เข้าสู่ระบบKakak, done 2 bab buat pagi ini. selamat membaca
Noah dan Nindy diseret paksa untuk masuk ke dalam mobil para penjahat ini. Noah tak berkutik karena Nindy dibawah kendali pria penjahat ini.“Masuk! Cepat!” Tubuh Noah didorong paksa untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil.Namun, sebelum Noah melangkah naik ke dalam mobil, suara deru mesin mobil yang melaju kencang tiba-tiba terdengar dari arah belakang.Beberapa mobil asing muncul melaju ke arah mereka, dan beberapa di antaranya mengepung sekitar, menutup akses jalan mobil para penjahat ini.Sampai salah satu mobil dengan sengaja menabrak bagian belakang mobil milik para penjahat hingga ringsek.Keempat pria bertubuh besar itu tersentak. Belum sempat mereka bereaksi atas serangan mendadak tersebut, pintu-pintu mobil yang mengepung mereka terbuka lebar. Beberapa pria berpakaian biasa keluar dengan cepat sambil menodongkan pistol ke arah mereka.Noah mengembuskan napas lega. Bantuan benar-benar datang tepat waktu.Dari salah satu mobil. Theo berjalan keluar dari mobil utama sambil me
Nindy menoleh pada Noah yang terlihat sangat mencemaskannya. Dia meringis menahan rasa sakit karena dahinya terbentur agak keras, Nindy mengangguk pelan, lalu membalas, “Aku baik-baik saja.”Noah mengangguk tanpa menatap Nindy. Dia fokus menyetir agar bisa membawa Nindy dengan selamat dari kejaran mobil di belakang mereka. Namun, sebelum mereka bisa lolos, mobil hitam di belakang tiba-tiba sudah menyejajari posisi mereka.Noah mencoba menginjak pedal gas lebih dalam untuk lolos, tetapi mobil di sampingnya tiba-tiba menabrak keras bodi samping mobil Noah.Noah tersentak dengan tubuh terhuyung hampir membentur setir kemudi.Noah berusaha keras menyeimbangkan laju mobilnya yang mulai tak terkendali. Hingga kedua kalinya, mobil miliknya mendapat hantaman kuat dari sisi kiri yang membuat mobilnya melaju tak terkendali.Noah memutar bolak-balik setir agar mobilnya tak lepas kendali, sampai akhirnya mobil Noah menabrak pohon besar yang ada di sisi jalan.Benturan itu membuat bagian depan m
Nindy benar-benar syok dengan apa yang terjadi. Tatapannya kini tertuju ke depan, sebuah mobil hitam berhenti seolah sengaja menghalangi jalur mobil Noah.Nindy menoleh pada Noah yang menatap lurus ke depan. Dia mulai panik. “Kenapa mobil itu menghalangi jalan kita?”Noah menoleh pada Nindy yang baru saja bicara. Dia tetap tenang dan berkata, “Kamu tetaplah tenang, kita pastikan dulu kenapa mobil itu berhenti di depan kita.”Nindy mengangguk dengan wajahnya yang begitu tegang.Sedang Noah kembali menatap ke depan. Matanya yang tajam kini menyorot penuh selidik, memastikan maksud mobil ini menghalangi jalannya.Sampai empat pria berbadan besar keluar dari mobil, salah satunya memegang tongkat.Wajah Nindy semakin tegang dan panik, sampai satu tangannya menyentuh lengan Noah. “Noah ….” “Sial.” Noah langsung membuka tuas rem tangannya.Noah memindahkan tuas gigi, menginjak pedal gas dalam-dalam untuk mundur, lalu dengan cepat memutar kemudi dan tancap gas maju ke depan untuk kabur melew
Nindy melihat kecemasan dari sorot mata kedua orang tuanya, tetapi Nindy menggeleng pelan. “Aku tidak bisa membiarkan Nandira sendirian menghadapi masalah ini, Pa. Aku memang cemas dan takut, tapi apa bersembunyi akan menyelesaikan masalah kita?” Nindy menatap bergantian pada kedua orang tuanya.Andy dan Indah terdiam mendengar pertanyaan putri mereka. Ruang kerja ini mendadak menjadi hening.Nindy mengembuskan napas berat. “Meskipun aku bersembunyi di rumah, selama Edo belum menemukan Nandira atau dia sendiri ditangkap oleh polisi, aku juga akan tetap menjadi sasaran kemarahannya.”Indah dan Andy panik sekaligus bingung. Indah menggenggam erat tangan Nindy. Dia menatap cemas pada putrinya ini. “Tapi kami juga tidak mau kamu sampai celaka, Nindy.”Nindy menatap sang mama yang begitu mencemaskannya. Dia menepuk punggung tangan Indah.“Aku tahu, Ma. Hanya saja masalah ini harus segera diselesaikan, bukan dihindari. Semakin dihindari, sepertinya akan semakin rumit.” Nindy menatap sang
Nindy langsung memeluk kedua orang tuanya bersamaan. Dia benar-benar lega melihat kedua orang tuanya baik-baik saja.Sedang kedua orang tua Nindy, Andy dan Indah, kebingungan karena putri mereka mendadak memeluk seperti ini.“Nindy, ada apa? Baru juga datang langsung memeluk seperti ini?” Indah sampai mengusap-usap lengan Nindy yang memeluk lehernya dengan kencang.“Iya, kayak tadi pagi nggak ketemu saja.” Andy ikut menimpali.Nindy melepas pelukan. Matanya yang merah dan basah kini menatap nanar pada kedua orang tuanya.Saat itu Indah melihat keanehan dari sorot mata putrinya.“Ada apa? Kenapa kamu mau menangis seperti itu? Apa ada yang menyakitimu? Apa di kantor ada masalah?” Indah langsung mencecar.Nindy menggeleng-geleng. Dia tak mampu berkata-kata karena begitu lega melihat kedua orang tuanya baik-baik saja.Sampai tatapan Andy tertuju pada pria berjas rapi yang berdiri tak jauh dari mereka. Pelanggan tidak mungkin berani masuk ke pantry toko.Tatapan Andy kembali tertuju pada N
“Nindy, tenangkan dirimu.” Suara Noah sedikit meninggi. Dia sampai mencengkram kedua lengan Nindy agar tidak panik.Nindy terdiam mendengar suara Noah. Matanya yang merah memancar ketakutan yang luar biasa.Noah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Lalu dia menatap Nindy yang sudah siap menangis, dia mencoba menenangkan.“Mungkin keluargamu kebetulan tidak memegang ponsel. Sekarang kamu tenang dulu, lalu katakan padaku, kira-kira di mana mereka saat ini. Aku akan antar ke sana.” Nada suara Noah pelan dan penuh perhatian.Nindy menarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikannya agar bisa berpikir dengan tenang.Lalu Nindy menatap pada Noah yang memperhatikannya.“Papa dan Mama harusnya ada di toko kue yang mereka jalankan selama bertahun-tahun ini. Kalau adikku, dia seharusnya di kampus.” Nindy bicara dengan suara tertahan karena tubuhnya masih gemetar.“Oke.” Noah perlahan melepas tangannya dari lengan Nindy.Noah mengeluarkan ponsel dari saku jas bagian da







