Início / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 17 Kumat Ketika Kabur

Compartilhar

Bab 17 Kumat Ketika Kabur

Autor: NFLusica
last update Data de publicação: 2026-07-22 11:55:58

Nindy membuka pintu pagar rumahnya dan melangkah keluar menuju jalan utama komplek perumahan dengan langkah kaki yang sangat mantap dan cepat.

Suasana jalan raya pada siang hari itu cukup terik dan sepi dari lalu lalang warga, sehingga Nindy bisa dengan mudah melihat sebuah taksi kosong yang sedang melintas di ujung jalan.

Nindy segera mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi untuk menghentikan laju kendaraan umum tersebut.

Taksi berwarna biru itu menepi tepat di depan kaki Nindy, lalu Nindy la
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Dok, Please Cukup!   Bab 219 Dua Minggu Lagi

    Mendengar itu, Nindy menyandarkan kepala ke jendela dan menghela napas panjang yang dibuat-buat. "Kita udah bahas ini berbulan-bulan lalu, Malik. Aku masih pengin ada Surya-nya, buat Ibu.""Surya Sastro," usul Malik."Kedengerannya kayak nama toko bangunan di pinggir jalan provinsi," jawab Nindy, dan Malik tertawa sampai harus mengencangkan pegangannya di setir.Sesudah tawa suaminya reda, Nindy melanjutkan, "Atau Prakoso, kayak nama belakang Bapak.""Prakoso Sastrowardoyo? Itu kedengerannya kayak nama jenderal yang fotonya dipajang di kantor kecamatan," ucap Malik.Mereka berdebat soal itu lebih lama dari yang perlu. Malik menyebut lima nama yang semuanya mengandung Sastro, Nindy menolak kelimanya dengan alasan yang makin lama makin mengada-ada, mulai dari terlalu panjang untuk ditulis di buku tulis anak SD sampai terlalu mirip nama pejabat kelurahan."Kita bahkan belum tahu laki-laki atau perempuan. Ngapain ribut sekarang?" ucap Nindy akhirnya."Dua minggu lagi mungkin udah keliatan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 218 Aku Jagain Kamu

    Malik mengangkat wajah, dan Nindy menunduk menciumnya. Ciuman itu pelan, hampir tanpa tekanan, dan bertahan lama sampai Malik menariknya ikut berbaring.Mereka berbaring miring berhadapan di atas seprai. Kancing baju tidur Nindy dibuka Malik satu per satu dari atas, tanpa terburu-buru, dan setiap kancing yang terlepas diikuti satu kecupan di kulit yang terbuka di bawahnya.Nindy membalasnya dengan menarik kaus Malik ke atas sampai lepas. Jantung di balik dada suaminya berdetak cepat di bawah telapak tangannya.Lampu tidur di nakas masih menyala, menerangi amplop cokelat dan sudut kartu nama di sebelahnya. Nindy meraih ke belakang tanpa menoleh, meraba sampai menemukan saklarnya, lalu mematikannya.Kamar itu tinggal diterangi garis cahaya kota dari celah tirai. Dalam gelap, Nindy merasakan tangan Malik berhenti di pinggangnya, menunggu."Kamu yakin? Kamu capek dari pagi," bisik Malik."Yakin. Aku pengin kamu di sini, deket," jawab Nindy, hampir tanpa suara."Dingin?" bisik Malik lagi.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 217 Jam Tangan

    "Ada jam tangan Bapak di dasarnya. Udah mati, aku taruh lagi gara-gara aku kira nggak penting. Kalau nunggu besok pagi, aku takut lupa lagi," jawab Nindy, membuka pintu kamar.Malik menyusul di belakangnya. Mereka menyusuri lorong pendek ke kamar tambahan, dan Malik menyalakan lampunya sementara Nindy menarik kursi plastik ke depan lemari."Turun, biar aku yang ambil," ucap Malik, memegang sandaran kursi itu sebelum Nindy sempat naik.Nindy turun lagi tanpa membantah. Malik naik, meraih kardus sepatu dari rak paling atas lemari, lalu menyerahkannya ke tangan istrinya dengan dua tangan."Yakin jamnya di sini?" tanya Malik, masih berdiri di atas kursi."Yakin. Waktu Pipit nganter, aku bongkar semuanya di lantai ini, terus jamnya aku taruh paling bawah biar nggak ketindih," jawab Nindy, sudah membuka tutup kardus."Pipit nemu ini di mana, sih, dulu?" tanya Malik, turun dari kursi."Di atas lemari kamar belakang rumah lama. Bapak sengaja naruh di tempat yang nggak bakal kejangkau tangan a

  • Dok, Please Cukup!   Bab 216 Udah Tahu

    Malik membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Angka tekanan darah itu dia sendiri yang mencatatnya di buku kontrol, dan dia ingat persis betapa leganya dia waktu itu."Yang bikin tensiku naik itu nunggu. Nebak-nebak di rumah, nggak tahu apa-apa, sementara orang lain yang jalan," lanjut Nindy, lebih pelan.Malik menunduk ke tangannya sendiri. Jempolnya mengusap punggung tangan yang lain dua kali, dan Nindy menunggu dia selesai berpikir tanpa mendesak."Kalau gitu kita bikin aturan," ucap Malik akhirnya."Aturan apa?" tanya Nindy."Kita pergi berdua, besok pagi, jangan siang biar jalannya masih sepi. Di sana kita nggak nyebut nama siapa pun, nggak nama kamu, nggak nama Bapak, nggak nama siapa-siapa," jawab Malik."Terus?" tanya Nindy, kali ini dengan sudut bibir yang sedikit naik."Terus kita pulang begitu kamu ngerasa nggak nyaman. Nggak pakai nawar, nggak pakai sebentar lagi," lanjut Malik.Nindy mengulurkan tangan kanannya ke arah suaminya, telapaknya terbuka. Malik menyambutnya dengan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 215 Semuanya Bener

    Nindy berdiri tanpa berkata apa-apa lagi, berjalan ke lemari di bawah televisi, lalu membuka laci paling kiri. Kotak beludru merah tua itu masih di sana, di bawah map akta kelahiran. Nindy membawanya kembali ke karpet, membuka tutupnya, dan mengeluarkan cincin kawin perempuan model lama yang emasnya sudah kusam.Cincin itu dia miringkan di bawah lampu sampai ukiran di lingkar dalamnya terbaca. R dan D, dengan tanda dan di tengahnya, sama persis bentuknya dengan tulisan di balik foto."R itu bisa Rania," ucap Nindy pelan, hampir ke dirinya sendiri."Terus D?" tanya Malik."D itu yang Rania janjiin bakal dia sebut sebelum kandunganku masuk lima bulan," jawab Nindy.Nindy menaruh cincin itu di sebelah foto. Tangannya berhenti di atas meja kaca, telapaknya terbuka, jarinya sedikit menekuk, dan selama beberapa saat tangan itu tidak bergerak ke mana pun."Nindy?" panggil Malik pelan."Bentar. Aku cuma lagi mikir, cincin ini selama ini nyimpen pasangannya di tempat yang aku nggak pernah tahu

  • Dok, Please Cukup!   Bab 214 Keliatan Dua

    Di pergelangan kiri laki-laki itu melingkar jam tangan berbingkai bulat. Nindy memandangi jam kecil di foto itu sedikit lebih lama, lalu matanya pindah ke sosok di sebelah kanan.Laki-laki kedua lebih tinggi hampir satu kepala. Badannya kurus, satu tangannya masuk ke saku celana, dan wajahnya miring sedikit menjauhi kamera. Nindy memandanginya lama, lalu menggeleng."Yang ini aku nggak kenal. Seumur hidup aku nggak pernah liat Bapak foto bareng temen laki-laki, apalagi berdua kayak gini," ucap Nindy.Malik tidak langsung menjawab. Dia menggeser badannya lebih dekat ke meja, menatap sosok di sebelah kanan itu dengan dahi berkerut, lalu menunjuk tangan yang masuk ke saku."Cara dia berdiri kayak gini, aku pernah liat," ucap Malik."Di mana?" tanya Nindy."Rekaman lobi. Orang yang naruh bunga di kursi tunggu itu, waktu berdiri di depan resepsionis, tangan kanannya masuk saku jaket terus," jawab Malik, sudah meraih laptop dari rak bawah meja.Salinan rekaman dari pengelola gedung masih te

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status