登入Hem... gimana menurut kalian?
Salsa kira strateginya menjauh dari Keiron selama sebulan terakhir sudah sesempurna rencana militer. Namun, ia lupa Keirin bukan tipe pria yang menyerah hanya karena diabaikan. Pria itu justru menggunakan kekuasaannya untuk memasang 'jebakan batman' yang tidak mungkin bisa dihindari Salsa.Sore itu, Salsa mengemasi barang-barangnya dengan tenang setelah Bu Ratna, manajer divisinya yang ramah dan keibuan, mengajaknya untuk menemani meninjau vendor di luar kantor. Bagi Salsa, ini adalah kesempatan emas untuk menghirup udara segar di luar kubikel kerja yang membosankan."Ayo, Salsa. Mobil operasional kantor sudah menunggu di depan lobi," ajak Bu Ratna sambil membenarkan letak tas tangannya."Baik, Bu," sahut Salsa ceria, sama sekali tidak menaruh curiga.Mereka berdua berjalan beriringan keluar gedung, melewati pintu kaca lobi, menuju sebuah mobil SUV hitam yang mesinnya sudah menyala. Bu Ratna membukakan pintu belakang untuk Salsa terlebih dahulu dengan senyum hangat. "Kamu masuk duluan
Salsa tidak pernah menyangka bahwa melarikan diri dari ruang kerja seorang calon CEO bisa terasa seperti lari maraton sejauh sepuluh kilometer. Setelah kalimat "Saya cemburu, Salsa" meluncur tanpa sensor dari bibir Keiron malam itu, Salsa langsung menyambar tasnya, berbalik, dan berlari keluar ruangan seolah-olah ada singa kelaparan yang sedang mengejarnya. Ia bahkan mengabaikan panggilan Keiron dan memilih pulang menggunakan taksi daring, meninggalkan Yoga yang akhirnya hanya bisa ia kabari lewat pesan singkat dengan alasan "urusan keluarga mendadak." Sejak malam terkutuk itu, mode survival Salsa kembali aktif, namun kali ini versinya berbeda Mode Menghindar. Satu bulan lebih berlalu, dan Salsa sukses meminimalkan interaksinya dengan Keiron. Jika ada rapat divisi desain yang mengharuskan kehadiran Keiron, Salsa akan dengan cerdik duduk di pojok paling belakang, bersembunyi di balik punggung rekan kerjanya yang bertubuh lebih bongsor, atau mendadak sibuk mencatat hingga kepalanya
Mobil mewah itu akhirnya tidak berjalan pulang ke apartemen, melainkan putar balik memasuki kawasan basement gedung Kingsley. Keiron melangkah turun terlebih dahulu tanpa memedulikan Salsa yang masih memasang wajah cemberut. "Turun, Salsa. Ikut ke ruangan saya," perintah Keiron datar, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Salsa menghela napas kasar. Dengan perasaan dongkol yang sudah mencapai ubun-ubun, ia terpaksa melangkah mengekor di belakang pria kaku itu. Begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja CEO yang luas dan kedap suara, Keiron langsung melepas jas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. "Pak, tugas luar mandadak apa yang Bapak maksud? Ini kan ruang kerja Bapak, bukan luar kantor," protes Salsa langsung, berdiri di depan meja besar Keiron dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. Keiron duduk di kursi kebesarannya, lalu menarik sebuah tumpukan dokumen tebal dari sudut meja dan menggesernya ke depan Salsa. "Asisten saya harus mengurus beber
Salsa menjalani hari-harinya di kantor dengan ritme yang kembali normal. Setelah insiden pemukulan di gang waktu itu, sang kakak tampaknya benar-benar ketakutan dan tidak berani lagi menampakkan batang hidungnya. Setidaknya untuk saat ini, Salsa bisa bernapas lega karena merasa hidupnya jauh lebih aman di bawah perlindungan terselubung dari Keiron. Namun, ketenangan itu terusik saat jam dinding kantor menunjukkan pukul empat sore. Salsa yang baru saja kembali dari toilet mendadak dicegat oleh petugas keamanan yang berjaga di lobi divisi desain. "Neng Salsa, ya? Ini ada titipan paket baru datang dari kurir luar," ucap satpam tersebut seraya menyerahkan sebuah buket bunga yang cukup besar. Salsa mengerutkan kening, menerima buket itu dengan perasaan bingung. Itu adalah buket mawar merah muda asli yang sangat segar dan harum, lengkap dengan hiasan dedaunan *baby’s breath* di sekelilingnya. Di tengah-tengah bunga, terselip sebuah kartu ucapan kecil. Salsa membuka kartu itu dan memb
Mereka terus bermain sampai beberapa menit kemudian, bayi cantik itu mulai rewel dan menggeliat gelisah karena lapar, meminta susu pada ibunya. Siti yang menyadari hal itu segera pamit dari obrolan bisnisnya dan meminta Bi Ijah mengambil alih Baby Maya dari gendongan Salsa untuk dibawa ke nursery room. "Yaaaah... Baby Maya pergi," gumam Salsa sedih saat Baby Maya berpindah ke pelukan baby sitter. Bi Ijah yang mendengar itu langsung tersenyum ramah pada Salsa. "Nanti bisa loh, Non, kalau ada waktu kita ketemu lagi." "Enggak ah, Bi. Kasihan Babynya, mendingan tinggal bobo itu..Udah kelip-kelip matanya hihi!" balas Salsa sambil menatap punggung Baby Maya yang mulai menyandarkan kepalanya di bahu Bi Ijah. Bi Ijah hanya terkekeh pelan mendengar kepedulian gadis itu, lalu segera berpamitan untuk menyusul Siti ke ruang khusus bayi. Setelah kepergian Baby Maya, keheningan kembali melingkupi Keiron dan Salsa. Mereka duduk berduaan di sofa panjang yang kini terasa lebih luas. Sepi menyelimu
Pagi harinya di kantor Kingsley Group, suasana meja kerja tim desain yang biasanya tenang mendadak terasa mencekam bagi Salsa. Belum juga ia menyalakan komputer, kubikelnya sudah dihampiri oleh tiga orang karyawan wanita. Dari seragam dan kartu nama yang dikalungkan, Salsa tahu mereka berasal dari divisi akuntansi dan kepegawaian. Penampilan mereka sangat modis, namun tatapan matanya sinis. Di kepala Salsa, mereka langsung terdisosiasi sebagai "geng pembully" seperti yang biasa ada di drama-drama sekolah. "Eh, anak baru," puka Resti, yang bertubuh paling tinggi sambil bersedekap dada. "Gosip yang beredar di grup internal itu bener? Lu beneran datang ke resepsi adiknya Tuan Keiron malam itu yang dilabrak ama Fera kan?" Salsa menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak bisa angkat bicara tentang fakta aslinya. Kontrak rahasia senilai seratus juta itu mengikat lidahnya rapat-rapat. Jika ia salah bicara, habislah sudah. "Saya cuma karyawan biasa yang kebetulan diajak, Mbak
Kieran hampir saja buka mulut, tapi Keiron langsung memberi tatapan peringatan pada sang adik. Selain Kieran, Keiron ai sulung juga begitu disegani oleh adik-adiknya, jadi adik-adiknya tak berani membantah. Meski Edric kelihatan ingin berdiri, ia menahannya. Hal itu membuat Siti tambah yakin, kala
Siti terkejut dengan jawaban Kieran yang sangat yakin, bisa-bisanya ia sesantai itu. "Enggak, Pih! Papi cuma bercanda kan?" tanya Edric serius. Sementara itu Clara ikut maju dan menggenggam tangan sang cucu. "Ed, kamu baru pulang sekolah. Kita duduk dulu," ujar Clara. Siti dan Kieran unt
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
Akad Nikah segera dimulai, Siti menunggu dengan harapan semuanya lancar sampai selesai. Kieran di luar sana, sudah siap menggenggam tangan Yudha--paman Siti dari pihak ayah. Keluarga dekat Kieran pun ikut meramaikan, juga beberapa sahabatnya dari Inggris yang bisa datang. Acara pernikahan itu







