ログインAyahku sekarat, tapi ibu tiriku malah bersenang-senang dengan sopir kami setelah berhasil menguasai harta keluargaku. Sekarang, aku baru berpikir untuk berencana membalasnya, tapi aku tidak menyangka jika dia malah menjeratku dalam fantasi gilanya!
もっと見る"Ohh... Gun... lebih cepat... ahh! Iya, di situ! Terus!"
"Ok Nyonya, terima ini!" suaranya berat, suara seorang pria dewasa.
Suara desahan itu pecah di tengah kesunyian ruang kerja Ayah. Aku mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Di atas meja mahoni yang biasanya digunakan Ayah untuk bekerja, Nikita, ibu tiriku yang terhormat sedang duduk di pangkuan Gunawan, si sopir.
Plak! Plak! Plak!
Suara sentuhan tubuh mereka terdengar nyaring, aku yakin siapapun yang melewati ruang kerja Ayah, akan mendengar persetubuhan gila mereka.
"Sedikit lagi … Nyonya, ahh!" geram Gunawan dengan suara serak, tangannya mencengkeram pinggul Nikita hingga memerah.
"Iya, tumpahkan di dadaku, Gun! Ayo cepat... ahhh!"
Irama tubuh mereka beradu terdengar sangat jelas di telingaku. Gaun tidur sutra Nikita sudah tersingkap sampai ke leher, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang liar mengikuti hentakan Gunawan. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini terurai berantakan, basah oleh keringat.
"Kau jauh lebih perkasa dari pria tua itu, Gun!" rintih Nikita sambil mencengkeram bahu Gunawan.
"Kapanpun Nyonya mau akan saya berikan." jawab Gunawan, suaranya berat, senyum puas muncul di wajahnya.
Aku menelan ludah, tanganku gemetar memegang ponsel butut yang sedang merekam pemandangan live itu. Setelah mendapatkan rekaman yang cukup, aku segera mundur. Jika ketahuan, aku bisa celaka.
Setelah ayahku menikah dengan Nikita 3 tahun yang lalu, hidupku memang tidak pernah damai. Nikita langsung mengambil alih rumah dan menghasut ayahku. Bahkan, dia memfitnahku di depan ayahku hingga membuatku diusir keluar dari rumah ini.
Sekarang, saat Ayah terbaring tak berdaya di rumah sakit, wanita yang menyebut dirinya "Istri Setia" itu malah melakukan hal menjijikan seperti ini.
Aku duduk di kursi meja makan dengan perasaan campur aduk. Niatku kembali ke rumah ini hanya untuk mengambil beberapa barang setelah menjenguk ayahku. Tapi, malah disuguhkan adegan sinting ini.
Aku menghela napas. Pikiranku mulai berlarian kemana-mana. Sampai akhirnya, sebuah ide muncul di kepalaku. Dengan rekaman yang kumiliki, seharusnya aku bisa mulai melawan.
Aku bisa menyebarkannya dan membuat Nikita malu dibanjiri hujatan. Setelah itu, saat ayahku bangun nanti, aku bisa langsung meminta ayahku menceraikannya.
‘Bener juga!’ kataku antusias dalam hati.
Namun, saat otakku sedang sibuk memikirkan itu semua, sebuah suara melengking membuatku terperanjat.
"Aris?! Berani sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini lagi!"
Aku berbalik badan dan langsung melihat Nikita berdiri di belakangku, ternyata dia sudah berpakaian rapi namun wajahnya masih nampak segar merona.
"Maaf, Bu. Aris cuma mampir setelah jenguk Ayah, sekalian mau ambil beberapa barang yang masih tertinggal di sini," jawabku sambil menatapnya sekilas, lalu menundukkan kepala.
Selama ini, aku memang tidak bisa lagi langsung bersikap keras di depan Nikita. Wanita itu sangat pandai memutar balikkan keadaan. Terakhir kali sebelum aku diusir dari rumah setahun lalu, wanita ular itu bahkan berhasil membuatku hampir dikeroyok habis oleh pengawalnya.
Nikita berdecak pelan, tatapannya menyapuku dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Lihat tampangmu, sudah seperti gembel pelabuhan. Bau, tapi masih berani datang ke sini!"
Aku hanya bisa diam mendengar itu.
“Sebelum tengah malam, pastikan kamu sudah meninggalkan rumah ini!” ujar Nikita lagi dengan nada ketusnya.
Aku mengangguk pelan, setelah itu Nikita pergi meninggalkanku.
Namun, wanita itu mengurungkan langkahnya, lalu kembali berbalik menatapku dengan tajam. “Kamu …”
Aku mengernyitkan dahiku bingung. Tatapan Nikita tampak sedikit aneh, seperti ada keraguan untuk bicara. “Iya, Bu?”
Dia masih menatapku dengan dalam. Sampai akhirnya menggelengkan kepalanya cepat. “Cepat keluar dari rumahku!”
Lalu segera pergi dari hadapanku. Pantatnya yang dibungkus dengan gaun tidur tipis dan ketat itu bergoyang seiring dengan langkahnya.
Sekilas, ingatan tentang bagaimana wanita itu menunggingkan pantatnya tinggi-tinggi di hadapan sopir rumah ini kembali muncul di ingatanku.
Hal itu membuatku merasa semakin kesal dan muak padanya. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat.
“Aku akan membalasmu, nenek sihir!” gumamku penuh keyakinan.
Setelah itu, aku melangkah menuju kamar lamaku yang tak jauh dari sekitar ruang tengah. Lebih tepatnya kamar pembantu yang jadi kamarku, karena kamar asliku direbut oleh Vira, anak sulung Nikita.
Kamar itu masih tampak sama, hanya lebih berdebu. Aku membersihkan kasurku seadanya dengan tangan, lalu melepas baju dan berbaring di sana.
Merasa lebih rileks, aku langsung membuka folder tersembunyi di ponselku. Aku memutar video tadi, memperhatikan tiap gerakan yang dilakukan oleh Nikita dan Gunawan.
Wajah mereka benar-benar terekam jelas.
Aku yakin bisa memakai ini untuk membalas Nikita!
Namun, semakin lama menonton video itu, aku baru menyadari satu hal. Meskipun sudah 45 tahunan, tapi badannya ternyata masih sangat bagus dan kencang. Bahkan, suaranya terdengar cukup menggoda.
"Sial, badan wanita ini benar-benar tidak masuk akal untuk seumuran dia," bisikku.
Tanpa sadar, tanganku perlahan mengusap bagian bawahku yang mulai bereaksi. Mataku masih fokus pada video itu yang memperlihatkan posisi paling kusuka.
“Sialan, aku gak tahan lagi, ah!” runtukku kesal.
Akhirnya, mau tidak mau aku harus menuntaskannya.
"Ah... shhh..." desisku.
Video itu masih terus berputar. Tubuhku terasa semakin tidak bisa ditahan lagi.
Namun, tiba-tiba—
CEKLEK!
Pintu kamar yang tidak kukunci terbuka lebar.
Nikita berdiri membeku di ambang pintu. Matanya yang tajam seketika melotot, terkunci lurus ke arah tanganku yang masih menggenggam erat aset berhargaku yang sedang menegang tegak ke atas.
Aku tersentak kaget dan panik, langsung menarik selimut tipis untuk menutupi bagian bawahku. "I-Ibu?! Maaf, Aris nggak tahu Ibu mau masuk!"
Tanpa menunggu jeda, aku langsung merengkuh pinggangnya, mengangkat tubuhnya, dan membawanya berbaring di atas kasur king size yang empuk. Tanganku dengan cepat melonggarkan pakaian yang kami kenakan. Dalam hitungan detik, pakaian kami terlepas satu persatu hingga tubuh kami berdua terhampar polos tanpa sehelai benang pun, saling menempelkan kulit yang hangat.Kutatap wajah Marni yang diliputi gairah. Kuhujani leher jenjangnya dengan ciuman-ciuman basah, merayap turun ke sepasang buah dadanya yang kenyal dan padat berisi."Ahhh A Aris... mmmhh terus A," desah Marni tersengal-sengal, mencengkeram sprei kasur kencang-kencang saat lidahku melumat dan mengulum puting merahnya yang mendadak mengeras tegang.Jejak ciuman dan hisapanku makin merayap turun melewati perut ratanya yang mulus, hingga wajahku berada di antara kedua pahanya yang merenggang lebar. Kubenamkan wajahku di sana, memainkan lidahku dengan lihai, cepat, dan basah pada pusat kepekaannya yang sudah banjir oleh cairan pel
"Nak Aris, kami sekeluarga menerima pinanganmu dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan," jawab ayah Marni mewakili keluarganya, disusul tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang hadir.Acara dilanjutkan dengan prosesi tukar cincin pengikat. Aku melangkah maju mendekati Marni, lalu dengan tangan sedikit gemetar memasangkan cincin emas bermata berlian kecil di jari manis tangan kanannya. Marni, dengan senyuman paling indah yang pernah kulihat, balas menyematkan cincin di jari manisku.Suasana pekarangan langsung pecah oleh riuh tepuk tangan dan sorak gembira dari Bagas, Danu, Tasya, Vira, Nikita, Bu Rahma, serta para tetangga kampungku. Acara lamaran itu ditutup dengan doa bersama dan sesi ramah tamah, di mana seluruh tamu menikmati hidangan lezat yang disajikan di bawah tenda.Keesokan harinya, setelah rangkaian acara lamaran yang melelahkan namun sangat membahagiakan itu selesai, aku mengajak Marni untuk mengambil cuti dari showroom. Aku berencana membawa Marni pergi berl
"ARGHHH!"Ketiga preman berbadan besar itu terpental mundur sejauh tiga meter di udara, lalu menghantam tumpukan drum besi kosong hingga pingsan seketika!Melihat kejadian itu, Risma, Bu Yanti, dan dua preman tersisa membelalakkan mata kaget."Sialan! Ternyata dia punya ilmu dalam! Serang dia bersama-sama!" teriak ketua geng preman murka, mencabut parang tajam dari pinggangnya dan berlari menerjangku.Dua preman sisa menyerang dari arah samping bersamaan dengan sang ketua. Namun, di mataku, gerakan mereka yang mengandalkan tenaga kasar itu terasa sangat lambat.Aku melompat merendah, menghindari ayunan parang sang ketua geng, lalu melayangkan tendangan putar bertenaga dalam yang menghantam rahangnya telak!KRETEKKK!Ketua geng preman itu memutar di udara, muntah darah, dan langsung ambruk tak berkutik di atas lantai berdebu. Satu preman lagi yang mencoba menusukku dari belakang berhasil kutangkap pergelangan tangannya, kuputar ke belakang hingga tulangnya bergeser, lalu kusepak perutn
"Aris, jangan gegabah! Kamu bisa—"BEEP.Aku langsung memutus sambungan telepon dari Pak Diki. Aku tidak peduli seberapa berbahaya kelompok geng motor itu. Dengan kemampuanku sendiri, aku siap merobek-robek siapa pun yang berani menyentuh Marni.Namun, sebelum aku melompat masuk ke dalam mobil, ponselku kembali bergetar keras. Sebuah pesan teks dari nomor tak dikenal masuk ke layar:[Kalau pacarmu ingin selamat dan tetap hidup, siapkan uang tunai sebesar 5 miliar rupiah. Jangan bawa polisi, dan serahkan uang itu sendiri ke bangunan pabrik gula sekarang juga!]Melihat pesan ancamanitu, aku mendengus dingin. Lima miliar? Jangankan lima miliar, menyerahkan satu rupiah pun pada bajingan-bajingan itu tidak akan kulakukan.Aku segera masuk ke dalam kamar tidur di ruang pribadiku lantai dua showroom. Dari dalam lemari besi, aku mengambil sebuah koper besar berwarna hitam. Untuk mengelabui mereka dan menguji situasi, aku tidak membawa uang sungguhan dalam jumlah sebanyak itu. Aku mengisi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと