INICIAR SESIÓNAkhirnya yah.... 🥰😌 Jangan lupa kasih ulasan di buku ini. See u next part❤🌶💅
"Siti gak bicara apa pun tentang hubunganmu dengan Miss Vanessa. Dia gak pernah menyinggung secara spesifik. Tapi, sebelum dia masuk ke ruang bersalin tadi pagi, dia hanya memegang tangan Papi dan meminta Papi untuk selalu ingat... bagaimana kerasnya perjuangan pernikahan kami berdua dulu saat ditentang oleh banyak pihak." Kieran menghela napas pendek, sebuah gestur kelonggaran yang sangat jarang ia perlihatkan. Tatapannya melembut sedikit saat mengingat wajah istrinya. "Siti mengingatkan Papi untuk menjadi orang tua yang objektif. Menjadi kepala keluarga yang tidak menggunakan emosi semata atau kepentingan bisnis pribadi untuk mengukur kebahagiaan anak-anaknya. Papi menyadari hal itu. Papi tidak ingin menjadi orangtua egois yang menghancurkan masa depan anaknya sendiri hanya karena ego," ungkap Kieran dengan nada berwibawa yang mendalam. Mendengar penuturan jujur dari ayahnya, dada Julian mendadak terasa begitu sesak oleh rasa haru. Logika dingin yang biasa ia siapkan untuk be
Atmosfer di dalam ruangan VIP itu mendadak begitu pekat, seolah oksigen di sekitar mereka menipis dalam hitungan detik. Perkenalan yang terjadi setelahnya berjalan dengan sangat formal dan kaku. Syukurlah karena Vanessa punya latar belakangnya sebagai seorang akademisi hukum di Boston, ia tau caranya bersikap baik untuk calon keluarganya. Ia berusaha keras mempertahankan ketenangannya. Ia membungkuk hormat, menjabat tangan Clarissa yang menatapnya dengan pandangan menilai yang tajam, lalu beralih menyapa Kieran dengan nada suara yang terkontrol dengan baik. Kieran Kingsley diam. Pria tampan hot daddy yang harusnya menjadi incaran Vanessa alih-alih Julian yang berondong baginya--justru menampilkan ketenangan yang jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan amarah. Setelah mengamati dinamika di dalam ruangan selama beberapa saat, mata elang Kieran beralih pada putranya. "Julian, Vanessa. Ikut Papi ke ruang lain di lantai bawah. Kita bicara di sana," titah Kieran dingin, mutlak tan
"Aw!!!" Kieran meringis pelan sambil mengusap pinggangnya yang baru saja menjadi korban cubitan maut dari sang istri. "Ngomongnya dijaga! Gak cuma kita di sini, ih!" bisik Siti dengan wajah memerah karena malu, melirik ibunya yang duduk di samping ranjang. Ibu kandung Siti langsung tertawa renyah melihat reaksi spontan anak dan menantunya itu. Setelah tawa ringannya mereda, wanita paruh baya itu teringat sesuatu dan bertanya dengan bahasa yang sopan. "Nak Kieran, kalau boleh Ibu tanya, besan Bu Clarissa sampai jam berapa nggih?" Kieran merapikan kembali kemejanya, berdeham pelan untuk mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh akibat cubitan tadi. "Sepertinya nanti sore, Bu. Jadwal penerbangannya dari Paris sempat mundur sedikit karena cuaca buruk, tapi sekarang posisinya sudah transit menuju Jakarta." "Oh, nggih, alhamdulillah kalau begitu," sahut Ibu Siti sambil manggut-manggut paham. Setelah itu, obrolan mengalir santai ke berbagai topik hangat seputar kelahiran Maya K
"Maya Karina de Kingsley." "Apa, Pih?" tanya Edric yang sejak tadi menggunakan headset kabel. "Budek, bjir!" sebut Victor. "Apa sih orang gue tanya, Papi." "Maya..." balas Victor lagi. "Panjangnya siapa, Pih?" tanya Edric lagi. "Maya... Karina... De Kingsley," Victor mengeja nama itu satu per satu dengan nada agak emosi. Bayi itu terlihat menggeliat sebentar, tapi langsung ditenangkan oleh Victor. "Sstttt" Kemudian Edric berkata. "Gila, ada 'De'-nya. Kesannya ningrat banget, Pi. Indonesianya dapet ada nama Maya Karina, tapi tetep pas digabung ama Kingsley." "Iya, dong. Adek gue satu-satunya cewek, harus paling spesial," sahut Victor yang langsung membuat Esric kesal. Si bungsu itu buru-buru mengeluarkan sebotol hand sanitizer dari saku celananya, menggosok tangannya dengan heboh sampai wangi alkohol menyengat, lalu menengadahkan tangan ke arah Victor. "Sini, Bang. Gantian, gue mau gendong Adek Maya. Gue kan sekarang udah resmi naik pangkat jadi Abang!" "E
"Bang Jul ama Bang Victor udah ke sampe di Jakarta," ujar Edric. Keiron pun mengangguh, "Jemput gih!" Edric cemberut, kemudian tetap pergi memerintahkan bawahan ayahnya untuk menjemput sang kakak. Ia tentu tak mau berangkat sendiri. Di antara Kingsley, yang paling malas gerak adalah si bungsu Edric. Lalu di saat yang bersamaan, Kieran terlihat berbinar melihat ke arah dalam. Itu membuat Keiron dan Edric langsung ikut mengintip apa yang terjadi di dalam sana. "Sudah lahir," gumamnya sambil menitihkan air mata. Keiron ikut terharu tapi masih menahan untuk tidak mengekspresikannya. "Sudah lahir..." gumam Kieran lagi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, melihat seorang Kieran Kingsley menitikkan air mata. Setitik air mata haru lolos melewati pipinya yang tegas, sebuah pemandangan langka yang membuat Edric juga ikut terenyuh. Keiron menelan ludah, dadanya berdesir hangat melihat sang ayah akhirnya mendapatkan kebahagiaan yang nyata, meski ia tetap berusaha sek
Panggilan video dari Edric baru saja terputus, namun detak jantung Victor masih ada. Tanpa membuang waktu Victor pun langsung bergerak cepat, menggeser daftar kontak dan memilih nomor Julian. Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat. "Kenapa, Vic? Gue lagi ngecek materi buat—" "Bang, Siti masuk ruang bersalin sekarang. Air ketubannya udah pecah sejam yang lalu," potong Victor cepat, memangkas kalimat kakaknya tanpa basa-basi. Hening sejenak di seberang telepon. Victor bahkan bisa mendengar suara napas Julian yang mendadak tertahan. Pangeran kedua Kingsley yang biasanya selalu tidak perduli dan penuh kemalasan itu terdengar menabrak sesuatu di sebrang sana. "Gue baru liat grup, njir! Gue telepon Vanessa sekarang. Lu langsung siap-siap, kita berangkat hari ini juga," titah Julian dengan suara baritonnya yang mendadak serak karena tegang. Setelah panggilan dengan Victor berakhir, Julian segera menghubungi Vanessa. Beruntung, sebagai wanita dewasa yang
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Poppy. Siti sedang menikmati dessert bersama Poppy, Tiffany, Clara dan Stella. Sementara para pria terlihat di sudut berbeda, sedang sibuk membicarakan hal lain. Tiffany juga sibuk bicara dengan Clara, dan Siti yang awalnya diam, tiba-tiba diajak bicara ole







