LOGINKakak, done 4 bab buat hari ini, ya. selamat membaca, makasih
Di perusahaan Bimantara. Yessica menatap ponselnya yang berdering. Nama Martha terpampang di layar. “Halo.” Yessica segera menjawab panggilan itu. “Anak pria itu menghilang. Jika dia kabur, aku tidak punya lagi alat untuk mengancam pria itu. Takutnya, pria itu membuka suara dan menyeret kita ke dalam penjara.” Punggung Yessica ditegakkan mendengar ucapan Martha. “Tapi, jika dia bicara sekarang, apa orang lain akan percaya? Bagaimanapun dia sudah tidak punya bukti jika kamu adalah dalang dari penculikan itu?” Yessica bicara dengan sangat hati-hati. “Jangan lengah, Yess.” Yessica terdiam mendengar suara berat sang ibu. “Sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi, lebih baik kita bertindak untuk antisipasi.” Satu sudut alis Yessica tertarik ke atas mendengar ucapan Martha. “Jadi, kita bertindak sekarang?” Yessica memastikan. “Jangan mengulur waktu. Lebih cepat menyingkirkan Calissa, maka akan semakin baik untuk kita. Ingat, ketika dia mengingat semua masa lalunya, maka riwaya
Di luar ruang kunjungan.Kiran diam. Ujung kuku jempol kanannya dia gigit pelan.Kenapa Martha dan anaknya merasa terancam dengan keberadaan Kiran?Siapa sebenarnya Martha ini? Dan, siapa anaknya?“Apa keluargamu punya dendam dengan Martha ini?” Tatapan Elvano tertuju pada Noah.Motif Martha ini belum jelas, informasi dari ayah Sabrina juga tidak terlalu lengkap.“Aku bahkan tidak tahu siapa wanita ini. Melihat wajahnya seperti apa saja aku tidak pernah.” Noah menatap ragu, wajahnya kusut memikirkan siapa Martha.Tatapan Elvano kini tertuju pada Kiran yang sejak tadi diam. “Sepertinya ada sesuatu yang membuat wanita itu panik dengan keberadaan Kiran. Tapi apa itu, yang pasti hanya diketahui oleh Kiran saat kecil.”Pandangan Kiran tertuju pada Elvano yang baru saja selesai bicara, sampai dia menyadari kalau semua orang kini juga memandang ke arahnya.“Saat itu aku masih tujuh tahun. Selain bermain dan belajar, apalagi yang aku ketahui? Aku bahkan tidak ingat apa pun, bagaimana bisa aku
Kiran dan yang lain tersentak.Kiran sampai menoleh pada Noah yang duduk di sisi kirinya.“Wanita itu tahu kalau Kiran masih hidup?” Ayah Sabrina kembali bicara. “Aku ingat saat menemuiku waktu itu, dia mengatakan jika keberadaanmu akan membahayakannya dan putrinya.”Semua orang kebingungan.Kiran dan Noah saling tatap aneh karena ucapan ayah Sabrina.“Wanita itu dan putrinya? Apa maksudnya?” Noah memastikan.“Kamu bilang wanita itu bernama Martha, apa kamu mengenalnya dan tahu, kenapa wanita itu mengincarku?” Kiran tak bisa membendung rasa penasarannya.Ayah Sabrina menggeleng. “Aku tahu namanya Martha dari petugas yang menemuiku saat dia datang berkunjung. Selebihnya, siapa dia dan apa tujuannya, aku benar-benar tidak tahu.”Kening Kiran berkerut dalam.“Aku sudah memberitahu apa yang kalian ingin tahu. Untuk informasi pribadi wanita itu, aku benar-benar tidak tahu.” Ayah Sabrina menatap bergantian ke semua orang yang ada di sana.Ketika tatapan ayah Sabrina kembali tertuju pada Kira
Ayah Sabrina menatap satu persatu orang yang ada di ruangan ini sebelum pandangannya tertuju kembali pada Kiran.Pria ini mengangguk pelan.“Tentu, tentu saja,” katanya tanpa keraguan.Kiran menarik napas dalam, sebelum mengembuskan kasar.“Aku ingin tahu, apa benar kamu tak pernah berniat membunuhku? Tapi kenapa kamu mau menculikku? Dan, bagaimana bisa aku sampai di kota yang sangat jauh dari sini? Juga, kenapa kamu tidak jujur pada keluargaku soal kondisiku dan membongkar nama dalangnya sejak awal?” Kiran langsung memberondongi ayah Sabrina dengan banyak pertanyaan agar bisa dijawab sekaligus.Pria ini menghela napas panjang. Kedua tangan yang diborgol ada di atas meja, jari-jarinya saling meremat.“Benar, aku tidak pernah berniat membunuh karena itu tidak sesuai perjanjian.” Ayah Sabrina mulai mengingat saat pertama kali Martha menemuinya.Napas Ayah Sabrina kembali berembus kasar, ketika dia kembali menceritakan apa yang terjadi.“Setelah berhasil membawamu, kami berniat membawamu
Setelah turun dari pesawat.Mereka dijemput Farhan menggunakan dua mobil.“Tidak ada yang tahu kalau aku kembali, ‘kan?” Noah memastikan. Dia ingin kepergiannya ke rumah tahanan bersama Kiran berjalan lancar.Farhan mengangguk. “Anda tenang saja, Pak.”Noah menoleh ke Kiran dan Elvano setelah selesai bicara.“Kiran, kamu semobil denganku,” kata Noah.Kiran menoleh pada Elvano, kekasihnya sudah memasang wajah tak senang.“Aku akan semobil dengan El.” Telunjuk Kiran terarah pada Elvano.Noah kini yang kesal karena tak dipilih oleh Kiran, akhirnya dia mengajak Sabrina dan Wina masuk ke dalam mobil.Mereka langsung menuju ke rumah tahanan tempat ayah Sabrina berada.Tak membutuhkan waktu lama, sampai akhirnya mereka tiba.Theo yang mengurus izin agar mereka semua bisa masuk menemui ayah Sabrina secara bersamaan, setelahnya mereka menunggu di ruang tunggu khusus.“Seharusnya kita tidak diperbolehkan masuk bersama-sama, untung saja Theo punya koneksi.” Elvano menoleh pada Kiran yang duduk di
Hari berikutnya.Kiran berdiri di depan teras, tatapannya tertuju pada Elvano yang baru saja turun dari dalam mobil.Senyum Kiran dilempar ke arah sang kekasih yang sudah menatapnya, sampai tatapan Kiran tertuju ke arah lain.Dari pintu satunya, Kiran melihat seorang pria yang turun dan berjalan di belakang Elvano.Kiran menyipitkan mata, sepertinya dia pernah melihat pria ini, tetapi di mana?Elvano berhenti di hadapan Kiran. “Kalian sudah siap?” Kiran mengangguk pelan, sampai tatapannya tertuju pada pria yang ada di belakang Elvano.“Dia ….” Kiran tak berani menunjuk ke pria yang dimaksud. Hanya tatapannya yang mengarah ke pria matang di belakang Elvano.Elvano menoleh pada Theo–sahabat kakaknya.“Theo, kamu lupa dengannya? Dia yang pernah membantuku waktu mengejar pelaku yang menculikmu.” Elvano segera menjelaskan.Kiran melipat bibir dengan ekspresi sungkan.“Senang melihatmu lagi.” Theo menyapa Kiran lebih dulu.Kiran membungkuk ke arah Theo, pria yang berusia enam tahun lebih t
Cengkraman jemari Widya semakin menguat di lengan Kiran. Bahkan otot-otot leher Widya tertarik sampai menyembul di bawah kulit. “Kamu berani membantah! Kamu pikir, nyawa ayahmu tidak lebih berharga dari kalungmu itu?” Mata Widya menajam, dia melepas lengan Kiran sambil mendorong kuat tubuh Kiran.
Saat jam makan siang. Dania masuk ke ruang kerja pamannya. Langkah pelannya terarah pasti menuju meja sang paman. “Paman, bagaimana hasil rapatnya tadi?” Dania langsung mengambil posisi duduk setelah bertanya. Malik menatap pada Dania, napasnya berembus pelan sebelum dia menjawab, “Elvano melindu
Sore hari. Kiran baru saja selesai merapikan berkas di meja, ketika ponsel di atas meja berdering. Matanya melirik pada layar ponsel. Pesan dari Widya terpampang di layar. [Pulang lebih awal dan jaga ayahmu, jangan banyak alasan!] Napas dari mulut Kiran berembus pelan. Jempolnya segera bergerak
Suara tegas Elvano menarik semua mata tertuju padanya. Auranya mampu membekukan seluruh ruangan, mengubah atmosphere yang panas menjadi sedingin kutub.Kiran bergeming dengan tatapan tertuju pada Elvano yang sedang melangkah ke arahnya.Pria itu muncul tak terduga. Seolah selalu ada untuknya, sama







