MasukLola, Lulu, dan Lala telah terjebak di Tanah Kebahagiaan selama sembilan tahun. Tanah Kebahagiaan adalah sebuah dunia yang dipenuhi oleh Ramuan, Grimoire, dan Oraclis yang dapat membuat seseorang menjadi Penyihir Oracle. Inilah kisah petualangan mereka di dunia yang diikat oleh: "Hukum Trinitas Sihir Tua dari Awal Zaman."
Lihat lebih banyakPagi hari di Ibu Kota Anduvel. Sinar matahari pertama yang hangat dan keemasan—bukan dari matahari biasa, melainkan dari kristal matahari raksasa yang melayang tinggi di langit—menyusup melalui celah tirai jendela, menyentuh wajah seorang gadis yang sedang tidur.
Seorang perempuan muda bernama Lola, kini berusia lima belas tahun, perlahan-lahan terbangun dari alam mimpinya. Dia duduk di atas kasurnya, tubuhnya masih terbungkus selimut lembut berwarna pastel. Tangannya yang sudah lebih panjang dan ramping mengusap wajahnya yang masih lesu dan berbekas bantal. Rambutnya yang berwarna kuning pucat, yang dulu seperti sinar mentari musim semi, kini tumbuh lebih panjang hingga ke bahu, dan terlihat berantakan setelah semalaman. Matanya yang berwarna hijau muda kekuningan—masih jernih seperti kolam hutan, namun kini lebih dalam—terlihat buram dan berat, tanda bahwa dia belum sepenuhnya puas dengan tidurnya. Dia melenguh kecil, suara serak pagi hari, sambil mengusap-usap tengkuknya yang pegal. Dengan gerakan yang masih penuh kelambanan, dia akhirnya meninggalkan pelukan kasur kesayangannya. Kasur itu seperti sahabat setia baginya, meskipun Lola tumbuh menjadi gadis yang tetap bersemangat dan tak kenal lelah dalam berpetualang, ritual bangun tidur tetaplah momok yang harus dihadapi dengan malas. Ya, bukan hanya dia. Di mana pun, baik di Bumi maupun di Tanah Kebahagiaan, kebanyakan manusia—dan mungkin makhluk ajaib—pasti akan merasakan kemalasan yang mendalam saat harus meninggalkan kehangatan dan kenyamanan kasur, apalagi jika malam sebelumnya mereka melakukan pekerjaan atau petualangan yang melelahkan. Keinginan untuk berkubur di kasur seharian adalah keinginan universal. Lola lalu berjalan pelan menuju sebuah meja rias yang terbuat dari kayu berukir halus. Di atasnya terdapat sebuah cermin bulat besar yang bingkainya dihiasi ukiran daun dan bunga. Dia duduk di kursi kecil di depannya. Kepalanya beberapa kali nyaris menunduk tertidur lagi, sebelum akhirnya dia menepuk kedua pipinya sendiri dengan lembut, lalu mengucek-ngucek matanya untuk mengusir sisa kantuk. Dia kemudian menatap wajahnya sendiri di dalam cermin. Garis rahangnya terdefinisi, pipinya yang dulu tembam kini lebih ramping, tapi cahaya nakal dan semangat petualang di matanya masih sama. Ruangan menjadi hening sejenak, sunyi yang begitu pekat sehingga seolah-olah konsep suara itu sendiri menghilang dari dunia. Namun, keheningan itu pecah oleh helaan napas panjang dan dalam dari Lola. Dia menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan, siku bertumpu di meja. Lalu, dengan suara lirih yang hanya ditujukan untuk dirinya sendiri dan mungkin bayangan di cermin, dia bergumam: "Hah... kira-kira... sudah berapa tahun kami terjebak di dunia ini?" dia memiringkan kepalanya, matanya yang berwarna musim semi itu menatap refleksi dirinya yang penuh pertanyaan. "Kalau dipikir-pikir lagi, aku, Lulu, dan Lala pertama kali datang ke dunia ini saat kami berusia..." dia berhenti, membuka mulutnya seolah menghitung, sambil menatap langit-langit kamar yang dicat dengan motif awan. "... enam tahun? Berarti... kami sudah berada di sini selama kurang lebih sembilan tahun?" Diam sejenak. Ekspresinya berubah, menjadi lebih kontemplatif. "Walaupun dunia ini... sungguh ajaib dan menyenangkan," dia berhenti sejenak untuk memikirkan beberapa hal, nada suaranya mengandung kerinduan yang samar, "Tapi... benar juga kata Tn. Apel dulu. Dunia asal adalah dunia terbaik." "Hehe," Lola terkekeh ringan, sebuah senyum kecil yang penuh nostalgia muncul di bibirnya. Tangan kanannya dengan santai membenarkan helaian rambutnya yang berantakan. "Aku jadi teringat... waktu itu..." ..... Sembilan tahun yang lalu—menurut perhitungan Lola. "Di balik kenyataan dunia yang berisik, di balik kabut kenyataan dunia yang riuh dan penuh dengan hiruk pikuk, di seberang lautan waktu yang sering kali terasa berat, terselip sebuah negeri yang hanya bisa ditemukan oleh mereka yang masih memiliki mata hati yang jernih. Di sanalah, di bawah langit yang selalu berwarna senja keemasan, tawa tak pernah benar-benar padam. Itu hanya bergulung-gulung seperti ombak lembut, menyapu bukit-bukit hijau dan menyelinap di antara dedaunan yang berbisik. "Di sana, segala sesuatu hidup dalam harmoni yang ajaib. Buah-buahan di pohon tidak hanya berwarna cerah, tetapi juga dapat berbicara, berbagi kisah manis tentang matahari yang menyirami mereka atau tentang burung yang bersiul di pagi hari. Apel merah akan berbagi lelucon renyah, jeruk kuning akan bercerita tentang petualangannya dari kuncup menjadi buah, dan anggur ungu akan menyanyikan melodi-melodi riang berkelompok. "Yang lebih ajaib lagi adalah pohon-pohonnya tidak tumbuh dari tanah biasa, melainkan dari cahaya murni. Akar-akarnya adalah jalinan sinar bulan yang dingin dan lembut, batangnya adalah tiang cahaya matahari yang hangat, dan dahan-dahannya merentang seperti aurora yang menari. Daun-daunnya adalah kelap-kelip kunang-kunang yang abadi, menerangi jalan-jalan setapak yang dihiasi kerikil bercahaya. "Di dunia itu, udara terasa seperti pelukan yang hangat. Sungainya mengalirkan air jernih yang rasanya seperti harapan yang baru lahir. Bebatuan di tepiannya, jika didengar dengan saksama, berdetak berirama seperti hati yang gembira. Bahkan angin yang berhembus pun seolah-olah membawa serta gumaman manis dari kenangan-kenangan indah yang terkumpul dari seluruh penjuru alam semesta. "Konon, tanah ini adalah impian tersembunyi setiap jiwa---sebuah tempat di mana semua beban menjadi ringan, semua luka menemukan obatnya, dan hati yang keras sekalipun akan luluh menjadi kelembutan. Ini adalah tanah di mana semua orang akan menemukan kebahagiaannya sendiri, di mana tidak ada ruang untuk kesedihan yang lama, karena hanya kebahagiaan murni yang diizinkan untuk tinggal dan berakar. "Dan siapapun yang berhasil mencapainya, meski hanya dalam mimpi, akan bangun dengan senyum terukir di bibir dan secercah cahaya negeri ajaib itu, bersemayam abadi di dalam kalbu mereka. "Itulah tanah impian, tempat di mana jiwa-jiwa yang lelah menemukan pelabuhan terakhirnya. Tanah itu bernama... Tanah Kebahagiaan." Dengan senyuman yang dalam, seorang pria lanjut usia menutup perlahan buku di pangkuannya. Sampulnya usang namun penuh kenangan, bergambar seorang gadis yang sedang mengangkat tangannya ke langit malam, dikelilingi oleh cahaya kunang-kunang yang seolah-olah sedang menari dalam ritual. Sinar-sinar kecil itu seperti biduan-biduan samar dari alam mimpi, menari di antara jari-jari gadis itu, seolah sedang menuliskan puisi tanpa kata di atas kanvas gelap langit. Pria itu... atau lebih tepat dipanggil dengan penuh kasih, Kakek itu, memandang keluar jendela. Rambutnya telah sepenuhnya memutih, nyaris gundul, meninggalkan mahkota kebijaksanaan yang halus. Dia sedang bersandar dengan tenang di dinding rumah kecilnya, yang terbuat dari kayu-kayu tua yang mungkin telah bercerita lebih banyak daripada manusia. Di atas pangkuannya yang hangat, terbaring seorang gadis kecil dengan rambut panjang berwarna kuning pucat yang terurai seperti sinar mentari pertama di musim semi. Itu lembut, hangat, dan menjanjikan kehidupan. Warna rambutnya itu seperti dedaunan muda yang baru saja berani mengintip dari ujung ranting, setelah sekian lama tertidur. Gadis kecil itu telah terlelap, napasnya teratur dan damai. Di balik kelopak matanya yang tertutup, tersembunyi pupil mata berwarna senada dengan rambutnya: hijau muda kekuningan yang jernih, seperti kolam di hutan yang memantulkan cahaya musim semi. Matanya seperti jendela menuju dunia di mana tumbuhan-tumbuhan mulai merangkak keluar setelah terkubur lama oleh salju musim dingin. Rumah kayu Kakek itu berdiri kokoh di tepi hutan, menyendiri. Tidak ada tetangga di sekitarnya, hanya pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang, rerumputan yang bergoyang mengikuti irama angin, dan langit luas sebagai atapnya. Namun, kesendirian itu bukanlah kesepian. Itu adalah kemewahan yang tak ternilai. Di sini, Kakek bisa mendengar suara kicauan burung-burung yang saling bersahutan dari dahan ke dahan, bukan deru mesin atau klakson mobil yang memekik kesal karena kemacetan. Sebagai manusia dengan usia lanjut usia, dia hanya menginginkan ketenangan. Selain itu, ada hal yang tak dapat didengar di kota---suara alam. Di hutan, dia bisa mendengar bisikan angin yang membelai daun, gemericik sungai kecil di kejauhan, dan kadang-kadang, lolongan serigala yang samar dari jantung hutan, semuanya merangkai simfoni alam yang jauh lebih merdu daripada suara apa pun di kota. Di dalam kesunyian yang hidup itulah, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, Kakek menatap wajah gadis kecil yang sedang tertidur lelap. Buku dongeng di sampingnya belum selesai dibacakan, dia menghentikannya karena gadis kecil yang menjadi alasannya membaca itu telah terlelap. "Hehe, selalu manjur," suara gumaman Kakek terdengar serak dan hangat, seperti bunyi gesekan dua batang kayu tua. Suaranya mengisi ruang kecil yang harum bau kayu pinus dan buku-buku lama. "Dengan satu, dua halaman saja, matamu sudah berat, dan dunia mimpi pun menyapamu. Kakek jadi bingung, Nak," Kakek berhenti sejenak saat dia membelai lembut rambut kuning pucat itu dengan tangan-tangannya yang telah dihiasi oleh keriput. "Kau ini manusia sungguhan, atau justru makhluk mimpi yang tersesat ke dunia nyata? Makhluk yang tubuhnya teranyam dari embun pagi dan napasnya adalah angin sepoi-sepoi?" Gadis kecil itu hanya balas bernapas dalam-dalam, tenggelam dalam alam bawah sadar di mana kisah-kisah dari halaman pertama tadi mungkin menjelma menjadi petualangan yang sepenuhnya miliknya. Senyum Kakek mengembang, penuh kasih dan sedikit rasa kagum pada keajaiban sederhana ini. Dia mengalihkan pandangannya dari wajah polos sang cucu ke arah jendela kayu yang terbuka. Di luar, hari telah merangkak maju menuju senja. Langit seolah-olah dicelup ke dalam lelehan emas cair dan madu. Sinar mentari sore yang miring menyapu lantai hutan, itu menyulap pepohonan menjadi siluet-siluet yang megah dan menghidupkan debu-debu di udara menjadi partikel emas yang menari-nari. Ratusan kunang-kunang mulai mengeluarkan cahayanya yang tampak indah mempesona. Lalu, dari balik semak-semak dan rerumputan, muncullah nyanyian jangkrik. Bunyinya bergetar, bergema, menyebar dari satu titik ke titik lain, sebelum akhirnya itu menyebar ke seluruh hutan, bagai rangkaian lonceng yang tak terlihat. Bagi banyak telinga di kota, suara itu mungkin hanya dianggap sebagai derau, gangguan yang mengganggu keheningan. Tetapi di telinga Kakek, yang telah lama menjadi pendengar setia bumi, bunyi itu adalah musik paling murni. Dia mendengarkannya dengan mata setengah terpejam, seakan-akan bisa melihat setiap getaran suara itu. "Dengarkan itu," Kakek mengalihkan pandangannya ke arah sang cucu sambil mengelus kepalanya dengan lembut, berbisik kepada gadis kecil yang tertidur, meski tahu dia takkan mendengar. "Suara mereka tulus, Nak. Tak ada pretensi. Mereka tidak berbunyi untuk menyenangkan siapapun, tidak pula untuk berbohong. Mereka hanya menyatakan keberadaan mereka, merayakan hidup, dan memanggil yang lain. Itu adalah nyanyian kebenaran. Itu adalah suara paling jujur."Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Matahari sudah bergeser cukup jauh, tetapi Lola, Lulu, dan Lala tetap duduk di tempat mereka. Waktu seperti berjalan cepat karena perhatian mereka tidak pernah benar-benar lepas dari arena. Berbeda dengan tes ketiga yang terasa membosankan dan membuat mereka hampir mengantuk, tes keempat ini justru membuat mereka sulit berkedip. Kali ini mereka tidak hanya duduk dan menunggu giliran. Mereka bisa melihat langsung bagaimana calon murid lain menggunakan sihir mereka dalam pertempuran melawan monster yang telah disiapkan oleh Akademi. Selama ini, satu-satunya lawan latihan mereka hanyalah Tn. Apel. Dan itu pun terasa berbeda. Tn. Apel sangat jarang menggunakan sihirnya secara serius saat melatih mereka. Dia lebih sering mengandalkan teknik dasar, gerakan tubuh, atau hanya sedikit manipulasi energi. Dulu mereka mengira itu karena dia ingin mereka fokus pada dasar-dasar. Sekarang mereka mulai menyadari kemungkinan lain, mungkin karena sihirnya memang ter
Lala yang mendengar penjelasan sahabatnya itu hanya mengangguk-angguk, dia menunduk dan menatap tangannya sendiri, saling menggosok satu sama lain. Lulu yang menyadari perilaku Lala segera bertanya, "Lala, apa kau tidak apa-apa?" Lala hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah mereka, dia melirik ke arah tengah lapangan dan berkata, "Aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit gugup, setelah dirimu adalah diriku untuk dipanggil. Aku sendiri tidak yakin dengan kekuatanku. Entahlah, melihat monster-monster mengerikan seperti itu dan melihat cara kelian bertarung membuatku pesimis. Kalian tahu, kan? Kekuatan fisikku jauh lebih lemah dibandingkan kalian bahkan setelah latihan bersama. Ya, memang meminum Ramuan juga meningkatkan kekuatan fisik, tapi tetap saja aku merasa gugup." Mendengar hal itu Lola melunakkan wajahnya dan memeluk sahabatnya itu sambil berkata dengan nada manja, "Ah, sahabatku yang satu ini sepertinya sangat mengkhawatirkan tentang tesnya. Lala, bukankah Tn. Apel sudah menje
Para penonton hanya membelalak, mulut mereka terbuka lebar, terkejut melihat pertarungan yang bisa dibilang singkat itu. Tak perlu memakan waktu banyak, kurang lebih hanya satu menit, Lola berhasil menyelesaikan tes keempat dalam kurang dari satu menit! Para penonton kemudian bertepuk tangan kepadanya dan saling berbisik seperti biasanya, bersamaan dengan itu tubuhnya bercahaya dan kemudian cahaya itu berpencar. Sementara itu Lola, dia hanya berdiam diri selama beberapa detik, bukan untuk menikmati sorakan penonton, melainkan karena dia gugup. Dia tidak bisa menikmati sorakan penonton dalam keadaan seperti ini, dia mengingat bagaimana dia hampir tertusuk oleh monster itu. Dia menghela napas dan setelah tenang, dia kembali, berjalan ke lorong dan naik kembali ke bangkunya. Saat dia melewati calon murid yang sedang duduk, dia tahu mereka sedang menatapnya secara diam-diam, entah mereka merasa kagum, takut, atau malah jengkel, merasa diri mereka lebih baik. Saat jaraknya hanya tingga
Melihat kejadian tersebut, para penonton terdiam. Calon murid yang awalnya semangat ingin menujukkan perkembangan mereka kepada para penonton terutama pengajar, kini wajah mereka secara perlahan menjadi lesu, sepertinya semangat mereka yang awalnya membara kini secara perlahan padam. Lola menarik tangannya, terkejut. Tentu saja, dia tidak menyangka akan memiliki Energi Sihir sebesar itu, dia masih mengingat bahwa saat dia pertama kali mengecek Energi Sihirnya, itu berjumlah 50, tapi saat ini itu bertambah menjadi 200. Lola menjadi bingung, dia tidak tahu apakah ini adalah sebuah keberuntungan, apakah dia harus berbahagia, atau apakah ini adalah sebuah kejanggalan. Di satu sisi dia merasa senang melihat perkembangannya, menganggap bahwa semua latihan yang dia jalani akhirnya terbayarkan, tapi di satu sisi dia juga merasa aneh, apakah dia memang "berbakat" hingga bisa mencapai angka itu? Lola sendiri tidak ingin memikirkannya terlalu jauh saat dia berharap bahwa itu semua adalah hasi
Cairan gelap yang saling berganti warna itu masuk ke tenggorokan dan mengalir ke dalam perut mereka. Raut wajah mereka berubah sesaat setelah meminumnya, menjulurkan lidahnya seperti ular, menyipitkan mata, dan mengerutkan dahi. Tubuh mereka bergetar dengan raut wajah yang kecut, mereka kemudian m
Di luar kamar, dia berjalan menuju dapur sambil membenarkan posisi pedangnya. Di dapur yang cukup mewah, sudah ada meja panjang dari kaca yang dikelilingi oleh beberapa kursi kayu yang indah dengan bantalan empuk. Di sana, sudah duduk tiga orang: Pertama, seorang perempuan yang sangat cantik deng
Beberapa jam telah berlalu, hari kemudian menjelang sore, dan tes keempat telah sepenuhnya dilaksanakan oleh semua calon murid. Seperti yang sudah dijelaskan Tn. Apel sebelumnya, tes keempat ini bisa juga dibilang sebagai tes ketahanan sihir, kebanyakan yang lulus adalah calon murid dengan jumlah E
"Itu adalah tes pertama untuk diterima di Akademi ini: pengukuran energi sihir dan elemen." Tn. Apel menjelaskan kepada ketiga gadis kecil sambil duduk di kursi, dia menyilangkan kaki dan tangannya, dan dengan fokus menatap ke arah tengah lapangan. Mereka bertiga hanya mengangguk paham dan melangk
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.