Beranda / Romansa / Dok, Please Cukup! / Bab 58 Fajar Minta Cerai?

Share

Bab 58 Fajar Minta Cerai?

Penulis: NFLusica
last update Tanggal publikasi: 2026-08-05 23:00:14
Nindy melangkah melewati Marni yang masih berdiri kaku di tengah ruang tamu, lalu masuk ke dalam kamar tidur untuk merapikan barang-barang pribadinya sendiri.

Nindy memasukkan beberapa baju dan barang pentingnya ke dalam koper sedang di atas tempat tidur. Ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar nyaring. Nindy melihat layar ponselnya yang menayangkan nama Malik, kemudian menggeser tombol hijau ke atas.

"Halo, Malik..." sapa Nindy dengan suara lirih yang masih tersisa serak.

"Fajar baru aja pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Teteh Dwi
penulis nya sering lupa ya, klu malik sdh pernah ketemu sebelum nya dgn ibu fajar waktu penanda tangan an srt izin terapi Nindy?? trs penulis juga lupa klu fajar itu kerja di kantoran bukan buka usaha sendiri, dan penulis juga lupa klu Nindy tinggal di apartemen malik bukan di toko, jadi penulis
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dok, Please Cukup!   Bab 170 Nggak Ada yang Curiga

    "Siapa yang minta dibuat?" tanya Hendra, matanya tidak berpindah dari wajah Bahar."Suami Eleanor sendiri," jawab Bahar. "Mendiang."Nindy menegang mendengar itu, tangannya tetap diam di pangkuan, tapi napasnya sedikit tertahan, karena nama itu keluar begitu ringan dari mulut laki-laki di depannya, seolah dia sedang menyebut nama tetangga biasa."Dia minta apa?" lanjut Hendra."Cari anaknya," jawab Bahar, "cuma itu. Nggak ada permintaan lain. Dia dateng sendirian, nggak ngasih tahu istrinya."Hendra menulis cepat, jarinya menggores kertas dalam garis-garis singkat, dan Bahar melanjutkan tanpa perlu didesak lagi, seolah pintu yang sudah terbuka sejak jawaban pertamanya tidak lagi bisa dia tutup sendiri."Pencariannya jalan tiga bulan," ucap Bahar, "terus dihentiin mendadak. Sama orang yang minta di awal.""Kenapa dihentiin?" tanya Hendra."Waktu itu aku sempet ngira soal biaya," jawab Bahar, "pencarian kayak gitu emang mahal, aku pikir dia keberatan bayar."Bahar berhenti sejenak, mena

  • Dok, Please Cukup!   Bab 169 Gara-gara Berkas

    Bahar duduk kembali, tangannya diletakkan lagi di meja, dan Nindy mengambil kursi di seberangnya, Hendra duduk di sampingnya, membuka map kecil dan meletakkan pulpen di atasnya.Laki-laki di depan mereka terlihat jauh lebih tua dari foto yang pernah Nindy lihat di berkas lama, rambutnya sudah memutih di bagian pelipis, garis wajahnya lebih dalam, dan matanya menatap Nindy lama sebelum akhirnya bicara."Maaf, Nindy," ucap Bahar, suaranya rapi, terlalu rapi, seperti kalimat yang sudah dilatih berkali-kali di depan cermin sel. "Aku tahu kata maaf nggak cukup buat apa yang udah aku lakuin ke kamu sama keluarga kamu."Nindy tidak membalas, tidak juga mengangguk, hanya duduk diam dengan kedua tangan di pangkuan, menunggu kalimat berikutnya keluar sendiri dari mulut laki-laki itu.

  • Dok, Please Cukup!   Bab 168 Udah Ditungguin

    Malik menatap Hendra lama, rahangnya mengeras, dan dia menoleh ke arah Nindy, mencoba mencari cara lain, tapi tidak ada satu pun celah yang bisa dia temukan untuk mempertahankan syarat yang sudah dia bangun sejak kemarin."Kalau gitu," ucap Malik akhirnya, suaranya berat, "aku titip satu kalimat aja ke kamu, Hendra.""Kalimat apa?" tanya Hendra."Kalau tangan Nindy sampai megang perutnya lebih dari sekali," ucap Malik, menatap Hendra lurus-lurus, "pertemuan itu dihentiin saat itu juga. Nggak perlu nunggu izin siapa-siapa, nggak perlu nunggu empat puluh lima menit habis."Hendra mengangguk, mencatat kalimat itu di kepalanya sendiri, memastikan dia mengerti betul beratnya instruksi tersebut. "Aku pegang itu, Malik."Perpisahan

  • Dok, Please Cukup!   Bab 167 Semuanya Ditinggal

    Jalan tol pagi itu lengang, hanya beberapa mobil melintas di jalur kanan, dan Malik menyetir dengan kecepatan stabil, matanya sesekali melirik spion sebelum kembali fokus ke depan. Nindy duduk di kursi penumpang, map berisi izin tertulis Dokter Ratna terjepit di pangkuannya, jarinya sesekali meraba tepi kertas itu tanpa benar-benar membukanya."Jangan lepas map itu dari tangan kamu sampai kamu masuk ruangan," ucap Malik, mengulang kalimat yang sudah dia ucapkan sejak mereka keluar dari tol pertama."Iya, Malik," jawab Nindy, mendekap map itu lebih erat, hitungan di kepalanya sudah menyentuh angka lima."Jangan lupa, Hendra yang duduk di sebelah kamu, bukan di seberang," lanjut Malik, "biar dia bisa liat jelas kalau kamu nunjukin tanda apa pun.""Iya," jawab Nindy lagi, a

  • Dok, Please Cukup!   Bab 166 Nggak Pernah

    Nindy melengkungkan punggungnya sedikit membantu kausnya terlepas, mengeluarkan desahan pelan begitu bibir Malik menemukan area dada yang sensitif, hisapannya lembut, tidak tergesa.Tangan Nindy bergerak turun membuka kancing celana suaminya, gerakannya kali ini tenang, tidak gemetar seperti malam pertama mereka kembali setelah larangan Dokter Ratna dicabut.Malik membantu melepas sisa pakaian mereka berdua, memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Nindy, dan kali ini gerakannya sudah tidak lagi tertahan seperti minggu-minggu sebelumnya, meski tetap dijaga dengan kelembutan yang sama."Pelan-pelan aja malem ini," ucap Nindy, tangannya meraih pinggang Malik, menariknya lebih dekat."Selalu," jawab Malik, masuk perlahan, menahan napasnya sejenak begitu tubuh mereka bertemu.Ritme yang terbentuk sesudahnya lambat, dalam, dan penuh jeda, setiap dorongan diiringi ciuman kecil di dahi atau di sudut bibir, seolah keduanya sedang berusaha menyimpan setiap detik itu selengkap mungkin. Kalung

  • Dok, Please Cukup!   Bab 165 Kenyamanan

    Cahaya dari layar ponsel menerangi permukaan meja rias dari sudut kamar ganti, cukup terang untuk terlihat dari ambang pintu tempat Malik berdiri sebentar sebelum melangkah masuk. Dia meraih benda itu, mendapati notifikasi yang sudah muncul sejak jam tujuh malam, nama Pipit tertera jelas di sana, tapi Malik tidak menyentuh apa pun selain layarnya sendiri untuk memastikan itu benar ponsel istrinya.Dia membawanya ke kamar tidur, meletakkannya di nakas dengan gerakan pelan, tidak membuka pesan itu, tidak juga mengintip isinya sedikit pun."Ponselmu ketinggalan di meja rias," ucap Malik, duduk di tepi ranjang, menatap Nindy yang sedang melipat selimut cadangan di sudut ranjang. "Nyala terus dari tadi.""Aku tahu," jawab Nindy, tidak menoleh dari lipatan selimutnya. "Aku sengaja nggak buka."Malik menatap istrinya, menunggu penjelasan lebih lanjut, karena dia tahu betul pesan itu pasti dari Pipit, dan mengingat kepanikan Nindy pagi tadi soal lemari kayu di rumah lama, tidak masuk akal kal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status