LOGINDingin yang asing adalah hal pertama yang menyengat kesadaran Celyna.Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, rasa kaku di leher bekas suntikan itu masih tersisa. Celyna mengerjap, memandangi langit-langit kamar dengan ukiran kayu ek bergaya klasik yang sama sekali tidak ia kenali. Ia bergerak pelan, menyadari tubuhnya terbaring di atas ranjang king-size.Di sudut ruangan,siluet seorang pria tampak memunggunginya. Caelan sedang berdiri di dekat perapian, menempelkan ponsel di telinganya. Suara baritonnya terdengar rendah, memberikan instruksi dingin kepada orang-orangnya di tanah air untuk mengatasi sisa kekacauan yang sengaja ia tinggalkan di meja makan keluarga Kendrick."Caelan..." gumam Celyna, suaranya parau dan nyaris habis.Pria itu menegang. Caelan langsung menurunkan ponsel, mematikan panggilan sepihak, dan berbalik cepat. Ia melangkah mendekat. Begitu tiba di tepi ranjang, Caelan langsung menarik tubuh Celyna ke dalam pelukan yang erat, hampir membuat Celyna sesak."Maaf...
Kekacauan di ruang makan itu memuncak bersamaan dengan ambruknya tubuh Sophia ke lantai. Di tengah histeria para pelayan dan kepanikan Jonathan, Nenek Felicia perlahan berdiri. Mengabaikan menantunya yang pingsan, mata tuanya yang tajam mengunci Kaizen yang masih merangkak di lantai dengan sudut bibir berdarah.Felicia menunjuk flashdisk hitam di atas meja dengan ujung tongkatnya. Suaranya terdengar sangat dingin, penuh penekanan."Aku memberimu dua pilihan, Kaizen," ucap Felicia tanpa ampun. "Kau datang sendiri ke kantor polisi dan menyerahkan dirimu atas semua kejahatan ini, atau aku yang akan menghubungi kepala kepolisian malam ini juga untuk menyeretmu keluar dari rumah ini.""Nenek! Tidak! Ini semua jebakan Caelan!" raung Kaizen hancur. Ketakutan nyata kini merayap di wajahnya yang pucat pasi.Caelan sama sekali tidak peduli pada ratapan kakaknya. Ia memutar tubuh, mempererat cengkramannya pada pergelangan tangan Celyna, lalu melangkah tegas hendak meninggalkan ruangan itu."Berh
Suasana di meja makan mendadak mencekik.. Pengakuan tentang hubungan gelap mereka membekukan darah semua orang di ruangan itu.Celyna sendiri terkejut setengah mati. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdengung nyaring. Ia menatap Caelan dengan rasa tidak percaya yang bercampur ngeri. Rahasia paling kotor yang selama ini mereka kubur dalam-dalam, kini diseret dan ditelanjangi secara paksa di hadapan seluruh keluarga."Caelan... apa yang kau lakukan?" rintih Celyna lirih. Tubuhnya bergetar hebat.Caelan tidak melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Celyna. Ia justru mempereratnya, pasang badan di depan wanita itu. Sambil menatap satu per satu wajah yang memucat di meja makan, Caelan melempar senyum sinis yang menusuk."Kalian semua terkejut?" suara Caelan meninggi, bergema dingin memotong keheningan. "Kenapa harus terkejut pada hubungan kami yang sekarang? Bukankah kalian sendiri yang menanam benih kehancuran ini sejak lama?"Caelan melan
"Aku butuh bantuanmu."Kalimat itu meluncur dari bibir Safira, memecah kesunyian koridor hotel yang remang-remang. Caelan membeku di ambang pintu. Matanya membelalak sesaat, tak mampu menyembunyikan rasa terkejut yang menghantam dadanya. Dari semua orang di dunia ini yang mungkin mengetuk pintunya pukul satu dini hari, wanita ini adalah orang terakhir yang ia duga.Safira, wanita yang selama ini menjadi pusat semesta Kaizen. Wanita yang membuat kakaknya menjadi bajingan yang mencampakkan Celyna. Kini, perempuan itu berdiri di depannya dengan napas memburu dan mata yang menyala oleh sesuatu yang sangat kukuh: dendam.Caelan cepat-cepat menguasai keterkejutannya. Ekspresi wajahnya kembali mengeras menjadi sedingin es. "Kau salah kamar, Safira. Pergilah sebelum aku memanggil keamanan.""Aku tidak salah kamar, Caelan," potong Safira cepat. Ia menahan daun pintu yang hendak ditutup Caelan dengan telapak tangan. "Aku tahu kau membenci Kaizen. Aku tahu kau ingin meruntuhkannya dari kursi per
Celyna meremas pakaiannya. Wajahnya mendadak pucat. Ucapan nenek Felicia menampar dirinya, dan harus ia akui. Ucapan nenek tidak ada yang salah. Dia memang selingkuh, ia membalas perselingkuhan Kaizen, dengan cara yang sama.Ia kembali jatuh cinta kepada mantan kekasih yang kini menjadi adik iparnya.Nenek Felicia tenang, ia menatap Davis. Sophia pandai menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Sebelum Felicia menjawab. Suara Kaizen sudah terdengar lebih dulu.“Celyna, tidak akan melakukan hal buruk sepertiku. Jadi, Nenek tidak perlu menakut-nakutinya.”“Tidak. Aku tidak sedang menakut-nakutinya. Kesalahan tetaplah kesalahan. Tidak ada kebenaran untuk kesalahan.” Felica menatap tajam semua orang. “Tapi, aku tahu ... Celyna perempuan baik. Ia tidak akan mengotori dirinya dengan perselingkuhan. Satu lagi, selama hukuman berlangsung, Celyn akan tetap tinggal di rumah ini.”Ucapan Felica lagi-lagi menampar hatinya, sekaligus membuatnya terkejut. Rasa bersalah, sedih, membalut hatinya. Tidak ad
Dan setelah sekian lamanya, akhirnya Celyna dan Kaizen berbagi ranjang yang sama. Keduanya tampak canggung, Celyna terus membelakangi tubuh Kaizen. Sementara Kaizen sama sekali tidak bisa tidur dan terlihat gelisah.Celyna dapat merasakannya. Namun, kali ini Celyna melihat Kaizen dapat mengontrol sifatnya yang selama ini dingin padanya. Mana mungkin dalam waktu yang sangat cepat, seorang Kaizen berubah. Jika bukan karena menginginkan sesuatu.Meskipun jika pada akhirnya Kaizen berubah dan berakhir jatuh cinta padanya. Hatinya sudah milik Caelan, cinta lama yang bersemi kembali. Perasaan dapat disembunyikan sedalam samudera. Namun, tidak dengan mata.Mata yang bercahaya, yang hanya bersinar saat bersama orang yang dicintainya. Mata tidak akan berbohong.“Celyna, kamu sudah tidur?” tanya Kaizen.Celyna yang belum tidur, memilih diam. Ia memunggungi Kaizen, pria itu berbalik arah. Ia menatap punggung istrinya. Dulu berbaring di sisinya saja, sudah membuatnya marah. Namun, kali ini dia be







