Se connecterMarlon Pramudya rela dihina sebagai menantu pengangguran demi cintanya pada Erinka. Tiga tahun ditindas mertua dan diejek teman-teman istrinya, kesabaran pria bertubuh gempal dan kekar ini akhirnya habis. Melalui satu pesan singkat, penyamarannya berakhir. Marlon mengambil alih posisi sebagai Presdir baru Skylight Group. Dia kembali ke dunia nyata untuk menguasai uang ratusan miliar dan menaklukan siapapun yang menghalangi langkahnya. Kini Marlon ingin membuktikan kekuatannya sebagai menantu terhebat dengan menghancurkan setiap musuh yang meremehkannya. Namun, saat rahasia besar bahwa dirinya adalah seorang miliarder terbongkar, apakah Erinka tetap mendampingi Marlon? Ataukah identitas baru Marlon akan menghancurkan pernikahannya?
Voir plus“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.
“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.
“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagian yang menggorengnya,” jelas Marlon sambil tersenyum semringah karena Erinka menyukai masakannya.
Erinka pun meminta suaminya untuk sarapan pagi bersama, tapi tiba-tiba datang sang mama yang langsung bertolak pinggang dan menatap tidak senang ke arah suaminya.
“Marlon... mau ngapain kamu?” teriak Kemala saat melihat lelaki bertubuh gempal itu baru saja duduk di meja makan, di samping istrinya.
“Erin yang minta Marlon menemaniku makan, Mah,” jelas Erinka membela suaminya.
“Enggak usah dimanja suamimu itu, Rin! Pokoknya tidak ada jatah makan apa pun sebelum bekerja, bisa-bisa kalau perutnya sudah kenyang dia jadi pemalas, enggak mau mengerjakan apa-apa, maunya tidur terus di kamar...!” tegas Kemala melarang menantunya itu menyentuh nasi goreng yang tampak menggiurkan di atas meja.
“Selama tiga tahun aku tinggal di rumah ini, mana pernah aku bermalas-malasan, Mah,” ujar Marlon coba membela diri.
“Alasan aja kamu... lagi cari muka kamu ya di depan istrimu? Padahal kenyataannya sebaliknya...!” ujar Kemala tidak mau terima alasan Marlon.
“Tapi, Mah...” ucap Erin coba mencegah Marlon yang bangkit dari duduknya.
“Sudah..., sudah... sekarang juga kamu pergi ke depan, Marlon, buang air bekas rendaman kaki aku dan Papa,” perintah Kemala dengan tegas sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah depan rumah.
“Sudah Sayang, jangan bikin Mama marah... aku enggak apa-apa kok, kamu lanjutkan saja ya makannya... muahhh...” ucap Marlon sambil mengusap lembut rambut Erinka yang lurus dan panjang sepunggung, lalu dengan lembut dia mengecup kepala istrinya yang wangi shampo lavender.
Marlon berjalan menuju teras depan, tampak di sana ada Sugalih, bapak mertuanya, yang baru saja selesai merendam kaki dengan air garam di sebuah ember plastik berwarna biru. Kegiatan yang dilakukannya rutin dua hari sekali setiap pagi ini katanya dipercaya bisa mengurangi nyeri karena penyakit asam urat.
“Sudah ya, Pah? Aku benahi embernya... ” ucap Marlon menghampiri Sugalih, lalu mengambil ember bekas rendaman kaki yang ada di dekat tempat duduk lelaki itu.
“Biar saja di situ, Nak Marlon,... biar nanti si bibi yang membenahinya,” ucap Sugalih dengan suara yang lembut.
Berbeda dengan istrinya, sejak Marlon menjadi menantu dalam keluarganya, Sugalih memperlakukan Marlon sama seperti dia memperlakukan anak kandungnya sendiri, Erinka, penuh perhatian dan kasih sayang seorang ayah pada anaknya.
“Enggak apa-apa, Pah, biar aku yang simpan embernya ke belakang, kalau menunggu Bi Puri pulang dari pasar pasti masih lama,” jelas Marlon beralasan.
“Maafin Papa ya, Nak Marlon, Papa jadi enggak enak sama kamu, setiap hari kamu melakukan banyak pekerjaan di rumah ini,” ucap Sugalih coba menunjukkan perasaan bersalahnya pada Marlon.
“Tidak apa-apa, Pah, ini kan sudah menjadi tanggung jawabku sebagai bagian dari keluarga ini,” ucap Marlon coba meyakinkan lelaki berkacamata di depannya bahwa dia sama sekali tidak keberatan melakukan pekerjaan rumah yang diberikan padanya.
“Ya udah, Nak, simpanlah ember itu, nanti setelah kamu selesai, buatlah minuman, kopi atau susu, lalu kamu duduk sini temani Papa ngobrol,” pinta Sugalih saat Marlon menjinjing kedua ember berisi bekas rendaman kaki itu.
Saat Kemala sedang membuatkan kopi untuk suaminya di dapur, dia memandang sinis ke arah Marlon yang tampak baru saja selesai membersihkan ember bekas rendaman kaki.
“Marlon, jangan pergi dulu, antarkan kopi ini ke Papa,” ucap Kemala memerintahkan menantunya seperti pada seorang jongos. “Aku ingatkan pada kamu, jangan coba-coba kamu meracuni pikiran suamiku, atau coba-coba meminta dikasihani, karena aku tahu semua itu tipu dayamu untuk mengambil keuntungan dari keluarga ini,” ucap Kemala dengan ketus sambil mengaduk kopi hitam di dalam gelas kaca.
“Mengapa Mama selalu berprasangka buruk seperti itu padaku, Mah? Coba katakan apa alasannya sampai sekarang Mama tidak menyukai aku?” tanya Marlon untuk pertama kali dengan segenap keberanian, walaupun dia masih menunjukkan sikap hormat pada ibu mertuanya.
“Dengar ya baik-baik..., gara-gara kehadiranmu di keluargaku ini, sekarang keluargaku jadi bahan gunjingan oleh saudara-suadara suamiku, mereka menganggap kalau aku tidak becus mendidik anak gadis-ku agar bisa memiliki seorang suami yang sederajat dengan keluarga mereka. Sampai di sini kamu bisa mengerti kan Marlon, mengapa aku tidak menyukaimu berada di rumah ini?” ucap Kemala penuh emosi membeberkan semua alasan ketidaksukaannya pada Marlon.
Marlon tertunduk lemas, ingin rasanya dia berteriak melampiaskan kekesalan dan rasa sakit yang ada di hatinya, tapi selalu saja dia teringat janjinya pada Erinka tiga tahun lalu, bahwa dia rela melakukan apapun demi istrinya. Namun, setelah tiga tahun berlalu sepertinya dia sudah tidak tahan lagi harus ditindas terus-menerus oleh keluarga istrinya. Tiba-tiba hari ini hatinya tergerak untuk mengakhiri penyamaran dirinya sebagai menantu belian.
“Hey, Marlon... kenapa kamu jadi bengong di situ sih...!” panggil Kemala membuyarkan lamunan Marlon. “Ayo antar kopi ini ke Papa di depan. Ingat ya, kamu hanya boleh minum teh atau air putih saja,” jelas Kemala kemudian keluar dari dapur meninggalkan Marlon.
Setelah meracik teh tawar panas, lalu Marlon membawa teh itu beserta kopi untuk Sugalih menuju teras depan. Kesempatan diminta duduk menemani bapak mertuanya minum kopi, dimanfaatkan Marlon untuk mengirim pesan ringkas pada seseorang di luar sana.
“Tante, aku sudah tidak sanggup ditindas di rumah mertuaku, aku ingin kembali menjadi diriku yang dulu” bunyi pesan yang ditulis Marlon pada seseorang yang disebutnya ‘Tante’ yang entah berada di mana.
Tidak lama menunggu balasan, sambil menemani Sugalih ngobrol tentang bisnis bakpaonya suatu ketika dulu, Marlon pun menerima pesan dari wanita itu, “Ahaaa... akhirnya setelah lama ditunggu-tunggu kau kembali juga... Selamat datang kembali, Marlon Pramudya...”
Marlon hanya tersenyum membaca pesan dari wanita-wanita di sana yang saat ini pasti sedang tertawa bahagia menyambut kehadirannya kembali pada dunianya yang sebenarnya, setelah tiga tahun menghilang.
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu sudah menyimpan uang di dalam kartumu itu lama kan, dan hanya menggunakannya pada saat benar-benar diperlukan,” jelas Erinka.“Tuh, kamu ngerti... terus ada apa lagi kamu seperti memikirkan sesuatu?”“Seharusnya acara reuni ini aku bisa berbaur dengan teman-temanku, tapi...”“Lho, tadi kamu kan yang minta duduk terpisah?”“Iya, karena aku tidak ingin mereka mengejekmu,”“Santai aja kali, Beb... aku enggak akan berpengaruh apa-apa dengan ucapan mereka. Ya udah, habis makan ini kita gabung bersama mereka lagi ya...,” jelas Marlon coba menenangkan hati istrinya.Dari kejauhan Erinka melihat Albert menjadi kebanggaan teman-temannya sebagai seorang pemuda yang hidupnya paling sukses dan disukai
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama pernikahanmu dengan Erinka, kami sebagai sahabat dekat istrimu ini tidak pernah lho sekalipun mendapat traktiran dari kamu. Gimana kalau sekarang aja kamu mentraktir kami, aku dengar-dengar makanan seafood di restoran ini terkenal sangat lezat. Kalian setuju kan dengan usulku, teman-teman?” ucap si kurus meminta persetujuan beberapa orang di dekatnya sesuai rencana yang dia telah sepakati dengan Wenny.“Tentu saja setuju dong... kan pas momennya, kapan lagi kan kita bisa kumpul bareng begini,” sahut salah satu teman Erinka yang berpakaian blus bermotif batik.“Walaupun sebenarnya sudah telat sih, sudah tiga tahun gitu lho, tapi... dari pada enggak sama sekali, bolehlah merasakan traktirnya Marl
Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya, hari ini berita seorang pemuda yang menjadi pimpinan sebuah perusahaan raksasa di ibu kota sampai ke telinga Meygi, bahkan foto miliarder itu pun sampai ke ponselnya dari sebuah grup whatsapp. Dia langsung terpaku saat pertama kali melihat wajah lelaki bermata tajam seperti burung elang itu. Tentu saja wajah itu tidak asing lagi, dia lah orang yang 10 tahun lalu pernah menyelamatkan nyawanya. Tanpanya saat itu, pasti dirinya tidak akan ada lagi di muka bumi.Bahkan sebuah kebetulan, saat berdiri di depan resto hotel bersama peserta reuni yang lain, Meygi terbelalak saat bertatap mata dengan lelaki yang hari ini dikenangnya. Iya, lelaki bertulang pipi tegas itu baru saja melintas di hadapan
Erinka masih diliputi dengan cemas atas kejadian di jalan raya akhirnya sampai juga ke hotel bintang lima tempat reuni ditemani Marlon. “Ayo, kita turun...” ucap Erinka saat Marlon sudah mematikan mesin mobil di parkiran basement hotel.“Tunggu dulu, Beb...” ucap Marlon sambil menahan lengan kanan istrinya. “Ada apa, sih...” tanya Erinka heran sambil menatap wajah Marlon.“Maafin aku ya tadi sudah bikin kamu cemas dan ketakutan,” ucap Marlon sambil menatap wajah Erinka dengan wajah memelas.“Seharusnya hal itu tidak perlu kamu lakukan, karena... aku takut akan berbuntut panjang. Tony dan Hendrik bukan orang sembarangan, pasti mereka tidak akan berdiam diri atas kejadian tadi itu,” ucap Erinka ekspresi wajahnya kian resah.“Aku tidak punya maksud lain, hanya ingin memberi pelajaran pada mereka,” ungkap Marlon yang masih memegang erat lengan Erinka. “Aku juga sudah siap dengan segala konsekuensinya,” tambah Marlon.“Mereka berdua orang kelas atas, punya banyak backing yang sangat suli
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.