Mag-log in"Huh, kamu cuma berani karena ada wanita-wanita di belakangmu yang mendukung. Kalau tanpa empat wanita itu, memangnya kamu ini siapa?""Orang sepertimu apa pantas melawan kami?""Adik-adik, sekalipun hari ini kita mati di sini, kita harus menyeret bocah ini mati bersama!"Melihat Tirta mengeluarkan artefaknya, murid tingkat pembentukan dewa tahap akhir itu sontak berteriak dan menjadi orang pertama yang menyerang.Sebuah pedang terbang memelesat ke depan. Begitu bergerak, dia langsung menggunakan jurus yang sangat kejam. Satu pedang terbang berubah menjadi ratusan bayangan pedang. Seketika, seluruh tubuh Tirta terkurung di dalamnya. Jelas, dia berniat menusuk Tirta hingga tubuhnya berlubang."Betul! Kalaupun mati hari ini, kita harus menyeret bocah ini bersama kita!"Sret! Sret! Dua murid lainnya juga segera mengeluarkan pedang terbang mereka dan menyerang dari sisi kiri dan kanan Tirta.Saat menyerang, mereka menyadari bahwa Lavanya, Irena, Yumika, dan Priya sama sekali tidak berniat
"Aku bisa cium bau darah dari tubuh kalian. Setelah membunuh orang, kalian pikir bisa pergi begitu saja?" Tubuh Tirta berkelebat dan langsung mengejar mereka....."Ayah ....""Ayah nggak apa-apa?"Kedua anak pria paruh baya itu segera berlari menghampiri saat melihat sang ayah selamat. Mereka langsung menghambur ke pelukannya sambil memanggilnya."Anak-anakku, Ayah nggak apa-apa. Pergilah, cepat bawa ibu kalian pergi dari sini. Tempat ini terlalu berbahaya, nggak cocok untuk kalian tinggali," kata pria paruh baya itu dengan perasaan yang masih diliputi ketakutan."Ayah, kami nggak mau pergi. Kami ingin bersama Ayah." Kedua anak itu memeluknya erat-erat."Kalau kamu nggak pergi, kami juga nggak akan pergi. Kalau memang harus mati, keluarga kita akan mati bersama." Wanita paruh baya itu akhirnya tiba di depan mereka dan berkata dengan mata berkaca-kaca."Hais ...." Pria paruh baya itu menghela napas panjang, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi....."Sobat, apa maksudmu ini? Kami sudah
"Itu artinya kita harus cari jalan lain," kata Tirta.Baru saja dia selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara tangisan dan jeritan dari desa di depan mereka, bercampur dengan suara angkuh penuh penghinaan."Tuan, kami benar-benar nggak tahu apa yang terjadi di tepi laut ....""Kalian bahkan nggak berani mendekati tempat itu?""Kumohon, jangan paksa kami pergi ke sana. Aku masih punya orang tua yang harus kuurus dan anak-anak yang harus kubesarkan. Kalau terjadi sesuatu padaku, mereka nggak akan bisa bertahan hidup.""Huh! Kalau kamu berani banyak bicara lagi, akan kubunuh sekarang juga!""Kalau kami menyuruhmu pergi, ya pergi saja!""Ada apa itu?" Tirta mengernyit. "Ayo kita lihat.""Oke."Semua orang segera memelesat ke sana. Mereka masih mampu meluangkan sedikit waktu untuk urusan seperti ini.Tak lama kemudian, mereka melihat beberapa kultivator tingkat pembentukan dewa sedang memaksa seorang pria paruh baya biasa dengan arogan.Meskipun pria itu tampak ketakutan dan gelisah, mer
Sambil berpikir begitu, Tirta tidak lupa berkata kepada naga berkepala tiga itu, "Bagus. Sebelum datang ke sini, aku memang sudah dengar tentang hal itu.""Kamu melakukan tugasmu dengan sangat baik. Nanti kalau aku datang lagi, pasti akan kuberikan hadiah besar untukmu. Kamu boleh pergi sekarang."Saat ini, Tirta tidak terburu-buru untuk melihat harta karun itu. Dia menyimpan kotak perunggu itu ke dalam cincin penyimpanannya terlebih dahulu.Mata Priya berkilat sesaat. Dia jelas sangat penasaran dengan harta karun itu. Namun, dia tetap tidak bertanya."Terima kasih banyak, Utusan Suci!" Setelah mendengar perkataan itu, salah satu kepala naga itu menunjukkan ekspresi gembira dan menyanjung yang sangat manusiawi.Sementara dua kepala lainnya menunduk dengan hormat kepada Tirta.Tak lama kemudian, tubuh raksasanya yang menyerupai tembok baja mulai bergerak menjauh, lalu tenggelam ke dalam lautan hitam yang gelap, dalam, dan tak berbatas.Tak lama setelah naga berkepala tiga itu pergi, Tir
"Memusnahkan dunia awani juga bisa?" Setelah mendengar perkataan itu, kepala Irena langsung berdengung, seolah puluhan ribu petir meledak di dalam benaknya.Itu terutama karena para binatang iblis ini terlalu kuat dan benar-benar memiliki kemampuan untuk menghancurkan dunia awani. Perkataan itu memberi guncangan yang luar biasa besar baginya."Ya ampun, Sayang. Kamu benar-benar hebat sekarang. Siapa lagi yang berani menyinggungmu?" Irena memeluk lengan Tirta erat-erat, seolah sedang menggantungkan seluruh nasibnya di sana."Benar juga. Kalau dari awal kita tahu pencuri kecil sepertimu punya status sehebat ini, untuk apa kita khawatir lagi?" ujar Lavanya sambil menahan keterkejutannya dalam hati."Pantas saja sejak pertama masuk ke sini, Tirta ingin melakukan hal seperti itu. Ternyata dia memang sama sekali nggak takut," kata Yumika sambil tersenyum.Priya setengah mengerti dan setengah tidak. Dia melirik Tirta sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangan. Situasi saat ini benar-benar
Namun, wanita itu tetap membisu seperti batu, seolah memang tidak ada. Dia sama sekali tidak menggubris Tirta."Sialan, aku sampai nggak habis pikir. Kamu itu nggak ada gunanya sama sekali. Buat apa aku bawa-bawa beban sepertimu?!" Tirta sampai memaki karena kesal.Dalam keadaan mendesak, dia tiba-tiba teringat satu cara lain untuk menyelamatkan diri, yaitu peta bintang.Di dalam peta bintang, Tirta masih ingat ada segumpal api yang pernah menyala hebat di Tebing Maut dan menyelamatkan nyawanya.Tepat ketika Tirta hendak mengeluarkan peta bintang, tiba-tiba naga berkepala tiga itu membuka mulutnya dan berbicara dengan bahasa manusia. Suaranya berat dan menggelegar.Gema suaranya mengguncang seluruh langit dan bumi, langsung membuat Tirta mengurungkan niatnya."Salam hormat kepada Utusan Suci. Kami nggak nyangka Utusan Suci akan berkenan datang. Saya gagal menyambut kedatangan Utusan Suci dari jauh. Mohon Utusan Suci berkenan memaafkan.""Uuuu ....""Auuu ....""Grrr ...."Seketika, rat
"Tapi, Pak Tirta sudah bilang, setelah dia mengantar Bu Susanti pulang, dia akan pergi ke ibu kota sebentar." Marila sudah tidak begitu marah lagi. Lagi pula, Shinta adalah adik kandungnya.Dia berencana untuk segera menjelaskan semuanya kepada Tirta, agar Tirta tidak melihatnya dengan pandangan yan
Selina memapah Mairah. Saat berjalan sampai bagian tengah gua bawah tanah, mereka mendengar suara ledakan yang memekakkan telinga dan berbagai suara tembakan.Awalnya, mereka mengira kemungkinan besar Tirta diserang oleh anggota Black Gloves. Jadi, Mairah mengabaikan rasa sakitnya dan mempercepat la
Jadi, Jamil segera memanfaatkan kesempatan ini untuk memamerkan kelebihannya. Dia menunjuk mobil karavan berwarna perak di belakangnya dan berbicara dengan bangga. Sudah jelas Jamil menganggap serius basa-basi Yuli tadi.Hanya saja, sikap Jamil membuat Susanti makin jijik. Susanti bukan wanita matre
Zavrina melihat jam. Sekarang hampir pukul 11 siang. Dia membawa Tirta dan lainnya naik ke mobil.Namun, Zavrina bingung saat melihat Ayu dan Elisa ikut naik ke mobil. Paras dan postur tubuh keduanya sama persis. Mereka berdua sangat cantik. Zavrina bertanya, "Darwan, siapa kedua wanita ini?"Darwan







