LOGINFebri menangis cukup lama. Matanya kini merah, sementara wajahnya yang sudah kurus tampak makin menyedihkan dan memilukan."Febri, apa pun yang terjadi, ceritakan saja padaku. Nggak perlu sungkan. Semua yang ada di sini orang sendiri kok," ucap Tirta sambil menyeka air matanya."Pak Tirta, kamu nggak perlu menyembunyikannya lagi. Aku sudah tahu semuanya." Tubuh Febri bergetar. Dia menunduk dan perlahan melepaskan diri dari pelukan Tirta."Kamu sudah tahu apa?" Firasat buruk langsung muncul di hati Tirta."Ayahku ... ayahku mungkin sudah nggak ada lagi di dunia ini." Febri tidak mampu menahan diri lagi dan kembali menangis."Apa maksudmu? Siapa yang bilang begitu? Belum lama ini aku pergi ke dunia misterius dan bertemu ayahmu.""Dia dan teman-teman seperguruannya hidup baik." Tirta mengernyit, lalu tersenyum untuk menenangkannya.Pada saat yang sama, dia juga berpikir bagaimana Febri bisa tahu soal ini. Jangan-jangan gadis itu diam-diam pergi ke dunia tersembunyi?Febri berkata, "Waktu
"Hehe, kita sama-sama anggota sekte, pasti akan sering bertemu. Tetua bersedia melupakan perselisihan, itu menunjukkan Tetua memang orang yang berlapang dada," puji Shindy, jelas tidak tulus."Kamu terlalu memuji," jawab Suryana."Karena kesalahpahaman sudah terselesaikan, aku nggak akan mengganggu lagi. Aku pamit dulu." Selesai berkata demikian, Shindy bersiap untuk berbalik dan pergi."Tunggu." Tiba-tiba, Suryana memanggilnya."Apa ada urusan lain?" tanya Shindy yang seketika merasakan firasat buruk."Kita sudah jadi anggota sekte selama bertahun-tahun. Bahkan tanpa hadiah pun, aku nggak akan mengatakan apa-apa.""Tapi, temperamen kedua muridku itu terkenal aneh. Menurut pendapatku, sebaiknya kamu juga menyiapkan hadiah lagi untuk minta maaf kepada mereka berdua.""Kalau mereka mengadu kepada pemimpin dan melaporkan kesalahanmu, aku juga nggak bisa menghentikannya. Aku pun nggak ingin melihat hal seperti itu terjadi."Mendengar kata-kata itu, Shindy langsung paham bahwa Suryana sedan
"Mana ada? Ini murni kecelakaan. Mereka berdua keracunan dan aku cuma bantu keluarin racunnya," jawab Tirta jujur.Namun, Devika sama sekali tidak percaya. Dia terus mendesak tanpa mau mengalah. "Kapan sih kamu nggak punya alasan? Jangan kira aku kayak Marila sama Shinta yang gampang dibujuk. Aku ini bukan orang yang bisa dipermainkan!""Kalau kamu nggak mulai menahan diri, aku benar-benar bakal mengulitimu hidup-hidup, terus mengebirimu biar kamu nggak bisa jadi laki-laki lagi!"Ucapan seperti itu sudah berkali-kali didengar Tirta. Dia segera mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan sikap mengalah. "Oke, oke, aku salah. Aku pasti akan berubah. Aku nggak akan berani lagi.""Huh! Karena sekarang banyak orang, aku nggak akan kasih kamu pelajaran. Tunggu malam nanti, lihat saja apa aku bakal ampuni kamu atau nggak!" Devika akhirnya melepaskan telinga Tirta.Penampilannya yang sok menjaga wibawa itu kembali mengundang tawa Saba dan yang lainnya. Marila dan Shinta bahkan tahu betul apa
"Tirta, akhirnya kamu datang juga menjenguk kami! Sudah lama kami nggak dengar kabarmu!"Baru saja memasuki Nagamas, Saba dan Yahsva yang menerima kabar segera menyambut dengan rombongan mereka.Pada saat yang sama, Marila dan Shinta, dua saudari cantik itu juga ikut datang."Kak Tirta, aku benar-benar kangen kamu! Cepat peluk aku!""Pak Tirta selama ini ke mana saja? Sudah lama sekali nggak ada kabar.""Mereka berdua ini wanita barumu?"Sudah lama sekali, benar-benar sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tubuh Saba dan Yahsva juga mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan. Meskipun setiap hari mereka meminum mata air spiritual yang diteliti Tirta, hal itu tetap tidak dapat mengubah keadaan.Bagaimanapun juga, mereka tidak berkultivasi. Mereka tidak mungkin memiliki kemampuan seperti para kultivator yang bisa dibilang tidak menua.Sementara itu, tubuh Marila dan Shinta pun tampak makin matang dan berisi. Kedua wanita itu langsung mengapit Tirta dari kedua sisi. Seketika, dia dikelilingi
"Kenapa? Memangnya sulit diwujudkan? Kalau aku memindahkan cukup banyak mata air spiritual, nadi spiritual, dan obat spiritual ke sini, seharusnya beres, 'kan?"Tirta merasa reaksi mereka terlalu berlebihan."Ini bukan soal sulit atau nggak. Ini sudah seperti mimpi di siang bolong. Kamu tahu setandus apa energi spiritual di dunia ini?""Bahkan nggak sampai sepersepuluh dari dunia awani. Ini ibarat danau yang sudah kering.""Kalaupun kamu memindahkan banyak mata air spiritual dan obat spiritual ke sini, semuanya tetap akan tercerai-berai, nggak akan bisa bertahan.""Itu karena dunia ini nggak punya sumbernya. Dengan kata lain, sumber asal dunia ini sudah mulai runtuh.""Kalau aku jadi kamu, aku mending mencari dunia lain yang energi spiritualnya melimpah, daripada susah payah melakukan sesuatu yang akhirnya sia-sia." Irena menggeleng."Kak Yumika, apa benar seperti itu?" tanya Tirta sambil berpikir."Secara teori memang begitu. Tapi kalau cuma membangun satu kawasan kecil dan menopangny
"Aku nggak akan kasih kamu kesempatan itu," ujar Tirta yang bisa menebak isi pikirannya."Aku nggak punya niat seperti itu. Jangan nilai aku dengan pikiran jahatmu," kata pembunuh wanita itu dengan panik."Cih, mau membela diri saja ngomongnya berantakan. Kelihatannya otakmu jadi tumpul karena terlalu lama berkultivasi. Ngomong-ngomong, suamimu ini bahkan belum tahu siapa namamu." Tirta mengangkat dagunya yang putih bersih, lalu bertanya."Namaku Irena." Di bawah tekanan Tirta, pembunuh wanita itu akhirnya menjawab."Irena, hm ... namamu mirip sekali sama nama Kak Irene." Tirta mengingat nama itu. Dia melirik ke arah Yumika dan melihat wanita itu hanya memejamkan mata untuk memulihkan diri tanpa melakukan apa pun. Karena itu, dia juga tidak mengatakan apa-apa kepadanya.Sebenarnya, setelah kemampuan berpikirnya pulih sedikit, Yumika juga sedang memikirkan masa depannya.Namun, dilihat dari sikap Tirta, dalam waktu dekat dia tidak mungkin bisa meninggalkan sisi pria itu. Dia hanya bisa
Arum menggigit bibirnya dan mengerlingkan matanya dengan agak kesal."Cih! Aku rasa Bu Yanti punya maksud lain denganmu! Kamu cantik, putih. Kalau dia nggak menyukaimu, mana mungkin setiap hari mencarimu!""Makin kamu melindunginya, makin aku merasa kalian punya hubungan istimewa! Lihat saja kakimu
Tirta menggendong Agatha dan membawanya kembali ke klinik. Saat ini, Arum sudah kembali dari rumah Yanti dan sedang menyiapkan sarapan."Tirta, Agatha, kalian pulang tepat waktu. Cepat cuci tangan, kita makan bersama." Arum membawa sarapan dari dapur dan tersenyum kepada mereka berdua."Agatha nggak
Kebetulan Agatha baru selesai mandi. Dia yang memakai jubah mandi bertanya, "Tirta, kamu dikejar anjing gila, ya? Kenapa kamu lari begitu cepat?"Tirta tidak menjawab pertanyaan Agatha. Dia malah bertanya balik dengan ekspresi panik, "Kak Agatha, mana celanamu?""Celanaku ... ada di tempat tidur. Un
Plak! Plak! Plak! Setelah dipukul berkali-kali, semua gigi Samudra copot. Setelah dia pingsan, Tirta baru melepaskannya.Kemudian, pandangannya tertuju pada Ammar yang merangkak ke sudut dinding. Ammar langsung menjerit sekencang-kencangnya. "Ah! Ah! Kami nggak mau uang itu lagi! Cepat bawa pergi! K







