Masuk*** Lili mondar-mandir di dalam kamar. Dia masih saja tidak percaya jika melihat Riri. Dengan wujud yang menakutkan. "Kenapa Riri muncul sekarang. Apa dia mau mengajak aku pergi bersamanya. Tidak! aku tidak mau mati. Aku belum puas menikmati kekayaan semua ini. Harta ini akan segera menjadi milik aku semua." gumam Riri. Lili memikirkan cara untuk membuat Riri tidak meneror dia lagi. "Kalau dia kembali muncul, nanti aku akan mencari orang pintar saja untuk memusnahkan hantunya. Ya, aku akan mencari orang pintar kalau Riri muncul sekali lagi. Enak saja dia mau merusak semua perjuangan aku. Aku sudah bersusah payah mendapatkan semua ini. Lagian, jika Riri tidak ada, semua harta orang tua akan menjadi milik aku." Lili tertawa puas membayangkan jika dia bisa menikmati semua kekayaan tanpa perlu kerja. Dia begitu tergila-gila oleh harta. *** Riri dan Alex dalam perjalanan pulang. Mereka pulang dengan menggunakan taksi. Sepanjang jalan Riri masih saja terbayang dengan Ansel dan Ark
"Li, dimana Arka?" tanya David dengan nada keras takut jika Lili mencelakai Arka. "Pa, Papa jangan seperti itu sama anak sendiri. Tadi dia habis melihat kecelakaan. Mungkin Arka ada di luar," tegur Azumi berpikir positif. "Kecelakaan?" "Maaf Pa, Ma, karena Lili tadi melihat kecelakaan, Lili sampai meninggalkan Arka sendiri di cafe," sahut Lili gugup. "Apa? Kamu meninggalkan Arka di cafe sendiri?" Bukan Azumi atau David yang berteriak, tapi Ansel. Ansel yang memasuki rumah dan hal pertama ketika dia masuk ke dalam rumah adalah mendengar hal yang tidak menyenangkan, Arka hilang. "Ansel, kamu sudah pulang?" tanya Lili dengan lembut. "Kenapa kamu tinggalkan Arka di sana. Dia masih kecil." "Maafkan aku, aku panik Ansel," mohon Lili. "Sepanik-paniknya kamu, kamu tidak boleh meninggalkan Arka sendiri. Bagaimanapun Arka masih kecil," desis Ansel dengan marah. "Sudah jangan ribut lagi. Ayo kita cari keberadaan Arka," lerai Azumi bukan ingin membela Lili, tapi lebih mengutamakan me
"Iya, tadi Alka dan mama main baleng. Telus Alka lapal. Telus mama teliak hantu, lalu mama pergi ninggalin Alka," ulang Arka. "Hantu?" tanya Riri kembali mengingat orang yang berteriak hantu. "Iya mama lihat hantu. Tapi Alka ndak lihat hantu." "Di mana tadi Arka dan mama Arka makan?" tanya Riri memastikan apa orang tadi adalah Lili. "Tu, di cana," sahut Arka menunjuk ke arah tempat Riri makan tadi. 'Jangan-jangan yang berteriak hantu tadi adalah Lili. Dia mengira kalau aku sudah menjadi hantu. Ditambah lagi penampilan aku memang mirip hantu seperti kata papa dan Alex.' "Arka jangan menangis lagi ya. Ada kak Alex di sini," bujuk Alex dan menyerahkan balon miliknya. Arka menerima dengan senang hati. Dia suka sama balon. "Alka ndak nangis lagi. Kan ada kak Alek," sahut Arka senang. "Bagus," puji Alex mencoba menjadi kakak yang baik dan dewasa. "Emmm ... apa ini Mama Kak Alex?" tanya Arka penasaran. Curi-curi pandang ke arah Riri. "Iya, ini Mama Kak Alex," jawab Alex dengan
Alex dan Riri berjalan ke arah taman. Riri memilih duduk pada kursi yang ada di taman. Sedangkan Alex segera berbaur dengan anak lain yang ada di taman. Alex merupakan anak yang cepat akrab dengan anak yang lain sejak dia bersama dengan Riri. Sikapnya juga banyak berubah. Dia sudah membuka diri kepada orang lain. "Mama beli balon ya," minta Alex menatap penjual balon. Alex sudah selesai bermain. Matanya tergiur dengan balon. Mainan khas anak-anak. "Boleh, setelah kita beli balon, kita akan pulang ya." "Oke." "Ayo, Mama antar." "Tidak perlu, Ma. Biar Alex saja," tolak Alex yang sudah bisa mandiri. "Baiklah, kamu jangan jauh-jauh. Langsung balik ke sini." "Baik, Ma," ujar Alex. Alex dengan segera berlari ke arah tukang jual balon. Dia ingin membeli balon yang berbentuk ikan. Dia sangat menyukai ikan. Satu lagi berbentuk princess, buat pamannya agar tidak kesepian lagi. Riri duduk lagi di bangku menunggu Alex. Dia masih bisa melihat Alex dari sana. Di antara hembusan angin,
Gilang segera bangun dan berjalan ke arah pelayan untuk meminta kain dan akan meminta pelayan untuk membersihkan jus yang tertumpah tadi. "Alex ikut." Alek yang merasa bersalah juga ikut pergi bersama Gilang. Riri masih dalam posisi berdiri. Dia tidak berani duduk karena bisa mengotori kursi yang terbuat dari bahan kain. Menunggu Gilang balik, dia mendengar suara pintu cafe yang terbuka. Dia dengan reflek menghadap ke arah pintu cafe yang terbuka. Dengan kedua tangan yang diangkat sejajar pinggang seperti orang basah kuyup pada umumnya. "Hantu!" teriak orang yang baru saja ingin masuk. Dia tidak jadi masuk dan berlari dari sana. "Apa? Hantu? Di mana hantu?" tanya Riri yang juga takut dengan hantu. Karena dia masih belum membuka mata, maka dia tidak bisa melihat apapun. Dia jadi sangat panik dan memundurkan langkah. Hampir saja Riri terjatuh, untung saja ada Gilang dan Alex yang menahan tubuh Riri agar tidak menabrak kursi yang lain. "Ada apa Ri?" tanya Gilang melihat Riri yang
"Ri, kamu di mana?" panggil Ansel lagi. "Ansel, kamu kenapa di sini?" tanya Gilang kaget melihat Ansel yang memanggil Riri. 'Apa tadi dia melihat Riri? Mereka belum saatnya bertemu. Aku ingin hadiah terbaik untuk ulang tahun cucuku' Gilang segera memeriksa ke seluruh ruangan untuk mencari Riri. Matanya menemukan Riri yang berjongkok di samping sofa, tidak lagi di bawah meja. Dia tahu jika mereka tidak sengaja bertemu. Gilang langsung maju beberapa langkah untuk mencegah Ansel menemukan Riri. Rencana mereka tidak boleh gagal, Ansel tidak boleh bertemu dengan Riri terlebih dahulu. Masih ada waktu seminggu lagi untuk mereka bisa bertemu. Rencana kado untuk ulang tahun Arka tidak boleh gagal. "Papa, apa Papa melihat Riri?" tanya Ansel dengan menggebu. "Kamu melihat Riri? Dimana?" tanya Gilang balik. "Tadi dia ada di sini Pa." "Apa kamu tidak salah mengenal orang? Jangan-jangan yang kamu lihat adalah Lili?" tanya Gilang berpura-pura melihat ke sekitar berpura-pura mencari Riri.
Lili dan Meka menatap mereka berdua keluar dari ruang. Setelah mereka pergi, Lili menatap kembali ke sahabatnya. "Untung ada kamu Meka. Kalau nggak, bisa gawat," ujar Lili lega. Lili menduduki kursi di depan Meka. Kakinya sudah sangat pegal. Seumur hidup dia belum pernah berdiri selama itu. Kecu
Lili segera mencari nama Ansel dikoleksi nama kontak. Setelah ketemu langsung ditekan tombol panggilan. "Kamu di mana? Apa kamu sudah pulang?" tanya Lili to the point setelah Ansel mengangkat panggilannya. "Aku masih di kantor, Li." "Sekarang kamu pulang!" perintah Lili. "Maaf Li, pekerjaan ak
Gilang sedang duduk di ruang santai. Dia sudah jarang ke kantor. Semua urusan kantor telah diserahkan kepada Ansel. Selama tidak ada masalah besar, dia tidak perlu turun tangan langsung ke kantor. Hanya menangani masalah-masalah kecil sebagai sampingan agar tidak terlalu jenuh. Itu semua dikerjakan
Riri menghapus air mata yang berada di ujung ekor mata. Tidak tega melihat raut wajah Miranda yang merasa bersalah. Padahal dia juga tahu bukan dia yang sedang dimarahi. Tetap saja bawaannya mau menangis karena marah di depan dia. "Sudah, sekarang Mama kawanin kamu USG ya," bujuk Miranda kasihan







