke kasir agar Noah membayarnya.Setelah dapat. Noah dan Kiran keluar dari toko.“Kamu mau minta apa?” Noah menoleh p
Setelah selesai makan. Aldo mengantar Kiran baru kemudian Elvano dan sekarang dia mengantar Sabrina.“Mereka berdua ini memang unik.” Suara Aldo memecah keheningan. “Bisa-bisanya mereka mengikuti kita, sampai akhirnya mobil El jadi korban.” Aldo menggeleng-geleng pelan dengan senyum begitu lepas.Sabrina tersenyum simpul. Dia menatap pada Aldo. “Bagaimana dengan mobilmu? Bemper belakang juga lecet, ‘kan?”Aldo menoleh sekilas pada Sabrina yang baru saja bicara. “Tidak apa-apa. Hanya lecet sedikit, nanti dipoles di bengkel juga selesai.”Sabrina mengangguk-angguk pelan.“Aku senang kamu sudah tidak menghindariku.” Aldo kembali bicara. Dia menatap dengan senyum penuh kelegaan ke arah Sabrina.Sabrina merasakan kecanggungan setelah mendengar ucapan Aldo.Ya, jika dia tidak salah paham, Sabrina juga mungkin tak akan menghindari Aldo.“Kita bisa tetap berteman dengan baik.” Sabrina memandang pada Aldo yang sedang fokus menyetir.Sabrina melihat raut wajah Aldo yang berubah. Kalimatnya mung
Aldo memperhatikan mobil Elvano setelah mendengar apa yang dikatakan sahabatnya ini.“Memangnya mobilmu hanya satu? Mana mungkin aku menghafal semuanya satu-satu.” Aldo mengelak.Elvano gemas sendiri pada Aldo.Sedang Kiran malah pusing melihat perdebatan dua pria ini.“Panggil derek saja untuk membawa mobilnya ke bengkel. Atau mau dibawa sendiri ke bengkel?” Kiran memberi solusi.Elvano mengeluarkan ponsel lalu menghubungi bengkel langganannya.Saat itu Sabrina keluar dari mobil setelah melihat Elvano dan Kiran. “Kiran, jadi kalian yang mengikuti kami sejak tadi?” Sabrina langsung menodong penjelasan dari Kiran.Tatapan Kiran tertuju pada Sabrina. Dia tersenyum canggung karena tingkah konyolnya malah membuat mobil Elvano bertabrakan dengan mobil Aldo.Akhirnya sambil menunggu derek datang.Kiran dan yang lain menunggu di minimarket yang dekat dengan tempat kejadian.“Jadi, kalian benar-benar mengikuti kami? Tapi kenapa?” Aldo menatap bergantian pada Elvano dan Kiran.Kiran dan Elvan
Di lobby RDJ.Senyum Aldo mengembang saat melihat Sabrina melangkah keluar dari dalam.Dia bergegas maju hingga mencapai pintu lobby. Tangannya terangkat melambai ke arah Sabrina yang sedang berjalan ke arahnya di tengah-tengah kerumunan karyawan lain yang juga ingin meninggalkan gedung.Saat bersamaan, Sabrina memperlambat langkahnya ketika melihat Aldo menunggunya.Jari-jarinya meremas tali tas yang melintang di depan dada. Haruskah dia menghindar atau tetap jalani saja apa yang ada di depan matanya?Bukankah Aldo juga mengatakan jika tidak akan menyerah padanya. Itu artinya, seberapa keras Sabrina menghindar, maka pria ini akan selalu mendekatinya.Sabrina menarik napas dalam-dalam, tatapannya masih tertuju pada senyum Aldo yang begitu tulus tertuju ke arahnya.Dia akhirnya kembali melangkah menuju tempat Aldo berdiri.“Kenapa kamu di sini?” Sabrina langsung bertanya begitu berdiri di hadapan Aldo.Kedua sudut bibir Aldo tertarik pelan. “Aku menunggumu. Bagaimana kalau aku antar pu
Kiran kembali ke lantai atas setelah menemui Yessica. Begitu keluar dari dalam lift, Kiran terkejut melihat Elvano sudah berdiri di hadapannya. “Apa yang kamu lakukan di sini, El?” Kiran menatap Elvano yang terus memandangnya. “Seharusnya aku yang tanya, kamu dari mana? Dan kenapa tidak memberitahuku?” Tatapan Elvano menuntut. Kiran mengembuskan napas pelan. Dia meraih ujung jari Elvano, lalu berkata, “Akan aku jelaskan, kita ke ruanganmu?” Satu sudut alis Elvano tertarik ke atas. Meski begitu dia tetap mengikuti permintaan Kiran. Mereka masuk ke dalam ruangan Elvano. Tempat yang paling aman untuk membahas masalah pribadi. “Jadi, sekarang kamu bisa ceritakan, dari mana kamu dan apa yang baru saja kamu lakukan sampai tidak memberitahuku?” Elvano menatap serius pada Kiran. Kiran menarik tangan Elvano, dia lebih dulu mengajak tunangannya ini duduk. “Akan aku ceritakan semua.” Kiran mulai bicara begitu mereka sudah duduk. “Aku baru saja menemui Yessica.” “Dia berani menemuimu? A
Kiran turun ke lantai bawah.Yessi. Nama itu yang resepsionis sebutkan.Apa Yessi adalah Yessica?Kiran tak bisa membendung rasa penasarannya. Dia harus memastikan, siapa yang ingin bertemu dengannya.Saat tiba di lobby. Kiran menghampiri meja resepsionis lebih dahulu.“Di mana orang yang ingin menemuiku?” Kiran lebih dulu bertanya, dia tersenyum dengan ramah pada resepsionis.“Saya memintanya menunggu di ruang tunggu lobby, Bu.” Tatapan Kiran tertuju ke arah resepsionis menunjuk. Dia mengangguk lalu berterima kasih dan pergi ke ruang tunggu lobby.Kiran melangkah menuju ruang tunggu. Tatapannya tak teralihkan dari bayangan yang terlihat dari balik jendela kaca besar ruang tunggu.Saat masuk ke dalam ruang tunggu, tatapan Kiran langsung tertuju pada sosok yang mencarinya.Kiran bergeming, tatapannya tak teralihkan dari wanita ini.“Anda mencari saya?” Kiran memastikan.Wanita bernama Yessi ini, bukanlah Yessica.Wanita ini berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Kiran.Dia ters







