LOGINBam! Tirta melayangkan tinjunya, lalu terdengar auman harimau, raungan macan tutul, dan suara petir. Semua suara itu sangat mengerikan.Hanya kultivator yang sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap pertama punya kekuatan seperti ini. Gerakannya memancarkan kekuatan yang bisa menghancurkan ruang kehampaan.Angin kencang menderu. Melihat ruang kehampaan di depan hancur karena tinjuan Tirta, ekspresi Usman menjadi muram.Usman berucap, "Apa? Kenapa kemampuan pemuda ini bisa meningkat pesat dalam waktu singkat? Jangan-jangan dia menggunakan teknik rahasia yang bisa membakar esensi darah?"Tadi Usman tidak mengerahkan seluruh tenaganya untuk melancarkan serangan telapak tangan. Sekarang sudah terlambat jika dia menambah tenaga.Tang! Tinju Tirta dan telapak tangan Usman beradu. Sepotong energi pelindung di tubuh Usman dihancurkan.Tubuh Usman mundur puluhan meter. Meskipun tidak jauh, hal ini sudah membuktikan kemampuan Tirta sekarang setara dengan Usman.Gundala melihat semua kejadia
Tang! Tirta sudah mendekat. Kertas emas mendekat terlebih dahulu sebelum tinjuan Tirta. Namun, semua serangan Tirta terpental saat menghantam energi pelindung Gundala.Kertas emas bukan tidak bisa menghancurkan energi pelindung Gundala, melainkan kemampuan Tirta belum cukup hebat. Biarpun begitu, muncul retakan kecil pada energi pelindung Gundala.Usman tidak tahu hal ini. Dia tertawa dan berkomentar saat melihat pertarungan mereka, "Kak Gundala, kamu nggak usah takut kitab itu rusak. Langsung bunuh pemuda ini saja."Usman melanjutkan, "Setelah mendapatkan 'Kitab Adikara' dan memahaminya, kita bisa meninggalkan Sekte Asura. Membangun sekte sendiri atau mencapai keabadian juga nggak sulit."Asalkan bisa mendapatkan "Kitab Adikara", Usman merasa sepadan sekalipun harus kehilangan murid-murid yang tidak berguna itu. Itulah sebabnya dia tidak merasa sedih sedikit pun. Keserakahan menguasai hatinya."Haha, apa yang kamu bilang benar!" balas Gundala yang menahan keraguannya. Dia berpura-pura
Naufal meneruskan, "Guru, tolong kerahkan teknik rahasia untuk memanggil jiwa semua pecundang sialan itu. Lenyapkan jiwa mereka lagi biar mereka nggak bisa bereinkarnasi selamanya!"Gundala mengangguk dan menimpali, "Benar, aku memang bermaksud seperti itu. Kalau para pecundang itu memberi tahu kita keberadaan 'Kitab Adikara' lebih awal, murid sekte kita nggak akan mati!"Niat membunuh Tirta makin intens setelah mendengar percakapan mereka. Dia berpesan kepada Kamala yang berdiri di samping, "Kamu tunggu aku di sini. Setelah membunuh mereka, aku baru cari kamu."Selesai bicara, Tirta berkelebat dan keluar dari aula utama. Dia pergi ke pintu masuk Organisasi Publikasi.Tirta mendongak dan melihat dua cahaya yang sangat terang bak bulan di langit malam. Namun, dia merasa lucu saat kepikiran ternyata dua pria tua yang terlihat karismatik dalam cahaya suci ini adalah iblis dari Sekte Asura yang kejam.Tirta tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang sinis benar-benar menusuk telinga.Naufa
Kedua pria tua sengaja keluar saat malam supaya bisa diam-diam merebut warisan pemurni energi di sekitar sini. Mereka bukan hanya tidak mendapatkan apa pun. Siapa sangka, masalah seperti ini terjadi setelah mereka kembali.Pria tua yang sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa tahap ketiga bernama Gundala. Dia adalah tetua Sekte Asura yang menemukan "Kitab Adikara".Gundala mendengus dan menegaskan, "Naufal, aku akan bantu kamu balas dendam sekarang! Lihat baik-baik!"Suara dengusan Gundala sangat menggelegar sampai-sampai terdengar sejauh puluhan kilometer. Dia menjepit tubuh Naufal di ketiaknya dan berlari ke aula utama Organisasi Publikasi.Usman mengikuti di belakang seraya berteriak marah, "Beraninya pemuda itu melukai murid Sekte Asura! Aku pasti akan menyiksanya dan membuatnya mati tragis!"Setengah dari murid yang mati itu adalah murid kesayangan Usman. Mana mungkin dia tidak marah? Selain itu, sebenarnya mereka berdua lebih khawatir "Kitab Adikara" dicuri daripada murid-murid y
Murid Sekte Asura yang jantungnya dicabut berlari keluar dari Organisasi Publikasi dengan tubuh terhuyung-huyung. Wajahnya tampak panik.Murid itu berlari sambil menjerit, "Guru ... ada yang membunuh semua murid Sekte Asura dan mencabut jantungku! Tolong kembali secepatnya dan bantu kami balas dendam ...."Di tengah kegelapan malam, suara murid itu makin melemah. Dia juga berlari makin lambat.Murid itu menjerit sekitar belasan menit. Dia tidak melihat jalan dengan jelas karena terlalu takut mati. Alhasil, murid itu tersandung batu yang menonjol.Murid itu langsung jatuh ke tanah. Srak! Meridian yang disegel terbuka, lalu darah mengalir dari lubang di dada murid itu. Dia ingin bangkit, tetapi tubuhnya lemas.Murid itu bisa merasakan dia makin dekat dengan kematian. Dia ingin melampiaskan kesedihannya dengan menangis sekuat-kuatnya. Hanya saja, dia sama sekali tidak bisa bersuara.Air mata murid itu terus mengalir. Pandangannya menjadi kabur, lalu dia perlahan kehilangan kesadaran.Whoo
Melihat semua murid itu dibunuh Tirta, anggota Organisasi Publikasi berbicara dengan emosional. Namun, suara mereka sangat lemah. Hanya saja, mereka merasa tidak rela.Tirta tetap tidak bisa menenangkan dirinya. Dia membalas, "Kalian nggak usah membalas kebaikanku. Sayangnya, aku datang terlambat. Kalau nggak, kalian nggak akan disiksa sampai begini."Tirta menambahkan, "Tapi, aku bisa menyelamatkan kalian. Jadi, kalian nggak akan mati."Anggota Organisasi Publikasi menanggapi, "Dik, nggak usah. Semua ini nggak ada hubungannya denganmu. Terima kasih sudah bantu kami balas dendam. Guru orang-orang ini sangat hebat, sebaiknya kamu bawa temanmu kabur secepatnya."Anggota Organisasi Publikasi tertawa, lalu melanjutkan, "Kalau ada kehidupan selanjutnya, lebih baik jadi hewan daripada orang lemah. Biar nggak ditindas."Sebagian besar anggota Organisasi Publikasi tidak mengenal Tirta. Mereka sudah kehilangan semangat hidup setelah mengalami penderitaan yang luar biasa dan melihat keluarga mer
"Apa?" Ayu tercengang sekejap, lalu bertanya dengan kegirangan, "Tirta, kamu benar-benar sudah sembuh?""Tentu saja, kalau nggak percaya kamu periksa saja."Ayu langsung memalingkan pandangannya dengan wajah yang memerah."Syukurlah kalau sudah sembuh. Dengan begitu, kamu bisa cari wanita lain kelak at
Mendengar hal itu, Susanti jadi semakin malu. Dia berteriak marah, "Pergi sana! Pergi!"Setelah payudaranya disembuhkan, tubuh Susanti jadi tampak semakin menawan."Ini klinikku, aku berhak untuk tinggal di sini. Kalaupun kamu mau menangkapku, tetap saja nggak ada hak untuk mengusirku," balas Tirta de
Tirta tidak bisa menahan diri untuk melirik. Kemudian, dia menjawab, "Namaku Tirta Hadiraja, umurku 18 tahun. Aku dari Desa Persik.""Kamu baru 18 tahun, tapi sudah ingin mengikuti ujian medis?" tanya Julia dengan terkejut. Dia berhenti menulis dan meneruskan, "Kamu belajar ilmu medis dari mana?""Aut
Sesampainya di toko giok, Tirta memilih empat kalung giok bernilai 2 miliar lebih. Setiap desain kalung itu sangat unik. Wanita mana pun akan jatuh hati melihatnya.Tirta awalnya merasa tidak enak hati memilih kalung semahal itu, tetapi Irene bersikeras memaksa. Tirta tidak berkesempatan untuk menola







