Meski sang ayah tampak bingung dan tidak mengerti, senyum Keira tetap mengembang. “Iya, Pi. Mbak baru yang punya adik sudah datang. Jadi Keira punya teman bermain.” Keira menjelaskan dengan lancar. “Kan, kemarin Keira minta sama Nenek–terus Nenek langsung kasih.”Gadis kecil itu terkikik kecil. “Dia lucu, deh, Pi. Nanti kita main bareng ya?”“Kita lihat nanti,” ucap Ethan. Ia mengusap rambut Keira singkat, sebelum masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.Keira termenung sejenak, sebelum menghela napas. Namun, gadis itu kembali tersenyum kemudian.Yang penting ia ada teman bermain sekarang! Jadi meski sang ayah selalu rapat ke sana kemari, pergi sana sini, Keira tidak akan kesepian lagi.Sementara itu, dari kejauhan, Bu Hanum melihat kejadian kejadian yang sering berulang ini. Sudah biasa, gadis kecil itu diabaikan oleh laki-laki blasteran itu.“Ayo, katanya mau main dengan adek Sakti.”Tangan Bu Hanum menepuk punggung Keira. Mata bulat yang sebelumnya berkabut, kembali berbinar. “Ad
Terakhir Diperbarui : 2025-11-30 Baca selengkapnya