LOGIN"Panggil aku daddy. Di sini aku bukan ayah mertuamu. Aku adalah pria yang bisa membuatmu basah." Seraphina Whitmore datang ke kantor untuk membuktikan perselingkuhan suaminya. Tapi yang dia temukan justru cinta terlarang dari ayah mertuanya sendiri. Dia hanya ingin satu hal: membuktikan bahwa Derek, suaminya yang tampan, berselingkuh dengan asisten pribadinya yang ramping sempurna. Maka ia nekat menyamar sebagai sekretaris di perusahaan ayah mertuanya, Nathaniel Whitmore-CEO Whitmore Group, konglomerat properti dan energi terbesar di Eropa. Tapi bukannya mendapatkan jawaban, Seraphina malah menjadi bahan gunjingan karyawan karena tubuh gendutnya. Suaminya sendiri pun tak segan merendahkannya di depan umum. Hingga suatu ketika, ayah mertuanya justru datang mendekat. Tatapannya bukan lagi tatapan seorang mertua, melainkan tatapan pria yang haus akan kepemilikan. Sentuhannya bukan lagi sentuhan keluarga, melainkan sentuhan yang membuat Seraphina menggigil.
View More"Aah, please, Ayah, jangan berhenti."
Suaraku serak, setengah terisak, setengah memohon. Jari-jari tangannya yang kekar masih menjelajah setiap detail tubuhku. "Panggil aku daddy," ucapnya tegas, suaranya rendah dan berkuasa. "Di sini aku bukan ayah mertuamu. Lupakan sejenak status itu. Aku adalah pria yang bisa membuatmu basah." ^^^ Hari pertama sebagai sekretaris ayah mertua, Tuan Nathaniel Whitmore-CEO Whitmore Group, konglomerat properti dan energi terbesar di Eropa terasa seperti neraka. Bukan karena pekerjaannya yang berat tapi karena tatapan-tatapan tajam dan bisikan-bisikan karyawan yang tak pernah lelah menghina tubuhku yang tidak ideal. "Lihat dia, pakai blazer ukuran XXL pun masih sesak di bagian lengan." "Kok bisa sih jadi sekretaris pribadi Pak Nathaniel? Nggak mungkin karena kemampuan." "Dia istri Derek, kan? Ya ampun, Derek Whitmore se-ganteng itu menikahi wanita gendut? Pasti karena uang." Aku, Seraphina Whitmore, menelan ludah pahit. Jari-jariku meremas tepi meja kayu. Dalam hati, aku menghitung sampai sepuluh, teknik yang diajarkan terapis pernikahan yang kubayar sendiri enam bulan lalu. Tapi ternyata, uang terapis pun tak mampu menyembuhkan lukaku. Tujuan satu-satunya bekerja di sini: membuktikan suamiku, Derek Whitmore, berselingkuh dengan asisten pribadinya yang ramping sempurna, Anita Rosé Bennett. Derek selalu mengelak. Pulang larut malam dengan aroma parfum bunga terlarang yang tak pernah kukenal. Ponselnya selalu terbalik di meja makan dan tatapannya yang dulu penuh cinta, kini menghindar. Maka aku meminta pekerjaan ini pada Nathaniel-ayah mertuaku. Aku pikir, di kantor, semua akan terbuka. Aku pikir, dengan menyamar sebagai sekretaris, aku bisa mengintip setiap gerak-gerik Derek di kantor ini. Tapi ternyata, tubuh gendutku lebih dulu menjadi tontonan. Aku menarik napas panjang, mencoba mengabaikan bisikan-bisikan tajam. Jari-jariku menari di atas keyboard komputer sekretaris yang baru aku tempati-sebuah meja kecil di sudut ruang luar kantor Nathaniel. Layar monitor memantulkan wajahku yang sembab karena kurang tidur semalaman. Aku masih memikirkan Derek, tentang aroma parfum asing di kerah kemejanya, tentang pesan-pesan singkat yang selalu dia hapus, tentang tatapannya yang dingin saat aku bertanya kabarnya. "Sera." Suara Nathaniel memanggil dari balik pintu kayu jati ruang kerjanya. Aku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu, "Bawa berkas ini ke ruangan Derek," katanya, mengulurkan sebuah map cokelat tebal. Aku mengangguk patuh, berdiri dari kursi, dan mengambil map itu. Tangan Nathaniel menyentuh ujung jariku sesaat, lebih lama dari yang seharusnya. Tapi aku mengabaikannya karena mungkin hanya kebetulan. "Baik, Tuan Whitmore." "Panggil aku Nathaniel," ucapnya pelan. Aku hanya tersenyum tipis dan berbalik. Sepatu hak rendahku berdecit di lantai marmer saat aku melangkah menuju lift eksklusif. Di dalam kabin kaca yang tembus pandang, bayanganku sendiri menatapku dengan sedih, tubuh montok yang terbungkus blazer hitam terlalu ketat, rambut hitam yang kusut karena buru-buru, dan mata cokelat yang kehilangan kilau. Lift berhenti di lantai 27. Di depan pintu ruang kerja Derek, aku berhenti sejenak. Dari balik pintu, kudengar suara ketukan keyboard-Derek bekerja atau pura-pura bekerja. Aku mengetuk pintu tiga kali. "Masuk," suara Derek terdengar datar. Aku membuka pintu dan masuk. Derek duduk di balik meja besarnya, kemeja putihnya rapi, dasi biru tua masih melingkar sempurna di lehernya. Tapi matanya saat melihatku langsung menyipit kesal. "Kamu?" katanya, suaranya naik setengah oktaf. "Kenapa kamu yang mengantar berkas? Mana sekretaris lantai atas?" "Ayahmu yang menyuruhku," jawabku datar, meletakkan map di tepi mejanya. "Katanya ini penting." Derek mendengus kasar, menatapku dari ujung rambut hingga ujung sepatu. "Seraphina, serius. Kenapa kamu harus bekerja di sini? Ini memalukan. Istriku jadi sekretaris ayahku? Apa kata rekan-rekan bisnisku nanti?" "Aku butuh pekerjaan," kataku, berusaha tetap tenang. "Kau tahu itu." "Kau hanya butuh diam di rumah! Kau sudah cukup memalukan dengan tubuhmu yang-" Dia menghentikan kata-katanya, tapi matanya sudah cukup bicara. "Sudahlah. Simpan berkas itu, lalu pergi." Aku menunduk, menahan perih. Tapi sesuatu menarik perhatianku. Di meja Derek, di sebelah keyboard, ada selembar kain kecil berwarna hitam renda seperti celana dalam yang basah. Jantungku berhenti berdetak sedetik. "Ada apa?" Derek menoleh mengikuti pandanganku. Wajahnya memucat. "Itu..." Sebelum dia menyelesaikan kalimat, pintu kamar mandi di sudut ruangan terbuka. Anita Rosé Bennett keluar. Rambut pirangnya basah berkucuran, wajahnya segar baru dicuci, dan tubuhnya hanya terbungkus handuk putih kecil yang nyaris tak menutupi apa pun. Dia tersenyum manis ke arah Derek. "Sayang, celana dalamku ada di meja-" kata Anita, tapi suaranya terputus saat matanya bertemu dengan mataku. Dia terkejut. Handuknya hampir terlepas saat dia mundur selangkah. "Seraphina? Kenapa kau di sini?" Derek berdiri dengan panik, tangannya mengacak-acak rambut. Aku menatap celana dalam basah di meja, lalu menatap Anita dengan handuk basah, lalu menatap suamiku yang pucat pasi. Aku tidak bisa bergerak dan hanya bisa menatap bukti pengkhianatan yang terbentang di depanku. Anita mencoba tersenyum canggung. "Ini salah paham." "Salah paham? Celana dalam basah di meja suamiku, kau keluar dari kamar mandi hanya pakai handuk, dan kau bilang ini salah paham?" tanyaku. Derek berjalan menghampiriku, tangannya meraih lenganku. "Dengarkan aku!" "Jangan sentuh aku!" Aku menarik tangannya dengan kasar. Dadaku naik turun, air mata menggenang tapi kutahan. "Kau bilang aku memalukan. Kau bilang aku harus diam di rumah. Ternyata kau takut karena aku mengganggu perselingkuhanmu, bukan?" "Bukan karena itu," kata Derek. "Aku akan lapor ke ayahmu. Biar dia tahu putra kesayangannya seperti apa," kataku. Aku berbalik dan melangkah cepat ke pintu. Di belakangku, kudengar Derek berteriak memanggil namaku, tapi aku tidak menoleh. Aku berlari ke lorong, menekan tombol lift berulang-ulang dengan tangan gemetar. Ketika lift tiba, aku masuk dan menekan tombol lantai paling atas tapi tiba tiba Derek menarikku kemudian memelukku. "Maafkan aku, aku akan memperbaiki sikapku tapi tolong jangan lapor ayahku, aku akan kehilangan warisanku jika aku terlibat skandal. Mari kita perbaiki pernikahan ini, Sera," kata Derek.Aku menatap layar ponsel, membaca pesan Nathaniel berulang kali. Jantungku berdebar kencang. Pukul 12 malam. Gaun hitam. Jangan buat aku kecewa.Di sampingku, Derek sudah tertidur pulas. Dengkurannya pelan dan teratur, tangannya tergeletak di atas selimut, tidak pernah menyentuhku. Aku menatapnya dalam kegelapan, wajah tampan yang dulu membuatku jatuh cinta, sekarang hanya topeng kebohongan.Aku bergerak perlahan, bangkit dari tempat tidur dengan hati-hati agar tidak membangunkannya. Kaki-kakiku menyentuh lantai dingin. Aku berjalan ke lemari, meraih gaun hitam itu, dan memakainya dalam diam.Di cermin kamar mandi, aku menatap bayanganku. Gaun hitam itu memeluk tubuhku dengan sempurna, menonjolkan lekuk-lekuk yang selama ini kubenci. Tapi malam ini, aku mencintainya. Karena malam ini, gaun ini adalah senjataku.Aku melangkah keluar kamar dengan hati-hati, menutup pintu tanpa suara. Koridor mansion gelap, hanya diterangi lampu-lampu kecil di dinding. Langkahku pelan di atas karpet teba
Layar di dinding menyala. Aku melihat kilatan data, grafik, dan angka-angka yang mulai bermunculan. Wajah Derek memucat. Anita menggigit bibirnya, tangannya menggenggam erat tepi meja.Nathaniel bersiap untuk menekan tombol berikutnya, tombol yang akan memutar semua bukti penggelapan dan perselingkuhan Derek di hadapan seluruh dewan direksi.Tapi di bawah meja, tanganku bergerak.Aku meremas paha Nathaniel dengan cukup keras untuk menarik perhatiannya, tapi tidak cukup untuk mencurigakan bagi orang lain. Nathaniel menoleh padaku, alisnya terangkat. Aku menggelengkan kepala perlahan, mataku menatapnya.Lalu aku berbisik, nyaris tak terdengar, hanya untuk telinganya."Jangan terburu-buru menghancurkan mereka. Aku ingin semuanya pelan-pelan. Biarkan mereka merasa aman dulu, biarkan mereka tertawa. Di akhir, ketika mereka paling merasa bahagia dan merasa menang, barulah kita hancurkan. Itu akan lebih menyakitkan," kataku.Nathaniel menatapku lama lalu mengangguk pelan dan dia menekan tomb
Nathaniel menatapku lama."Karena Derek bukan putraku," katanya.Aku terkejut. "Apa?""Margaret sudah mengandung Derek dari pria lain sebelum aku menikahinya. Aku menerimanya karena aku mencintai Margaret. Tapi Derek, dia tidak pernah menjadi darah dagingku dan selama bertahun-tahun, aku melihat dia menghancurkan semua yang aku bangun termasuk kau."Aku menelan ludah. Rahasia besar ini terasa berat di antara kami."Jadi kau tidak pernah benar-benar menganggapnya anakmu?" tanyaku."Aku menganggapnya tanggung jawabku, tapi cintaku padanya mati saat dia mulai memanipulasi keuangan di perusahaanku dan juga menyakitimu," katanya.Dia mendekat lagi, kali ini aku tidak mundur. Telapak tangannya yang hangat menyentuh pipiku, mengusap sisa air mata."Kau tahu, aku sudah memperhatikanmu sejak hari pertama kau datang ke rumah ini. Aku melihat caramu tersenyum meskipun hatimu hancur. Aku melihat caramu bertahan meskipun Derek memperlakukanmu seperti debu dan aku ingin menjadi pria yang membuatmu
Derek tidak pulang malam itu. Aku menatap langit-langit kamar sampai pagi, mataku perih karena menahan tangis. Setiap derit lantai di koridor membuatku berharap, mungkin dia kembali, mungkin dia ingat janjinya. Tapi tidak, dia tak kunjung pulang.Aku sudah menebak di mana dia berada, pelukan Anita, celana dalam basah di meja. Pesan singkat di tengah malam. Semua petunjuk mengarah ke satu kesimpulan yang sama: aku bodoh karena mempercayainya sekali lagi.Jam 7 pagi, aku akhirnya bangun. Tubuhku terasa berat seperti ditimpa ribuan batu. Aku mandi air hangat, mencoba mencuci rasa malu dan sakit yang melekat di kulit. Di cermin, aku menatap tubuh gendutku-lipatan di perut, paha yang lebar, lengan yang gemuk. Aku memutar tubuh, menilai dari segala sudut, dan air mata jatuh lagi.Ini salahku. Jika aku kurus dan jika aku cantik seperti Anita, Derek tidak akan pergi. Dia tidak akan mencari nafsu di wanita lain.Aku meraih handuk, mengeringkan tubuh dengan kasar, lalu mengenakan gaun rumah sed
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.