Share

Beras 1.3 Kilo

Penulis: Mami Lova
last update Tanggal publikasi: 2025-11-11 20:47:39

Aku sampai terperanjat kaget, mendengar suara keras mertuaku dari luar. Buru-buru aku berdiri dan menghampirinya, perempuan itu kini berdiri di depan pintu dengan kantong plastik di tangannya.

“Ada apa, Bu?” tanyaku bingung, dan mertuaku mengangkat kantong yang dia bawa.

“Beras. Kamu cuma ngasih sekilo padahal Ibu minta satu kilo setengah. Pelit naudzubillah kamu itu! Makan nih beras! Sampai mati Ibu enggak akan ridho sama kamu, biar aja kamu mati perutnya kembung gara-gara pelit sama mertua sendiri!” teriaknya kencang.

Belum juga aku bisa menjawab, mertuaku melemparkan kantong plastik berisi beras ke lantai.

PYAR!

Kantongnya pecah, dan isinya berantakan.

Aku seketika gemetar, dengan tangan yang terasa dingin. Bahkan keringat mulai menetes di pelipis, meluncur ke dagu.

Kerongkonganku kering, bagaimana ini? Mertuaku tahu bahwa berasnya telah aku kurangi.

Kekhawatiranku terjadi, dia mengamuk dan pasti tak akan peduli dengan alasan apapun yang akan kuberikan.

Di depanku, beras yang tadi aku berikan pada ibu mertua kini berserakan di teras, seperti butiran salju yang jatuh satu-satu lalu hancur di bawah kaki.

“Ibu…” suaraku bergetar.

“Kenapa dilempar berasnya, Bu?”

Ibu mertuaku berdiri di depan teras rumah, wajahnya merah padam, urat-urat di pelipisnya sampai terlihat menonjol.

“Kamu tuh menantu macam apa, hah? Ibu minta sekilo setengah aja nggak bisa ngasih! Cuma sekilo?! Pelit banget! Perhitungan sama mertua sendiri!”

Aku terpaku. Jantungku berdentum keras.

Dari rumah seberang, kulihat Bu Tini menoleh sambil pura-pura menyapu halaman. Di rumah sebelah, Pak Darto berhenti menggulung selang air. Semua mata mengarah pada kami.

Aku melangkah mendekat, mencoba menenangkan nada suaraku.

“Bu, ayo kita masuk dulu, ya. Malu dilihat tetangga—”

“Biarin!” potongnya keras.

“Biar semua tahu kamu menantu pelit! Cuma minta beras sekilo setengah aja pelit naudzubillah!”

“Bukan begitu Bu, tapi beneran beras di rumah kami cuma tinggal sedikit jadi—“

“Ibu ini yang ngelahirin Helmi, yang bikin dia bisa jadi suami kamu! Tapi ibunya sendiri minta beras masih bisa alasan ini itu dan ngasih cuma seuprit?!”

Aku menahan napas, kedua kakiku sudah lemas rasanya.

“Bukan begitu, Bu. Aku cuma—”

“Kamu bilang berasmu habis? Ke manakan uang suamimu itu, hah?”

“Itu, aku pakai buat sehari-hari Bu. Buat—“

“Halah! Memang boros kamu itu!” bentaknya lagi.

“Duit suamimu belum akhir bulan udah habis! Anak kamu, si Hafsah itu, jajan mulu! Mainan, susu, permen, apa aja dibeliin! Dasar istri nggak bisa ngatur uang!”

Aku menunduk, Hafsah baru tiga tahun. Aku hanya ingin dia tidak kekurangan. Tapi di mata ibu, semua yang kulakukan salah.

Apakah aku harus katakan jika mayoritas uang kang Helmi selalu berakhir di kantong mertuaku sendiri, dan anak perempuannya itu? Apa reaksinya?

“Bu, tolong dengar dulu ya,” ujarku pelan.

“Bukan aku mau ngurangin, tapi memang beras di rumah tinggal dua kilo. Kami nggak punya uang lagi. Uang terakhir di bulan ini sudah dikasih Kang Helmi ke Yuli tadi. Jadi saya cuma bisa kasih satu koma tiga kilo, bukan satu kilo. Saya ukur tadi.”

Hening sesaat.

Lalu ibu mendengus keras.

“Satu koma tiga kilo?! Kamu ukur-ukur beras buat Ibu?! Astaghfirullah! Helmi dikasih istri kayak gini, pantes rezekinya seret!”

Tangannya gemetar, lalu plastik yang sudah pecah di lantai, diambil dan dilempar lagi ke tanah. Beras sisa berhamburan, menempel di kakinya.

“Ibu, tolong ya Bu, jangan begini di luar,” pintaku lagi, hampir berbisik.

“Malu, Bu, dilihat orang…”

“Kalau kamu nggak mau ngasih, bilang aja! Jangan pura-pura begitu, pake bilang duit suamimu dikasih ke si Yuli! Kamu tuh licik cuma mau nguasai uang anakku!”

Duh Gusti, uang yang mana? Uang yang hanya 2.5 juta itu paling hanya 1 juta yang selalu kupegang di rumah. Itu pun bukan untukku, itu untuk bensin kang Helmi dan kebutuhan rumah lainnya!

“Nggak terima Ibu. Kamu malah mau ngadu domba Ibu sama anak-anak Ibu, keterlaluan!”

Aku menunduk, sekujur tubuhku terasa gemetar. Air mata mulai turun tanpa bisa kutahan.

Dan saat itu juga pintu kamar mandi terbuka keras.

“Bu! Ada apa ini?” suara Kang Helmi terdengar dari dalam.

Rambutnya masih basah, air menetes ke kaos lusuh yang dipakainya. Ia menatap kami bergantian, bingung.

Ibu langsung menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil menunjuk ke beras yang berceceran di tanah dan teras rumah.

“Helmi… kamu tau kan Ibu ini cuma minta beras sekilo setengah, tapi istrimu kasih cuma sekilo! Katanya nggak punya uang lagi untuk beli beras, padahal beras yang Ibu minta buat sedekah ke mesjid! Ibu malu, Mi… Ibu dianggap ngemis sama istrimu!”

Aku terbelalak, tak percaya.

“Bu, jangan begitu! Ibu tau kalau aku cuma—”

Tapi belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Helmi mengangkat tangannya. Tatapannya dingin, dan aku tahu, ini akan menyakitkan.

“Kalau buat Ibu, jangan pernah kamu ragu, Eva,” katanya datar tapi tajam.

“Itu Ibu, orang tua. Sama seperti ibumu juga. Kalau kita udah perhitungan sama orang tua, jangan harap rezeki lancar.”

Aku terpaku.

“Kang, tapi kita beneran nggak punya uang lagi besok. Aku cuma—”

“Udah! Aku nggak mau dengar alasanmu!” suaranya meninggi.

“Ibu cuma minta sedikit. Kamu tuh selalu aja punya alasan kalau urusannya sama Ibu. Bakti, ngerti nggak?! Sudah tau kalau mau rumah tangga berkah itu harus selalu nurut sama suami dan bantu suami berbakti.”

“Ini salah satu cara untuk berbakti ke orangtua, harusnya kamu tau itu, Eva!”

Aku tak sanggup menatap matanya. Kata-katanya seperti duri yang masuk satu-satu ke dada.

Ibu mertuaku menatapku dengan tatapan puas, menyeringai kecil di balik ekspresi pura-pura tersinggungnya.

“Tuh, denger sendiri kan? Helmi juga ngerti. Ibu nggak salah. Menantu kayak kamu tuh nggak tahu diri, nggak tahu berterima kasih. Udah dikasih tempat tinggal, dikasih anak Ibu, eh malah ngelawan!”

Tangisku pecah. Suara bisik-bisik tetangga mulai terdengar di luaran sana.

“Kasihan banget… dimarahin mertua…”

“Suaminya kok malah nyalahin istrinya sih…”

Aku memeluk tubuhku sendiri, berusaha menahan guncangan di dada. Tapi suaraku akhirnya pecah juga.

“Kang… aku ngerti kalau baktimu kepada orangtua itu nggak terbatas. Tapi aku cuma mau bilang, kita harus realistis. Uang udah nggak ada. Kita masih harus masak besok. Aku bukan nggak mau bantu Ibu, tapi—”

“Prioritasku itu IBU!” teriak Helmi. “Sekali lagi, IBU! Kamu paham nggak?! Jangan pernah bandingin Ibu sama hal lain!”

Kalimat itu menggema keras di kepalaku.

Ibu mertuaku tersenyum lebar, menepuk dadanya pelan seolah baru memenangkan pertempuran.

Aku tak kuasa menatap mereka. Aku hanya menunduk, menatap butiran beras yang berserakan di lantai teras.

Putih. Bersih.

Tapi kini ternoda oleh air mataku sendiri.

Suasana menjadi sunyi. Hanya suara jangkrik dari semak-semak yang terdengar samar. Lalu ibu mertuaku berkata lirih, penuh sindiran, “Udah Mi, biarin aja. Ibu juga malas dikasih kasihanan kayak gini. Simpen aja berasmu buat kamu dan anakmu itu.”

Lalu ia berbalik, berjalan pergi dengan langkah cepat dan wajah puas.

Kang Helmi menatapku sekilas, dia tak mengatakan apapun, hanya sorot mata kecewa yang membuatku merasa sangat sendirian dan bersalah.

Dia lantas masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan suara yang cukup keras.

Aku terdiam di depan teras, sendirian, dikelilingi tatapan tetangga dan sisa beras yang bertebaran di lantai.

Perlahan aku membungkuk, mengumpulkan lagi beras-beras yang tercecer itu dengan hati yang sakit luar biasa. Sore itu, aku tahu satu hal, terkadang, musuh dalam pernikahan bukanlah orang ketiga.

Melainkan keluarga yang tak tahu batas dan suami yang terlalu takut berkata “tidak.”

Tak sampai lima menit, pintu rumah terbuka lagi dan Kang Helmi muncul menggendong Hafsah.

“Hafsah muntah berdarah!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Keputusan Camat

    Di sisi lain kota, di kantor kecamatan yang biasanya menjadi tempat kebanggaan Helmi, suasana justru terasa mencekam. Helmi duduk di mejanya dengan kepala tertunduk.Rekan-rekan kerjanya yang biasanya mengajaknya makan siang atau sekadar bercanda, kini sibuk dengan urusan masing-masing, seolah Helmi adalah wabah yang harus dihindari.Dering telepon di meja kerja Helmi berbunyi. Bukan dari warga, tapi dari sekretaris Pak Camat."Pak Helmi, silakan ke ruangan Pak Camat sekarang. Membawa buku catatan Anda."Langkah Helmi terasa berat. Di dalam ruangan yang dingin itu, Pak Camat duduk dengan ekspresi yang sangat keras.Di depannya, ada sebuah map biru dan beberapa lembar surat kaleng serta cetakan tangkapan layar (screenshot) dari media sosial."Duduk, Helmi," perintah Pak Camat dingin. "Kamu tahu ini apa?"Pak Camat menyodorkan surat teguran resmi. "Kantor ini adalah lembaga pelayanan publik. Tapi selama sebulan terakhir, nama kamu terus-menerus muncul dalam laporan yang tidak menyenangk

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Trauma

    Malam itu, rumah Eva yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang penuh dengan isak tangis yang tertahan.Di dalam kamar yang lampunya sudah dimatikan, Hafsah tidur dengan gelisah. Tubuh mungilnya berkali-kali tersentak, dan keringat dingin membasahi keningnya.Eva duduk di sampingnya, mengusap punggung anaknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki setelah drama pencarian di pinggir jalan tadi sore."Jangan... Abi, buka pintunya... Hafsah laper..." igau Hafsah dalam tidurnya. Suaranya kecil, parau, dan penuh ketakutan.Eva memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Setiap igauan Hafsah adalah sembilu yang menyayat hatinya.Dia tidak pernah menyangka bahwa kerinduannya pada sosok ayah akan dibayar dengan trauma sedalam ini. Helmi tidak hanya meninggalkan luka pada Eva, tapi kini dia telah menghancurkan rasa aman di dunia kecil Hafsah.Keesokan paginya, kondisi Hafsah tidak membaik.Bocah itu menolak untuk keluar kamar. Bahkan ketika mendengar suara moto

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Hafsah Hilang

    Waktu seolah merayap dengan lambat, namun jarum jam dinding di rumah Eva terasa berdetak seperti genderang perang. Adzan Ashar sudah berkumandang lebih dari tiga puluh menit yang lalu, namun gerbang rumah yang kini terbuka lebar itu tak kunjung menampilkan sosok motor Helmi yang membawa Hafsah pulang.Eva berdiri di teras, jemarinya terus meremas ujung kerudungnya yang mulai lembap oleh keringat dingin. Perasaannya kacau. Sejak sepuluh menit yang lalu, dia mencoba menghubungi nomor Helmi. Eva sudah membuka blokir nomor itu demi bisa memantau anaknya, namun setiap kali dihubungi, operator hanya menjawab dengan nada yang sama: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”"Duh Ya Allah, Kang Helmi... jangan main-main sama anak," bisik Eva lirih.Dia mencoba mencari nomor Yuli di daftar kontaknya, namun dia baru ingat bahwa dia tidak pernah menyimpan nomor adik iparnya itu karena hubungan mereka yang selalu buruk. Kegelisahan Eva memuncak. Di saat itulah, Hamzah muncu

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Main Yuk

    Siang itu, matahari seolah memanggang aspal di depan rumah Eva. Di teras, Eva sedang merapikan beberapa paket pesanan tetangganya saat sebuah motor yang sangat ia kenali berhenti di depan rumah.Helmi turun dengan membawa dua kantong plastik besar berisi berbagai macam jajanan, mulai dari ciki, susu kotak, hingga mainan plastik murah yang bungkusnya sudah agak kusam.Eva berdiri, wajahnya mendadak kaku. "Mau apa lagi, Kang? Bukannya urusan kita sudah jelas di pengadilan kemarin?"Helmi memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. "Va, tolong jangan begini. Akang ke sini bukan mau ribut. Akang kangen sama Hafsah. Sudah lama sekali Akang nggak ketemu dia, nggak main sama dia. Ini Akang bawakan jajanan banyak buat dia."Eva menarik napas panjang. Firasatnya buruk. Dia tahu betul bahwa Helmi jarang sekali melakukan sesuatu tanpa pamrih. Namun, sebelum Eva sempat menolak, Hafsah kecil sudah berlari keluar dari dalam rumah."Abi!" teriak bocah itu dengan mata berbinar.Hafsah, yang belum

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Membenci Mantan Suami

    Di siang yang sama, di tempat yang berbeda.Erin sedang duduk di teras rumah Bu Siti sambil mengikir kukunya, menunggu kurir paket yang biasanya datang seperti jadwal minum obat.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Siska, temannya yang bekerja di sebuah toko fotokopi tepat di seberang Gedung Pengadilan Agama.[Halo, Rin! Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat laki kamu, si Helmi!] suara Siska terdengar melengking penuh semangat gosip.[Ya emang dia ke sana, Sis. Kan sidang pertama sama mantan istrinya yang sok itu,] jawab Erin malas-malasan.[Iya, tapi kamu tahu nggak apa yang dia lakuin di parkiran tadi? Dia ngejar-ngejar mantan istrinya itu, Rin! Sampai mau pegang-pegang tangannya, mukanya melas banget kayak pengemis. Aku denger sendiri dia bilang 'Tolong jangan cerai, aku mau perbaiki semuanya'. Gila ya, Rin, itu suamimu kayak nggak punya harga diri banget di depan mantan istrinya!][Gimana sih, katanya udah nggak suka dan cuma sayang sama kamu, kamu yang dibangga-b

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Yang Mau Cerai

    Gedung Pengadilan Agama itu tampak kaku dan dingin, dengan pilar-pilar putih besar yang seolah menghimpit siapa saja yang datang membawa beban rumah tangga di pundaknya.Bagi Eva, ini adalah langkah besar untuk menjemput kembali kemerdekaannya. Namun bagi Helmi, gedung ini terasa seperti panggung eksekusi bagi harga dirinya yang sudah compang-camping.Eva duduk di kursi tunggu kayu yang keras, didampingi oleh pengacaranya dan Pak Wawan.Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang rapi dengan kerudung senada. Wajahnya terlihat santai, matanya menatap lurus ke depan. Itu adalah sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.Tak lama kemudian, Helmi datang. Penampilannya sangat kontras dengan biasanya. Seragam PNS-nya tampak agak kusut dan warnanya memudar karena salah metode cuci, wajahnya kusam dengan kantung mata yang menghitam.Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai besar, dan memang begitulah kenyataannya. Hutang pinjol Yuli, teror di kantor, dan sik

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Duda Baru

    Sudah tiga malam berturut-turut Kang Helmi tak pulang.Awalnya aku gelisah, setiap kali terdengar suara motor di depan rumah, aku menengok cepat, berharap itu dia. Tapi lama-lama aku berhenti berharap.Bahkan Hafsah juga tak menanyakan abinya, seolah dia sudah paham apa yang terjadi. Mungkin meman

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Hilangnya Tabunganku

    Setelah selesai menelepon, Yuli bangkit dari karpet dan duduk di atas kursi. Dia duduk bertumpang kaki, sambil main HP.Sirna sudah ekspresi sedih dan kecewanya karena sang suami selingkuh, dia sekarang sudah haha-hihi lagi dengan benda pipih di tangannya itu.“Hadeh, kayak nggak terjadi apapun aja

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-20
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Jantungku Ugal-Ugalan

    “Hah? Kamu ngomong apa sih, Va? Kapan aku foto sama perempuan? Aku nggak pernah!” Kang Helmi mengelak, tapi bisa kulihat keringat dingin sebesar biji jagung di pelipisnya.“Iya, foto bareng nggak pernah.. tapi video call mesum bareng mah sering, iya kan Kang? Ngaku kamu!”“Sering apa?! kapan?! Kal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Desahan di Kamar Mandi

    Kang Helmi tak berhenti walaupun aku tak memberikan respon apapun, tangannya terus bergerak bebas di sekujur tubuhku.“Sekarang kamu nggak usah ngapa-ngapain, biar aku yang beraksi ya Neng? Pokoknya kamu pasti bakal puas banget.” Bisiknya dengan napas yang sudah memburu.Bisa kurasakan sedikit tonj

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status