Mag-log inSemoga syuka🥰
Saat pintu ruang ganti terbuka, Salsa keluar dengan gaun pertama. Itu adalah gaun berbahan silk premium dengan potongan A-line yang jatuh menjuntai anggun hingga ke lantai. Hijabnya dipadukan dengan gaya clean look yang simpel menggunakan bahan senada, memberikan kesan sangat berkelas sekaligus menjaga kesantunannya. Salsa yang biasa memakai pakaian sederhana tapi anggun di kantor, tampak pangling melihat bayangannya sendiri di cermin besar. "Gimana, Pak? Terlalu berlebihan nggak ya buat saya?" tanya Salsa sambil merapikan letak hijabnya yang sedikit bergeser karena grogi. Keiron yang sedari tadi bersikap dingin, mendadak kehilangan kemampuannya untuk berdeham. Ia menatap Salsa lewat pantulan cermin. Gaun itu menutupi tubuhnya dengan sempurna namun tetap menonjolkan aura yang berbeda. Cantik, tenang, dan sangat berwibawa. "Tutup tirainya," perintah Keiron pelan, suaranya sedikit parau. "Loh, kenapa? Bapak nggak suka?" tanya Salsa khawatir kalau ia terlihat jelek. "Bukan,"
Dua minggu berlalu sejak insiden kabur ke toilet itu, dan Salsa bisa bernapas lega karena Keiron benar-benar menghentikan aksi "interogasi berkedok PDKT"-nya. Pria itu kembali ke setelan pabrik, menjadi bos robot yang super sibuk. Karena Victor sedang kuliah di US sana, Keiron harus turun tangan langsung memantau persiapan peluncuran produk terbaru dari Haul Cosmetic.Salsa mengira badai sudah berlalu. 'Tuh kan, bener. Pak Keiron kemarin cuma khilaf karena kurang oksigen,' batin Salsa senang sambil merapikan sisa berkas pasca rapat besar Haul Cosmetic sore itu.Namun, kelegaan Salsa langsung runtuh ketika ruang rapat mulai kosong dan hanya menyisakan dirinya serta sang CEO."Salsa, tetap di tempat. Ada draf lanjutan Haul Cosmetic yang harus dievaluasi sekarang," ucap Keiron formal, bahkan tanpa mendongak dari tabletnya.Salsa menelan ludah, refleks memeluk tasnya. "Eh? Tapi Pak, ini sudah jam pulang kantor—""Ini perintah atasan, Salsa. Ikut saya sekarang." Keiron berdiri, mengancingk
Sebenarnya Keiron sudah diberikan tips and tricks untuk merayu perempuan dari Edric, tapi semua mental dari logika Keiron. Ia mendengus mendengar wejangan Edric. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tangan di dada dengan dahi berkerut dalam. "Membuat nyaman? Itu terlalu umum dan gak efisien, Ed," sahut Keiron dingin, menolak mentah-mentah trik adiknya. "Dalam bisnis, kalau kita menginginkan sebuah aset, kita memberikan penawaran terbaik sejak awal. Pendekatan lo itu terlalu banyak membuang waktu dan tidak logis." Edric hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. "Terserah lo deh, Bang. Jangan nangis kalau besok Salsa langsung bikin surat resign!" Sebelum keluar kamar, Edric berkata lagi. "Intinya gue udah kasih saran. Diterima silahkan, enggak yah tanggung sendiri resikonya." ••• Pagi-pagi sekali, Salsa berjalan menuju meja kerjanya dengan lingkaran hitam di bawah mata. Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan ucapan Keiron di taman. 'Nggak mungkin. Itu pasti cu
Keiron terdiam, terpaku mendengarnya."Kalau misalnya nanti saya diapa-apain atau digosipkan macam-macam gara-gara terlihat dekat atau bicara dengan Bapak," lanjut Salsa dengan sepasang mata hitam pekatnya yang menatap lurus ke dalam manik mata Keiron, "ya saya tinggal jawab saja kalau gak ada hal yang bisa mereka khawatirkan dari pertemuan kita. Ini murni urusan profesional antara atasan dan bawahan. Saya tidak takut dengan pandangan orang, selama saya berdiri di jalan yang benar."Seketika itu juga, benteng logika Keiron kembali dibuat takjub oleh pola pikir Gen-Z milik Salsa yang begitu lugas, berani, dan bebas dari beban ketakutan sosial yang selama ini mengungkung dirinya sendiri. Keiron mengembuskan napas panjang, meresapi rasa lega yang semakin membuncah di dalam hatinya."Baiklah kalau itu mau kamu. Temui saya di lobi sore nanti," jawab Keiron halus, suaranya terdengar sangat tenang."Baik, Pak. Saya permisi kembali ke ruangan dulu," pamit Salsa membungkuk hormat, sebelum akhir
Keiron sebenarnya sudah sangat kebal dengan pertanyaan-pertanyaan klise yang kerap menyapa telinganya. "Apakah kamu sudah punya pacar?", "Apakah kamu belum ada niatan menikah?", atau "Kapan pangeran sulung Kingsley melepas masa lajang?" adalah makanan sehari-harinya di setiap pertemuan keluarga besar maupun interaksi dengan kolega bisnis. Sebagai pewaris utama, ia terbiasa memblokir semua tuntutan itu dengan tameng kesibukan kerja yang luar biasa padat.Namun, pertahanan mental Keiron mendadak sedikit terusik pagi ini. Di dalam grup obrolan keluarga, sang ayah, Kieran Kingsley, baru saja mengumumkan sebuah kabar besar: persiapan menuju pernikahan Julian dan Vanessa di Boston sudah semakin dekat, dan Julian dipastikan akan pulang ke Indonesia dua minggu lagi untuk mengurus berkas administrasi dan beberapa persiapan akhir.Melihat rentetan ucapan selamat dan stiker meriah dari adik-adiknya di layar ponsel, Keiron terdiam di kursi kerjanya. Ia jadi mulai memikirkan jalan hidupnya sendiri
"Bang!" Keiron tersentak kaget saat suara teriakan itu. Tiba-tiba saja si bungsu membelah keheningan kamarnya. Jari-jarinya yang sedang menggulir layar ponsel refleks menjepit tepi benda pipih itu dengan kuat, hampir saja menjatuhkannya ke atas karpet tebal di bawah ranjang. Ia mendongak tajam, mendapati wajah tanpa dosa Edric yang sudah menyembul dari balik pintu. Kemudian membuka pintu itu semakin lebar. "Apaan sih, malem-malem lu ke sini ngapain bjir! Gak sopan banget masuk kamar orang gak ketok pintu," omel Keiron, ketus. Edric hanya menyengir lebar, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan mematikan kakaknya. Dengan santai, pemuda remaja itu melangkah masuk dan langsung mendudukkan bokongnya di tepi ranjang king-size milik kakak sulungnya, menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung. "Ya sorry, lagian pintu lo gak dikunci tadi," bela Edric, matanya langsung berbinar penuh rasa ingin tahu yang meluap-luap. "Gue gak bisa tidur, Bang. Kepo sama cewek tadi. Ka
Benar kata Kieran, saat malam tiba sehabis makan malam, ia menggandeng Siti untuk naik ke kamar. Hal itu langsung menjadi perhatian keempat anaknya. Namun, itu baru permulaan, karena hal yang lebih "gong" lagi adalah adegan keesokan harinya. Keesokan harinya, saat Siti sedang mengambil sesuatu di
"Siti," panggil Kieran halus. "Hem?" balas Siti yang terbangun. "Sayang," gumam Kieran lagi. Saat Siti membuka matanya, betapa terkejutnya ia karena wajah Kieran begitu dekat. Belum sempat ia mengatakan sesuatu, Kieran sudah lebih dulu menciumnya dan melakukan france kiss. Siti tentu saj
Akad Nikah segera dimulai, Siti menunggu dengan harapan semuanya lancar sampai selesai. Kieran di luar sana, sudah siap menggenggam tangan Yudha--paman Siti dari pihak ayah. Keluarga dekat Kieran pun ikut meramaikan, juga beberapa sahabatnya dari Inggris yang bisa datang. Acara pernikahan itu
Siti terkejut dengan jawaban Kieran yang sangat yakin, bisa-bisanya ia sesantai itu. "Enggak, Pih! Papi cuma bercanda kan?" tanya Edric serius. Sementara itu Clara ikut maju dan menggenggam tangan sang cucu. "Ed, kamu baru pulang sekolah. Kita duduk dulu," ujar Clara. Siti dan Kieran unt







