Se connecter"Pembunuh!" Teriakan demi teriakan terdengar di ujung telingaku, perlahan kubuka kedua mata ini. Bayangan hitam berbaris rapi mengelilingi besi berjajar. 'Apa ini?' jerit ku pilu. Aku Valencia Scholce-luna Barion Pack-terkurung dalam keadaan terpasang. Sangat hina. Apa yang terjadi hingga keadaanku menjadi seperti ini? Suamiku-Alexander Scholce-meninggal dalam pelukanku dan aku difitnah sebagai pembunuhnya. Ini tidak adil, aku harus bangkit.
Voir plus"Bunuh! Bunuh."
Suara para serigala omega saling bersahutan membangunkan aku dari mimpi. Namun, saat kubuka kedua mataku keadaanku sangat di luar kendali dan sudah tidak bisa dikenali lagi. Pakaian khas Luna yang sedang kupakai sudah terkoyak, robek di beberapa tempat membuat tubuhku sedikit terekspos. "Apa yang terjadi, mengapa kalian mengikatku?" tanyaku bernada rendah. Pandanganku melihat sekeliling, ini adalah ruang sidang Pack Barion. Tempat bagi para pembuat kesalahan dalam Pack ini. Namun, mengapa tubuhku sudah dalam belenggu terdakwa. Sekali lagi, kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Satu per satu para petinggi Pack kutatap penuh tanya, tidak ada satupun yang berani membalas tatapanku itu. Mereka justru memilih menghindari kontak mata denganku. Sang Elder beberapa kali menghela napas panjang. "Elder aku bertanya padamu, ada apa ini sebenarnya, apa yang telah aku perbuat hingga harus menerima penghinaan ini?" tanyaku beruntun pada elder pack. Pria tua itu hanya menatapku dalam diam, bibir hitamnya sama sekali tidak bergerak mengeluarkan suara. Ku alihkan pandanganku pada beta, satu-satunya serigala kepercayaan suamiku saat masih hidup. Belum juga bibirku menyuarakan hati, pria senja itu berpaling ke arah yang lain seolah jijik melihatku. Aku tidak terima dengan keadaanku saat ini. Kedua kakiku dalam belenggu besi menyatu dengan pergelangan tangan, sangat terhina. Seorang luna sepertiku harus mengalami derita seperti ini. "Sudah jangan buang waktu, segera lakukan eksekusi pada pengkhianat itu, Elder!" Semua yang ada saat itu menatap padaku, hinaan dan cibiran meluncur deras tanpa bisa aku tekan lagi. Ini membuktikan bahwa kekuasaanku telah berakhir. Dari arah pintu utama masuk sesosok yang tidak asing bagiku, tetapi sosok itu sudah lama tidak terlihat di sekitar pack. Seketika suasana menjadi ramai begitu sosok itu terlihat jelas, saat itu juga aku mengalihkan pandanganku ke sumber keramain. Sosok Edmundo tertangkap penglihatan membuatku mengulum senyum. "Oh, akhirnya kau datang, Edmundo," ujarku lirih berharap ia mau membantu membebaskan aku dari tuduhan yang tidak jelas. Pria itu terus berjalan mendekat ke arahku, tatapanku begitu memohon untuk bantuan. Namun, Edmundo berjalan menjauh, ia lebih memilih berdiri di sisi Elder. Kedua pria beda usia itu terlibat pembicaraan serius yang dapat kulihat jelas. Ada pertengkaran kecil antara keduanya, tetapi hanya sesaat saja lalu kembali fokus pada posisiku. "Apa sebenarnya yang terjadi, Elder? Kau pasti salah orang, mana mungkin seorang Valencia membunuh alpha," kata Edmundo sangat jelas di pendengaranku. "Semua bukti mengarah ke sana, Tuan Edmundo. Saya tidak bisa menolak bahkan membuang bukti itu, ada saksi juga sebelum Alpha meregang nyawa," jelas salah satu warior tertinggi. "Kalian salah, justru aku menemukan Alpha sudah dalam keadaan seperti yang kalian lihat itu. Harusnya semua ini sudah diketahui oleh Beta Roland," ujarku membela diri. Apa yang coba aku ungkap sama sekali tidak dipedulikan, mereka justru sibuk meminta agar peradilan segera dimulai. Edmundo mengangkat kedua lengannya ke atas mencoba meredam suara gemuruh semua anggota pack dan berhasil, mereka menghentikan suara terfokus pada sosok Edmundo. "Untuk saat ini, aku yang bertanggungjawab atas diri Valencia hingga semua terbukti. Bagaimana?" "Tidak bisa, kami inginkan kematian wanita itu. Apalagi Valencia bukan lagi Luna kami sejak Alpha pergi tanpa rasa hormat." Suara keras seorang warior tertinggi, pria itu sangat inginkan nyawaku. Angin bertiup makin kencang disertai petir dan awan mendung. Bulan tidak terlihat, apalagi sinarnya sama sekali tidak menyentuh tanah Barion. Ada kelegaan yang menjalar di setiap denyut nadiku, bahkan serigala saya sudah terlelap dalam mimpinya. Dengan lembut Edmundo mengulurkan tangannya padaku, ia membantuku berdiri dan menuntunku menjauh dari pusat keramaian. Aku hanya diam mengikuti semua yang ia perintahkan meskipun ada setitik ragu dengan caranya memperlakukan aku. Tidak perlu waktu lama akhirnya mansion pribadi milik Edmundo dapat ku lihat dengan jelas. Dinding yang bercat abu-abu berdiri menjulang menghiasi hutan lebat wilayah barat Pack Barion, sedangkan kekuasaan utama ada di titik tengah Hutan Arios. Kedua mataku terasa perih, ada sesuatu yang menyerang retinaku. "Edmundo, mengapa tidak ada lampu di mansion kamu?" Gelap, pandanganku seakan tertutup oleh kabut hitam tetapi kabut ini berbeda. "Ada apa denganmu? Aku berdiri di sini, apa kau tidak melihatku?" Suara Edmundo sangat jelas di ujung telingaku, tetapi sosoknya sama sekali tidak tertangkap oleh retinaku. Serigala saya pun tidak dapat menghirup aroma serigala Edmundo. Berbagai pertanyaan muncul di otakku. Ada apa ini, apakah karena kabut hitam tadi? "Sudah jangan banyak berpikir yang tidak jelas, Valencia. Untuk saat ini semua yang ada pada tubuhmu adalah milikku." Bisikan Edmundo seketika membuat bulu halus leherku meremang, dengan cepat lenganku bergerak menghentak ke arah sumber suara hingga terdengar suara pertemuan dua daging. Kulit kasar berbulu kurasakan saat itu juga aku melangkah mundur menghindari kontak fisik dengan adik iparku. "Jangan kurang ajar kau, Edmundo. Aku kakak iparmu!" Suaraku meninggi merasakan gerakan yang tidak biasa yang akan dilakukan oleh Edmundo. Pria itu tidak merubah sikap, ia justru merangsek maju hingga hembusan napasnya dapat kurasakan. Aku berjalan mundur sampai menempel pada dinding, kuraba sekitar dimana aku berdiri saat itu. Kemudian tertawa lirih tepat di ujung telingaku. "Hehe, jangan khawatir, saat ini akulah pelindungmu. Maka ada harga yang harus kau bayar untuk semua usahaku ini," kata Edmundo sangat jelas di ujung telingaku sambil menjilatnya. Seketika lenganku terangkat, melayang menampar wajah Edmundo hingga terdengar jelas pertemuan dua daging. "Edmundo!" "Haha, apalagi yang kau banggakan dari tubuhmu, Valencia. Saat ini saja kau buta dan tidak punya kekuatan serigala, dia sudah terluka. Jadi menurutlah padaku, layani aku selayaknya seorang jalang!" Aku terkesiap mendengar kalimatnya, aku buta dan harus melayani pria ini sebagai seorang jalang? Oh, sungguh malang nasibku. Apakah kematian Alpha menyisakan kepedihan seumur hidupku? Tidak, tidak bisa aku harus bangkit. Semua ini harus ada akhir dan kemenangan ada di tanganku. Aku harus segera bertindak, tetapi siapa koloniku? Saat ini tubuhku, jiwaku bahkan serigalaku terkurung dalam kastil abu-abu milik Edmundo. Aku tidak boleh gegabah, semua harus tersusun dengan rapi dan sempurna. "Hai, jangan berdiri saja di sana. Cepat datang merangkak ke arahku, lakukan seperti yang kuinginkan!" Suara Edmundo yang keras dan penuh tekanan mendera otakku. Saat itu juga aku melakukan semua yang diperintahkan olehnya. Tubuh lemahku tidak bisa diajak kerja sama, perjalananku untuk sampai di depan Edmundo membutuhkan waktu yang cukup lama hingga membuat pria itu naik darah. "Bangsat, cepat datang!" Ctar! Tubuhku makin terasa lemah, apalagi cambuk datang menyapa punggungkku. Ingin teriak tetapi suaraku tercekat dalam tenggorokan, kedua mataku terasa pedih dan berkabut. Apa yang terjadi dalam organ tubuhku hingga sulit sekali digerakkan?Suara langkah kaki yang tegas meninggalkan beban berat yang mungkin tercetak di lantai. Aku memusatkan penglihatan dan pendengaran hanya pada suara tersebut. Satu. Dua. Sepertinya tidak hanya satu orang yang datang. Kutelan ludahku kasar, kedua tanganku mengepal kuat meremas sprei putih. Perlahan pintu kayu terbuka, untuk pertama kali muncul adalah dua wajah wanita cantik dengan membawa baki berisi beberapa helai kain merah keemasan. Kutatap wajah wanita itu, tidak reaksi. Mungkin ini hanya seorang omega biasa yang dipekerjakan sebagai pelayan. Gerakannya terlihat canggung dan kaku, sesekali pandangannya melirik ke arahku. Hembusan napasnya terdengar tertekan. Dahiku berkerut saat di belakangnya terlihat sosok wanita yang lain. Wanita dengan pakaian berbeda dan lebih terlihat mendominasi dari sosok dua wanita sebelumnya. "Cuih, inikah wanita yang diinginkan oleh Alpha kita? Terlihat kurus dan tidak bertenaga."Bibirnya melontarkan kalimat yang tidak enak didengar. Kemudian, ta
Seperti waktu itu, ingatanku masih jelas. Perkelahian yang sangat menguras tenaga hingga semua berakhir memilukan. Bahkan keempat alpha itu, wajahnya membuatku puas. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.Empat Alpha itu saling bertukar pandang selama sepersekian detik. Tatapan mereka dipenuhi kewaspadaan, tetapi juga tekad yang sama.Menyerang."Hyaaa!"Hampir bersamaan, tiga Alpha yang sejak tadi melayang di udara melesat lebih dulu. Edmundo menyusul dari sisi kanan, sementara Luxion menggeram keras, memaksa tubuh naganya kembali bergerak meski luka-luka besar masih menganga.Empat serangan mematikan datang dari empat arah berbeda.Namun, Alpha Gio tetap berdiri tegak.Ia bahkan tidak bergeming sedikit pun.Aku segera beringsut mundur. Tubuhku yang sudah kelelahan jelas hanya akan menjadi beban jika memaksakan diri ikut bertarung.'Laura, cari tempat yang aman.''Mengerti.'Aku melompat menjauh hingga puluhan meter, mendarat di atas bongkahan batu raksasa yang ma
Aku masih menatap tubuh Luxion yang terkapar ketika lututku mendadak kehilangan tenaga.Bruk.Pandanganku berkunang-kunang. Pertarungan panjang melawan Luxion, serangan mendadak dari Edmundo, hingga tekanan aura empat Alpha secara bersamaan benar-benar telah menguras seluruh kekuatan yang kumiliki."Valen."Suara Alpha Gio terdengar pelan, tetapi cukup untuk menyadarkanku.Aku mengangkat kepala. Pria itu telah berdiri tepat di hadapanku. Tatapan tajamnya kini berubah jauh lebih tenang."Kau tidak perlu memaksakan diri lagi.""Aku... masih bisa berdiri."Aku mencoba bangkit. Namun, baru selangkah melangkah, tubuhku kembali limbung.Seandainya Alpha Gio tidak lebih dulu menahan bahuku, mungkin wajahku sudah lebih dulu menghantam tanah."Keras kepala."Ia mengembuskan napas pendek."Kalau terus memaksa seperti ini, Laura pun akan ikut terkena dampaknya."Mendengar nama Laura disebut, aku langsung mengurungkan niat untuk membantah. Dalam diam, pikiranku bergerak menimbulkan pertanyaan. Da
Ledakan dahsyat itu mengguncang langit. Gelombang kejutnya memaksa tubuhku terlempar puluhan meter, sementara udara di sekelilingku dipenuhi debu, bara api, dan serpihan batu yang beterbangan.Bruk!Tubuhku menghantam sebuah tebing hingga retakan besar menjalar ke segala arah. Napasku memburu. Darah hangat mengalir dari sudut bibir dan beberapa luka baru mulai bermunculan di sekujur tubuh serigalaku."Sial...."Kucoba bangkit, tetapi tubuhku terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Serangan bertubi-tubi yang kulancarkan sejak melawan Luxion mulai menguras seluruh tenagaku. Bahkan, kemampuan regenerasiku kini tidak lagi secepat tadi.Di hadapanku, Luxion menyeringai penuh kemenangan. Di sisi lain, Edmundo berdiri dengan kedua tangan terlipat, sementara tiga sosok berjubah hitam masih melayang di udara, mengepung dari tiga arah berbeda.Mereka benar-benar tidak memberiku sedikit pun celah untuk bernapas."Valen," ujar Edmundo sambil terkekeh pelan. "Kesombonganmu akhirnya menjadi akhir
Untuk sesaat aku terdiam, menatap dalam pada sosok Kimberly. Makhluk kecil yang terlihat begitu menyedihkan. Ada sesuatu yang kulihat sedikit berbeda dari makhluk lainnya. Meskipun tubuhnya kecil, dia mempunyai tenaga yang tidak bisa dianggap enteng.Dari struktur tubuhnya ada beberapa yang menurut
Keputusan itu akhirnya keluar dari bibirku tanpa ragu. Aku menerima tawaran Gio.Bukan karena tekanan. Bukan pula karena keadaan. Tapi karena untuk pertama kalinya … aku memilih jalan ini dengan kesadaranku sendiri.Dan sejak hari itu, semuanya berubah. Gio tidak mengekangku. Justru sebaliknya.Ia
Gio terus menatapku. Tatapan itu tidak tajam, namun dalam—seolah ia benar-benar menunggu jawaban yang semalam menggantung di antara kami. Tidak ada desakan, tidak juga keraguan. Hanya keyakinan yang diam-diam menuntut kepastian dariku.Aku menghela napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur.“Beri
Uap hangat masih membalut kulitku saat waktu terasa berjalan lambat di dalam kolam itu. Entah berapa lama kami berada di sana, tenggelam dalam keheningan yang justru terasa penuh makna.Aku memejamkan mata, pertanyaan Alpha terus mengalun di ujung telingaku. Bukan aku tidak memedulikan lelaki itu,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.