LOGINAyahku sekarat, tapi ibu tiriku malah bersenang-senang dengan sopir kami setelah berhasil menguasai harta keluargaku. Sekarang, aku baru berpikir untuk berencana membalasnya, tapi aku tidak menyangka jika dia malah menjeratku dalam fantasi gilanya!
View More"Baik, Pak Aris. Nanti akan saya kabari kalau ada apa-apa," sahut Sinta mengangguk paham.Keluar dari Kamaris Garden, tujuanku berikutnya adalah mencari Mang Udin, mantan tukang kebun di rumah Ayah yang menjadi saksi kunci peristiwa di gudang belakang. Aku harus menemuinya untuk menggali lebih banyak informasi mengenai pergerakan Ayah di masa lalu.Aku melajukan mobil menuju daerah perumahan sewa dekat kawasan kebun sawit, tempat yang pernah dijelaskan oleh rekan kerjanya di warung kopi tempo hari.Mobilku berhenti di persimpangan jalan utama dekat penjual nanas madu. Aku melangkah menyusuri gang sempit di antara deretan bangunan kontrakan sederhana.Tiba di depan kontrakan Nomor 7, aku melihat pintu kayunya terkunci rapat dari luar menggunakan gembok besi.Aku menggetok pintu kayu itu beberapa kali. "Mang Udin? Mang Udin ada di dalam?"Tidak ada sahutan. Seorang pria tetangga sebelah kontrakan yang sedang mencuci sepeda motor menoleh ke arahku."Cari Mang Udin ya, Mas?" tanya pria
Napas yang sesak serta gejolak mual di dadaku berusaha kukendalikan. Aku bergegas membalikkan badan, melangkah menaiki anak tangga dalam remang senter ponsel, lalu keluar dari rongga ruang bawah tanah yang mengerikan itu. Kumasukkan engsel pintu besi, memutar selot kunci duplikat rapat-rapat, lalu merapikan karpet kusam di atasnya.Aku keluar dari gudang belakang, mengunci pintu kayunya, lalu melangkah cepat melewati dapur menuju ke kamar di lantai dua. Di depan cermin, kuusap keringat dingin yang membasahi dahi dan leherku. Kubuka kaos polos yang berdebu, berganti dengan kemeja kasual yang rapi, lalu merogoh kunci mobil dari atas meja.Beberapa menit kemudian, mobilku sudah melaju membelah jalanan kota Bandung. Suasana lalu lintas siang itu terasa sangat padat dan merayap. Di sepanjang jalan utama, klakson kendaraan saling bersahutan menembus kemacetan.Namun, bukan hanya kepadatan kendaraan yang menarik perhatian warga. Di papan reklame digital persimpangan dan layar televisi
"Yanto, Andri... ayo kita jalan sekarang. Berkas-berkas notarissnya sudah siap di kantor," kata Ayah penuh semangat keserakahan.Ayah lalu menoleh padaku. "Aris, kamu pulang ke rumah dulu saja atau urus toko. Nanti kalau ada perkembangan pengalihan aset ini, Ayah kabari.""Baik, Yah. Hati-hati di jalan," sahutku mengangguk kaku.Ayah dan kelompoknya melaju pergi menaiki mobil SUV hitam mereka. Aku bisa menebak dengan pasti bahwa saat ini Ayah dan Pak Yanto sedang bergegas menuju ke kantor notaris untuk mengeksekusi pengalihan seluruh aset dan perusahaan milik Nikita secara ilegal, mumpung mereka mengira Nikita sudah lumpuh dan terbang ke luar negeri.Aku menaiki mobilku lalu melaju membelah jalanan kota menuju kembali ke rumah Ayah. Aku ingin berganti pakaian yang lebih santai dan merapikan beberapa barang di kamar.Suasana kediaman Ayah terasa sangat hening saat mobilku bersandar di halaman. Hanya ada Bi Inah yang sedang menyapu pekarangan samping. Aku melangkah masuk, naik ke lant
"Iya, kamu tenang saja," kataku menatap Marni lembut, berusaha menyalurkan rasa tenang ke dalam hatinya.Marni mengangguk pelan, jemari tangannya meremas kencang bahuku yang bertelanjang. Di bawah temaram lampu kamar, kecantikan Marni tampak begitu nyata dan memabukkan. Tubuh polosnya yang kencang, mulus, dan harum memancarkan aura kepolosan murni yang sangat berbeda dari wanita manapun yang pernah dekat denganku.Aku menundukkan kepala, memulainya dengan ciuman lembut di atas bibir tipisnya. Marni memejamkan mata, membalas lumatan bibirku dengan canggung namun penuh kepasrahan. Perlahan, kecupan itu menyusur turun melintasi leher jenjangnya yang harum, merayap ke dada, lalu melumat sepasang buah dadanya yang indah dan kencang."Mmmhh... A Aris... ssshh..." desah Marni tersengal-sengal, dadanya melengkung ke atas menikmati gigitan-gigitan kecil dan sentuhan lidahku pada puting merahnya yang mendadak mengeras tegang.Aku tidak mau terburu-buru. Tangan dan bibirku terus bergerak mem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore