LOGINAku menolak percaya pada isyarat menyerah itu.Tanganku melepaskan genggaman Shella dengan kasar, lalu aku menerjang pintu kayu berwarna cokelat kusam di depanku.Brak!Suara benturan pintu membuat beberapa penunggu pasien di dalam ruangan menoleh kaget.Bau pengap langsung menyergap wajahku, campuran aroma obat-obatan murah, keringat manusia, dan bau makanan basi yang tertinggal di udara.Ruangan itu sempit, diisi oleh enam tempat tidur besi yang berjejer rapat, hanya dipisahkan oleh tirai kain berwarna hijau pudar yang sudah kumal.Aku tidak peduli dengan tatapan mata orang-orang yang merasa terganggu.Shella tidak ikut masuk. Dia menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Dia berdiri diam, tangannya mencengkeram kusen pintu, matanya menatap nanar ke arah pojok ruangan.Dia tahu ini momen pribadiku.Dia memberikan ruang bagiku untuk menemui surgaku, namun kehadirannya di sana tetap terasa sebagai penjaga yang mengawasi dari kejauhan.Langkahku terhenti tepat di samping ranjang b
"Ayo!"Aku mengulurkan tangan kanan ke dalam, meraih pergelangan tangan Shella tanpa permisi. Aku tidak membiarkannya turun dengan anggun. Aku menariknya keluar dengan sentakan cukup keras sampai tubuhnya terhuyung sedikit saat mendarat di sampingku."Raf! Sabar!" pekik Shella kaget, kakinya nyaris keserimpet.Aku tidak menjawab. Jari-jariku langsung menyelinap di sela-sela jarinya, mencengkeram tangannya erat-erat, sangat erat sampai buku-buku jariku memutih. Aku butuh pegangan. Aku butuh dia."Jangan lepasin. Temenin aku," pintaku parau, mataku menatapnya nanar.Shella melihat kepanikan yang terpampang jelas di wajahku. Dia tidak protes, tidak marah karena ditarik kasar. Dia membalas genggamanku sama kuatnya, lalu mengangguk mantap.Kami berlari kecil menembus pintu otomatis lobi rumah sakit. Suasana di dalam sangat kacau. Orang-orang berlalu-lalang, brankar didorong cepat, suara tangisan anak kecil bersahutan. Aku menerobos kerumunan itu, setengah menyeret Shella di belakangku. Bah
Ketakutanku bukan omong kosong karena Nyonya Alika itu wanita besi yang sangat taat aturan dan menjaga martabat keluarga di atas segalanya.Membawanya kabur mobil kantor dan pergi berduaan dengan sopir tanpa izin, ohh jelas pelanggaran berat yang bisa bikin perang dunia ketiga di rumah ini."Kamu balik aja ke dalem, pura-pura nggak tau apa-apa biar aman. Ayo sini kuncinya, biar aku yang bawa sendiri!"Shella tidak melepaskan kunci itu, dia justru melepaskan tangannya dari gagang pintu mobil, lalu berbalik badan menghadapku sepenuhnya dengan tatapan nyalang.Tanpa peringatan, kedua telapak tangannya terangkat dan menangkup pipiku dengan keras, menekan wajahku, memaksa mataku untuk fokus hanya pada bola mata cokelatnya yang tenang namun berkilat tajam."Dengerin aku, Rafli, liat mata aku sekarang!" ucapnya dengan nada rendah yang mana, aku bisa melihat gurat kekhawatiran yang tulus di matanya, menutupi segala ego dan status sosial yang selama ini dia banggakan sebagai majikan."Aku ini
Aku memejamkan mata, menekan wajahku ke dinding keramik yang dingin untuk meredakan panas di kepala. Terdengar jeda sejenak, mungkin sekretarisnya sedang bertanya di seberang sana."Jangan banyak tanya, ini darurat keluarga!" bentak Shella dengan nada suara yang sedikit meninggi."Sama ini, suruh dia mampir ke bank, tarik tunai lima puluh juta dari rekening pribadi saya. Masukin tas, bawa sekalian sama mobilnya. Saya tunggu sepuluh menit. Kalau telat, surat peringatan turun besok pagi."Lima puluh juta.Angka itu berdengung di kepalakuBagi Shella, itu mungkin cuma uang jajan sebulan.Bagi aku, itu nyawa Emak.Rasa bersalah yang tajam tiba-tiba menusuk dadaku, rasanya lebih sakit daripada ditonjok preman pasar. Di sini aku sedang berdiri di kamar mandi mewah, dikelilingi keran emas dan sabun wangi, baru saja menikmati tubuh anak majikan sepuas hati.Sementara di sana, ratusan kilometer dari tempat ini, Emak sedang meregang nyawa di atas kasur rumah sakit yang bau karbol, mungkin sedan
Aku tersentak, mataku langsung tertuju pada bola mata cokelatnya yang menyala."Persetan sama izin, selama ada aku, semua aman!" ucap Shella tegas, penuh penekanan di setiap kata. "Kamu nggak perlu minta izin siapa-siapa. Nggak perlu ke Mama, nggak perlu ke Bu Darmi, atau ke siapapun.""Tapi, Shell...""Diem dengerin aku!" potongnya cepat. "Aku majikan kamu di sini. Aku bos kamu. Dan aku yang kasih perintah."Shella melepaskan satu tangannya dari bahuku, lalu menunjuk dadanya sendiri yang polos."Lihat aku, lihat mataku! Kamu percaya sama aku, kan?" Ucapan Shella itu hanya aku balas dengan anggukan lemah."Urusan Mama, urusan kerjaan, urusan biaya, itu urusan aku. Kamu nggak usah mikirin duit atau aturan tetek bengek itu. Yang harus kamu pikirin sekarang cuma Emak kamu dan gimana caranya kamu bisa jenguk dia secepat mungkin!"Shella kembali memegang bahuku, lalu mengguncangnya pelan."Kita berangkat sekarang. Pake baju kamu. Aku anterin kamu ke rumah sakit. Kita pake mobil aku, biar c
Telingaku berdenging keras, hanya suara sirine ambulans dari ponsel yang terdengar jelas di kepalaku.Sambungan telepon terputus begitu saja, menyisakan suara tuuut... tuuut... yang panjang dan menyakitkan di telingaku. Ponsel butut di tanganku terlepas, jatuh menghantam lantai karpet dengan suara buk yang pelan.Duniaku berhenti berputar.Wajah Paman Sudra yang panik dan bayangan Emak yang kejang-kejang berputar liar di kepalaku.Tanpa pikir panjang, aku langsung melompat turun dari kasur.Aku tidak peduli dengan tubuhku yang telanjang bulat. Kakiku mendarat di lantai dengan keras, lututku gemetar hebat sampai aku nyaris jatuh tersungkur karena lemas."Mak, aku segera ke sana. Tunggu aku, Mak!" gumamku kacau.Aku berlari kecil mengelilingi kamar Shella yang luas itu dengan gerakan patah-patah seperti orang linglung. Mataku liar mencari pakaianku yang tadi dilempar sembarangan saat kami sedang dimabuk nafsu."Mana, mana celana gue..."Tanganku gemetar hebat saat memungut celana pendek







