Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 137 Pesan Dari Dewi

Share

Bab 137 Pesan Dari Dewi

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-09-09 12:20:34

Ruangan itu hening, hanya terdengar suara napas lima orang yang mulai mengatur ritme masing-masing, dan Nindy memejamkan matanya, menunggu bayangan apa yang akan muncul lebih dulu di kepalanya.

Yang muncul sama sekali bukan yang dia duga sendiri.

Bukan rekaman kamera lobi dengan gambar buram itu, bukan juga nama Bahar yang sudah menggantung sejak pagi tadi, melainkan wajah Malik di depan pintu, sebelum berangkat, menanyakan satu hal sederhana dengan suara yang lebih lembut dari sepanjang percak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 179 Pasien Langganan

    "Terus?" tanya Nindy, penasaran, mencondongkan badan sedikit."Pasiennya udah ketiduran pas suaminya sampe," jawab Ratna, tertawa lagi. "Nasinya dimakan suaminya sendiri sambil nangis kecapean di depan pintu kamar.""Kok mirip nasibnya sama aku," ucap Malik."Bedanya kamu belum pernah nangis di depan pintu kamar," balas Nindy, membuat Ratna tertawa lebih keras.Nindy dan Malik ikut tertawa, dan suasana ruangan itu berubah jauh lebih ringan dari beberapa menit sebelumnya. Mereka mengobrol beberapa menit lagi, dari jadwal kelas prenatal yang bakal digabung lagi minggu depan, sampai Ratna bercerita soal anaknya sendiri yang baru masuk sekolah dan menangis tiap pagi di depan gerbang sampai gurunya harus menggendongnya masuk kelas."Dua bulan kontrol tiap minggu sama kalian, rasanya kayak udah kenal lama," ucap Ratna, sambil merapikan alat-alat di mejanya, memasukkan stetoskop ke laci."Kita emang udah kenal lama, Dok. Dari minggu ketiga," balas Malik."Itu artinya udah sembilan minggu, Do

  • Dok, Please Cukup!   Bab 178 Buat Ganjel

    Mereka bergerak dengan tempo yang hampir malas, seperti dua orang yang lebih butuh kehadiran satu sama lain daripada apa pun yang biasa dikejar malam-malam sebelumnya. Nindy menahan napas pelan setiap kali Malik berhenti sejenak untuk menatap wajahnya, memastikan, sebelum melanjutkan lagi dengan gerakan yang sama tenangnya.Kalung dua separuh hati di leher Nindy tetap di sana sepanjang waktu, sesekali tersentuh jari Malik tanpa sengaja. Napas mereka berdua memburu pelan-pelan, bukan terburu, sampai akhirnya keduanya sampai hampir bersamaan, dan Malik menurunkan tubuhnya ke samping istrinya, tidak menindih sedikit pun.Mereka berbaring berdampingan, dada masih naik turun, dan Malik menarik selimut sampai ke bahu Nindy.Beberapa menit berlalu dalam gelap sebelum Nindy bicara lagi, suaranya sudah mengantuk. "Besok siang, kamu takut nemuin apa?"Malik tidak langsung menjawab. Jeda itu berlangsung lama sekali, cukup lama sampai Nindy hampir menganggap suaminya sudah tertidur."Aku takut ne

  • Dok, Please Cukup!   Bab 177 Ketiduran

    Ponsel di meja kaca bergetar tepat jam delapan. Malik meraihnya sebelum getaran kedua, menekan tombol pengeras suara, dan meletakkannya di atas bantal sofa di antara dia dan Nindy."Hendra, aku udah kasih tau Nindy soal pesan kamu," ucap Malik. "Kuncinya belum kita apa-apain.""Bagus. Aku jelasin dulu status hukumnya, biar kalian ngerti kenapa aku segitu takutnya," jawab Hendra, suaranya datar, seperti sedang membaca dari catatan. "Barang di gudang itu bagian dari harta peninggalan Bapak, Malik. Yang berhak buka cuma ahli waris yang sah, sesuai surat keterangan resmi.""Ahli warisnya siapa aja?" tanya Nindy."Cuma dua. Ibu Eleanor sama Malik," jawab Hendra.Malik menyandarkan punggungnya ke sofa. "Terus? Kita berdua kan emang ahli warisnya.""Masalahnya surat keterangan ahli waris itu harus diurus lewat notaris yang pegang semua berkas keluarga kalian. Notarisnya ditunjuk sama kantor pengelola aset," jawab Hendra, jeda sebentar sebelum melanjutkan. "Kantor itu sekarang dipegang orang

  • Dok, Please Cukup!   Bab 176 Makan Di sini aja

    Malik ikut berdiri lebih cepat dan mengangkat kedua tangannya. "Duduk, Bi. Biar aku yang siapin. Bibi makan sekalian sama kami."Bi Inah berdiri tegak dengan tangan menggenggam sandaran kursi. Kakinya tidak bergerak ke arah dapur, dan tidak juga duduk kembali."Nggak usah, Pak. Saya makan di rumah aja nanti," jawab Bi Inah."Bibi udah jauh-jauh balik ke sini pakai baju rapi. Masa pulang laper," ucap Nindy.Bi Inah memandangi kursinya sendiri seperti baru pertama kali melihat benda itu. Tangannya masih di sandaran.Nindy bangun dari kursinya, berjalan memutar meja, lalu memegang kedua bahu Bi Inah dan mendorongnya turun pelan-pelan sampai perempuan itu terduduk. Bi Inah tertawa kecil sambil menutup mulut.Malik membungkus kunci dan kartu itu kembali dengan kain cokelat, lalu memindahkannya ke atas kulkas, di samping magnet stroberi. Sesudah itu dia mengambil tiga piring dari rak, tiga mangkuk, dan tiga pasang sendok garpu.Sup yang tinggal setengah panci dia hangatkan sebentar, lalu di

  • Dok, Please Cukup!   Bab 175 Bungkusan Titipan

    Nindy meletakkan tangannya di atas punggung tangan Malik yang terkepal di meja."Maaf, Bi. Beneran," ucap Malik, suaranya turun.Bi Inah mengibaskan tangan kanannya di depan wajah, dua kali, gerakan yang sama seperti waktu dia mengusir lalat dari atas cucian piring."Udah, Pak, udah. Wajar Bapak mikir gitu, orang Pak Bahar itu bikin susah keluarga Bapak. Saya juga nggak pernah cerita apa-apa, salah saya juga."Hidung Bi Inah kemudian bergerak mengendus udara. Dia menoleh ke arah dapur, dan keningnya berkerut."Itu supnya matiin dulu, Pak. Airnya udah mau abis, nanti pancinya gosong. Itu panci kesayangan Ibu Eleanor," ucap Bi Inah.Malik berdiri cepat, hampir menyenggol kursinya sendiri, lalu berjalan ke dapur dan mematikan kompor. Dia mengangkat tutup panci. Kuahnya tinggal setengah, dan dasar panci mulai kelihatan di pinggirnya.Nindy tertawa pelan dari kursinya. Bi Inah ikut tersenyum, lalu mendorong bungkusan kain itu sejengkal ke arah Nindy."Ibu yang nanya duluan tadi, jadi ini b

  • Dok, Please Cukup!   Bab 174 Salah Paham

    "Udah, Pak. Saya yang gendong Bapak pertama kali pulang dari rumah sakit, soalnya Ibu masih lemes di mobil," jawab Bi Inah.Nindy melirik suaminya. Telinga Malik mulai memerah.Bi Inah mengusap ujung taplak plastik dengan jarinya, merapikan lipatan yang sebenarnya sudah rapi. Senyumnya muncul pelan di sudut bibir."Dulu Bapak itu anaknya pinter ngumpet. Tiap Selasa sore, guru les pianonya dateng, Bapak langsung ilang. Satu rumah nyariin. Taunya Bapak meringkuk di bawah meja makan, ketutup taplak yang panjang sampai lantai."Nindy menutup mulut dengan punggung tangan. Bahunya bergetar menahan tawa."Itu cuma sekali dua kali," ucap Malik, menggaruk belakang lehernya.Mendengar itu, Bi Inah langsung menggeleng dan menjawab, "Hampir dua tahun, Pak. Sampai Ibu nyerah terus gurunya diberhentiin."Tawa Nindy akhirnya keluar. Dia menepuk lengan suaminya dua kali, dan Malik menatap langit-langit sambil menghembuskan napas lewat mulut."Terus apa lagi, Bi?" tanya Nindy, menyeka sudut matanya."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status