INICIAR SESIÓNDemi pengobatan ibu angkatnya, Ayla terpaksa menjual kebebasannya dalam pernikahan kontrak dengan Xavier, CEO dingin yang ternyata seorang Alpha haus darah. Ayla tak menyadari bahwa ia adalah sang Luna, sementara Xavier sengaja menolak mengklaimnya demi menyembunyikan kelemahan terbesar di balik gairah ranjang yang membara. Di antara kontrak yang mengikat dan insting serigala yang liar, mampukah Ayla bertahan sebelum rahasia gelap sang Alpha menghancurkan hidupnya?
Ver más“Tanda tangani, atau biarkan ibumu mati tanpa sempat melihat matahari besok pagi.”
Xavier Alexander duduk di balik meja mahoni besarnya yang mengilat seraya menatap Ayla dengan tatapan predator yang telah memojokkan mangsanya. Di atas meja, sebuah map biru tua tergeletak, sebuah kontrak yang lebih mirip vonis daripada kesepakatan bisnis.
Ayla tampak gemetar. Ujung jarinya mendingin saat menatap lembaran kertas putih di hadapannya. “Lima miliar,” bisiknya parau.
“Ya. Dan aku tidak suka membuang waktu, Ayla. Rumah sakit sudah menghubungiku. Tim dokter bedah hanya menunggu konfirmasi pembayaran sebelum mereka memindahkan ibumu ke ruang operasi malam ini. Tanpa tanda tanganmu di atas materai itu, mereka tidak akan menyentuh pisau bedah.”
Ayla menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya ketika mendengarnya. Dia adalah seorang sekretaris junior di Alexander Group, baru bekerja selama satu tahun di sana.
Minggu lalu, ibunya jatuh pingsan karena gagal jantung akut. Biaya operasinya astronomis, jauh melampaui apa yang bisa dicover oleh asuransi kantor.
Dan sang CEO dingin dan memiliki tatapan tajam itu akhirnya memanfaatkan kelemahan Ayla untuk dia jadikan sebagai istri kontrak demi kebutuhannya—menjadi pewaris di perusahaan tersebut.
“Tapi, Tuan. Saya hanya ingin meminjam uang saja pada Anda. Tidak untuk menjadi istri kontrak Anda.”
Xavier mendengus pelan. “Sayangnya aku bukan rentiner yang bisa kau pinjam sesuka hatimu. Kau butuh uang itu untuk nyawa ibumu. Itu jaminan kesetiaan yang jauh lebih kuat daripada cinta atau kesepakatan politik mana pun,” jawab Xavier yang kini berdiri tepat di belakang Ayla.
“Kakekku menuntut sebuah pernikahan agar aku bisa mengambil alih seluruh saham keluarga bulan depan. Aku tidak butuh istri yang mencintaiku. Aku butuh properti yang patuh. Dan itu adalah kau!”
Ayla memejamkan matanya dan tidak bisa membantah. Keadaan ekonomi telah merampas harga dirinya sebelum dia sempat membela diri. Xavier tidak mau meminjamkan uang itu secara cuma-cuma
“Buka matamu, Ayla. Lihat kontrak itu,” perintah Xavier dingin yang kini berada lebih dekat dengannya.
Ayla bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu. Dia mencoba menggerakkan tangannya untuk mengambil pulpen, namun seluruh ototnya terasa kaku. Ketegangan di ruangan itu terasa begitu pekat, seolah oksigen telah ditarik keluar.
Xavier tidak berhenti di sana. Dia membungkukkan punggungnya, kemudian menumpukan kedua tangannya di pinggiran meja, mengurung tubuh mungil Ayla di tengah-tengah lengannya.
Tiba-tiba, Ayla merasakan napas hangat Xavier menerpa kulit lehernya yang terbuka.
Dia merinding hebat. Xavier mendekatkan wajahnya, seolah sedang menghirup dalam-dalam aroma tubuh Ayla, seperti serigala yang menandai wilayahnya.
“Kenapa kau gemetar, Ayla?” bisik Xavier hampir menyentuh daun telinga Ayla.
Ayla hanya bisa menelan salivanya dengan pelan. Jantung Ayla berdegup kencang, menghantam rongga dadanya hingga terasa sakit.
Dia merasa terhina oleh kontrak pernikahan ini, namun di sisi lain, dominasi Xavier yang begitu mentah membuatnya terpaku di tempat.
Dia benci pada fakta bahwa tubuhnya merespons kehadiran pria itu dengan cara yang tidak bisa dia kendalikan.
Xavier menjauh sedikit, namun tatapannya tetap mengunci Ayla dari samping. “Tanda tangani sekarang. Maka uang lima miliar akan masuk ke rekening rumah sakit dalam sepuluh menit ke depan.”
Ayla meraih pulpen itu dengan tangan yang masih gemetar. “Hanya satu tahun?” tanyanya memastikan.
“Tiga ratus enam puluh lima hari. Selama itu, kau harus memerankan peranmu sebagai Nyonya Alexander dengan sempurna di depan publik. Tidak boleh ada skandal. Tidak boleh ada pria lain.”
“Dan setelah itu?”
“Setelah itu, kau bebas. Kau punya uangmu, ibumu selamat, dan aku mendapatkan sahamku,” Xavier berbicara seolah ini hanyalah transaksi jual beli barang bekas.
Ayla menarik napas panjang, tengah mencoba menenangkan badai di dalam dirinya. Dia memikirkan ibunya yang terbaring lemah di ruang ICU, dikelilingi kabel-kabel yang menjadi penyambung nyawa. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan moralitas.
Dengan satu goresan cepat, Ayla menandatangani kontrak tersebut. Tinta hitam itu seolah menyerap seluruh masa depannya.
Xavier mengambil dokumen itu dengan senyum kemenangan yang tipis, hampir tak terlihat.
Lalu menutup map tersebut dan melemparnya kembali ke laci meja. Ruangan itu kembali hening, namun ketegangannya tidak sedikit pun berkurang.
“Pilihan yang cerdas,” ujar Xavier lalu kembali mendekat, dan kali ini tangannya meraih dagu Ayla, memaksa gadis itu menatap langsung ke matanya yang gelap dan tajam.
Ayla menatap mata itu dan tidak menemukan setetes pun empati di sana. Hanya ada kekuasaan mutlak.
“Ingat satu hal, Ayla. Kontrak ini bukan hanya tentang nama di atas kertas,” Xavier menurunkan nada suaranya hingga menjadi bisikan yang dalam dan berbahaya.
Kemudian mendekatkan wajahnya kembali ke leher Ayla, dan berhasil membuat gadis itu menahan napas. “Mulai detik ini, kau adalah milikku secara total. Tidak ada rahasia, tidak ada privasi yang kau sembunyikan dariku!”
Ayla meremas roknya sendiri, menanti apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya. Dia tahu ini baru permulaan dari neraka yang dia pilih sendiri demi keselamatan ibunya.
Xavier memberikan tatapan terakhir yang membuat Ayla merasa seolah-olah seluruh pakaiannya telah dilucuti. Kemudian berbisik pelan, tepat di depan bibir Ayla yang bergetar.
“Satu tahun, Ayla. Kau milikku di kantor, dan terutama ... di ranjangku.”
Waktu bergerak serupa roda yang dipaksa berputar di atas jalur berbatu. Sembilan bulan berlalu di dalam benteng utara yang dijaga lebih ketat daripada gudang persenjataan utama klan.Setiap hari bagi Xavier adalah sebuah ujian ketahanan mental; ia menyaksikan bagaimana tubuh Ayla bertahan di batas kemanusiaannya, bertarung melawan pasang surut energi perak yang kian dominan. Namun, pagi itu, ketenangan semu mereka pecah oleh erangan yang datang dari dasar rahim sang Luna.Ayla mencengkeram besi ranjang medis hingga logam tebal itu melengkung di bawah tekanan tangannya. Keringat dingin membanjiri pelipisnya, melunturkan pendaran perak yang fajar ini muncul lebih pekat dari biasanya di sekitar matanya.“Xavier... sekarang,” rintih Ayla, napasnya terputus-putus oleh kontraksi yang menghantam seperti ombak badai. “Dia... dia ingin keluar.”Xavier yang sedang memeriksa perimeter langsung melesat, berlutut di samping ranjang dalam waktu kurang dari satu detik.Wajahnya pias, ketakutan yang
Telapak tangan besar Xavier yang semula gemetar kini menempel sepenuhnya di atas permukaan perut Ayla yang menegang. Detik itu juga, keheningan kamar mandi dan sisa-sisa aroma kemenyan di luar dinding seolah lenyap dari kesadarannya.Kulit di bawah jemarinya tidak lagi terasa seperti jaringan tubuh manusia biasa; ada struktur magis yang berdenyut, mengalirkan hawa hangat yang langsung menyengat ujung-ujung saraf sang Alpha.BUM!Sebuah hentakan keras dari dalam rahim Ayla menghantam telapak tangan Xavier. Itu bukan sekadar pergerakan janin biasa, melainkan sebuah ledakan energi murni yang begitu pekat hingga gelombang kejutnya merambat naik ke lengan Xavier, menembus dadanya, dan menghempaskan kesadarannya ke dalam dimensi spiritual klan yang terdalam.Xavier terengah-engah, matanya membelalak lebar saat benteng emosionalnya runtuh seketika. Ia tidak terpental secara fisik, namun jiwanya dipaksa mundur oleh otoritas yang sangat besar dari sesosok makhluk yang bahkan belum lahir.“Xavi
Di balik tirai-tirai tebal yang menutup rapat seluruh akses cahaya, atmosfer kamar terasa pengap oleh keputusasaan. Xavier masih berlutut di sisi ranjang, bahunya yang lebar naik-turun dalam ritme napas yang tidak beraturan.Pikirannya tersesat di dalam labirin kegelapan yang paling dalam, sebuah rencana terlarang yang jika terendus oleh klan, akan memicu perang saudara yang tak terhindarkan.Melihat suaminya tenggelam begitu dalam ke dalam kegilaan batinnya sendiri, Ayla mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang masih tertinggal di sumsum tulangnya.Setiap gerakan kecil terasa seperti seribu jarum perak yang menusuk persendiannya, namun ia menolak untuk terus terpuruk menjadi sosok yang tidak berdaya.“Xavier...” panggil Ayla, suaranya sangat lirih, hampir tidak melebihi desau angin malam, namun memiliki frekuensi yang langsung memotong seluruh pasokan amarah di kepala sang Alpha.Xavier tidak bergerak. Ia takut jika ia mendongak, ia hanya akan melihat kematian yang kian dekat di wajah is
Lantai batu di lorong sayap utara Safe House bergetar pelan saat Yuan melangkah dengan kepala tertunduk. Di tangannya, sebuah nampan perak berisi potongan daging segar berlumur madu hutan dan sup sumsum, makanan terbaik yang bisa disediakan klan untuk memulihkan energi terasa begitu berat.Bau perak yang menyengat dari balik pintu kamar utama sudah bisa tercium dari jarak sepuluh meter, sebuah tanda bahwa kondisi di dalam sana kian kritis.Yuan menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu ek tebal itu dengan sikunya. “Alpha, aku membawa—”Brak!Sebelum Yuan sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia. Nampan perak di tangannya terlempar, hancur menghantam dinding hingga supnya terciprat ke mana-mana.Tubuh besar Yuan terangkat dari lantai, punggungnya dihantamkan ke dinding batu dengan kekuatan yang membuat struktur bangunan itu mengerang.Cengkeraman tangan Xavier di tenggorokan Yuan terasa seperti c
Pintu kaca tebal ruang kerja eksekutif itu tertutup dengan bunyi klik elektrik yang final, mengunci suara bising dari area kantor di luar.Xavier tetap duduk di balik meja mahoni besarnya, jemarinya menari di atas kibor dengan kecepatan yang tidak wajar, namun matanya sesekali melirik ke arah sofa
Kediaman utama keluarga Alexander berdiri angkuh di atas perbukitan pinggiran kota, sebuah mansion bergaya neoklasik dengan pilar-pilar beton yang tampak seperti penjaga raksasa di kegelapan malam.Xavier menggandeng tangan Ayla dengan cengkeraman yang lebih protektif dari biasanya saat mereka mela
Kabut pegunungan yang putih pekat kini berubah menjadi panggung maut di depan moncong Range Rover hitam itu.Ayla meringkuk di kursi penumpang, telapak tangannya menempel pada kaca jendela yang mulai berembun. Di luar sana, Xavier berdiri tegak, membelakangi lampu depan mobil yang menyorot tajam ke
Xavier berbalik dengan cepat. Matanya yang hitam pekat memancarkan kilatan yang sanggup membekukan napas Ayla. “Diam, Ayla! Jangan pernah ucapkan kata itu lagi!”“Kenapa? Aku berhak tahu apa yang terjadi pada tubuhku! Kenapa bekas gigitan ini terasa hangat? Kenapa darahmu—”“CUKUP!” bentak Xavier.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.