ANMELDENAkhirnya yah.... 🥰😌 Jangan lupa kasih ulasan di buku ini. See u next part❤🌶💅
Sebenarnya, melihat tangisan Elin yang begitu menyedihkan, hati Nenek Clara sedikit berdesir tidak tega. Namun, demi sebuah tes objektif untuk melihat bagaimana mental dan sikap calon menantu dari cucunya, wanita tua itu mengeraskan hatinya kembali. Ia ingin melihat, apakah Vanessa Evans adalah tipe ibu yang akan membela anaknya secara membabi buta dengan emosi, atau tipe wanita yang sanggup berpikir jernih di bawah tekanan finansial dan sosial keluarga Kingsley. Dan kini, setelah pertunjukan ketegangan yang menguras emosi itu berlalu, semua terlihat duduk dengan serius menghadap Nenek Clara. Keheningan pekat di dalam kamar VIP rumah sakit itu perlahan-lahan mencair, digantikan oleh embusan napas lega yang serempak terdengar dari beberapa sudut. Nenek Clara tidak lagi berdiri dengan dagu terangkat sombong atau tatapan mengadili. Alih-alih melanjutkan sandiwara kejamnya, wanita tua yang masih terlihat luar biasa bugar dan elegan itu justru mengulurkan kedua tangan ke arah Elin. Waja
Setelah Juloan dan Vanessa pergi, ruangan itu menyisakan Siti, Nenek Clara, Victor, Edric, dan Elin Zhang di dalam ruangan, keheningan sempat bertahan selama beberapa saat. Atmosfer ruangan yang luas itu berangsur-angsur melunak, meski kehadiran sang tertua, Nenek Clara, tetap memberikan tekanan tersendiri. Wanita paruh baya yang masih tampil sangat modis dengan setelan berkelas itu duduk bersandar di sofa seberang ranjang, matanya yang tajam di balik kacamata bermerek tidak lepas dari sosok bocah perempuan manis di dekat Victor. Elin Zhang, dengan gaun kasual pastelnya, berdiri agak ragu di dekat boks bayi transparan. Tangannya yang mungil memegangi tepian boks, sementara matanya yang bulat besar berbinar-binar menatap makhluk kecil yang ada di dalam sana, Maya Karina de Kingsley. "Adek... cantik," gumam Elin lirih, suaranya begitu lembut sampai membuat Siti yang bersandar di kasur langsung tersenyum meleleh. "Elin suka ya sama Adek Maya?" tanya Siti dengan nada lembut, berus
"Siti gak bicara apa pun tentang hubunganmu dengan Miss Vanessa. Dia gak pernah menyinggung secara spesifik. Tapi, sebelum dia masuk ke ruang bersalin tadi pagi, dia hanya memegang tangan Papi dan meminta Papi untuk selalu ingat... bagaimana kerasnya perjuangan pernikahan kami berdua dulu saat ditentang oleh banyak pihak." Kieran menghela napas pendek, sebuah gestur kelonggaran yang sangat jarang ia perlihatkan. Tatapannya melembut sedikit saat mengingat wajah istrinya. "Siti mengingatkan Papi untuk menjadi orang tua yang objektif. Menjadi kepala keluarga yang tidak menggunakan emosi semata atau kepentingan bisnis pribadi untuk mengukur kebahagiaan anak-anaknya. Papi menyadari hal itu. Papi tidak ingin menjadi orangtua egois yang menghancurkan masa depan anaknya sendiri hanya karena ego," ungkap Kieran dengan nada berwibawa yang mendalam. Mendengar penuturan jujur dari ayahnya, dada Julian mendadak terasa begitu sesak oleh rasa haru. Logika dingin yang biasa ia siapkan untuk berd
Atmosfer di dalam ruangan VIP itu mendadak begitu pekat, seolah oksigen di sekitar mereka menipis dalam hitungan detik. Perkenalan yang terjadi setelahnya berjalan dengan sangat formal dan kaku. Syukurlah karena Vanessa punya latar belakangnya sebagai seorang akademisi hukum di Boston, ia tau caranya bersikap baik untuk calon keluarganya. Ia berusaha keras mempertahankan ketenangannya. Ia membungkuk hormat, menjabat tangan Clarissa yang menatapnya dengan pandangan menilai yang tajam, lalu beralih menyapa Kieran dengan nada suara yang terkontrol dengan baik. Kieran Kingsley diam. Pria tampan hot daddy yang harusnya menjadi incaran Vanessa alih-alih Julian yang berondong baginya--justru menampilkan ketenangan yang jauh lebih mengintimidasi daripada teriakan amarah. Setelah mengamati dinamika di dalam ruangan selama beberapa saat, mata elang Kieran beralih pada putranya. "Julian, Vanessa. Ikut Papi ke ruang lain di lantai bawah. Kita bicara di sana," titah Kieran dingin, mutlak tan
"Aw!!!" Kieran meringis pelan sambil mengusap pinggangnya yang baru saja menjadi korban cubitan maut dari sang istri. "Ngomongnya dijaga! Gak cuma kita di sini, ih!" bisik Siti dengan wajah memerah karena malu, melirik ibunya yang duduk di samping ranjang. Ibu kandung Siti langsung tertawa renyah melihat reaksi spontan anak dan menantunya itu. Setelah tawa ringannya mereda, wanita paruh baya itu teringat sesuatu dan bertanya dengan bahasa yang sopan. "Nak Kieran, kalau boleh Ibu tanya, besan Bu Clarissa sampai jam berapa nggih?" Kieran merapikan kembali kemejanya, berdeham pelan untuk mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh akibat cubitan tadi. "Sepertinya nanti sore, Bu. Jadwal penerbangannya dari Paris sempat mundur sedikit karena cuaca buruk, tapi sekarang posisinya sudah transit menuju Jakarta." "Oh, nggih, alhamdulillah kalau begitu," sahut Ibu Siti sambil manggut-manggut paham. Setelah itu, obrolan mengalir santai ke berbagai topik hangat seputar kelahiran Maya
"Maya Karina de Kingsley." "Apa, Pih?" tanya Edric yang sejak tadi menggunakan headset kabel. "Budek, bjir!" sebut Victor. "Apa sih orang gue tanya, Papi." "Maya..." balas Victor lagi. "Panjangnya siapa, Pih?" tanya Edric lagi. "Maya... Karina... De Kingsley," Victor mengeja nama itu satu per satu dengan nada agak emosi. Bayi itu terlihat menggeliat sebentar, tapi langsung ditenangkan oleh Victor. "Sstttt" Kemudian Edric berkata. "Gila, ada 'De'-nya. Kesannya ningrat banget, Pi. Indonesianya dapet ada nama Maya Karina, tapi tetep pas digabung ama Kingsley." "Iya, dong. Adek gue satu-satunya cewek, harus paling spesial," sahut Victor yang langsung membuat Esric kesal. Si bungsu itu buru-buru mengeluarkan sebotol hand sanitizer dari saku celananya, menggosok tangannya dengan heboh sampai wangi alkohol menyengat, lalu menengadahkan tangan ke arah Victor. "Sini, Bang. Gantian, gue mau gendong Adek Maya. Gue kan sekarang udah resmi naik pangkat jadi Abang!" "E
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda
"Kamu cantik banget malam ini," ujar Poppy. Siti sedang menikmati dessert bersama Poppy, Tiffany, Clara dan Stella. Sementara para pria terlihat di sudut berbeda, sedang sibuk membicarakan hal lain. Tiffany juga sibuk bicara dengan Clara, dan Siti yang awalnya diam, tiba-tiba diajak bicara ole
Siti dengan lunglai masuk ke dalam mobil di jok belakang. Saking fokusnya pada dunianya sendiri, Siti tak menyadari kalo di sebelahnya ada Kieran yang sedang menatapnya. "Kamu abis ditampar?" tanyanya. Siti berjingkat kaget, "Bapak?!" "Ck, Bapak lagi..." kesal Kieran. Ia tak suka Siti mem
Siti mendapat tatapan menusuk dari para wali murid di sana. Bagaimana tidak, para ibu-ibu sudah berdandan cantik demi bertemu si Duda Hot bernama Kieran. Tiba-tiba si target kegenitan mereka malah diwakili oleh seorang gadis muda yang manis. Mereka tentu kesal, ingin sekali mengusirnya. Namun dar







