Mag-log inTirta menanggapi, "Um, kemungkinan begitu. Tapi, takutnya mereka nggak tahu aku disokong dua tokoh hebat tingkat pembentukan dewa. Baguslah, terserah mereka mau melakukan apa. Setelah semua anggota mereka lengkap, aku akan cari mereka sendiri kalau mereka nggak menemukanku."Tirta bukan hanya tidak panik. Sebaliknya, dia merasa sedikit antusias. Bagaimanapun, sebenarnya kurang efektif jika Tirta membunuh mereka di tempat-tempat terpisah seperti ini.Tirta melanjutkan, "Ayo, kita turun gunung. Kita cari puncak gunung yang lain lagi. Bi Elisa, kemari dulu. Kita jalan sama-sama."Elisa yang kebingungan mengikuti Tirta dan bertanya, "Tirta, ada apa?"Tirta menjelaskan, "Kulihat sepertinya kultivasimu hampir menerobos tingkat pembentukan fondasi. Aku bantu kamu."Elisa membalas, "Bantu aku? Bagaimana caranya .... Jangan, Tirta. Kita buru-buru ...."....Sementara itu, di dunia fana. Ayu dan lainnya duduk di sofa vila Desa Persik.Ayu yang merasa tidak tenang berucap, "Sudah berhari-hari mer
Namun, sekarang Elisa dan lainnya marah. Jadi, mereka tidak peduli lagi. Mereka ingin bertarung mati-matian dengan murid dari Sekte Suci Utara.Hanya saja, tiba-tiba energi Tirta bergejolak sehingga membuyarkan lapisan awan di puncak gunung. Kemudian, Tirta membuka matanya dan berdiri. Dia berucap, "Bi Elisa, kalian nggak usah bertindak. Biar aku saja."Suara Tirta sangat dingin. Dia juga memancarkan niat membunuh.Elisa berujar dengan senang, "Tirta, kamu sudah menerobos tingkat kultivasimu? Sebenarnya nggak masalah kalau kami yang bertindak. Lagi pula, ada kamu yang menjaga kami. Sudah saatnya kami mengasah kemampuan. Kalau nggak, kapan kemampuan kami berkembang?"Luvia juga merasa lega. Dia menimpali, "Benar. Sebenarnya kemampuan orang-orang ini nggak terlalu hebat. Kebetulan kami bisa mengasah kemampuan dengan melawan mereka."Murid Sekte Suci Utara tertawa sinis dan membual setelah melihat Tirta bangun."Hei, kamu masih muda. Tapi, sikapmu sangat sombong.""Kultivasimu memang lebi
Sekarang ada dua kultivator tingkat pembentukan jiwa tahap kelima di depan Elisa dan lainnya. Biarpun ingin melawan, mereka juga tidak memiliki kemampuan sehebat itu.Siapa sangka, Neiva yang berada di dalam Cincin Penyimpanan diam-diam mengamati semua ini. Asalkan pria tua berjubah putih berani melontarkan kata "bunuh", Neiva akan langsung menghabisi orang-orang ini. Genta sama sekali tidak perlu repot-repot turun tangan.Tentu saja pria tua berjubah putih tidak menyadari dia bisa mati dalam sekejap. Dia berpikir sejenak sebelum berkata, "Um ... menurutku, lebih baik jangan bunuh mereka. Biarkan mereka menggantikan anggota Sekte Hima untuk dikorbankan. Jadi, mereka nggak mati sia-sia."Pria tua berjubah putih meneruskan, "Bagaimanapun, nggak mungkin cuma mengandalkan kita untuk membunuh seorang kultivator tingkat pembentukan dewa. Aku rasa sekte super besar lain juga berbuat seperti ini."Pria tua berjubah biru mengangguk dan menanggapi, "Kak, rencanamu bagus. Aku juga sependapat."Pr
Salah satu tim mendarat saat melewati puncak gunung. Totalnya sekitar 30 lebih orang. Suasananya sangat ramai.Seorang pria tua yang rambutnya sudah memutih berjalan keluar. Dia juga memakai jubah putih.Pria tua itu memandangi Tirta dan lainnya dengan ekspresi bingung seraya berucap, "Eh ... kalian bukan anggota Sekte Hima. Katakan, kenapa kalian muncul di tempat ini? Kenapa mereka nggak menghalangi kalian naik ke gunung? Kalau kalian nggak mau bilang, aku bunuh kalian sekarang!"Kultivasi pria tua itu sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap kelima. Cahaya di sekujur tubuhnya sangat berkilau. Auranya membuat Elisa dan lainnya sangat tertekan.Bukan hanya itu, ada pria tua tingkat pembentukan jiwa tahap kelima yang lain di belakang. Dia memakai jubah biru dan sama sekali tidak bicara.Namun, tatapan pria itu terus tertuju pada Tirta dan lainnya. Dia memancarkan aura yang dingin.Sekelompok murid muda yang mengikuti mereka juga tidak lemah. Mereka sudah mencapai tingkat pembentuka
Melihat Luvia tidak bicara, Tirta merasa Luvia punya masalah. Dia bertanya, "Kak Luvia, kamu kenapa?"Luvia tidak menutupi masalahnya dari Tirta. Dia menyahut, "Nggak ada murid wanita di antara orang-orang itu ....""Apa maksudnya?" tanya Tirta. Bukan hanya Tirta, Elisa dan lainnya juga tidak mengerti.Luvia menghela napas, lalu menjawab dengan tatapan muram, "Aku rasa ... aku tahu alasan leluhur Sekte Kristala kabur dari dunia itu dan tinggal di dunia misterius."Althea bertanya, "Kak Luvia, apa alasannya?"Luvia tersenyum getir dan menjelaskan, "Karena mereka menjadikan murid wanita yang berkultivasi teknik ini sebagai tungku. Mereka akan menyerap energi semua murid wanita yang kultivasinya berhasil hingga mati dengan cara meniduri para murid wanita itu. Bagi mereka, wanita yang berkultivasi teknik ini cuma sumber daya."Luvia menambahkan, "Kalau aku jadi leluhurku, aku juga akan berjuang mati-matian untuk kabur setelah tahu hal keji seperti ini."Namun, masih ada yang belum dikataka
Tatapan tetua tingkat inti emas tahap kelima itu terus tertuju pada Luvia. Dia tampak serakah.Mendengar ucapan tetua itu, orang yang berbicara terlebih dahulu tadi juga memandang Luvia. Dia yang antusias berkata dengan ekspresi mesum, "Um? Kak, wanita ini memang berkultivasi teknik yang sama dengan Sekte Hima .... Kalau kita merenggut kesuciannya, kultivasi kita pasti meningkat pesat!"Tetua tingkat inti emas tahap kelima yang tahu teknik Luvia melihat Elisa dan lainnya. Dia langsung mengabaikan Tirta, bahkan air liurnya menetes.Tetua itu tertawa dan berkomentar, "Kita beruntung bisa bertemu wanita cantik yang lembut seperti ini ... salah ... bahkan jumlahnya lebih dari satu!"Mendengar perkataan mereka, Luvia tampak marah. Dia menceletuk, "Jangan-jangan ... mereka itu orang-orang yang disebutkan leluhurku?"Luvia merasakan teknik kultivasi mereka memang sama dengannya. Elisa dan Althea juga marah. Mereka hendak bertindak.Tiba-tiba, Tirta membentak, "Sialan! Beraninya kalian menginc
Bagaikan orang yang tertangkap basah, Melati merasa bersalah dan malu. Dia bahkan tidak berani menatap langsung ke arah Ayu."Aku memang mau tidur. Tapi dengan keributan sebesar itu, mana mungkin aku bisa tidur! Entah apa yang akan dipikirkan Tirta kalau dia tahu soal ini," ujar Ayu sambil memeluk ke
Pemandangan ini benar-benar memikat!"Kamu lagi nyetir, nggak boleh lihat ke sana! Kalau sudah senggang nanti, aku kasih kamu lihat sampai puas." Melihat tatapan Tirta yang tampak membara, Aiko tampak malu sekaligus bahagia."Aiko, aku cuma boleh lihat? Nggak boleh lakukan yang lain?" Pada dasarnya, T
Susanti mengangguk dan berkata, "Tunggu sebentar, pakai dulu obat anti-nyamuk ini, baru kita naik." Tirta mengeluarkan dua botol kecil dari sakunya dan menyerahkannya kepada Susanti."Wow, baunya enak juga! Omong-omong, kita sudah kenal cukup lama, tapi kamu belum pernah kasih aku hadiah. Aku simpan
Irene dan Agatha yang duduk di kursi belakang tentu saja tidak mengetahui pikiran mesum Tirta saat ini. Kalau tidak, mereka pasti sudah bersatu untuk memberinya pelajaran."Naura, aku ke sana sekarang," ucap Tirta. Setelah menelepon Naura untuk menanyakan lokasi pesta, dia langsung melajukan mobil ke







