LOGINAyahku sekarat, tapi ibu tiriku malah bersenang-senang dengan sopir kami setelah berhasil menguasai harta keluargaku. Sekarang, aku baru berpikir untuk berencana membalasnya, tapi aku tidak menyangka jika dia malah menjeratku dalam fantasi gilanya!
View More"Aku... aku pamit dulu ya, Bu, Han," sahutku tersenyum kaku, lalu bergegas melangkah menuju mobilku di pekarangan.Aku segera menaiki mobil, menyalakan mesin, lalu melaju meninggalkan rumah Pak RT. Di sepanjang jalanan sore kota Bandung, tanganku mengenggam lingkar kemudi dengan pikiran yang masih tak menyangka atas kejadian gila yang baru saja berlangsung.Namun, fokus utamaku harus segera kembali ke pertempuran utama. Aku tidak boleh terlena.Aku memutar arah kendaraanku meluncur menuju Rumah Sakit Medika tempat Nikita dirawat. Sudah saatnya aku menemui Nikita secara langsung untuk menyampaikan perkembangan kabar Tasya dan Vira, sekaligus memantau pergerakan sandiwara kami melawan Ayah.Tiba di gedung rumah sakit, aku menaiki lift menuju lantai 7, melangkah menyusuri koridor VVIP yang hening hingga tiba di depan kamar nomor 704. Aku memutar gagang pintu pelan lalu melangkah masuk.Di dalam kamar, tampak Nikita sedang duduk bersandar di atas ranjang pasien. Meskipun selang infus masi
"Mmmgh... Ahh, A Aris... remas terus buah dadaku, A!" desah Hana tersengal-sengal dari balik kulumannya, sementara jemariku menari liar membelai dan mengocok clitoris mulusnya.Pergumulan panas dan terlarang di atas sofa ruang tamu itu berlangsung semakin liar dan tak terkendali. Kuluman mulut Hana yang membawa ritme cepat dan ganas membuat puncak pelepasan gairahku tiba di titik didih yang tak mampu ditahan lagi."Han... ssshh! Mau keluar, Han! Gak tahan lagi!" raungku parau sembari menahan pinggulku yang bergetar hebat.Hana dengan cepat mencabut si Gatot dari mulutnya, lalu mengarahkan sasarannya tepat ke atas piring berisi kue apem dan kue serabi hangat di atas meja!CRUUUTTT! CRUUTTT! CRUUUTT! CRUTT!Semburan benih kental hangat meluncur deras bertubi-tubi dari ujung si Gatot, membilas dan membasahi permukaan kue apem serta serabi hingga tergenang cairan putih kental yang berkilau. Keringat bercucuran membasahi seluruh leher dan dadaku."Waw... banyak banget keluarnya, A!" cetus
"Pak RT-nya ada di rumah gak, Bu?" tanyaku celingukan ke arah ruang tamu."Bapak lagi pergi ke Garut dari kemarin lusa, Nak Aris. Lagi memesan domba buat acara pesta adat desa kita minggu depan," terang Bu Iis santai sembari menutup pintu depan dan memasang engsel selotnya dari dalam.DEG!Mendengar kata Bu Iis bahwa Pak RT sedang pergi ke luar kota, darah di dadaku seketika berdesir kencang!Aku duduk di sofa ruang tamu rumah Pak RT Bambang dengan perasaan yang berkecamuk dan was-was. Suasana rumah yang sepi, ditambah fakta bahwa Pak RT Bambang sedang pergi ke luar kota menuju Garut, membuat atmosfir di ruangan ini terasa sangat canggung."Nak Aris, tunggu sebentar ya. Ibu ke dapur dulu," kata Bu Iis tersenyum manis sembari melangkah ke arah dapur."Iya, Bu," sahutku pelan, mencoba mengatur napas dan mengusap dahi yang mulai membasah oleh keringat dingin.Hingga tak berapa lama kemudian, Hana datang melangkah dari lorong kamar. Dia mengenakan rok pendek di atas lutut yang cukup ketat
"Gak makan dulu, Den?""Udah kenyang, Bi," sahutku tersenyum kaku sembari setengah berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua.Tiba di dalam kamar, aku melangkah mendekati jendela kaca yang mengarah ke pelataran parkir depan. Aku menyibak sedikit tirai kain.Di bawah sana, tampak Ayah baru saja turun dari mobil BMW-nya. Namun kali ini Ayah tidak sendirian. Beliau datang bersama seorang wanita muda berparas cantik dan seksi mengenakan gaun ketat warna merah menyala. Wanita itu tampak bergelayut manja di lengan Ayah sembari tertawa renyah saat memandu langkah masuk ke dalam pintu utama.Aku menggelengkan kepala melihat pemandangan tersebut. Nikita masih terbaring lemah di rumah sakit, namun Ayah sudah memboyong mangsa wanita baru ke dalam rumah ini.Aku melangkah keluar dari kamarku berniat mencari udara segar di luar. Namun saat berjalan melintasi lorong lantai dua di dekat kamar utama Ayah, langkah kakiku mendadak terhenti kaku.Dari balik pintu kamar Ayah yang sedikit renggang, terd






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore