MasukHem... gimana menurut kalian?
"Dasar... sebel banget sama kamu, Mas. Ngeselin banget!" ucap Siti sambil terisak, wajahnya disembunyikan di dada Kieran. Tangannya yang mungil memukul pelan bahu suaminya, menyalurkan rasa sesak yang sejak semalam menghimpit napasnya. Kieran hanya terkekeh pelan, meski setiap getaran di dadanya memicu rasa perih di luka jahitan perutnya. Ia mengabaikan rasa sakit itu, lebih memilih fokus mengelus punggung istrinya dengan lembut. Sesekali ia mengecup puncak kepala Siti yang tertutup hijab, menghirup aroma menenangkan yang selalu menjadi rumah baginya. Ia benar-benar menyesal telah membuat wanita itu ketakutan setengah mati. "Maaf ya... Tapi aku ingin ngasih tahu juga ke kamu, tentang sesuatu yang berkaitan dengan rencanaku. Aku harap sih ini bisa meringankan kesedihanmu, Sayang." Siti melepas pelukan mereka. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, menatap suaminya dengan mata sembap yang menuntut penjelasan. Kieran menghela napas panjang, lalu meraih tablet di atas nakas
Kieran terbangun dari tidurnya saat melihat istrinya sudah ada di samping ranjangnya. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat wajah Siti terlihat sembap. Terlihat sekali bahwa wanita itu tidak tidur semalaman untuk menunggunya melewati masa kritis. "Mas... mas, udah sadar. Dokter!" teriak Siti senang sekaligus panik. Dokter khusus yang berjaga pun langsung bangun dari tidur singkatnya itu. Ia pun turun dari sofa dan langsung mengambil stetoskop. Ia menghampiri pasiennya dan langsing memeriksanya. Kieran yang melihat itu langsung menghentikannya. "Wait, cuci muka dulu sana!" Dokter yang bernama Aldo itu pun langsung tersenyum malu dan melaksanakan apa yang dikatakan Kieran. Sementara itu, Siti sudah menatap Kieran dengan tatapan sengit. "Beb, kenapa?" tanyanya curiga. Ia takut istrinya marah. Faktanya kemarin ia mengabaikan opini istrinya yang logis dan bijaksana. "Dasar keras kepala! Omonganku gak kamu anggap, hah?!" Kieran menggeleng, "Maaf, Sayang. Aku--"
Sinar lampu dari mobil tim Alpha menyorot langsung ke dinding gudang tua yang berkarat itu. Kieran tidak menunggu perintah siapapun. Dia turun dengan pistol yang sudah terkokang, napasnya memburu, hanya satu yang ada di kepalanya, yakni menghabisi siapa pun yang berani mengambil foto istrinya secara sembunyi-sembunyi. "Pih, jangan bburu-buru!" Victor mencoba menahan, tapi Kieran sudah merangsek masuk ke dalam kegelapan gudang. Suasana di dalam sangat sunyi, hanya ada suara tetesan air dari atap seng yang bocor. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu tua berdiri di bawah lampu neon yang berkedip-kedip redup. Di atas meja itu, ada sebuah mangkuk bakso plastik, persis seperti di mall—dengan kepulan uap yang masih terlihat. Seseorang baru saja ada di sana. Kieran mendekat, matanya menyisir balkon lantai dua yang gelap. "KELUAR! JANGAN JADI CEMEN!" teriaknya, suaranya menggema hebat. Tepat saat gema suaranya hilang, sebuah titik merah kecil (laser) muncul di lantai semen, bergerak s
"Dia penembak jitu. Jarak sejauh itu bagi mereka adalah taman bermain," Kieran memutar kursi, menatap tajam anaknya. "Itu hanya peringatan. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa menyentuhku kapan saja, bahkan di depan publik, atau saat aku sedang bersama istriku." Mengingat sang 'istri', kemarahan Kieran makin memuncak. Membayangkan Siti yang gemetar ketakutan sambil memegangi perutnya tadi adalah titik di mana Kieran merasa gagal sebagai pelindung. Edric yang mengingat itu pun langsung pergi menemui sang ibu tiri. Ia khawatir meski tanpa kata.h Di kamar utama, Siti duduk di pinggir tempat tidur. Ia sudah mengganti gaun cantiknya dengan daster longgar. Dokter pribadi keluarga baru saja selesai memeriksanya. Sang dokter melihat Edric yang beru datang, satu-satunya orang yang bisa diajak bicara selain pasien. Siti menyuruh para pelayan untuk pergi sebelumnya. "Tekanan darah Nyonya sedikit tinggi karena syok, Tuan Muda," lapor dokter saat Edric yang baru masuk ke kamar dengan wa
"Mas, ada apa sih?" tanya Siti. "Buru-buru banget, kakiku sakit!" keluhnya. Saking cepatnya Kieran dan Victor berjalan, ia sampai kuwalahan. Ia memakai sepatu hak tinggi yang secara otomatis membuatnya menopang berat badannya hanya pada tungkaknya. Jadi, ia merasa sakit pada aktivitas seperti setengah berlari saat ini. Kieran meski panik, ia segera berhenti dan langsung menggendonh istrinya ala bridal style. Kemudian berjalan kembali menuju pintu keluar melalui jalur red carpet yang kini sudah agak sepi dari jurnalis karena sebagian besar sudah masuk ke dalam gedung. Hanya ada beberapa paparazi yang masih bertahan di sana, berharap mendapatkan foto terakhir. Sepertinya hari itu, keberuntungan berpihak pada paparazi karena saat mereka dilarang masuk, mereka malah mendapat bahan berita emas. Ketiga anggota keluarga Kingsley yang pulang dengan terburu-buru itu. Mereka seperti Cinderella yang harus pulang sebelum jam dua belas malam. Awalnya semua tampak normal, sorotan flash ka
"Victor, Papi udah mati-matian jaga pola makan Mami kamu. Kamu malah nyeret dia ke tempat jajanan kayak gitu!" Victor hanya diam bersandar pada sandaran kursi mobil. Sementara Siti memegang tangan sang suami. "Mas, sebenernya aku punya kesempatan buat nolak kok. Tapi kan aku juga mau ke sana," bela Siti. Kini mereka ada di mobil van menuju ke pesta. Mobil Victor dibuat kempes bannya oleh sang ayah gara-gara kejadian tadi. Alhasil ia ikut di mobil ayahnya menuju tempat pesta. "Iya kamu juga salah, Yang. Aku khawatir sama kalian berdua," tegas Kieran. "Paham gak?" "Sama kalian berdua, maksudnya aku sama Mami, Pih?" tanya Victor tiba-tiba. Siti dan Kieran langsung menatapnya. "Becanda terus ya, kamu Vic!" ujar Kieran seolah ingin meninju anaknya. Siti pun langsung menengahi. "Tadi aku juga sempet mikir gitu." "Isi otak kalian sama atau gimana?" balas Kieran tambah kesal. Siti merasa ikut diomeli, tapi Victor yang menahan tawanya malah memilih pura-pura tidur.
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj
Akad Nikah segera dimulai, Siti menunggu dengan harapan semuanya lancar sampai selesai. Kieran di luar sana, sudah siap menggenggam tangan Yudha--paman Siti dari pihak ayah. Keluarga dekat Kieran pun ikut meramaikan, juga beberapa sahabatnya dari Inggris yang bisa datang. Acara pernikahan itu
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Poppy. Siti sedang menikmati dessert bersama Poppy, Tiffany, Clara dan Stella. Sementara para pria terlihat di sudut berbeda, sedang sibuk membicarakan hal lain. Tiffany juga sibuk bicara dengan Clara, dan Siti yang awalnya diam, tiba-tiba diajak bicara ole







