Mag-log inHati Lavanya tidak nyaman setelah mendengar cerita para wanita itu. Namun, dia tidak melupakan tujuan kedatangannya. Dia mengucapkan terima kasih dan mengingat nama Tirta.Dari cerita para wanita itu, Lavanya menyimpulkan Tirta adalah orang yang baik hati dan suka membasmi kejahatan.Para wanita itu langsung menyetujuinya. Mereka merasa sangat bangga bisa membantu wanita yang tidak punya tempat tinggal.Salah satu wanita berujar, "Kami juga nggak melakukan pekerjaan berat di sini. Kamu ikut kami rawat kebun buah saja. Kamu juga bisa menanam bunga."Sekarang, sebagian besar rencana Lavanya sudah berhasil. Selanjutnya, yang penting Lavanya tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan.Jika Lavanya menghabiskan waktu bersama para wanita polos seperti ini untuk beberapa saat, seharusnya dia bisa segera mendapatkan jawaban yang diinginkannya dari mereka.Setelah menghabiskan waktu bersama sepanjang sore, Lavanya tentu tinggal bersama para wanita itu pada malam hari. Mereka tinggal di rum
Lavanya berpura-pura terengah-engah dan menutupi bagian kulitnya yang terlihat. Dia bertanya dengan ekspresi ketakutan, "Maaf, saya ingin bertanya .... Ini tempat apa? Apa kalian bisa memberiku air minum?"Para wanita yang sibuk di kebun buah berasal dari Pulau Wanita Suci. Begitu mendengar suara Lavanya, mereka segera menghampirinya dan menanyakan kondisinya, "Ini Desa Persik. Kenapa pakaianmu robek? Apa kamu ditindas?"Selain itu, mereka juga memberi Lavanya air minum. Salah satu dari mereka berucap, "Kalau kamu nggak keberatan, minum sedikit.""Terima kasih ...," balas Lavanya. Tentu saja dia harus berakting lebih alami. Sebenarnya, dia tidak ingin minum, tetapi dia tetap meminum air yang diberikan para wanita itu.Saat hendak mengarang cerita, Lavanya terkejut. Dia membatin, 'Eh ... ternyata air ini mengandung sedikit energi spiritual. Walaupun nggak pekat, tetap saja bisa memperbaiki fisik kalau dikonsumsi dalam jangka panjang.'Melihat Lavanya hanya memegang cangkir dan tidak bic
Dalam waktu setengah hari, semua rumah di Desa Persik sudah selesai dibangun. Hanya tersisa ratusan vila di bagian luar.Tirta berpikir, 'Setelah makan, seharusnya pembangunan rumah sudah selesai nanti sore. Perkembangannya lebih cepat dari perkiraanku.'Saat makan siang, aroma makanan lezat merebak di Desa Persik. Arum dan lainnya sudah menyiapkan banyak makanan lezat.Susanti, Agatha, Irene, Naura, dan Aiko yang rumahnya paling dekat sudah sampai di Desa Persik. Namun, Bella yang rumahnya agak jauh masih dalam perjalanan ke sini. Begitu melihat Tirta, Susanti dan lainnya bercanda dengannya."Wah, calon pengantin pria sudah datang! Semuanya, cepat lihat!""Calon pengantin pria ini sangat tampan!""Bukan cuma tampan, dia juga kuat dan kaya. Entah wanita mana yang begitu beruntung bisa menikah dengan Tirta!"Tirta tetap bersikap santai. Sebaliknya, Ayu dan Elisa yang tidak bisa mengangkat kepala mereka saking malunya.Tirta yang tidak tahu malu tertawa dan menanggapi, "Bukan cuma Bi Ayu
Tentu saja Tirta tidak tahu situasi ini. Saat ini, dia sedang membangun rumah bersama Luvia dan anggota Sekte Kristala.Swoosh! Mereka mengeluarkan kekuatan spiritual untuk menyelubungi berbagai bahan bangunan. Ditambah dengan bantuan formasi, satu rumah selesai dibangun dalam waktu singkat.Bahkan tidak ada masalah keamanan sedikit pun. Kecepatan ini sangat berlebihan.Farida mengarahkan di samping. Setelah melihat situasi ini, dia berkomentar, "Kalau semua orang di Negara Darsia mempelajari teknik ini, ke depannya mengirim paket atau makanan dan pembangunan infrastruktur jauh lebih efektif. Bahkan orang-orang juga nggak perlu begitu lelah. Kita bisa istirahat sebentar sebelum lanjut bekerja."Tirta menanggapi seraya tersenyum, "Um ... aku memang pernah mempertimbangkan masalah ini. Tapi, bakat menentukan pencapaian seseorang dalam berkultivasi. Selain itu, banyak orang Negara Darsia nggak punya akar spiritual. Kalau anggota keluarga besar menguasai teknik kultivasi ini, ke depannya m
Lavanya lanjut bergumam, "Entah seberapa jauh jarak tempat ini dengan tempat Sirius dibunuh ...."Lavanya langsung teringat kematian Sirius saat melihat jalur ini. Ekspresinya menjadi masam. Dia sangat sedih dan juga marah. Lavanya memancarkan niat membunuh yang intens.Kerangka inti formasi yang menyelubungi tubuh Lavanya terlihat seperti aturan dunia dan rahasia alam semesta. Setiap kerangka inti formasi itu dimurnikan selama ribuan tahun dan memancarkan kekuatan yang luar biasa.Lavanya merencanakan di dalam hati, 'Tapi, tempat ini kampung halaman kultivator tingkat pengguncang langit itu. Jadi, aku nggak bisa mengerahkan kemampuan tingkat pemurnian dewa sepenuhnya. Aku cuma bisa berusaha mencari cara untuk menemukan pelakunya, lalu memancingnya ke dunia awani. Aku baru bisa mengerahkan seluruh kemampuanku.'Setelah membuat keputusan, Lavanya mengingat kembali momen Sirius dibunuh. Dia bergumam, "Lokasinya di daerah pegunungan yang luas ... bahkan nggak ada desa atau bangunan di sek
Devika memutar bola matanya dan menanggapi, "Untuk apa dia merasa nggak senang? Lagi pula, dia sudah terima menantu genit sepertimu. Kalau kamu sudah setuju, aku juga kabari ayahku.""Nggak masalah," timpal Tirta. Dia berpesan lagi, "Kak Nabila, ini masalah penting. Kamu harus beri tahu Kak Irene, Agatha, Susanti, Naura, Aiko, dan Bella. Suruh mereka datang. Lebih cepat, lebih baik."Sewaktu Bella dan lainnya kembali ke Desa Persik terakhir kali, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing untuk mengunjungi orang tua mereka atau membereskan masalah penting.Sampai sekarang, mereka belum kembali. Tirta akan menikah. Tentu saja dia harus mengabari mereka.Nabila menggoyang ponselnya dan membalas, "Cih, kamu nggak usah atur-atur aku! Aku sudah memikirkan hal ini dari tadi. Sebaiknya kamu bawa orang lanjut bangun rumah sekarang. Lebih baik kalau rumahnya selesai lebih cepat. Jadi, kamu bisa segera menikahi Bi Ayu dan Bi Elisa."Tirta tertawa, lalu menyetujui, "Oke!"Kemudian, Tirta memba
Bella berjalan sambil lanjut bertanya kepada Tirta, "Memangnya Bu Devika sakit apa? Kapan dia sakit? Kenapa aku nggak mendengarnya?"Tirta berpikir Bella tidak mungkin mencari Devika untuk memastikan kebenarannya, jadi dia asal mencari alasan dengan menjawab, "Malam ini dia baru sakit. Dia digigit a
Eira bergumam dengan wajah memerah, "Aku yang besarkan Amaris. Dia anak yang jujur dan nggak mungkin tahu barang berharga sekte. Mana mungkin ... dia bersekongkol dengan Tirta? Pasti ada salah paham, aku harus selidiki dengan jelas!"Kemudian, Eira berjalan ke arah Tirta dan lainnya pergi. Dia menge
Alat transportasi di dunia luar seperti mobil juga ada di sini. Namun, orang biasa tidak bisa mengendarainya.Tirta langsung tahu alasannya. Pasti karena tidak ada bensin di dunia misterius. Biarpun bisa dibeli di dunia luar, kuantitasnya juga tidak banyak.Selain itu, jalan di dunia misterius kuran
Namun, mereka melihat jimat itu berubah menjadi cahaya emas dan menangkis serangan Jairus. Setelah beberapa saat, cahaya emas baru menghilang. Mereka tidak meragukan kegunaan jimat itu lagi.Salah satu penonton buru-buru naik ke platform dan berkata kepada Tirta dengan antusias, "Pak Tirta, apa jima







