LOGINKeenan melangkah mendekat memeluk Stella dengan perasaan yang campur aduk, bahagia dan juga sedih. “Mama.. Maafkan Keenan baru mengetahui keberadaan mu.. Maafkan aku telah mengabaikanmu tanpa sengaja..” Ia membenamkan wajahnya di bahu ibunya, menghirup aroma bunga lili yang lekat pada tubuh Stella. Stella terdiam dalam pelukan itu. Awalnya tubuhnya kaku, namun perlahan tangannya yang kurus terangkat, mengusap punggung Keenan dengan gerakan naluriah seorang ibu. "Kenapa... Kenapa tubuhmu begitu hangat? Dan kenapa hatiku terasa sangat perih saat kamu menangis?" gumam Stella lirih. Alexander, yang masih berlutut di tanah, hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Penyesalan itu seperti sembilu yang menyayat hatinya. Ia meraih ponselnya dengan tangan gemetar, menekan nomor dokter pribadi yang menangani Stella selama ini. [Halo, Dokter Danis? Ini Alexander Arkana. Datanglah ke villa sekarang juga. Bawa semua peralatan mu. Istriku...
“Mama..” Keenan menyusul dengan suara parau. Ia berdiri di samping Alexander, keinginannya bertemu Mama kandungnya membuat tubuhnya nyaris bergetar. Di sampingnya Aruna memeluk lengannya. Wanita itu menghentikan goresan kuasnya. Ia berbalik perlahan, menatap Alexander, lalu beralih pada Keenan dan Aruna yang berdiri di samping Alexander. Ada binar kebingungan di matanya yang biru jernih. Keenan melangkah maju, dadanya terasa sesak. "Mama... Ini aku, Keenan." Stella menatap Keenan cukup lama, matanya menyipit seolah mencoba mengingat sesuatu yang sangat jauh. Namun, bukannya pelukan hangat atau tangis haru, ia justru memiringkan kepalanya dengan tatapan polos. "Kalian siapa?" tanya Stella dengan suara yang sangat lembut namun terasa seperti petir bagi Keenan. "Marie, apa mereka tamu dari kota? Kenapa pria tua ini menangis?" Ia menoleh ke arah pelayan yang berjalan perlahan mendekatinya. Alexander jatuh
"Kamu selalu membuatku kehilangan kendali, Sayang," gumam Keenan parau. Ia menanggalkan kemeja hitamnya yang sudah compang-camping, memperlihatkan otot dadanya yang kokoh dan balutan perban di bahu yang mulai sedikit merembes darah.Aruna menatap suaminya dengan luapan hasrat. Tangannya meraih tengkuk Keenan, menariknya kembali untuk ciuman yang lebih dalam. Tangannya meraba punggung Keenan, merasakan otot-otot yang tegang karena emosi.Aruna memberanikan diri, tangannya turun ke bawah, menyentuh 'naga' milik Keenan yang sudah menegang sempurna di balik celana kainnya. Sentuhan itu membuat Keenan menggeram keras, sebuah suara bariton yang sangat seksi di telinga Aruna."Ssshhh.. Sayang, kamu ingin bermain, hmm?" Keenan tersenyum miring, sebuah senyum predator yang selalu Aruna rindukan.Dengan gerakan cepat, Keenan menanggalkan sisa pakaian mereka. Tanpa menunda terlalu lama, ia kembali mencium Aruna, kali ini lebih lembut namun tetap intens. Tangannya mengusap paha bagian dalam A
Keenan berhenti tepat di depan Papanya. Ia merangkul pinggang Aruna dengan sangat posesif, jemarinya sengaja menggenggam erat tangan Aruna, memberikan usapan lembut yang menandakan otoritasnya atas wanita itu."Dari masa lalu yang coba kamu kubur hidup-hidup, Pa," jawab Keenan dingin. "Martha ada di bawah. Dan sepertinya, malam ini bukan hanya Sofia yang akan kehilangan tahtanya, tapi kamu juga, kalau kamu tidak mengatakan kebenaran yang sesungguhnya tentang kematian Mama."Alexander menatap putranya, lalu beralih pada Aruna. Ada kilat penyesalan yang mendalam di mata penguasa Arkana itu. "Masuklah ke perpustakaan. Ada satu hal lagi yang tidak diketahui Martha, maupun Sofia."Keenan dan Aruna mengikuti Alexander ke perpustakaan yang megah. Suasana di sana sangat mencekam. Keenan duduk di kursi kebesarannya, namun ia menarik Aruna untuk duduk di pangkuannya. Ia membiarkan paha Aruna bersentuhan langsung dengan kulit tangannya, sebuah tindakan intim yang eksplisit untuk menunjukkan
"Keenan..." bisik Aruna parau. Begitu melihat suaminya, pertahanan Aruna runtuh. Ia berlari menerjang Keenan, memeluk pinggang suaminya dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Keenan yang masih terasa panas oleh keringat. "Keenan, dia... Dia masuk begitu saja. Aku takut..." Keenan merengkuh Aruna dengan satu tangan, mendekapnya posesif. Ia bisa merasakan tubuh Aruna yang gemetar hebat di balik blazernya. Tangannya yang lain tetap bersiaga, meski ia tahu wanita di depannya tidak memegang senjata. Namun, keberadaan wanita itu sendiri adalah senjata yang menghancurkan mentalnya. "Siapa kamu?" desis Keenan, matanya berkilat tajam. "Dan bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" Wanita tua itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kesedihan sekaligus kasih sayang. Ia tidak menjawab, melainkan melangkah mendekat. Keenan secara refleks menarik Aruna lebih mundur, melindunginya dengan tubuhnya sendir
‘Apa aku akan mati sekarang?!’Keenan merasakan panas di sisi kepalanya, namun untungnya peluru itu hanya menyerempet telinganya. Di saat yang sama, tim penembak jitu dari helikopter melepaskan tembakan ke pergelangan tangan Sofia, membuat detonator itu terlempar ke aspal.Keenan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menerjang Sofia, menjatuhkan wanita itu ke tanah. Amarahnya memuncak, ia tidak peduli lagi apakah wanita ini yang membesarkannya atau bukan. Di pikirannya hanya ada keselamatan Aruna."Di mana remote cadangannya?!" teriak Keenan sambil mencekik leher Sofia. "Katakan padaku atau aku akan mendorongmu jatuh dari tebing ini sekarang juga!"Selingkuhan Sofia mencoba kabur, namun Alexander sudah berada di sana, mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajah pria itu. "Kamu tidak akan ke mana-mana, brengsek!"Di tengah kekacauan itu, ponsel Keenan bergetar. Sebuah video call masuk dari Nando yang kini sudah mendarat menggunakan tali d
Keenan menarik lengan Aruna dengan langkah kaki lebar, menyusuri koridor samping mansion yang remang-remang. Aruna terseok-seok mengikuti, tangannya sibuk memegang kancing kemejanya yang belum sempat dikaitkan sempurna. "Keenan, berhenti! Kita mau ke mana? Ini bukan jalan keluar
Keenan terdiam sejenak. Pelukannya mengerat, bukan lagi pelukan penuh nafsu, tapi pelukan yang penuh kerinduan terpendam. Ia memutar tubuh Aruna kembali, menatap matanya dalam-dalam. ”Karena luka beberapa tahun lalu itu terlalu dalam, Aruna,” suara Keenan melembut namun tetap berat. “Dan satu-s
Keenan berdiri di koridor rumah sakit dengan kemeja hitam yang masih lembap, tidak lama Nando datang membawakannya pakaian ganti untuknya. Di tangannya, Keenan memegang ponsel yang berisi bukti-bukti baru tentang upaya sabotase perusahaan dan pelecehan pada Aruna. "Nando, pastik
Suasana mendadak hening. Keenan menarik napas dalam. Ia menatap Aruna sejenak, seolah meminta izin. Aruna hanya mengangguk pelan, wajahnya merona merah, perpaduan antara malu dan haru bahagia. Yosua, yang tadinya sibuk dengan ponselnya, kini ikut menoleh dengan rasa penasaran."Aruna tidak hanya







