LOGINGundala tertawa setelah mendengar ucapan Tirta. Dia membalas, "Kamu mau melenyapkan inti jiwaku? Kamu masih begitu sombong, padahal sudah hampir mati. Benar-benar nggak tahu diri!"Angin serangan telapak tangan Gundala menderu dan kekuatannya sangat dahsyat. Serangan Gundala menyerang kepala Tirta dalam sekejap. Gundala sangat yakin serangannya ini pasti akan membuat Tirta mati tragis."Pria tua, lihat baik-baik!" ujar Tirta. Tatapannya menjadi dingin dan dia berusaha keras untuk mengerahkan Mantra Evolusi Semesta. Kecepatannya tiba-tiba meningkat pesat.Tirta hampir tidak bisa menghindari serangan Gundala. Kemudian, dia mengeluarkan kertas emas untuk menebas inti jiwa di belakang kepala Gundala.Whoosh! Cahaya menerangi langit malam bagaikan serangan kilat emas."Aku memang menunggu kemunculan barang itu!" seru Gundala. Dia menyadari kertas emas ini adalah barang berharga yang bisa mengatasi teknik rahasia Sekte Asura.Gundala yang serakah langsung mengulurkan tangannya untuk mengerah
Tirta mengomentari, "Wah, kekuatan yang ditunjukkan pemurni energi tingkat pembentukan jiwa tahap keempat benar-benar nggak bisa dibandingkan dengan kekuatan pemurni energi tingkat pembentukan jiwa tahap ketiga."Selain itu, Tirta mengerjap ketika memandangi inti jiwa Gundala. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.Sekarang perhatian Gundala teralih ke Tirta. Dia berkata dengan sinis, "Hei, sekarang sudah saatnya aku membunuhmu! Aku ulangi terakhir kali, serahkan 'Kitab Adikara'. Aku akan membiarkanmu mati tanpa merasa tersiksa!"Gundala melanjutkan, "Kamu nggak punya inti jiwa, cuma inti jiwa palsu yang ditingkatkan dengan mengandalkan teknik rahasia. Sekalipun sangat menakjubkan, juga nggak ada apa-apanya! Aku cuma perlu melancarkan satu serangan untuk membunuhmu!"Gundala tidak merasakan ada yang aneh. Dia mengira inti jiwa Usman hancur karena serangan telapak tangannya. Itulah sebabnya Gundala makin sombong.Tirta membalas, "Dasar tua bangka, bisa-bisanya kamu lebih sombong da
Gundala memandangi Tirta dan Usman sambil meletakkan kedua tangannya di belakang.Gundala tertawa terbahak-bahak, lalu berbicara dengan ekspresi bengis, "Akhirnya, aku nggak perlu menutupinya lagi. Rasanya seperti melepaskan belenggu di tubuhku. Um, sebenarnya aku menyembunyikan kekuatanku yang sebenarnya untuk mewaspadai tetua dari sekte super besar.""Tapi, sekarang aku harus menggunakan kekuatanku. Tertawalah, kenapa kalian nggak tertawa lagi? Bukannya kalian ingin membunuhku? Ayo maju! Kalian bertindak sama-sama saja!" lanjut Gundala.Tirta mengeluarkan kertas emas secara diam-diam dan membalas, "Huh, memangnya kenapa kalau kamu menyembunyikan kekuatanmu? Aku dan Pak Usman nggak takut padamu. Pak Usman, benar, 'kan?"Usman terdiam sejenak sebelum menimpali, "Aku ... takut. Tapi, aku juga nggak bisa kabur lagi. Jadi, aku akan bertarung mati-matian!"Pemurni energi dengan kultivasi tingkat pembentukan jiwa tahap keempat memiliki daya tempur yang mengerikan. Kekuatannya jauh melampaui
Akan tetapi, Usman tidak panik lagi. Bahkan dia membuka mulutnya, lalu mengeluarkan kekuatan spiritual untuk membentuk cambuk tulang putih. Dia menyerang bagian yang lemah pada tubuh Gundala, yaitu bagian selangkangannya.Kekuatan serangan Usman memang tidak bisa menandingi artefak yang sebenarnya, tetapi Gundala merasa dipermalukan.Sementara itu, energi Tirta sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap kedua puncak. Sebentar lagi, dia akan mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap ketiga.Gundala panik saat merasakan perubahan kekuatan Tirta. Dia membentak, "Usman, aku berbaik hati membiarkan kamu hidup. Aku nggak tega lihat kultivasimu selama ratusan tahun menjadi sia-sia dan jiwamu lenyap. Jangan nggak tahu diri! Kamu kira aku benar-benar nggak berani melenyapkanmu?"Cambuk yang terbentuk dari kekuatan spiritual dihancurkan energi pelindung Gundala sebelum menyentuh selangkangannya.Usman tertawa sinis dan membalas, "Kak Gundala, kamu kira aku nggak berani meledakkan inti jiwaku se
Batu spiritual tingkat menengah mengandung kekuatan spiritual yang jauh lebih banyak daripada batu spiritual tingkat rendah.Satu batu spiritual tingkat menengah setara dengan seratus batu spiritual tingkat rendah. Tirta memanfaatkan waktu yang langka ini untuk menyerap belasan batu spiritual tingkat menengah sekaligus.Kekuatan spiritual yang sangat melimpah bagaikan embun di musim semi. Jadi, sangat efektif untuk memulihkan luka. Bahkan Tirta menyempatkan diri untuk menyambung tulangnya yang patah.Sementara itu, Gundala yang unggul menyerang Usman hingga mundur di langit. Dia juga mengeluarkan Pagoda Iblis yang digunakannya untuk melawan Tirta sebelumnya dan artefak lain yang belum digunakan.Di udara, bayangan hantu berputar-putar, arwah gentayangan meraung, dan puluhan ribu tengkorak berkerumun bak awan hitam yang tebal. Semuanya mengepung Usman dari segala arah. Situasinya sangat mengerikan.Bam! Usman buru-buru mengerahkan energi pelindung untuk menghancurkan semua tengkorak yan
Tadi Tirta tiba-tiba kepikiran dia tidak mungkin bisa menang melawan mereka secara langsung. Namun, pemurni energi dari dunia itu sangat serakah dan mudah curiga. Mungkin dia bisa mencoba untuk menghasut mereka berdua.Melihat Usman percaya, Tirta makin semangat berakting. Dia mencibir dan berseru, "Kamu kelihatan panik, itu berarti omonganku benar! Kamu pasti merasa bersalah! Memangnya anggota sekte kalian nggak pernah melakukan hal yang nggak bermoral?"Tirta menambahkan, "Apa kamu pantas menjamin dengan bicara seperti itu? Cuma orang bodoh yang percaya!""Kamu ...," ucap Gundala. Dia tidak bisa membantah ucapan Tirta.Saat Gundala sudah memikirkan alasan untuk menjelaskan, Tirta malah menggeleng dan menghela napas. Dia berkata kepada Usman, "Pak Usman, biasanya orang yang hampir mati selalu bicara jujur. Aku memang membunuh murid sektemu, tapi sekarang aku hampir mati.""Bagiku, semua dendam nggak ada artinya lagi. Aku cuma kasihan melihatmu diperalat seniormu. Itulah sebabnya aku m
"Pak Agus, apa benar-benar nggak usah bujuk Bibi?" Tirta merasa tidak nyaman. Bagaimanapun, hasilnya tetap akan sia-sia saja jika Betari ke sana."Biarkan saja. Padahal cuma wanita, tapi malah banyak ikut campur. Setelah dimaki orang nanti dia bakal balik sendiri," pungkas Agus dengan kesal. Jelas se
"Kak Polisi, hubungan kita sangat dekat. Mana mungkin aku menipumu, 'kan?" Ketika mendengar Susanti meminta bukti, Tirta merasa agak kesal."Jangan bicara sembarangan! Dekat apanya!" Wajah Susanti sontak memerah karena teringat Tirta pernah melepas celananya. Namun, dia segera menahan rasa malu itu d
"Oh, oke. Omong-omong, kamu mendengar igauanku nggak tadi?" tanya Tirta setelah berdeham sesaat dan merapikan pakaiannya untuk menutupi kemaluannya."Nggak dengar. Tapi, dari penampilanmu ini, kamu pasti bermimpi yang aneh-aneh," sahut Susanti sambil memelotot.Mobil ini bisa dibilang kedap suara, dit
"Ayahmu orang kepercayaan wali kota?" Tirta yang merasa lucu pun mengangkat alisnya."Ya! Ayah Kak Josep bekerja untuk wali kota! Kalau sampai ayahnya datang dan melihatnya begini, kamu nggak bakal diampuni!" seru Malvin yang memberanikan diri."Aduh, aku takut sekali! Jangan sampai ayahmu datang. Aku







