Dimanjakan sang Majikan Tampan

Dimanjakan sang Majikan Tampan

last updateLast Updated : 2026-01-18
By:  Astika BuanaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
65Chapters
3.2Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dalam hati mereka tidak ada niat untuk saling menyayangi apalagi mencintai. Namun, waktu membawa hati mereka saling bertaut meskipun r kesenjangan sosial yang merentang. Mampukan Cahya berjalan pada ketidaksetaraan ini? Atau dia hanya mampu bersinar dalam kerahasiaan?

View More

Chapter 1

Bab 1. Iklan Aneh

[Dibutuhkan segera: tenaga kerja wanita.

Syarat utama: janda mati yang mempunyai tanggungan anak balita.]

Dahi Cahya berkerut setelah membaca iklan di situs lowongan pekerjaan. Dilihat dari sisi mana pun, lowongan ini aneh.

Apakah pemasang iklannya mencari kesempatan untuk beramal kepada janda dan anak yatim?

Walaupun ini sesuai yang wanita ini butuhkan, tetapi ada keraguan dalam hati Cahya. Apalagi saat membaca fasilitas yang akan ia dapatkan.

[Gaji melebihi UMR, tinggal dalam, dan kebutuhan harian sudah ditanggung.]

Jika bukan karena ada niat khusus, tidak mungkin kan fasilitasnya sebagus ini? Untuk janda beranak satu dan di masa ketika orang sedang kesulitan cari kerja pascapandemi pula.

Namun, menelisik perusahaan ini sepertinya terpercaya dan bukan perusahaan penipuan yang berkedok mencari tenaga kerja. Banyak komentar yang menyatakan ini benar, dan Cahya pun tahu di mana letak kantor perusahaan itu.

Setelah memantapkan diri, wanita beranak satu ini mengisi biodata dan meng-klik tombol send. 

Tidak lupa melampirkan foto keluarga yang dijadikan salah satu persyaratannya. Sekarang menunggu tahap berikutnya, panggilan untuk wawancara.

"Mbak Cahya! Permisi."

Suara di balik pintu menyentakkan dia.

Tahu siapa yang datang, dia melangkahkan kaki lebar-lebar untuk membuka pintu. Sejenak jantungnya berdetak kencang dan tangan terasa dingin tiba-tiba. Ibu pemilik kos datang, seperti biasa menagih sewa bulanan.

"Adik kecil bobok?" tanyanya dengan wajah dan tatapan berbinar. Cahya tahu ini sekadar basa-basi, lihat saja, nanti akan ada perubahan setelah mendengar jawabannya.

"Pagi, Mbok Kadek," jawab Cahya setelah membukakan pintu. Mbok, sebutan kepada perempuan muda di Bali, sama dengan sebutan 'mbak' kalau di Jawa.

"Biasa, Mbak Cahya. Mau ambil bulanan," ucap wanita yang dipanggil Mbok Kadek masih menebar senyum.

"Maaf, Mbok."

Satu kata maaf menyusutkan seketika senyum yang disajikan tadi, seakan mengerti kalimat apa yang akan menyertai setelahnya.

"Bisa tolong minta waktu lagi. Saya belum dapat pekerjaan."

Sekarang, senyum itu benar-benar tak berbekas.

"Mbak Cahya, minggu kemarin alasannya begitu. Sekarang juga. Kok mundur-mundur terus? Saya tidak bisa menunggu lama. Mbak Cahya kan tahu, penghuni kos banyak yang pulang kampung. Sedangkan tagihan bank masih terus berjalan."

Wanita berkulit putih bersih itu mengangguk mengerti, hafal dengan alasan yang akan dijabarkan. Pasti seputar tagihan pinjaman Bank yang dulu digunakan sebagai modal pembangunan kos-kosan ini. 

Hitungannya, sih, tidak meleset kalau keadaan normal. Namun, penyewa kos yang berkurang drastis menyebabkan pemasukan berkurang banyak. Mereka pada umumnya menyerah dengan keadaan, memilih pulang ke kampung, atau kembali ke pulau tempat mereka berasal.

Walaupun Cahya mengerti keadaannya, tapi bagaimana lagi?

"Tapi, Mbok. Suami saya–"

"Iya, saya tahu. Makanya saya beri toleransi waktu. Tapi, bukan berarti tinggal gratis," ucapnya sambil menengadahkan tangan. “Dah, kasih saya sekarang berapa aja. Hitung aja sebagai cicilan.”

Cahya akhirnya menyerahkan satu lembar uang berwarna merah terakhir yang ia punya. 

Tidak apa-apa. Dia masih ada sedikit sisa uang–paling tidak untuk beli bubur untuk Sakti.

Suaminya belum lama ini meninggal terkena wabah COVID, tanpa mewariskan apapun kecuali seorang putra serta tunggakan tagihan kontrakan dan pinjaman bank. Cahya sendiri sudah lama berhenti bekerja. 

Sementara sekarang, meskipun ia ingin bekerja, akan sulit karena wabah penyakit ini melumpuhkan hotel dan restoran–tempatnya mencari kerja sebelumnya. Rekan-rekannya pun banyak yang dirumahkan.

Dia mengerti, situasi sekarang ini merupakan pukulan telak bagi pelaku pariwisata seperti Bali ini. Yang biasanya bergantung dengan datangnya tamu, kebijakan penutupan wilayah memaksa menghentikan semua kegiatan ekonomi. 

“Mm … Ayah, Ayah….”

Perhatian Cahya teralih ketika mendengar putranya mengigau dalam tidur, lalu dihampirinya si balita.

“Sayang, mimpiin Ayah ya?” ucap Cahya lembut sembari duduk di sisi tempat tidur. Diusapnya kepala Sakti pelan. “Bangun dulu, yuk. Makan bubur, terus–”

Ucapan Cahya terhenti saat mendapati tubuh Sakti panas. Seketika jantungnya serasa jatuh. Ia menyentuhkan kembali telapak tangannya ke dahi kecil itu, memastikan dirinya tidak salah rasa.

“Astaga, panas sekali….”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Ana
Ana
Alurnya gak bikin bosen. Lanjut!
2026-01-15 19:36:55
0
0
Ardhya Rahma
Ardhya Rahma
Seru nih kayaknya
2025-12-13 00:20:13
1
1
Nur Dameiyati
Nur Dameiyati
novel yg bagus..critanya tidak mulek...
2025-12-11 15:40:07
1
1
mr.lobaloba
mr.lobaloba
menarik ceritanya bagus
2025-12-11 14:07:25
1
1
65 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status