LOGINHumaira melihat kekuatan tembakan panah Tirta sangat lemah, jadi dia menyimpulkan orang yang menyerangnya secara diam-diam sebelumnya pasti bukan Tirta.Sekarang kemunculan Neiva membuktikan tebakan Humaira benar. Ekspresi Humaira menjadi serius.Tiba-tiba, Humaira tersadar. Dia bergumam, "Tapi, bukan bulu ini yang melukaiku tadi .... Gawat, takutnya pemuda ini masih punya penyokong lain. Hanya saja, orang itu belum muncul!"Humaira langsung terbang jauh tanpa ragu. Bahkan dia tidak bisa merasakan keberadaan orang itu. Pasti kemampuan orang itu jauh lebih kuat darinya.Sebelum pergi, Humaira tidak lupa mengambil dua artefak di gubuk jerami. Dia menegaskan, "Hei! Kalau kamu berani menculik dua tahanan penting Sekte Formasi Surgawi, kamu pasti akan menghadapi pembalasan dendam dari sekte kami!"Whoosh! Neiva sudah melepaskan tali Busur Matahari. Bulunya memang bukan barang biasa, bahkan lebih hebat dari artefak. Tentu saja kekuatan cahaya panah tidak bisa mengimbangi bulu itu.Tembakan i
Setelah itu, sebenarnya Humaira berniat mencari orang yang menembakkan panah. Dia baru menyadari semua orang sudah dibunuh sesudah mendarat. Humaira tidak peduli lagi, dia buru-buru kembali ke puncak gunung.Anjing hitam melihat orang yang menyerap kekuatan spiritualnya. Dia menghampiri Humaira, lalu berdiri dan marah-marah, "Beraninya kamu bilang kami pecundang! Dasar wanita jalang, kamu sombong sekali! Aku tunjukkan kehebatan kami! Tirta, maju!"Tirta yang kesal menegur, "Anjing sialan, minggir!"Kemudian, Tirta langsung mengeluarkan Busur Matahari. Dia memang tahu dirinya tidak mampu melawan Humaira, tetapi dia ingin berusaha. Selain itu, Tirta mengaktifkan gerbang ketiga dari Teknik Rahasia Delapan Gerbang untuk meningkatkan kemampuannya hingga tingkat pembentukan jiwa tahap kelima."Um?" gumam Humaira. Siapa sangka, dia langsung mengamuk begitu melihat Busur Matahari. Humaira menegaskan dengan alis berkerut, "Penjahat, ternyata kamu yang diam-diam menembakku! Kalau hari ini aku ng
Anjing hitam menghampiri Tirta, lalu menambahkan, "Ingatan mereka sudah dikorek, bukan disembunyikan. Asalkan bisa menemukan orang yang mengorek ingatan mereka, kamu baru bisa membantu mereka memulihkan ingatan."Wanita paruh baya ketakutan. Dia bertanya dengan ekspresi gugup, "Kak ... anjing ini bisa bicara. Jangan-jangan ... dia itu siluman?"Pria paruh baya melindungi wanita itu dan berbicara dengan tatapan tegas, "Jangan takut, Dik. Selama ada aku di sisimu, aku nggak akan biarkan siapa pun menyakitimu."Anjing hitam yang tidak senang memprotes, "Aku ini keturunan anjing langit, bukan ...."Sebelum menyelesaikan ucapannya, anjing hitam ditendang dan ditegur Tirta, "Anjing sialan, kamu membuat Paman dan Bibi takut. Cepat minggir!"Anjing hitam tidak terima. Dia mengomel, "Pemuda sialan, kamu benar-benar nggak tahu berterima kasih! Apa kamu lupa tadi aku bersusah payah membantumu memecahkan formasi? Apa kalian bisa masuk tanpa bantuanku?"Tirta bicara terus terang, "Itu karena aku me
Mendengar perkataan pria paruh baya, Elisa tampak terkejut. Dia menanggapi dengan suara bergetar, "Nggak mungkin. Ayah, Ibu, aku memang anak kalian. Selain aku, kalian punya putri lain. Masa kalian nggak ingat? Kalian ... meninggalkan kami ... waktu kami masih bayi ...."Setiap melontarkan satu kata, hati Elisa seperti diiris pisau tajam.Pria paruh baya menunjukkan ekspresi bingung, sedangkan wanita paruh baya berbicara dengan yakin, "Nona, kami memang nggak punya anak. Kamu pasti salah ingat."Wanita paruh baya juga tidak ingat masalah seperti ini pernah terjadi.Elisa tidak bisa menerima kenyataan ini. Wajahnya pucat pasi. Dia yang terpukul bergumam, "Kenapa bisa begini? Apa kita memang salah cari orang? Jangan-jangan mereka memang bukan orang tuaku?"Tirta menyimpan Busur Matahari. Dia yang merasa kasihan pada Elisa menghibur, "Bi Elisa, jangan cemas. Energi di tubuh mereka menunjukkan mereka punya hubungan darah denganmu. Mereka itu orang tuamu. Pasti sesuatu terjadi pada mereka,
Elisa menanggapi sembari mengernyit, "Um, semoga begitu. Tapi, entah kenapa aku merasa ada yang nggak beres dengan orang tuaku."Tirta bertanya, "Apa yang nggak beres?"Elisa menjawab, "Aku juga nggak tahu jelas. Nanti kita baru bisa tahu setelah menyelamatkan mereka. Mungkin ... aku yang curigaan."Whoosh! Seberkas cahaya putih masuk ke dalam tubuh Tirta. Tiba-tiba, Tirta menggenggam Busur Matahari.Tirta berucap dengan ekspresi terkejut, "Eh? Apa ini?"Terdengar suara Genta. "Itu barang berharga. Cuma kultivator tingkat pencapaian agung yang bisa mengerahkan seluruh kekuatan barang itu. Kulihat itu barang bagus, jadi aku merebutnya biar kamu bisa menggunakannya."Tirta bertanya, 'Kak, bagaimana dengan orang-orang di kaki gunung? Apa kamu sudah membunuh mereka semua?'Tirta tidak tahu kekuatan Busur Matahari. Kala ini, dia juga malas bertanya. Tirta langsung memasukkan busur itu ke dalam Cincin Penyimpanan.Genta menyahut, "Aku nggak membunuh wanita berpakaian merah itu dan klona makh
Gorgon dan Modeus mendesak, "Cepat turunkan Busur Matahari!"Ternyata Magani tiba-tiba mengeluarkan Busur Matahari lagi dengan ekspresi sinis. Dia membidik Gorgon dan Modeus.Menghadapi Gorgon dan Modeus yang marah, Magani bertanya dengan tenang, "Kenapa aku harus turunkan Busur Matahari? Bagaimana caranya aku membunuh orang kalau menurunkannya?"Kemudian, Magani menarik tali Busur Matahari dengan mudah. Cahaya panah yang mengandung kekuatan dahsyat langsung terbentuk. Perbedaan kekuatan cahaya ini berbeda berkali-kali lipat dengan sebelumnya. Tembakan kali ini seakan-akan memang bisa menjatuhkan matahari.Modeus berteriak sembari mundur, "Gawat! Kak Gorgon, cepat mundur! Pria tua ini sudah gila!"Gorgon sudah menghindar dari tadi. Dia memelototi Magani dan menanggapi, "Tadi aku merasa dia agak aneh. Sepertinya tubuhnya diambil alih orang lain."Magani tertawa sinis, lalu membalas, "Aku mengambil alih tubuhnya? Haha, tubuh ini nggak pantas untukku. Aku cuma memanfaatkannya untuk membun
Jelas sekali, kesedihannya itu adalah karena kehadiran Susanti dan Agatha yang mendadak."Oke, Kak." Tirta berlari kecil ke arahnya. Melihat tidak ada orang di sekitarnya, Tirta memeluk pinggang Melati yang ramping. "Kak, dadamu masih sakit? Gimana kalau kupijat nanti setelah mereka semua tertidur?""
"Pak Mauri, kamu bahkan nggak hormati Pak Amal sama sekali?" teriak Joshua yang tidak bisa menahan amarahnya lagi."Untuk kasus ini, aku nggak akan hormati siapa pun. Kalau masih ada cara lain, silakan saja kalian gunakan semuanya!" bentak Mauri sambil memukul meja."Bagus, bagus sekali! Karena Pak Ma
Shinta merasa agak malu saat menanyakan hal ini kepada Tirta. Setiap wanita pasti memiliki kekhawatiran terhadap bentuk payudara mereka. Biasanya Shinta tidak keberatan, tetapi dia merasa tidak puas setelah melihat tubuh seksi Naura dan Nabila."Oh, nggak ada efek seperti itu. Kamu masih muda. Nanti
"Haha. Kelak aku bakal menjadi murid ahli bela diri terhebat!" seru Bima. Dia merasa bangga dan terhormat mendengar orang-orang memuji Tirta."Kamu benar. Sekarang Tirta cuma perlu mempelajari teknik." Lutfi tertawa, lalu meneruskan, "Aku ingin tanya, apa kamu berniat mempelajari ilmu bela diri?""Aku







