登入Malik yang berdiri di samping Nindy langsung menangkap tubuh wanita itu sebelum sempat limbung. "Nindy? Kamu kenapa?""Perutku... sakit dikit, Malik," rintih Nindy pelan, tangannya mencengkeram lengan Malik untuk menopang badan.Suasana tamu yang tadinya riuh mendadak sunyi, beberapa kepala menoleh cemas ke arah pengantin baru itu. Malik dengan sigap memapah Nindy ke kursi terdekat, memberi isyarat pada Eleanor untuk membubarkan kerumunan tamu yang mulai mendekat."Kasih jarak dulu, biar dia bisa napas," ucap Malik tegas, lalu berlutut di depan Nindy, memeriksa denyut nadinya.Dokter Ratna yang kebetulan diundang ke acara tersebut segera bergegas mendekat, membawa tas kecil berisi alat pemeriksaan darurat. "Coba saya periksa dulu, Malik. Minggir sebentar."
Nindy menyandarkan kepalanya ke bahu Malik, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdebar kencang. "Aku cuma bingung, Malik. Selama ini aku pikir aku sebatang kara, cuma punya kenangan sama almarhum Bapak. Tapi kalau ternyata ada keluarga lain yang selama ini nggak pernah muncul...""Kita cari tahu pelan-pelan," potong Malik, mengusap punggung Nindy dengan gerakan menenangkan. "Yang penting sekarang kamu istirahat dulu. Besok kita bisa mikir lebih jernih."Hendra menutup map di tangannya, lalu melangkah mendekat. "Saya pulang dulu, Malik. Besok pagi saya kabari lagi kalau ada perkembangan dari penyidik soal rekening itu."Malik mengangguk, menjabat tangan Hendra sekilas. "Makasih banyak, Hendra. Buat semuanya, malam ini juga."Setelah Hendra berlalu, Malik mem
Nindy langsung mendekat, duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan Fajar yang tidak terluka dengan hati-hati. "Mas Fajar, aku khawatir banget! Kenapa kamu bisa sampai diculik kayak gini?""Aku nggak nyangka mereka seberani itu," jawab Fajar pelan, suaranya masih terdengar lemah. "Untung ada polisi yang datang tepat waktu. Kalau nggak, entah apa yang bakal terjadi sama aku."Malik berdiri di belakang Nindy, ikut mendekat ke ranjang. "Kamu berani banget, Fajar. Padahal kamu udah tahu jadi saksi kunci itu berisiko, tapi kamu tetap maju."Fajar melirik Malik, lalu menghela napas pelan. "Aku cuma mau bantu ngungkap kebenaran, Dokter. Lagian, aku juga pengin buktiin kalau aku bukan cuma laki-laki lemah yang selalu jadi beban buat orang lain."Nindy meremas tangan Faja
Sepuluh menit berlalu tanpa kabar. Nindy mulai memegangi perutnya sendiri, merasakan sedikit kram ringan yang muncul akibat stres berlebihan."Nindy, kamu kenapa?" tanya Malik cemas, langsung memperhatikan gestur tubuh wanita itu."Cuma agak kram dikit, Malik," jawab Nindy sambil mengelus perutnya. "Mungkin gara-gara aku terlalu stres mikirin Fajar."Malik langsung bangkit, mengambil segelas air hangat dari dapur, lalu memaksa Nindy meminumnya perlahan. "Kamu harus tenang, Sayang. Demi kandunganmu juga."Nindy mengangguk pelan, mencoba menata napasnya meski pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran akan nasib Fajar. Dua puluh menit berikutnya berlalu dengan suasana yang sama mencekamnya, sampai akhirnya ponsel Malik kembali berdering.
Hendra menarik napas panjang di ujung telepon sebelum akhirnya menjawab dengan suara berat. "Fajar udah nggak ada di apartemennya. Menurut saksi tetangga, dia diseret paksa sama dua orang nggak dikenal sekitar satu jam yang lalu."Malik berdiri kaku di lorong apartemen, jantungnya berdegup keras hingga terasa sampai ke telinga. "Diseret paksa? Fajar diculik, Hendra?""Kemungkinan besar begitu," jawab Hendra, suaranya masih terdengar tegang. "Saksi bilang ada mobil hitam berhenti di depan apartemen Fajar, dua orang turun, terus maksa Fajar masuk ke dalam mobil. Fajar sempat teriak minta tolong, tapi nggak ada yang berani nolongin."Malik mengepalkan tangan kirinya, menahan amarah yang mendadak membakar dadanya. "Ini pasti ulah orang-orangnya Bahar. Mereka mau bungkam Fajar sebelum sidang lanjutan minggu depan.""Kemungkinan besar begitu," ulang Hendra. "Saya udah lapor ke Inspektur Rudi, dia lagi ngerahin tim buat lacak nomor polisi mobil dari rekaman CCTV sekitar apartemen."Suara lan
Dari arah ruang tengah, suara Malik memanggil membuat keduanya sontak menghentikan percakapan. "Nindy? Kamu ngapain di situ lama banget?"Nindy buru-buru mengusap wajahnya, mencoba tampak biasa saja. "Nggak apa-apa, Malik. Cuma nganterin Bu Marni sampai depan pintu."Marni memberikan senyum tipis, lalu melangkah keluar sambil berbisik sekali lagi. "Tolong jangan bilang ke Dokter Malik dulu soal ini, Nindy. Biar Ibu yang urus lewat jalur yang aman. Kamu fokus jaga kandungan kamu aja."Pintu apartemen tertutup pelan setelah Marni benar-benar pergi. Nindy berdiri mematung sejenak di depan pintu, pikirannya berkecamuk memikirkan kabar yang baru saja ia terima."Nindy?" Malik muncul dari belakang, memegang bahu wanita itu pelan. "Kamu kelihatan pucat. Ada apa sebenarnya sama Bu Marni tadi?"Nindy menoleh, berusaha menyusun kata-kata yang tidak akan membuat Malik curiga. "Nggak ada apa-apa, Malik. Bu Marni cuma pesen-pesen soal acara minggu depan aja."Malik menatap mata Nindy lama, seolah







