Home / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 22 Waktunya Pulang

Share

Bab 22 Waktunya Pulang

Author: NFLusica
last update publish date: 2026-07-22 11:57:53

Setelah mereka bertiga berbincang singkat mengenai hal-hal ringan selama sepuluh menit, ibu Malik akhirnya memutuskan untuk pamit pulang agar tidak mengganggu waktu istirahat pasien anaknya.

"Ibu pulang dulu ya, Malik. Kamu wajib antar Nindy pulang sampai ke depan rumahnya dengan selamat hari ini!" perintah ibu Malik dengan nada suara yang sangat tegas dan tidak menerima penolakan.

"Iya, Bu. Aku pasti antar Nindy pulang sekarang juga," jawab Malik sambil menyalimi punggung tangan ibunya.

Sesuai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dok, Please Cukup!   Bab 246 Nggak Bisa Nunggu

    "Ayahmu emang nggak pernah bilang apa pun ke Ibu soal anak ini. Tapi ternyata dia nyari," jawab Eleanor, suaranya tertahan.Eleanor membuka tali pengikatnya pelan-pelan, dan mereka berlima berdiri berdesakan di ambang pintu unit itu sambil memandangi isinya.Hendra membaca lembar pertama dengan suara pelan, "Laporan pencarian, tiga bulan, atas permintaan klien. Kliennya ayah kamu, tanda tangannya di sini. Hasil akhir, anak ditemukan, bekerja sebagai pengasuh di Yayasan Bina Kasih.""Itu dua belas tahun lalu," ucap Malik."Dua belas tahun Ayah tahu, dan Ibu nggak," jawab Eleanor pelan, matanya tidak lepas dari tanda tangan suaminya.Lembar kedua sebuah foto berwarna, Bima berumur dua puluh dua tahun berdiri di depan pagar panti dengan kemeja yang kebesaran, menyipitkan mata ke arah matahari."Itu saya. Hari Ayah dateng. Kemejanya pinjem punya temen, makanya kebesaran," ucap Bima, suaranya pelan.Lembar ketiga adalah kertas yang sudah menguning, dengan dua lubang staples di sudut kiriny

  • Dok, Please Cukup!   Bab 245 Panggilan

    Sejak Selasa malam itu, setiap pagi Nindy duduk diam lima menit dengan dua tangan di perut, menunggu ketukan kecil yang sama.Pagi ini dia melakukannya di kursi belakang mobil sepanjang jalan tol menuju kota lama, dan ketukan itu datang dua kali, sekali di gerbang tol dan sekali di lampu merah pertama sesudah keluar tol.Dua kali juga dia menarik tangan Eleanor yang duduk di sebelahnya dan menempelkannya ke perut, walaupun Eleanor belum bisa merasakan apa pun."Nanti kalau udah kenceng, Ibu yang pertama dikasih tahu, ya," ucap Eleanor, tangannya masih di perut menantunya."Ibu nomor dua. Nomor satu Malik, dia udah booking," jawab Nindy, dan Malik melirik dari kursi depan dengan senyum tipis.Notaris lama yang dulu menolak dengan alasan legalisasi yang dibuat-buat itu sudah diganti sejak Bram mundur dari yayasan. Penggantinya Pak Wijaya, notaris pilihan Eleanor sendiri, dan dari kantornya surat keterangan ahli waris sementara akhirnya keluar kemarin sore berdasarkan hasil tes DNA, sali

  • Dok, Please Cukup!   Bab 244 Pelajaran Kedua

    Malik ikut memandangi gambar itu, lalu tertawa. "Jangan bilang ke Ibu. Nanti Ibu beli gorden pink diem-diem sebagai hadiah.""Ibu dulu bilang, dua kali hamil, dua-duanya mulai kerasa gerak di minggu enam belas," ucap Nindy, mengusap perutnya pelan."Sekarang kamu enam belas minggu lebih dikit. Jangan terlalu ditunggu, nanti kecewa. Anak pertama biasanya telat," jawab Malik, suaranya berubah jadi suara dokter.Nindy meletakkan cetakan USG itu di nakas, bersandar ke bingkai foto. Sesudah itu dia meluncur turun dari kepala ranjang dan berbaring miring menghadap suaminya, perutnya yang sudah membulat jelas berada di antara mereka berdua."Perutku sekarang ngehalangin. Tiap mau meluk kamu dari depan, dia yang nyampe duluan," ucap Nindy, setengah mengeluh."Ngehalangin apa? Ngehalangin aku liat muka kamu?" tanya Malik, pura-pura polos."Ngehalangin kamu. Aku mau nyoba cara lain," jawab Nindy, lalu membalikkan badannya sampai punggungnya menempel ke dada suaminya.Malik diam beberapa detik.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 243 Nama Ibu

    Malik memandangi dua orang itu dari belakang. Nindy merasakan suaminya menarik napas panjang, lalu melepaskannya pelan-pelan sampai bahunya turun beberapa senti."Kamu lega?" tanya Nindy."Lega. Tapi kakiku masih gemeter," jawab Malik, dan Nindy menggandeng lengannya sampai mereka melewati pintu keluar.Mereka keluar dari gedung pengadilan menjelang jam sebelas. Matahari sudah tinggi, dan anak-anak tangga di depan gedung itu panas sampai menembus sol sandal Nindy.Sopir Eleanor sudah menunggu di bawah dengan pintu mobil terbuka, dan Bima pamit lebih dulu untuk kembali ke rumah sakit dengan motornya. Di anak tangga ketiga, ponsel Nindy bergetar di dalam tas. Dia mengeluarkannya, dan nama yang muncul di layar membuat langkahnya berhenti.Pengirimnya Rania, padahal perempuan itu sudah hampir dua minggu tidak menghubunginya sejak telepon soal uang muka. Isinya pendek, bahwa dia sudah dengar urusan Malik selesai hari ini, kandungan Nindy sebentar lagi masuk bulan kelima, dan dia akan menep

  • Dok, Please Cukup!   Bab 242 Sidang

    Hakim tunggal masuk tepat jam sembilan. Semua orang berdiri, lalu duduk lagi, dan panitera membacakan nomor perkara dengan suara datar.Kuasa hukum Bram berdiri lebih dulu. Dia menyampaikan bahwa pemohon mencabut permohonannya karena alasan kesehatan dan alasan pribadi, lalu menyerahkan surat pencabutan itu ke meja panitera."Termohon atau kuasanya ada yang mau menyampaikan sesuatu sebelum pencabutan ini saya tetapkan?" tanya hakim, memandangi bangku depan.Hendra berdiri. "Ada, Yang Mulia. Termohon sendiri mohon diberi waktu bicara."Hakim mengangguk dan mempersilakan. Eleanor berdiri dari bangku, merapikan blusnya, lalu berjalan ke depan dan berdiri tegak di hadapan meja hakim."Yang Mulia, saya Eleanor Sastrowardoyo. Fakta-fakta di lampiran permohonan itu benar semua. Saya merawat satu kamar kosong selama tiga puluh empat tahun, saya menelepon orang jam dua pagi, saya pernah dirawat karena gangguan tidur," ucap Eleanor.Ruang sidang itu sunyi. Nindy menggenggam tangan suaminya di a

  • Dok, Please Cukup!   Bab 241 Mau Ikutt

    Sekar menutup mulutnya dengan dua tangan dan merosot duduk di kursi lorong. Buku catatan kantor yang sejak tadi dia peluk jatuh ke lantai, dan halaman-halamannya terbuka di bagian yang tadi pagi masih dia isi dengan notulen rapat. Eleanor duduk di sebelahnya dan merangkul bahunya, sedangkan Malik berdiri diam sampai dokter itu masuk lagi ke ruangannya.Istri Bram datang tidak lama kemudian, seorang perempuan kurus berkerudung abu-abu yang langsung memeluk Sekar. Dia menyalami Eleanor dengan canggung, menunduk lama di depan Malik, lalu duduk di samping anaknya tanpa banyak bicara.Menjelang jam tiga, seorang perawat keluar dan mengabarkan bahwa Bram sudah sadar. Pasien minta bertemu Eleanor lebih dulu, sendirian.Eleanor berdiri dari kursi lorong. Dia merapikan blusnya, menarik napas panjang, lalu masuk ke ruang perawatan itu tanpa menoleh ke siapa pun.Lima menit kemudian pintu itu terbuka lagi. Eleanor berdiri di ambangnya, wajahnya pucat, dan dia memandang langsung ke anaknya."Mali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status