LOGINSetelah itu, Tirta segera mencoba memanggil Pedang Penumpas Dewa. Begitu pedang itu muncul, ternyata perasaan tidak nyaman itu memang langsung menghilang. Seolah-olah para binatang buas yang sedang mengintai di dalam hutan telah mencium aura dari raja segala binatang, lalu melarikan diri dari wilayah itu dengan kecepatan yang luar biasa.Namun, Tirta tiba-tiba menyadari sesuatu yang membuatnya canggung. Yumika, Irena, dan Lavanya berdiri diam di tempat dan memelototinya dengan ekspresi malu sekaligus kesal."Tirta, apa maksudmu ini? Di tempat seperti ini pun kamu masih punya suasana hati untuk lakukan hal seperti itu? Otakmu rusak ya? Kamu sedang permainkan nyawa kami semua," kata Irena dengan nada tajam, orang pertama yang sudah tidak tahan lagi."Tirta, tempat ini terlalu berbahaya. Meskipun kamu punya kebutuhan seperti itu, kamu juga harusnya lebih rasional. Setelah kita tiba di tempat yang aman, Kakak janji nggak akan buat kamu kecewa," kata Yumika yang juga ikut membujuk dengan ta
Suara raungan itu menggemparkan langit dan bumi, bahkan jantung Tirta dan yang lainnya pun berdebar saat mendengarnya. Bersamaan dengan itu, bau amis darah dan bau busuk yang menyengat juga memenuhi udara.Bahkan sebelum mereka mendarat pun, rangkaian keadaan itu sudah membuat hati Tirta merasakan firasat buruk. "Jangan-jangan ... kita dipindahkan ke wilayah terlarang yang dibilang Arshala?""Wilayah terlarang apa? Suara ini, keributan ini .... Jangan bilang ini adalah Negara Iblis Laut legendaris yang ada di lautan tak bertepi di bagian utara dunia awani?" seru Irena secara refleks."Bukan, 'kan? Masa nasib kita bisa begitu buruk," kata Tirta yang memang paling takut dengan situasi seperti ini. Namun sekarang, mereka sudah hampir tiba. Tidak peduli apakah tempat itu adalah wilayah terlarang atau bukan, keadaannya sudah tidak mungkin diubah lagi.Wuussh!Saat keempat orang itu mendarat dengan hati yang sangat gelisah, pemandangan yang terbentang di hadapan membuat mereka hampir tidak m
"Melainkan dipindahkan secara acak. Kalau kita sampai dipindah ke wilayah yang nggak dikenal, mungkin akan sulit temukan lokasi Istana Samara dalam waktu singkat," jelas Tirta.Mendengar itu, Lavanya berkata, "Nggak masalah, asal kita nggak dipindahkan ke salah satu daerah terlarang di dunia awani. Mencari bahan-bahan di sana akan jauh lebih cepat daripada di tempat ini. Paling cepat beberapa hari dan paling lama setengah bulan, aku sudah bisa bangun sebuah formasi teleportasi yang langsung menuju Istana Samara. Hal yang perlu dikhawatirkan sekarang adalah ....""Kamu khawatir kita malah akan terjebak setelah kita tiba di sana?" tanya Tirta yang langsung bisa menebak isi pikiran Lavanya.Lavanya langsung berkata, "Benar. Dua sekte besar bekerja sama. Dengan jumlah kita, kita nggak mungkin bisa jadi lawan mereka.""Tenang saja, aku punya cara untuk mengatasinya. Kalian tunggu sebentar. Aku akan pamit dengan Bibi dan yang lainnya lebih dulu, lalu kembali menemui kalian untuk berangkat ke
Namun, setelah berpikir sejenak, Tirta akhirnya tidak mengatakan apa pun. Dia berbalik, lalu bertanya pada Lavanya, "Apa yang sebenarnya sudah terjadi sampai kamu buru-buru kembali mencariku? Jangan-jangan kamu rindu berhubungan denganku lagi?""Nggak tahu malu."Ekspresi Lavanya langsung terlihat merasa malu dan kesal, lalu melanjutkan, "Aku datang untuk bilang para petinggi Sekte Formasi Surgawi sudah diam-diam bersekutu dengan Dinasti Pembunuh. Mereka sudah mengepung Istana Samara, tinggal tunggu kamu kembali ke Sekte Formasi Surgawi dan masuk ke dalam perangkap mereka.""Apa?"Mendengar kabar itu, ketiga orang yang berada di sana langsung terkejut."Sebagai salah satu dari tiga tanah suci besar, mereka malah bersekutu dengan Dinasti Pembunuh yang bergaul dengan para kultivator jalur iblis. Apa para petinggi Sekte Formasi Surgawi nggak takut tiga tanah suci besar lainnya merasa nggak puas?" kata Tirta sambil mengernyitkan alis.Saat ini, Tirta mulai khawatir jika orang-orang dari Di
Untuk sementara ini, mengenai Arshala dan Yumika yang menanyakan Lavanya soal masalah Dinasti Pembunuh dan Sekte Formasi Surgawi tidak perlu dibahas.Sementara itu, di bawah pimpinan Tirta, Yusna yang mengikutinya pun tiba di pegunungan belakang Desa Persik."Tetua Yusna, kamu rasa tempat ini bagaimana? Apa ini termasuk tanah berkah yang tenang serta damai dengan kicauan burung, harum bunga, lembah hijau, puncak yang rimbun, serta aliran sungai yang menenangkan?" tanya Tirta sambil tersenyum."Ya. Energi spiritual di tempat ini memang nggak pekat seperti dunia awani, tapi nggak ada yang ganggu. Ini memang tempat yang sangat baik untuk mengasingkan diri dan kultivasi. Saat jalan-jalan, aku juga bisa berdiskusi denganmu. Ini benar-benar pilihan yang bagus," kata Yusna sambil mengelus janggutnya dan tertawa lebar.Meskipun jauh di dalam lubuk hatinya Yusna sebenarnya cukup meremehkan tempat ini, dia tetap menunjukkan ekspresi sangat puas agar Tirta tidak menyadari rasa tidak puasnya."Kal
Saat mendengar suara itu, Irena dan Yumika yang ingin mencari tahu situasinya juga segera mengikut dari belakang.Swoosh swoosh swoosh!Tak lama kemudian, Tirta dan dua wanita itu melihat Lavanya dan Yusna yang berada tidak jauh dari Desa Persik."Sayang, boleh tahu ini siapa?" tanya Tirta yang maju dengan sopan dan bahkan memberi hormat."Dia ini Tetua Yusna, wakil ketua Aula Penegak Hukum. Orangnya baik dan perlakukan aku dengan cukup baik. Sayang, karena dia datang bersamaku, bagaimana kalau kamu bagikan juga sebagian keberuntunganmu pada Tetua Yusna?" kata Lavanya. Mendengar Tirta memanggilnya sebagai istri, wajahnya langsung memerah. Namun, dia tetap bekerja sama dan berbicara sambil tersenyum."Oh, jadi ini Tetua Yusna. Mudah saja, mudah saja. Karena ini permintaan istriku, aku tentu saja nggak akan mengabaikan Tetua Yusna," kata Tirta langsung sambil tersenyum lebar.Namun sebenarnya, Tirta tahu ucapan Lavanya tadi hanya karangan belaka. Dia sudah bisa memastikan pria tua di had
Mata Tirta juga menjadi hitam. Pupilnya dipenuhi dengan garis-garis vertikal putih. Kala ini, Tirta hanya ingin berangkat ke ibu kota untuk menyelamatkan ayah kandungnya. Dia juga ingin menghabisi Altair untuk membalas dendam ibunya.Namun, perubahan Tirta membuat Marila dan Shinta ketakutan. Mereka
Biarpun sudah selesai melihat dokumennya, Tirta masih tidak bisa menerimanya. Dia mengembalikan dokumen tersebut kepada Marila.Sebenarnya wajar saja jika Tirta bereaksi seperti ini. Dia sudah hidup selama belasan tahun di suatu tempat. Tiba-tiba, seseorang memberitahunya orang tua yang dia akui buk
Namun, sosok seorang wanita yang mondar-mandir di depan pintu vila menarik perhatian Tirta. Setelah menghentikan mobil, Tirta turun dan bertanya dengan ekspresi bingung, "Kak Nabila, kamu lagi hamil. Kenapa kamu nggak istirahat di kamar malah mondar-mandir di depan pintu?"Farida dan Arum yang duduk
Mendengar ucapan Devika, Saba mengangguk dan menyahut seraya mengernyit, "Devika, aku mengerti. Hal ini memang keterlaluan."Begitu Saba melontarkan ucapannya, Devika langsung terlihat senang. Dia segera berseru, "Baguslah! Kakek Saba, kamu harus memutuskan hubungan dengan pria berengsek itu secepat







