Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?

Maukah Kau Menemaniku Pergi Ke Dunia Dongeng?

last updateLast Updated : 2026-02-26
By:  suki_luxuUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Not enough ratings
14Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Lola, Lulu, dan Lala---tiga gadis kecil dengan imajinasi sebesar langit---sangat merindukan petualangan di dunia dongeng. Suatu hari, mereka menemukan sebuah televisi tabung tua yang tampak usang... namun ternyata menyimpan keajaiban luar biasa: layar bercahayanya mampu membuka gerbang menuju dunia penuh sihir, makhluk fantastis, dan kisah-kisah menakjubkan!

View More

Chapter 1

Prolog

Pagi hari di Ibu Kota Anduvel. Sinar matahari pertama yang hangat dan keemasan—bukan dari matahari biasa, melainkan dari kristal matahari raksasa yang melayang tinggi di langit—menyusup melalui celah tirai jendela, menyentuh wajah seorang gadis yang sedang tidur.

Seorang perempuan muda bernama Lola, kini berusia lima belas tahun, perlahan-lahan terbangun dari alam mimpinya. Dia duduk di atas kasurnya, tubuhnya masih terbungkus selimut lembut berwarna pastel. Tangannya yang sudah lebih panjang dan ramping mengusap wajahnya yang masih lesu dan berbekas bantal. Rambutnya yang berwarna kuning pucat, yang dulu seperti sinar mentari musim semi, kini tumbuh lebih panjang hingga ke bahu, dan terlihat berantakan setelah semalaman. Matanya yang berwarna hijau muda kekuningan—masih jernih seperti kolam hutan, namun kini lebih dalam—terlihat buram dan berat, tanda bahwa dia belum sepenuhnya puas dengan tidurnya.

Dia melenguh kecil, suara serak pagi hari, sambil mengusap-usap tengkuknya yang pegal. Dengan gerakan yang masih penuh kelambanan, dia akhirnya meninggalkan pelukan kasur kesayangannya. Kasur itu seperti sahabat setia baginya, meskipun Lola tumbuh menjadi gadis yang tetap bersemangat dan tak kenal lelah dalam berpetualang, ritual bangun tidur tetaplah momok yang harus dihadapi dengan malas. Ya, bukan hanya dia. Di mana pun, baik di Bumi maupun di Tanah Kebahagiaan, kebanyakan manusia—dan mungkin makhluk ajaib—pasti akan merasakan kemalasan yang mendalam saat harus meninggalkan kehangatan dan kenyamanan kasur, apalagi jika malam sebelumnya mereka melakukan pekerjaan atau petualangan yang melelahkan. Keinginan untuk berkubur di kasur seharian adalah keinginan universal.

Lola lalu berjalan pelan menuju sebuah meja rias yang terbuat dari kayu berukir halus. Di atasnya terdapat sebuah cermin bulat besar yang bingkainya dihiasi ukiran daun dan bunga. Dia duduk di kursi kecil di depannya. Kepalanya beberapa kali nyaris menunduk tertidur lagi, sebelum akhirnya dia menepuk kedua pipinya sendiri dengan lembut, lalu mengucek-ngucek matanya untuk mengusir sisa kantuk.

Dia kemudian menatap wajahnya sendiri di dalam cermin. Garis rahangnya terdefinisi, pipinya yang dulu tembam kini lebih ramping, tapi cahaya nakal dan semangat petualang di matanya masih sama. Ruangan menjadi hening sejenak, sunyi yang begitu pekat sehingga seolah-olah konsep suara itu sendiri menghilang dari dunia.

Namun, keheningan itu pecah oleh helaan napas panjang dan dalam dari Lola. Dia menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan, siku bertumpu di meja. Lalu, dengan suara lirih yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan mungkin bayangan di cermin, dia bergumam:

"Hah... kira-kira... sudah berapa tahun kami terjebak di dunia ini?" dia memiringkan kepalanya, matanya yang berwarna musim semi itu menatap refleksi dirinya yang penuh pertanyaan. "Kalau dipikir-pikir lagi, aku, Lulu, dan Lala pertama kali datang ke dunia ini saat kami berusia..." dia berhenti, membuka mulutnya seolah menghitung, sambil menatap langit-langit kamar yang dicat dengan motif awan. "... enam tahun? Berarti... kami sudah berada di sini selama kurang lebih sembilan tahun?"

Diam sejenak. Ekspresinya berubah, menjadi lebih kontemplatif. "Walaupun dunia ini... sungguh ajaib dan menyenangkan," dia berhenti sejenak untuk memikirkan beberapa hal, nada suaranya mengandung kerinduan yang samar, "Tapi... benar juga kata Tn. Apel dulu. Dunia asal adalah dunia terbaik."

"Hehe," Lola terkekeh ringan, sebuah senyum kecil yang penuh nostalgia muncul di bibirnya. Tangan kanannya dengan santai membenarkan helaian rambutnya yang berantakan. "Aku jadi teringat... waktu itu..."

.....

Sembilan tahun yang lalu—menurut perhitungan Lola.

"Di balik kenyataan dunia yang berisik, di balik kabut kenyataan dunia yang riuh dan penuh dengan hiruk pikuk, di seberang lautan waktu yang sering kali terasa berat, terselip sebuah negeri yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang masih memiliki mata hati yang jernih. Di sanalah, di bawah langit yang selalu berwarna senja keemasan, tawa tak pernah benar-benar padam. Itu hanya bergulung-gulung seperti ombak lembut, menyapu bukit-bukit hijau dan menyelinap di antara dedaunan yang berbisik.

"Di sana, segala sesuatu hidup dalam harmoni yang ajaib. Buah-buahan di pohon tidak hanya berwarna cerah, tetapi juga dapat berbicara, berbagi kisah manis tentang matahari yang menyirami mereka atau tentang burung yang bersiul di pagi hari. Apel merah akan berbagi lelucon renyah, jeruk kuning akan bercerita tentang petualangannya dari kuncup menjadi buah, dan anggur ungu akan menyanyikan melodi-melodi riang berkelompok.

"Yang lebih ajaib lagi adalah pohon-pohonnya tidak tumbuh dari tanah biasa, melainkan dari cahaya murni. Akar-akarnya adalah jalinan sinar bulan yang dingin dan lembut, batangnya adalah tiang cahaya matahari yang hangat, dan dahan-dahannya merentang seperti aurora yang menari. Daun-daunnya adalah kelap-kelip kunang-kunang yang abadi, menerangi jalan-jalan setapak yang dihiasi kerikil bercahaya.

"Di dunia itu, udara terasa seperti pelukan yang hangat. Sungainya mengalirkan air jernih yang rasanya seperti harapan yang baru lahir. Bebatuan di tepiannya, jika didengar dengan saksama, berdetak berirama seperti hati yang gembira. Bahkan angin yang berhembus pun seolah-olah membawa serta gumaman manis dari kenangan-kenangan indah yang terkumpul dari seluruh penjuru alam semesta.

"Konon, tanah ini adalah impian tersembunyi setiap jiwa---sebuah tempat di mana semua beban menjadi ringan, semua luka menemukan obatnya, dan hati yang keras sekalipun akan luluh menjadi kelembutan. Ini adalah tanah di mana semua orang akan menemukan kebahagiaannya sendiri, di mana tidak ada ruang untuk kesedihan yang lama, karena hanya kebahagiaan murni yang diizinkan untuk tinggal dan berakar.

"Dan siapapun yang berhasil mencapainya, meski hanya dalam mimpi, akan bangun dengan senyum terukir di bibir dan secercah cahaya negeri ajaib itu, bersemayam abadi di dalam kalbu mereka.

"Itulah tanah impian, tempat di mana jiwa-jiwa yang lelah menemukan pelabuhan terakhirnya. Tanah itu bernama... Tanah Kebahagiaan."

Dengan senyuman yang dalam, seorang pria lanjut usia menutup perlahan buku di pangkuannya. Sampulnya usang namun penuh kenangan, bergambar seorang gadis yang sedang mengangkat tangannya ke langit malam, dikelilingi oleh cahaya kunang-kunang yang seolah-olah sedang menari dalam ritual. Sinar-sinar kecil itu seperti biduan-biduan samar dari alam mimpi, menari di antara jari-jari gadis itu, seolah sedang menuliskan puisi tanpa kata di atas kanvas gelap langit.

Pria itu... atau lebih tepat dipanggil dengan penuh kasih, Kakek itu, memandang keluar jendela. Rambutnya telah sepenuhnya memutih, nyaris gundul, meninggalkan mahkota kebijaksanaan yang halus.

Dia sedang bersandar dengan tenang di dinding rumah kecilnya, yang terbuat dari kayu-kayu tua yang mungkin telah bercerita lebih banyak daripada manusia. Di atas pangkuannya yang hangat, terbaring seorang gadis kecil dengan rambut panjang berwarna kuning pucat yang terurai seperti sinar mentari pertama di musim semi. Itu lembut, hangat, dan menjanjikan kehidupan. Warna rambutnya itu seperti dedaunan muda yang baru saja berani mengintip dari ujung ranting, setelah sekian lama tertidur.

Gadis kecil itu telah terlelap, napasnya teratur dan damai. Di balik kelopak matanya yang tertutup, tersembunyi pupil mata berwarna senada dengan rambutnya: hijau muda kekuningan yang jernih, seperti kolam di hutan yang memantulkan cahaya musim semi. Matanya seperti jendela menuju dunia di mana tumbuhan-tumbuhan mulai merangkak keluar setelah terkubur lama oleh salju musim dingin.

Rumah kayu Kakek itu berdiri kokoh di tepi hutan, menyendiri. Tidak ada tetangga di sekitarnya, hanya pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang, rerumputan yang bergoyang mengikuti irama angin, dan langit luas sebagai atapnya. Namun, kesendirian itu bukanlah kesepian. Itu adalah kemewahan yang tak ternilai.

Di sini, Kakek bisa mendengar suara kicauan burung-burung yang saling bersahutan dari dahan ke dahan, bukan deru mesin atau klakson mobil yang memekik kesal karena kemacetan. Sebagai manusia dengan usia lanjut usia, dia hanya menginginkan ketenangan.

Selain itu, ada hal yang tak dapat didengar di kota---suara alam. Di hutan, dia bisa mendengar bisikan angin yang membelai daun, gemericik sungai kecil di kejauhan, dan kadang-kadang, lolongan serigala yang samar dari jantung hutan, semuanya merangkai simfoni alam yang jauh lebih merdu daripada suara apa pun di kota.

Di dalam kesunyian yang hidup itulah, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, Kakek menatap wajah gadis kecil yang sedang tertidur lelap. Buku dongeng di sampingnya belum selesai dibacakan, dia menghentikannya karena gadis kecil yang menjadi alasannya membaca itu telah terlelap.

"Hehe, selalu manjur," suara gumaman Kakek terdengar serak dan hangat, seperti bunyi gesekan dua batang kayu tua. Suaranya mengisi ruang kecil yang harum bau kayu pinus dan buku-buku lama. "Dengan satu, dua halaman saja, matamu sudah berat, dan dunia mimpi pun menyapamu. Kakek jadi bingung, Nak," Kakek berhenti sejenak saat dia membelai lembut rambut kuning pucat itu dengan tangan-tangannya yang telah dihiasi oleh keriput. "Kau ini manusia sungguhan, atau justru makhluk mimpi yang tersesat ke dunia nyata? Makhluk yang tubuhnya teranyam dari embun pagi dan napasnya adalah angin sepoi-sepoi?"

Gadis kecil itu hanya balas bernapas dalam-dalam, tenggelam dalam alam bawah sadar di mana kisah-kisah dari halaman pertama tadi mungkin menjelma menjadi petualangan yang sepenuhnya miliknya. Senyum Kakek mengembang, penuh kasih dan sedikit rasa kagum pada keajaiban sederhana ini. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah polos sang cucu ke arah jendela kayu yang terbuka.

Di luar, hari telah merangkak maju menuju senja. Langit seolah-olah dicelup ke dalam lelehan emas cair dan madu. Sinar mentari sore yang miring menyapu lantai hutan, itu menyulap pepohonan menjadi siluet-siluet yang megah dan menghidupkan debu-debu di udara menjadi partikel emas yang menari-nari. Ratusan kunang-kunang mulai mengeluarkan cahayanya yang tampak indah mempesona.

Lalu, dari balik semak-semak dan rerumputan, muncullah nyanyian jangkrik. Bunyinya bergetar, bergema, menyebar dari satu titik ke titik lain, sebelum akhirnya itu menyebar ke seluruh hutan, bagai rangkaian lonceng yang tak terlihat. Bagi banyak telinga di kota, suara itu mungkin hanya dianggap sebagai derau, gangguan yang mengganggu keheningan. Tetapi di telinga Kakek, yang telah lama menjadi pendengar setia bumi, bunyi itu adalah musik paling murni.

Dia mendengarkannya dengan mata setengah terpejam, seakan-akan bisa melihat setiap getaran suara itu. "Dengarkan itu," Kakek mengalihkan pandangannya ke arah sang cucu sambil mengelus kepalanya dengan lembut, berbisik kepada gadis kecil yang tertidur, meski tahu dia takkan mendengar. "Suara mereka tulus, Nak. Tak ada pretensi. Mereka tidak berbunyi untuk menyenangkan siapapun, tidak pula untuk berbohong. Mereka hanya menyatakan keberadaan mereka, merayakan hidup, dan memanggil yang lain. Itu adalah nyanyian kebenaran. Itu adalah suara paling jujur."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
14 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status