Share

Mertua Minta Beras

Penulis: Mami Lova
last update Tanggal publikasi: 2025-11-11 20:46:57

“Mi! Helmi!”

Masih saja mertuaku itu teriak-teriak di luar, bukannya masuk saja. Padahal ini rumah anak dan menantunya, bisa-bisanya dia bersikap seperti penagih hutang. Teriak-teriak di luar.

“Iya Bu, kenapa?” Kang Helmi keluar, mencium tangan ibunya dan aku pun melakukan hal yang sama.

“Kamu masih ada beras, enggak?”

“Beras?” ulang kang Helmi, dan aku cuma bisa mengatupkan kedua bibirku kuat-kuat.

Sudah bisa kutebak apa yang mertuaku mau, selalu saja begini.

“Iya beras. Beras Ibu abis, dibawa sama si Yuli katanya dia keabisan beras.. eh malah diambil semua. Ibu mau masak susah jadinya.” Mertuaku curhat.

“Ohh gitu. Neng, coba liat masih ada beras enggak di dapur?”

Aku cuma mengangguk patuh, lalu pergi ke dalam untuk mengecek beras yang sebenarnya aku sudah tahu berapa sisa yang kami miliki. Mungkin hanya untuk tiga kali masak nasi, kurang lebih dua kilogram beras.

“Sekitar dua kilo, Kang.” Kataku, saat kembali ke depan dengan hati masygul.

“Ya udah, Ibu minta sekilo setengah ya? Soalnya nanti malam itu kan ada pengajian di mushola dan Ibu kebagian bikin suguhan. Mau bikin nasi kuning.”

“Boleh Bu, ambilin Neng.”

Aku tidak menjawab, dan seperti biasa menurut saja apa yang suamiku perintahkan. Tetapi aku melihat beras kami tinggal dua kilo, ditambah lagi kang Helmi juga tak punya pegangan uang lagi.

“Apa kukurangin aja berasnya, ya?”

Hatiku bergejolak, jika kuberikan sebanyak yang mertuaku inginkan maka kami bahkan tak punya cukup beras untuk satu kali memasak nasi.

Tapi jika tidak kuberikan, mertuaku takutnya mengomel dan ujung-ujungnya aku ikut diomeli kang Helmi juga.

“Mmm.. kurangin dikit aja kali ya? Asal cukup buat besok masak nasi aja deh.. enggak nyampe sekilo setengah. Di mana ya timbanganku?”

Kuambil timbangan digital kecil dari dalam lemari, dan menimbang beras sebanyak 1,3 kilo saja.

“Bismillah aja deh, semoga mertua enggak marah dan kang Helmi juga ngerti kenapa berasnya aku kurangin.”

Aku berdoa dalam hati, semoga keputusanku ini tidak membawa masalah. Aku melakukan ini bukan karena pelit, tapi mempertimbangkan kondisi dapurku sendiri.

Sebab bukan satu atau dua kali, saat kami kesulitan, mertuaku hampir tak pernah memberikan beras secara cuma-cuma. Selalu harus kami beli, walau harganya juga setengahnya dari harga pasaran. Tapi tetap saja, masa iya mertua sendiri begitu sama anak cucu?

“Ini Kang, berasnya.” Kataku sambil menyodorkan beras.

Kang Helmi menerimanya, dan menyerahkan kantong plastik hitam itu pada mertuaku.

“Ya udah, Ibu pulang dulu.. soalnya udah mau masak. Eh iya, Mi.. kamu ada lima puluh enggak? Buat nambah-nambah beli lauk nasi kuningnya.”

“Maaf Bu, uangku udah abis. Tadi banget dipinjem sama Yuli.”

“Ckk gimana sih? Ya udah lah enggak apa-apa. Untung masih ada telor sama tempe, kalo enggak bisa malu Ibu sama ibu-ibu pengajian!”

Mertuaku mengomel, mungkin kecewa karena tak bisa menambah lauk nasi kuning untuk suguhan pengajian.

“Eh Bu, makan dulu yuk?” tiba-tiba saja kang Helmi menawari ibunya makan, padahal ibunya sudah mau pergi.

“Emangnya Eva masak apa?”

“Sayur sop Bu.” Sahutku,

“Pake daging?” kugelengkan kepala dan mertuaku mengedikkan bahunya.

“Enggak usah lah, males. Sop sayuran doang mana enak sih? Harusnya bikin sop itu pake yang hanyir-hanyir, daging kek, minimal sayap ayam lah!”

Tuh, betul kan dugaanku? Mertuaku ini memang sangat ajaib. Menolak ya menolak saja, tak usah pakai ceramah ini itu yang menyakitkan hati.

“Makanya, jangan belanja onlen melulu! Jadinya duit buat beli makanan enak buat suami dan anak abis, kan?!”

DEG.

Lagi-lagi soal itu, padahal aku belanja online itu bukan untukku sendiri. Melainkan barang titipan para tetangga, istilahnya jastip barang. Itu penghasilan tambahanku, lumayan sedikit demi sedikit bisa menabung untuk biaya pendidikan Hafsah.

“Enggak kok, Bu. Eva itu kan belanja online bukan punya dia, tapi..”

“Alah kamu itu Helmi, jangan belain terus istrimu kalo memang dia salah!”

“Tapi Bu, Eva memang..”

“Udah! Udah! Ibu ke sini bukan buat diceramahin.”

Mertuaku mengibaskan tangannya di depan muka, lalu membalikkan tubuh dan pergi dari rumah kecil kami. Kudengar helaan napas berat kang Helmi,

“Maafin ibu, ya Neng?”

“Iya Kang, enggak apa-apa kok.” Sahutku sambil tersenyum, walau hati tak karuan rasanya.

“Ya udah, aku mandi dulu ya?”

“Iya Kang.” Sahutku pendek, sambil melangkah ke tengah rumah untuk membereskan bekas makan suamiku.

Hafsah masih asyik menonton, sementara suamiku pergi ke kamar mandi. Aku masih terbayang uang seratus ribu yang kang Helmi berikan pada Yuli lalu teringat uang dua puluh ribu yang tersisa di dompet.

“Besok masak apa? Belum uang bensin, emangnya cukup?” batinku.

Aku memang memiliki tabungan, yang kusimpan dari hasil jastip barang online. Karena di sini mayoritas ibu-ibu gaptek yang tak tahu belanja online, aku memanfaatkan kesempatan itu.

Jadi mereka memesan lewat aku, dan ada sedikit uang jasa selain ongkir yang aku pasang. Mereka tidak keberatan dengan hal itu, karena memang jika belanja di pasar harganya jauh lebih mahal ketimbang di online.

Dari uang jasa itu, kusimpan ke dalam celengan untuk tabungan pendidikan Hafsah. Aku ingin memasukkan anakku ke sekolah Islam, dan butuh biaya yang lumayan walaupun lokasinya di pinggiran kota seperti ini.

“Hhh, kalo kayak begini.. harus kubuka lagi tabungannya.”

Hatiku merasa berat, karena sudah beberapa kali aku membongkar celengan saat uang belanja habis, dan tabungan yang lama tak pernah diganti. Sebab uang gaji kang Helmi pas-pasan sekali, tak pinjam uang dari orang saja sudah syukur.

“Andai Yuli selalu tepat janji dan bayar utang, kayaknya enggak bakalan gini-gini amat deh..” keluhku.

Aku jadi berandai-andai, seandainya aku masih bekerja mungkin keuangan kami akan lebih baik. Ah bukan, seandainya Yuli tak suka pinjam-pinjam uang, atau mertuaku tak tiba-tiba minta tambahan uang belanja, keuanganku dan kang Helmi pasti aman-aman saja.

“Ya sudahlah, besok coba kutagih ke si Yuli. Siapa tau dia emang niat bayar sekarang.” Batinku menghibur diri.

Sambil menunggu kang Helmi selesai mandi, aku duduk-duduk sambil main HP. Kubuka W******p dan iseng mengecek status-status kontakku, salah satunya Yuli.

[Makasih papi sayang, hadiahnya spesial pake banget. Katanya ini hadiah buat bidadari syurganya papi Edi. Lop yu Pi!] begitu isi caption statusnya.

Yuli sedang menunjukkan sebuah tas, modelnya seperti tas-tas import yang selalu dipakai selebriti dalam negeri. Tapi tentu saja itu KW, tak mungkin adik iparku membeli barang import yang harganya puluhan juta.

Tak berselang lama, status baru muncul. Sekarang statusnya adalah screenshoot percakapannya dengan salah satu sobat gosipnya, yang menanyakan harga tas yang baru Yuli dapatkan.

[Tas mahal tsay, ini satunya 1,5 juta.]

Aku cuma menahan senyum, satu setengah juta apanya? Tas KW begini paling mahal harganya 350 ribu.

“Coba deh aku cek ke online shop..”

Iseng aku mengecek harga tas yang persis dengan yang Yuli miliki, aku masih ingat namanya karena beberapa waktu lalu salah satu tetangga menginginkan tas semacam itu, tapi karena uangnya belum kumpul dia belum pesan.

“Nah kan, apa kubilang.. tasnya cuma 60 ribuan malah.”

Aku menggulir layar ponsel, mengecek satu per satu postingan tas yang serupa dengan yang Yuli pamerkan. Katanya dari suami, padahal aku yakin dia checkout sendiri, lalu dia pamerkan sendiri juga.

“Ahh uang yang buat belanja besok kayaknya emang dipake buat bayar tas ini.” Kataku, sedikit diisi penyesalan.

“Eva! Kamu itu keterlaluan ya sama Ibu!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Keputusan Camat

    Di sisi lain kota, di kantor kecamatan yang biasanya menjadi tempat kebanggaan Helmi, suasana justru terasa mencekam. Helmi duduk di mejanya dengan kepala tertunduk.Rekan-rekan kerjanya yang biasanya mengajaknya makan siang atau sekadar bercanda, kini sibuk dengan urusan masing-masing, seolah Helmi adalah wabah yang harus dihindari.Dering telepon di meja kerja Helmi berbunyi. Bukan dari warga, tapi dari sekretaris Pak Camat."Pak Helmi, silakan ke ruangan Pak Camat sekarang. Membawa buku catatan Anda."Langkah Helmi terasa berat. Di dalam ruangan yang dingin itu, Pak Camat duduk dengan ekspresi yang sangat keras.Di depannya, ada sebuah map biru dan beberapa lembar surat kaleng serta cetakan tangkapan layar (screenshot) dari media sosial."Duduk, Helmi," perintah Pak Camat dingin. "Kamu tahu ini apa?"Pak Camat menyodorkan surat teguran resmi. "Kantor ini adalah lembaga pelayanan publik. Tapi selama sebulan terakhir, nama kamu terus-menerus muncul dalam laporan yang tidak menyenangk

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Trauma

    Malam itu, rumah Eva yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang penuh dengan isak tangis yang tertahan.Di dalam kamar yang lampunya sudah dimatikan, Hafsah tidur dengan gelisah. Tubuh mungilnya berkali-kali tersentak, dan keringat dingin membasahi keningnya.Eva duduk di sampingnya, mengusap punggung anaknya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki setelah drama pencarian di pinggir jalan tadi sore."Jangan... Abi, buka pintunya... Hafsah laper..." igau Hafsah dalam tidurnya. Suaranya kecil, parau, dan penuh ketakutan.Eva memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Setiap igauan Hafsah adalah sembilu yang menyayat hatinya.Dia tidak pernah menyangka bahwa kerinduannya pada sosok ayah akan dibayar dengan trauma sedalam ini. Helmi tidak hanya meninggalkan luka pada Eva, tapi kini dia telah menghancurkan rasa aman di dunia kecil Hafsah.Keesokan paginya, kondisi Hafsah tidak membaik.Bocah itu menolak untuk keluar kamar. Bahkan ketika mendengar suara moto

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Hafsah Hilang

    Waktu seolah merayap dengan lambat, namun jarum jam dinding di rumah Eva terasa berdetak seperti genderang perang. Adzan Ashar sudah berkumandang lebih dari tiga puluh menit yang lalu, namun gerbang rumah yang kini terbuka lebar itu tak kunjung menampilkan sosok motor Helmi yang membawa Hafsah pulang.Eva berdiri di teras, jemarinya terus meremas ujung kerudungnya yang mulai lembap oleh keringat dingin. Perasaannya kacau. Sejak sepuluh menit yang lalu, dia mencoba menghubungi nomor Helmi. Eva sudah membuka blokir nomor itu demi bisa memantau anaknya, namun setiap kali dihubungi, operator hanya menjawab dengan nada yang sama: “Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”"Duh Ya Allah, Kang Helmi... jangan main-main sama anak," bisik Eva lirih.Dia mencoba mencari nomor Yuli di daftar kontaknya, namun dia baru ingat bahwa dia tidak pernah menyimpan nomor adik iparnya itu karena hubungan mereka yang selalu buruk. Kegelisahan Eva memuncak. Di saat itulah, Hamzah muncu

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Main Yuk

    Siang itu, matahari seolah memanggang aspal di depan rumah Eva. Di teras, Eva sedang merapikan beberapa paket pesanan tetangganya saat sebuah motor yang sangat ia kenali berhenti di depan rumah.Helmi turun dengan membawa dua kantong plastik besar berisi berbagai macam jajanan, mulai dari ciki, susu kotak, hingga mainan plastik murah yang bungkusnya sudah agak kusam.Eva berdiri, wajahnya mendadak kaku. "Mau apa lagi, Kang? Bukannya urusan kita sudah jelas di pengadilan kemarin?"Helmi memasang wajah paling melas yang bisa ia buat. "Va, tolong jangan begini. Akang ke sini bukan mau ribut. Akang kangen sama Hafsah. Sudah lama sekali Akang nggak ketemu dia, nggak main sama dia. Ini Akang bawakan jajanan banyak buat dia."Eva menarik napas panjang. Firasatnya buruk. Dia tahu betul bahwa Helmi jarang sekali melakukan sesuatu tanpa pamrih. Namun, sebelum Eva sempat menolak, Hafsah kecil sudah berlari keluar dari dalam rumah."Abi!" teriak bocah itu dengan mata berbinar.Hafsah, yang belum

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Membenci Mantan Suami

    Di siang yang sama, di tempat yang berbeda.Erin sedang duduk di teras rumah Bu Siti sambil mengikir kukunya, menunggu kurir paket yang biasanya datang seperti jadwal minum obat.Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Siska, temannya yang bekerja di sebuah toko fotokopi tepat di seberang Gedung Pengadilan Agama.[Halo, Rin! Kamu tahu nggak? Tadi aku lihat laki kamu, si Helmi!] suara Siska terdengar melengking penuh semangat gosip.[Ya emang dia ke sana, Sis. Kan sidang pertama sama mantan istrinya yang sok itu,] jawab Erin malas-malasan.[Iya, tapi kamu tahu nggak apa yang dia lakuin di parkiran tadi? Dia ngejar-ngejar mantan istrinya itu, Rin! Sampai mau pegang-pegang tangannya, mukanya melas banget kayak pengemis. Aku denger sendiri dia bilang 'Tolong jangan cerai, aku mau perbaiki semuanya'. Gila ya, Rin, itu suamimu kayak nggak punya harga diri banget di depan mantan istrinya!][Gimana sih, katanya udah nggak suka dan cuma sayang sama kamu, kamu yang dibangga-b

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Yang Mau Cerai

    Gedung Pengadilan Agama itu tampak kaku dan dingin, dengan pilar-pilar putih besar yang seolah menghimpit siapa saja yang datang membawa beban rumah tangga di pundaknya.Bagi Eva, ini adalah langkah besar untuk menjemput kembali kemerdekaannya. Namun bagi Helmi, gedung ini terasa seperti panggung eksekusi bagi harga dirinya yang sudah compang-camping.Eva duduk di kursi tunggu kayu yang keras, didampingi oleh pengacaranya dan Pak Wawan.Ia mengenakan gamis berwarna biru dongker yang rapi dengan kerudung senada. Wajahnya terlihat santai, matanya menatap lurus ke depan. Itu adalah sebuah ketenangan yang lahir dari keputusan yang sudah bulat.Tak lama kemudian, Helmi datang. Penampilannya sangat kontras dengan biasanya. Seragam PNS-nya tampak agak kusut dan warnanya memudar karena salah metode cuci, wajahnya kusam dengan kantung mata yang menghitam.Dia tampak seperti pria yang baru saja melewati badai besar, dan memang begitulah kenyataannya. Hutang pinjol Yuli, teror di kantor, dan sik

  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Aku Mau Cerai!

    “Ceraikan aku!”Kutantang saja sekalian, aku sudah tak tahan. Kang Helmi sudah keterlaluan, tak pulang berminggu-minggu, sekalinya datang malah minta uangku untuk diberikan pada Yuli.Iya, diberikan. Karena adik iparku tercinta itu tukang ngutang yang tak suka bayar. Jika ditotal-total, mungkin su

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Pinjam Uangmu Dulu!

    Acara syukuran toko sembako kang Hamzah berjalan dengan lancar, banyak tetangga yang datang dan semuanya terlihat senang. Makanan yang disajikan berlimpah, bahkan masih memberikan tentengan nasi berkat untuk dibawa pulang. Untuk ibu-ibu yang rewang juga kenyang, mereka diberi masakan jadi dan seka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Cemburu Buta

    “Kenapa kamu chattingan sama lelaki lain, Eva?!”Suara Kang Helmi bergema keras di ruang tamu. Tangannya masih menggenggam ponselku erat, wajahnya merah padam, napasnya tersengal karena marah.Aku terpaku beberapa detik, mencoba mengatur napas, tapi sebelum sempat bicara, kata-katanya menghantamku

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dimanjakan Duda Saat Suami Terpikat Janda   Dusta Demi Dusta

    “Huekk!”Spontan kututup hidungku, perut yang kosong dan kelelahan, ditambah aroma busuk yang menguar membuatku nyaris tak mampu menahan muntah.“Bau Mi..” Hafsah pun mengeluh.Kuminta dia berdiri di teras, sementara aku masuk ke dalam rumah sambil menutupi hidung dengan ujung kerudung.“Astagfirul

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status