LOGIN"Bocah, cukup omong kosongnya. Aku hanya mau tahu satu hal, kamu berani terima tantangan ini atau nggak? Kalau kamu nggak berani, langsung saja berlutut dan korek kedua matamu," kata Sodam sambil menyipitkan matanya dan terus menekan Tirta."Baik, aku terima. Tapi, kalau nanti kamu kalah dan nggak mengakui kekalahanmu, bagaimana?" tanya Tirta dengan nada mengejek sambil tersenyum tipis."Huh. Aku selalu tepati perkataanku. Kalau kamu nggak percaya, seluruh orang yang hadir di sini boleh menyerangku bersama-sama," cibir Sodam langsung saat mendengar Tirta benar-benar berani menerima tantangannya."Benar.""Asalkan kamu bisa kalahkan Kak Sodam, kami pasti nggak akan berbelas kasihan.""Tapi, takutnya kamu nggak punya kemampuan itu.""Kalau nggak mampu, lebih baik langsung bersujud dan mengaku kalah saja. Kami bisa bantu kamu memohon ampun pada Kak Sodam.""Mungkin saja Kak Sodam akan murah hati dan hanya korek satu matamu."Sebenarnya bukan hanya Sodam yang yakin dirinya tidak akan kalah
Priya menunjuk satu per satu dari ketiga wanita itu dan mengungkapkan identitas mereka dengan tepat. "Aku tentu saja tahu. Wanita ini bisa membentuk pedang dari kehampaan tanpa pakai artefak, itu membuktikan dia pasti dari Dinasti Pembunuh.""Wanita ini punya pencapaian formasi yang sangat mendalam dan bisa langsung buat formasi dengan kekuatan yang luar biasa, itu membuktikan dia pasti punya sangat erat dengan Sekte Formasi Surgawi. Sedangkan wanita ini. Kalau tebakanku benar, teknik yang tadi dipakainya adalah teknik rahasia yang nggak diwariskan pada orang luar Istana Samara, 'kan?""Aku sudah lama dengar Paviliun Ufuk jauh lebih misterius dibandingkan kedua tanah suci lainnya dan jarang sekali muncul di dunia luar. Aku nggak menyangka Nona ini ternyata tahu begitu banyak hal tentang dunia luar. Benar-benar mengagumkan," kata Irena sambil memberi hormat."Jumlah sekte besar di dunia awani hanya sebanyak itu. Kalau itu saja pun aku nggak bisa ingat, maka aku nggak pantas disebut seba
Para murid wanita yang berpenampilan biasa-biasa saja justru dipenuhi rasa iri. Tanpa ragu sedikit pun, mereka langsung memilih menyerang ketiga wanita itu secara bersamaan."Aku sebenarnya nggak mau bermusuhan dengan kalian, tapi kalian benar-benar sudah keterlaluan," kata Tirta yang akhirnya tidak mampu menahan diri lagi. Tak disangka, tepat saat dia hendak mengeluarkan Pedang Penumpas Dewa, sebuah suara menghentikan semuanya."Tunggu sebentar!"Terlihat Priya melangkah perlahan-lahan mendekat dengan gerakan yang anggun bagaikan sedang berjalan di atas bunga teratai. Karena statusnya yang sebagai ketua sekte, para murid di tempat itu tidak berani mengabaikan perkataannya padahal mereka sangat ingin menyenangkan Sodam."Priya, kenapa kamu hentikan kami?" tanya Sodam sambil mengernyitkan alisnya."Kak Sodam, boleh aku tanya apa kesalahan orang-orang ini padamu sampai kamu merasa kalian perlu menyerang bersama untuk merenggut nyawa mereka?" tanya Priya dengan nada tenang, tetapi mengand
Tingkat kultivasi Irena ditekan hingga berada di bawah tingkat pembentukan dewa setelah tiba di bumi, sehingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kekuatannya. Setelah kini kembali ke dunia awani, ikatan perasaan antara dia dan Tirta sudah menjadi sangat dalam. Melihat ada orang yang berani menyerang Tirta, dia tentu saja memilih untuk bertindak tanpa menahan diri sedikit pun.Setelah itu, puluhan ribu pedang terbang milik Irena melesat secara bersamaan dan menusuk murid Paviliun Ufuk tingkat penebas dewa tahap awal itu."Formasi Mematikan Tingkat Tinggi!" teriak Lavanya dengan pelan. Dalam sekejap, tulang formasi yang tak terhitung jumlahnya melesat keluar dari lengan bajunya. Awalnya, ukurannya hanya sebesar nyamuk, tetapi ukurannya langsung menjadi besar berkali-kali lipat dan menutupi seluruh wilayah hingga seribu mil.Saat itu, langit cerah di siang hari juga langsung berubah menjadi malam yang gelap gulita. Begitu gelap hingga seseorang tidak dapat melihat jemarinya s
"Hehe. Benar-benar sombong sekali, pantas saja kamu ini murid dari salah satu tiga tanah suci besar. Kalau aku bilang aku nggak mau minta maaf, memangnya kamu bisa buat apa?" kata Tirta yang sama sekali tidak panik, bahkan tersenyum tipis penuh ejekan.Melihat pemandangan itu, para murid yang berada di belakang Sodam segera memaki dengan marah. "Aku beri tahu terus terang. Untuk hadapi seorang kultivator kecil tingkat inti emas sepertimu, Kak Sodam bahkan nggak perlu turun tangan. Ludah kami masing-masing saja sudah cukup untuk buat kamu kehilangan jiwa dan lenyap. Kalau kamu nggak minta maaf, inilah nasibmu."Krak!Sebuah pohon hitam pekat yang besarnya hampir sebesar dua orang dewasa langsung hancur menjadi kabut dan bahkan tidak ada serpihan yang tersisa.Di mata para murid itu, Tirta hanya seorang kultivator tingkat inti emas yang sangat lemah dan tingkah lakunya juga terasa sangat menggelikan. Berani-beraninya Tirta menentang Sodam. Bagi mereka, ini adalah kesempatan yang sempurna
Dari reaksi Priya, terlihat jelas perasaan itu hanya cinta sepihak dari Sodam."Priya, aku sudah mencapai tingkat semi pencapaian agung. Jangankan di Paviliun Ufuk, bahkan di seluruh dunia awani pun nggak ada orang kedua yang lebih berbakat dariku. Kalau bersamaku, kamu pasti nggak akan menyesal," kata Sodam yang tentu saja menyadari hal itu. Meskipun begitu, dia tetap bertekad untuk mendapatkan Priya.Hanya saja, Sodam sudah bersusah payah membawa kembali monster itu dengan satu tangan. Dia awalnya mengira akan mendapatkan pujian dari Priya, tak disangka wanita itu bahkan tidak membuka mata untuk menatapnya. Hal itu membuatnya merasa sedikit tidak nyaman."Kak Priya, kelak Kak Sodam pasti akan jadi ketua sekte.""Kalian berdua benar-benar pasangan yang serasi yang ditakdirkan oleh langit.""Lagi pula, Kak Sodam begitu mencintaimu. Kelak, Kak Priya pasti akan jadi wanita paling bahagia di seluruh dunia awani."Sekelompok murid wanita maju dan terus mengucapkan berbagai pujian pada Priy
Namun, demi bisa merasakan tubuh Yasmin, si sopir tetap memaksakan senyum palsu sambil berbohong. Saat berbicara, dia bahkan langsung turun dari mobil dan membuka pintu belakang, lalu berusaha memaksa Yasmin keluar serta menyeretnya masuk ke rumah kecil reyot itu!"Nggak! Aku nggak mau! Paman pasti
Wajah Bella seketika memucat. Sorot matanya penuh dengan rasa kecewa saat memandang Tirta. Dia benar-benar sulit percaya, lebih tepatnya tidak ingin memercayai hal ini.Segera setelah itu, Bella bertanya pada Tirta dengan suara gemetar, "Tirta, jangan-jangan yang barusan kubilang benar ya? Jangan-ja
Awalnya, Ayu mengira setidaknya Tirta akan sedikit bersemangat setelah melihat banyak wanita yang familier. Memang tidak mungkin Tirta bisa langsung bangkit. Namun, sekarang Tirta tetap terlihat tidak fokus.Tirta berucap dengan lesu, "Bi, aku lelah sekali. Kamu bawa aku istirahat di kamar saja."Ba
Melihat sikap Idris dan Rasmi, Tirta yang merasa tidak berdaya berkata, "Bukan masalah penting. Pak Idris, Bu Rasmi, kalian nggak usah begitu tegang. Hari ini aku berencana kembali ke Provinsi Dohe, jadi aku mau berpamitan dengan kalian."Tirta melanjutkan, "Semalam Bu Selina sudah kembali. Aku piki







