LOGINMeski sang ayah tampak bingung dan tidak mengerti, senyum Keira tetap mengembang.
“Iya, Pi. Mbak baru yang punya adik sudah datang. Jadi Keira punya teman bermain.” Keira menjelaskan dengan lancar. “Kan, kemarin Keira minta sama Nenek–terus Nenek langsung kasih.”
Gadis kecil itu terkikik kecil. “Dia lucu, deh, Pi. Nanti kita main bareng ya?”
“Kita lihat nanti,” ucap Ethan. Ia mengusap rambut Keira singkat, sebelum masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
Keira termenung sejenak, sebelum menghela napas. Namun, gadis itu kembali tersenyum kemudian.
Yang penting ia ada teman bermain sekarang! Jadi meski sang ayah selalu rapat ke sana kemari, pergi sana sini, Keira tidak akan kesepian lagi.
Sementara itu, dari kejauhan, Bu Hanum melihat kejadian kejadian yang sering berulang ini. Sudah biasa, gadis kecil itu diabaikan oleh laki-laki blasteran itu.
“Ayo, katanya mau main dengan adek Sakti.”
Tangan Bu Hanum menepuk punggung Keira. Mata bulat yang sebelumnya berkabut, kembali berbinar. “Adik sudah bangun, Bude?”
“Sudah. Malah sudah mandi.”
“Aku mau mau ke sana!”
***
Sudah satu minggu lebih Cahya tinggal di rumah ini.
Semuanya berjalan lancar. Tidak ada kesulitan yang berarti.
Namun, tidak pernah sekalipun bertemu dengan Tuan Ethan, papinya Keira. Lelaki itu selalu pulang larut malam atau menjelang pagi, kemudian keluar kamar ketika matahari sudah tinggi.
Sedangkan Cahya, pagi-pagi harus mendampingi Keira berangkat sekolah. Tak jarang dia juga membawa Sakti ikut serta. Setelah itu, dia bersiap ke hotel untuk bekerja di restoran. Kemudian sore harinya kembali pulang, dan menemani Keira dan Sakti.
Nyonya William yang mempekerjakan Cahya pun rupanya tinggal di luar negeri. Hanya sesekali beliau mengobrol dengan Keira via telepon.
Kini, Cahya mulai mengerti, kenapa Keira tidak mendapatkan perhatian dari ayahnya. Karena mereka jarang bertemu, meskipun tinggal dalam satu atap. Tak jarang Keira berkeluh kesah tentang kerinduannya akan kehadiran Papinya.
“Non Keira, sekarang sudah waktunya tidur. Tuh adik Sakti juga sudah tidur,” ucap Cahya sambil menunjuk Sakti yang sudah pulas di sofa. Jarum jam dinding sudah menunjuk angka sembilan lebih.
Seperti malam sebelumnya, Cahya dan Sakti bermain dulu di kamar Keira. Bu Hanum tidak mengijinkan Keira untuk berlama-lama di kamar Cahya. Jadi jalan tengahnya, mereka berdua lah yang menemani majikan kecil itu di kamar Keira sendiri.
“Tapi Keira mau dibacakan buku dulu.”
“Iya. Buku yang mana?”
Gadis kecil itu beranjak menuju rak buku. Dia mengambil satu buku tebal dan membukanya terlebih dulu sebelum menyerahkan kepada Cahya.
“Cerita yang ini, ya.”
Cahya mengangguk sambil tersenyum. Dalam hati dia bergumam, pasti anak kecil ini sedang merindukan ibunya. Kasihan.
“Dongeng Putri Cinderella,” ucap Cahya kemudian membaca kisah klasik yang tak lekang oleh zaman.
“Mbak Cahya.”
“Iya?”
“Ibu tiri itu jahat, ya?”
Cahya tersenyum. Kemudian menutup buku yang baru saja selesai dibacakan. Dia memiringkan tubuhnya, sambil membelai rambut Keira yang berwarna coklat.
“Memang ada ibu tiri yang tidak baik, tetapi yang tidak baik itu belum tentu ibu tiri.”
“Maksudnya bagaimana?” Mata bulat itu mengerjap menuntut jawaban lebih.
“Di dunia ada orang jahat dan orang baik. Kita tidak bisa mengubah itu. Jadi kita sendirilah yang harus bisa menjaga diri. Seperti Non Keira saat di sekolah, ada teman yang nakal dan ada yang baik. Iya, kan?”
“Hmm…. Iya. Keira tidak suka dekatan sama anak nakal.”
“Iya betul. Lebih baik kita menghindar.”
“Hmm…terus kenapa Tuhan mengambil orang baik. Seperti Mami yang menyayangi Keira?”
Wanita muda itu menghela napas. Pertanyaan ini juga sama terlontar di pikirannya saat yang di Atas mengambil suaminya.
“Karena Tuhan sangat menyayangi maminya Non.”
“Jadi Tuhan tidak sayang Papi? Tidak sayang Keira juga?”
“Kita semua nantinya diambil Tuhan. Namun, Papi dan Non Keira masih mempunyai tugas di dunia ini. Seperti Non Keira harus sekolah, Papi juga masih harus bekerja.”
Tangan anak kecil itu menggenggam perlahan. “Kenapa Papi harus banyak bekerja?”
“Karena Papi ingin mendapatkan uang banyak untuk Non Keira.”
“Tapi …. Keira tidak mau uang banyak. Keira ingin seperti dulu. Papi banyak waktu menemani Keira.”
“Iya, Non. Pasti nanti Papi akan bermain lagi dengan Non Keira. Sekarang tidur, ya. Besok harus bangun pagi.”
Gadis itu mengangguk, kemudian beringsut memutar tubuhnya membelakangi Cahya. Kebiasaannya sebelum tidur, dia memeluk guling dan meminta punggungnya diusap-usap.
“Mbak Cahya….”
“Iya?”
“Boleh Keira panggil Mbak Cahya Ibu? Seperti adik Sakti.”
“Iya. Tapi Mbak ijin Bu Hanum dulu, ya.”
Gadis itu memutar badan menghadap Cahya kembali. “Tidak usah. Keira panggil Ibu ketika mau tidur aja. Boleh?”
“Iya, boleh.”
Gadis kecil itu tersenyum kemudian berkata, “Selamat malam, Ibu.”
Tak lama kemudian suara dengkur mengalun. Cahya menyelimuti gadis kecil itu. Sambil menggendong Sakti, dia kembali ke kamarnya. Dia bersiap untuk tidur. Mengganti baju dengan daster setelah melepas bra.
“Yah habis.” Cahya memegang tempat air yang kosong.
Dia ke dapur untuk mengisi air minum. Beberapa lampu sudah dimatikan, menyisakan sinar temaram dari beberapa lampu yang menyorot ke dinding.
Cahya menoleh ketika merasa ada bayangan berkelebat. Tidak ada siapa-siapa.
‘Ah, mungkin hanya perasaanku saja,’ pikir Cahya melanjutkan ke dapur. Dia mencuci tangan di wastafel setelah mengisi air minum.
Saat mematikan air, tubuh Cahya menegang seketika. Tangan besar melingkar di pinggangnya bersamaan dengan embusan napas hangat yang menerpa kulit leher.
“Ternyata kamu datang juga.” Suara berbisik yang diiringi aroma alkohol yang menyeruak. “Siska.”
“Si-siapa kamu!?”
Tidak ada jawaban, tetapi tangan besar itu membalik tubuh Cahya untuk menghadap kepadanya. Sinar dari taman belakang menunjukkan siluet wajah laki-laki.
Dahi Cahya berkerut dalam, seakan memorinya mengingat sesuatu.
Namun, apa dan siapa?
Lelaki di depannya tersenyum tipis.
Dengan tidak sabaran lelaki itu mengutip napas tanpa memberi kesempatan. Tubuh wanita itu terkunci di antara meja wastafel dan lemari dapur.
Lelaki itu semakin tidak terkendali ketika jemarinya menyelusup pada kancing daster. Mendapati sesuatu yang diinginkan tanpa penghalang dan–
“Kenapa ada di sini?” Cahya menatap suaminya yang menutup pintu perlahan. Kemudian membuka tirai sedikit mengintip ke arah luar.“Aman. Mami sudah istirahat di kamar.” Ethan tersenyum lebar dan mendekat. Satu kali rengkuhan, tubuh Cahya sudah berlabuh di pelukan.“A-apa tidak bahaya. Nyonya nanti__”“Stss…. Pasti ini ada pertanda kalau kita harus berterus terang kepada Mami.”“Tapi nanti kalau Nyonya marah gimana?”Ethan membubuhkan ciuman lembut di pucuk kepalanya. “Mami memang orangnya tegas, tetapi Mami bukan orang jahat, Aya. Percaya sama suamimu ini.”Dalam dekapan, Cahya merasakan kedamaian meskipun keresahannya masih begitu pekat. Bagaimana kalau Nyonya William murka dan mengusirnya? Dia sadar diri kalau bukan wanita yang sederajat dengan suaminya.Terbersit ide dia mengalah saja, daripada suaminya berselisih pendapat dengan orang tuanya. Dia bisa menghidupi Satria dan anak dalam kandungannya.Dalam hati Cahya berguman, “Aku tidak boleh serakah. Begitu banyak nikmat yang diberik
Bohong kalau Cahya merasa baik-baik saja meskipun dia berada dalam perlindungan suaminya. Jantung wanita itu nyaris copot menatap Nyonya William yang mendekat. Begitu juga Ethan.“Ethan! Kamu tidak memeluk Mami?”Terhenyak, langkah Ethan pun bergegas meninggalkan Cahya yang berdiri mematung. Dengan sendirinya, wanita ayu itu mengempiskan perut menyembunyikan kehamilannya.Ibu dan anak itu berpelukan. “Mami, bukankah rencananya datang minggu depan? Aku kaget.”“Aku bilang minggu-minggu ini, kan? Ada tiket dan Papimu bisa ditinggal, Mami langsung terbang.”“Kenapa tidak menelponku saat diperjalanan? Aku bisa menjemput di bandara.”“Kejutan, Ethan Sayangku.”“Keira pasti senang.”“Oh, iya. Mana cucuku! Mami kangen!” Wanita itu mengedarkan pandangan, kemudian bertumpu pada Cahya yang berdiri di sana. “Itu Cahya, kan? Wanita yang mengasuh cucuku?”Ujung-ujung jemari Cahya membeku seketika. Sorot mata Nyonya William yang terpusat kepadanya seperti penghakiman. Ethan menatap Cahya kemudian b
“Ah masih satu minggu lagi. Aku akan cari jalan keluar untuk Cahya,” guman Ethan sambil memasukkan ponsel ke dalam saku.Mobil melaju membelah jalan by pass Nusa Dua. Jalanan mulai padat meskipun masih bisa jalan. Ethan memandang ke arah luar jendela. Lelaki itu terlihat tenang, tetapi di dalam kepalanya berputar dengan banyak rencana.“Cahya itu istriku. Kenapa aku harus menyembunyikan dia?” ucapnya setelah bergulir satu rencana.Baru saja dia memikirkan akan memindahkan Cahya ke Ubud. Di sana ada villa bagus yang sudah dia incar lama. Dia tidak berniat memindahkan Cahya dari rumah supaya tidak bertemu ibunya nanti. Mengingat latar belakang mereka menjadi suami istri, yang bisa memantik amarah ibunya. Apalagi Cahya sedang mengandung. Bukankah itu bisa membahayakan?“Atau, aku terus terang tentang Keira ke Mami? Dengan begitu dia akan menyambut kedatangan cucu yang dikandung Cahya.”Dahi Ethan semakin berkerut, kemudian dia menghela napas panjang sambil memijit pelipis. Ini seperti di
“Selamat pagi, sayang-sayangnya papi!” Ethan menghampiri meja makan.Keira dan Satria yang sedang makan didampingi pengasuh pun menoleh bersama. Awalnya mereka terlihat terkejut, kemudian senyum mereka mengembang sempurna. Terutama Keira yang langsung beranjak dari tempat duduk. Mata gadis kecil itu berbinar sarat dengan kerinduan.“Papi…. Selamat pagi.”Ethan tersenyum dan langsung menyambut Keira. Telapak tangan yang awalnya bergerak ragu, kemudian memeluk tubuh setinggi pinggangnya itu setelah Cahya mensejajarinya.Mata Cahya mengedip dan mengangguk. Wanita itu tersenyum lega saat suaminya mengingat yang dia ucapkan. Semalam setelah kebersamaan mereka, Cahya dan Ethan berbincang lama sambil tiduran. Sang istri rebah di lengan suami.“Jalan hidup kita sering tidak tertebak, ya. Kita bertemu dengan kesalahan dan berakhir bahagia seperti sekarang ini,” ucap Cahya sambil mengusap-usap dada Ethan yang berbulu.“Siapa bilang itu kesalahan?”“Iya, gara-gara aku salah kira kamu sopir taxi o
“Apa aku kembalikan dia kepada keluarga Siska saja?”Cahya terkesiap.“Keira?! Jangan! Jangan, Sayangku. Bagiku Keira sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau berpisah dengannya,” sahut Cahya sambil memegang kedua tangan suaminya."Tapi, Aya. Kamu tahu tidak, setiap melihat dia pikiranku langsung membayangkan Siska bersama dengan lelaki bangsat itu. Kamu tahu rasanya sebagai suami saat membayangkan istrinya dipakai lelaki yang aku tidak tahu siapa dia?!” Mata Ethan menyala nyalang. Kedua alisnya bertaut. “Saya mengerti. Tetapi semua ini bukan salah Keira, Sayang. Dia tidak tahu apa-apa. Coba kamu bayangkan kalau menjadi Keira. Dari lahir yang dia tahu inilah rumahnya. Kamulah papinya.""Tapi bagaimana dengan aku?" ucap Ethan dengan sorot mata memohon. Cahya menghela napas. Ini sungguh berat. Kemudian dia berguman, "Jangan sampai kesalahan orang dewasa menyakiti Keira yang tidak bersalah.”"Aku pun berpikir demikian, Aya."Mereka sama-sama terdiam.“Tapi, Aya. Itulah yang membuat
Keira dan Satria sudah tidur. Cahya duduk di tepi ranjang memandang keduanya.Wajah damai mereka menyunggingkan senyuman. Tangan kecil Keira memeluk tubuh gembul Satria. Sedangkan kaki si kecil bertumpu pada tubuh Keira.Selalu begitu kalau mereka tidur bersama. Tak ubahnya saudara mereka saling menyayangi. Keira yang selalu mengatur, sedangkan Satria yang suka dimanja.“Keira, Sayang. Mama Aya akan selalu menyayangi dirimu. Siapa pun kamu. Selamanya akan menjadi anak mama,” bisik Cahya sambil membelai rambut berwarna coklat itu.Dada Cahya begitu berat mengingat kemungkinan karena golongan darah itu. Anak ini tidak bersalah. Orang dewasalah yang keliru.“Huuft semoga Ethan tidak menyadari itu,” desah Cahya meskipun di sudut hati merasa ada perubahan sikap pada suaminya.“Semoga tidak.” Di menggelengkan kepala menolak pikiran buruk yang terlintas.Jarum jam dinding sudah menunjuk malam sudah larut. Ingin rasanya melihat keadaan suaminya. Dia mengatakan banyak pekerjaan. Kalau pun tida







