LOGINFelisha Smith is a 28 years old football coach who never supports that dates or marries younger men. To her, it’s absurd and plain . But what happened when she’s tucked into a situation where she has to strike a contract with not just any younger man but her own student Sebastian. And Sebastian Collins on the other hand, the football captain who never liked his football coach on first sight, don’t mind ruining her reputation should she reject his proposed contract.
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGChapter 75 FELISHA'S POVWe all rejoiced out of the stadium, because Sabastian helped his team score so many goals, beating their opponent so many times.I couldn't be happier. Even though I wasn't his coach again, I knew that Sabastian wouldn't disappoint me, as he was really good.The team finally went to the bus which they had brought, while I went to my car, but as I was about to start my car, Sabastian showed up."Where did you think you were going without me?" He smirked, and I just blinked my lashes rapidly, trying to understand what he was trying to do."Open the door," he told me, and I quickly did so, as he stepped in."What are you doing here? the bus is about to leave now." "I'm not going with them, but rather I'm going with you, besides I'm sure you are going home, but they are not." He tried to explain to me, but I just took a deep breath."Sabastian today is a day of celebration, I mean you guys won, so it's only expected that you guys have fun together,
Chapter 74Once I got home, Felisha had already prepared lunch. So she just called me over to the dining room.While we were eating, my cell phone started ringing again. "Sabastian I think it's high time you go and see him, instead of ignoring his calls always, I mean how long will you continue this way?" Felisha asked me, and I just stared blankly at her, realizing she was saying the truth, but I really don't want to go and see my dad for now.He had told me to stay away from her, but due to the love I have for her, I couldn't, so the fact that he wanted to see me, I'm not really comfortable with it, because I believe that he was going to say the same thing like he always says about me and Felisha, but I really don't want to hear that."Sabastian, are you listening to me?" Felisha words jerk me to reality, and I quickly turned over to her."Yes I can, but honestly I already know what my father is going to say, so I don't want to hear it." I told her, while she sighed softly."I tota
Chapter 73Listening to how Felisha was screaming over the phone I knew Anthony was beating her up again. I quickly ended the call as I snatched my car keys and went out of my flat house.Anthony was really so cruel, and I have tried all it takes for Felisha to divorce him, but she still doesn't want to. Though I understand why.I thought as I finally stopped at Felisha house. I quickly rushed in, as I saw Anthony still on her body throwing punches at her. "What do you think you are doing you bastard?" I cursed at him as I rushed over to where he was sitting on her body.He quickly stood up, and moved away from her. I wanted to fight him, but decided to check up on Felisha first.She was almost lifeless, so I just quickly carried her up, and left there. I'm going to deal with Anthony later.Once I arrived at the hospital, she was attempted to by the doctor who said, if I didn't bring her early enough she would have died."Okay thank goodness I brought her early enough." I sighed soft
Chapter 72"Wow, that's really good." She smiled, making me gasp. I never expected her to react this way. "You aren't sad that they have replaced you already, within just two days?" I asked her, still finding it hard to believe how she had reacted when I told her about the new teacher."No, I'm not, besides I don't intend to stay in the school forever, and also you need another teacher as soon as possible, since the competition isn't far away again." She told me, and I just took a deep breath. Though I saw a lot of sense in what she had just said, I still can't help but worry about her."I'm totally fine okay, and I see you are worried about me, but trust me you really don't have to." She assured me, and I finally tried to relax myself, before I finally changed the topic.We talked a little more, before our food was being delivered. I took it from the delivery man and paid him off before coming in with it.I handed one over to Felisha and also took mine, before we had our lunch.We t
Chapter 58Honestly I really don't think I want to see her right now, I'm really so mad at her now. How could she put me in this mood and leave me. I thought as I was still finding it hard to believe what had just happened.Felisha has never done something like this to me before, so what has made her
Chapter 56I took a deep breath, and went into my bedroom immediately. I wasn't really feeling sleepy since all my focus was on Felisha, but I tried to lay down.Soon it was morning, and I was up already, as I got ready for school. I remembered all that had happened the previous night, and I had the u
Chapter 55Anthony tightened his jaws, and I knew they were trouble. I couldn't move as I just stood there watching him like a movie."Leave my house now, because I didn't remember inviting you here." Anthony yelled, and Sabastian moved closer instead.I wished I could tell Sabastian to leave immediate
Chapter 54I didn't want any sex again. "Sabastian, please let's not do this today." I tried to pull away from him, but he held onto me before I could even move."Come on Felisha don't do this." He Took my lips into his Immediately, while I responded again.Even though I wanted to stop this so badly, I
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews