LOGINSemoga syuka🥰
Sebenarnya Keiron sudah diberikan tips and tricks untuk merayu perempuan dari Edric, tapi semua mental dari logika Keiron. Ia mendengus mendengar wejangan Edric. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tangan di dada dengan dahi berkerut dalam. "Membuat nyaman? Itu terlalu umum dan gak efisien, Ed," sahut Keiron dingin, menolak mentah-mentah trik adiknya. "Dalam bisnis, kalau kita menginginkan sebuah aset, kita memberikan penawaran terbaik sejak awal. Pendekatan lo itu terlalu banyak membuang waktu dan tidak logis." Edric hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Terserah lo deh, Bang. Jangan nangis kalau besok Salsa langsung bikin surat resign!" Sebelum keluar kamar, Edric berkata lagi. "Intinya gue udah kasih saran. Diterima silahkan, enggak yah tanggung sendiri resikonya." ••• Pagi-pagi sekali, Salsa berjalan menuju meja kerjanya dengan lingkaran hitam di bawah mata. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan Keiron di taman. 'Nggak mungkin. Itu pasti cu
Keiron terdiam, terpaku mendengarnya."Kalau misalnya nanti saya diapa-apain atau digosipkan macam-macam gara-gara terlihat dekat atau bicara dengan Bapak," lanjut Salsa dengan sepasang mata hitam pekatnya yang menatap lurus ke dalam manik mata Keiron, "ya saya tinggal jawab saja kalau gak ada hal yang bisa mereka khawatirkan dari pertemuan kita. Ini murni urusan profesional antara atasan dan bawahan. Saya tidak takut dengan pandangan orang, selama saya berdiri di jalan yang benar."Seketika itu juga, benteng logika Keiron kembali dibuat takjub oleh pola pikir Gen-Z milik Salsa yang begitu lugas, berani, dan bebas dari beban ketakutan sosial yang selama ini mengungkung dirinya sendiri. Keiron mengembuskan napas panjang, meresapi rasa lega yang semakin membuncah di dalam hatinya."Baiklah kalau itu mau kamu. Temui saya di lobi sore nanti," jawab Keiron halus, suaranya terdengar sangat tenang."Baik, Pak. Saya permisi kembali ke ruangan dulu," pamit Salsa membungkuk hormat, sebelum akhir
Keiron sebenarnya sudah sangat kebal dengan pertanyaan-pertanyaan klise yang kerap menyapa telinganya. "Apakah kamu sudah punya pacar?", "Apakah kamu belum ada niatan menikah?", atau "Kapan pangeran sulung Kingsley melepas masa lajang?" adalah makanan sehari-harinya di setiap pertemuan keluarga besar maupun interaksi dengan kolega bisnis. Sebagai pewaris utama, ia terbiasa memblokir semua tuntutan itu dengan tameng kesibukan kerja yang luar biasa padat.Namun, pertahanan mental Keiron mendadak sedikit terusik pagi ini. Di dalam grup obrolan keluarga, sang ayah, Kieran Kingsley, baru saja mengumumkan sebuah kabar besar: persiapan menuju pernikahan Julian dan Vanessa di Boston sudah semakin dekat, dan Julian dipastikan akan pulang ke Indonesia dua minggu lagi untuk mengurus berkas administrasi dan beberapa persiapan akhir.Melihat rentetan ucapan selamat dan stiker meriah dari adik-adiknya di layar ponsel, Keiron terdiam di kursi kerjanya. Ia jadi mulai memikirkan jalan hidupnya sendiri
"Bang!" Keiron tersentak kaget saat suara teriakan itu. Tiba-tiba saja si bungsu membelah keheningan kamarnya. Jari-jarinya yang sedang menggulir layar ponsel refleks menjepit tepi benda pipih itu dengan kuat, hampir saja menjatuhkannya ke atas karpet tebal di bawah ranjang. Ia mendongak tajam, mendapati wajah tanpa dosa Edric yang sudah menyembul dari balik pintu. Kemudian membuka pintu itu semakin lebar. "Apaan sih, malem-malem lu ke sini ngapain bjir! Gak sopan banget masuk kamar orang gak ketok pintu," omel Keiron, ketus. Edric hanya menyengir lebar, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan mematikan kakaknya. Dengan santai, pemuda remaja itu melangkah masuk dan langsung mendudukkan bokongnya di tepi ranjang king-size milik kakak sulungnya, menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung. "Ya sorry, lagian pintu lo gak dikunci tadi," bela Edric, matanya langsung berbinar penuh rasa ingin tahu yang meluap-luap. "Gue gak bisa tidur, Bang. Kepo sama cewek tadi. Ka
Siti dan Salsa kini saling berhadapan, hanya dibatasi oleh meja marmer yang dingin. Sementara itu, Keiron sudah menghilang ke kamarnya di lantai dua setelah menyiapkan kotak obat dan memberikan instruksi singkat pada salah satu pelayan senior untuk mengobati luka Salsa. Pria itu tampaknya ingin memberikan ruang bagi kedua perempuan itu untuk bicara tanpa interupsi kehadirannya.Sambil sesekali meringis kecil, Salsa membiarkan pelayan tersebut mengoleskan salep dengan sangat hati-hati pada sudut bibir dan pipinya yang mulai membiru. Siti memerhatikan setiap ekspresi Salsa dengan tatapan yang sangat lembut, seolah sedang melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu yang juga penuh perjuangan."Jadi, Salsa... kamu dipukul sama abang kamu sendiri?" tanya Siti, suaranya bergetar penuh empati. "Teganya seorang kakak melakukan itu pada adiknya..."Salsa menunduk pelan, menghindari tatapan mata Siti yang terlalu tulus. "Em, iya, Nyonya.""Ya Allah, Dek... kamu sudah melewati banyak hal buruk
"Pak, kita mau ke mana?" tanya Salsa lagi agak panik. Suaranya cicit, hampir tenggelam oleh deru mesin mobil mewah yang mereka tumpangi. Keheningan di dalam mobil itu terasa begitu mencekam. Semua nyaman, tapi suasananya yang terasa tak nyaman. Keiron tak menjawab, malah mengendurkan dasinya dengan satu sentakan kasar dan membuangnya ke jok belakang. Wajahnya terlihat memerah dan rahangnya mengeras, memperlihatkan gurat kemarahan yang belum sepenuhnya padam setelah baku hantam di gang tadi. Melihat reaksi itu, Salsa tak berani lagi bersuara. Ia menciut meski takut. Dibandingkan ketakutannya pada preman jalanan tadi, ia jauh lebih takut pada jiwa seorang Keiron yang terkenal dingin kini menjadi berapi-api. Gadis itu hanya bisa meremas tangannya yang gemetar di atas pangkuan, menunduk dalam-dalam sembari menahan perih di sudut bibirnya yang robek. Mereka diam hampir 30 menit, membiarkan keheningan malam membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Mobil sport milik Keiron melaju de
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj
Akad Nikah segera dimulai, Siti menunggu dengan harapan semuanya lancar sampai selesai. Kieran di luar sana, sudah siap menggenggam tangan Yudha--paman Siti dari pihak ayah. Keluarga dekat Kieran pun ikut meramaikan, juga beberapa sahabatnya dari Inggris yang bisa datang. Acara pernikahan itu
Febi dan Siti bergandengan tangan menyusuri pasar, kemudian membeli kebaya trend yang biasanya dijual di olshop. Harganya sekitar 150an untuk one set--atas bawah. "Emang gak papa?" tanya Febi. "Gue suka modelnya," ujar Siti. "Itu mah model trend sejak jamanku dua tahun lagi, sekarang beda







