MasukVictor mulai kesetanan guys🥲
"Vic udah, Vic! Victorius Kingsley!!!" teriakan Febi akhirnya.Perasaan hangat dari pelukan Febi dan isak tangis gadis itu perlahan menurunkan kadar adrenalin beracun di dalam darah Victor. Tangannya yang terkepal rapat dan berdarah perlahan melemas.Ia melepaskan cengkeramannya pada kerah pria yang sudah pingsan bersimbah darah tersebut.Victor berbalik cepat, mencengkeram kedua bahu Febi dengan sangat hati-hati. Ia menatap wajah Febi dari atas ke bawah, memastikan tidak ada luka sedikit pun di tubuh gadis itu."Lu gak apa-apa? Ada yang sakit? Lu kena pukul dimana?" tanya Victor panik, suaranya bergetar hebat penuh kecemasan.Febi menggeleng cepat di balik balutan pashminanya, air mata mengalir membasahi pipinya. "Gak ada... aku gak apa-apa, Vic. Kamu... kamu datang tepat waktu..."Keributan besar di siang bolong itu tentu s
"Aku takut, Edric. Jujur, aku takut banget sama Ayah," aku Vega, matanya mulai berkaca-kaca namun senyumnya tidak pudar. "Tapi... aku juga gak mau kamu pergi. Aku mau coba... bareng kamu."Mata Edric membelalak seketika. "Lu serius?!"Vega mengangguk pelan, merona merah di kedua pipinya. "Iya. Tapi janji, kamu gak boleh nekat lagi kek kemarin. Harus pakai cara yang benar."Seringai khas Edric yang selama beberapa hari ini hilang mendadak terpancar lebar di wajah tampannya. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya. Tanpa sadar, Edric meraup kedua tangan Vega dan menggenggamnya erat."Janji," jawab Edric mantap dengan mata berbinar. "Mulai hari ini, lu resmi jadi cewek gue. Dan gue gak bakal biarkan siapa pun bikin lu merasa takut lagi."Vega tertawa kecil, membiarkan tangannya digenggam hangat oleh Edric.•••Suasana kafe berinterior wood-vintage di kawasan Jakarta Selatan terasa sangat tenang. Alunan musik jazz pelan mengalun dari sudut ruangan. Victor duduk di meja dekat jendel
Pagi hari yang cerah menyinari ruang makan utama keluarga Kingsley. Kilauan cahaya matahari menembus jendela kaca raksasa, memperlihatkan meja makan panjang yang dipenuhi aneka hidangan sarapan. Namun, fokus seluruh anggota keluarga pagi itu mendadak teralih sepenuhnya saat Victor melangkah masuk ke ruangan.Anak ketiga Kingsley itu terlihat berbeda seratus delapan puluh derajat dari kesehariannya. Biasanya, Victor hanya mengenakan kaus polos agak longgar yang memperlihatkan sekilas tato gaya gothic di leher bagian kanan serta guratan tato bergaris tegas di punggung tangan kanannya.Ditambah gaya rambut wolf cut bertekstur messy yang selalu dibiarkan sedikit berantakan, penampilan Victor memang selalu paling kental dengan aura 'preman berkelas' dibanding saudara-saudaranya.Tapi pagi ini, gaya bad boy khas Victor berpadu sempurna dengan sentuhan rapi. Rambut wolf cut-nya ditata sedikit wavy dan bervolume, dipadu dengan kemeja kasual bahan linen berwarna krem yang digulung rapi hingga s
Di sudut lain kantin, Vega duduk di kursi kayu. Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada mangkok bakso di depannya.Sikap dingin Edric yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat sepanjang hari ini justru membuat dadanya sesak oleh rasa tidak nyaman yang terus menumpuk. Padahal sebelumnya ia sempat merasa risih dengan semua rayuan Edric yang sok keren itu. Teman di sebelah Vega, Aby, menyenggol lengannya. "Ga, lu sadar gak sih? Si Edric dari tadi gak ngelirik lu sama sekali. Biasanya kan dia paling heboh kalau lu ada di kantin."Vega menunduk, meremas kuat rok kainnya di bawah meja. "Mungkin dia udah sadar...""Sadar apaan?""Sadar kalau gue cuma bikin susah hidup dia," cicit Vega, suaranya terdengar serak.Rasa bersalah yang teramat sangat mendadak menggerogoti pikiran Vega. Bayangan kejadian di malam resepsi kembali berputar hebat di otaknya. Malam itu, Edric diamuk dan ditunjuk-tunjuk oleh ayahnya di depan banyak orang penting. Edric dipanggil 'bajingan kecil' dan diper
Siang itu, Victor duduk di dalam mobilnya yang terparkir di bawah pohon rindang, menatap layar ponsel yang menyala. Lampu hijau pada obrolan pribadinya baru saja bertambah setelah Siti mengirimkan pesan singkat lima menit lalu. Siti ||| "Gue udah izin sama Febi. Dia bilang gak apa-apa kalau lu mau nge-chat. Good luck, Calon Doktor!”Jari-jari Victor bergetar tipis. Cowok jangkung yang biasanya tenang menghadapi ujian kualifikasi S3 itu kini merasa detak jantungnya berpacu jauh lebih kencang. Setelah menghembuskan napas panjang, ia menekan kolom obrolan dan mengetik pesan pertama.Victor ||| "Hai, Feb. Ini Victor. Sory kalau tiba-tiba, gue dapet nomor lu dari Siti."Tidak butuh waktu lama, tanda dua centang biru langsung terlihat. Jantung Victor rasanya mau melompat keluar.Febi ||| "Hai, Vic. Gak apa-apa kok, Mbak Siti udah cerita tadi."Victor ||| "Lu apa kabar, Feb? Lagi sibuk apa sekarang?"Febi ||| "Kabar baik, Vic. Sekarang sibuk kerja aja di studio desain kawasan Selatan. Lu sen
Mendengar nama itu terucap dari bibir Siti, tubuh Victor mendadak kaku. Matanya terpejak sejenak sebelum akhirnya menghembuskan napas pasrah yang sangat panjang."Tuh kan, bener!" tebak Siti mantap."Gak usah keras-keras ngomongnya, Siti..." bisik Victor panik, melirik cemas ke arah pintu kaca rumah takut terdengar orang lain."Ya elah, sepian ini tamannya," balas Siti santai. "Jadi gimana? Lu jujur aja deh sama gue. Udah mau beres S3 begini, lu masih belum bisa move on dari Febi?"Victor menyandarkan kepalanya ke sandaran kayu bangku taman, menatap langit biru di atas mereka. Raut wajah galau yang ia sembunyikan rapat-rapat akhirnya runtuh sepenuhnya di hadapan Siti."Gimana bisa gampang lupa, Ti..." ujar Victor pelan, suaranya terdengar emosional. "Gue tahu dulu awal hubungan kita rumit. Dia memang pernah ada di pihak Dexter, tapi selama kerja sama gue, dia tulus. Dia tanggung jawab, dia gak pernah manfaatin gue kayak cewek la







