LOGIN"Penglihatanku bagaimana, Nenek Shindy nggak perlu peduli. Karena kita dari sekte yang sama, aku sudah sampaikan semua yang perlu aku katakan. Kalau Nenek Shindy tetap keras kepala, aku juga nggak akan membujukmu lagi."Mendengar perkataan Shindy itu, Suryana tentu saja bisa menebak Shindy pasti masih akan diam-diam menargetkan Tirta. Oleh karena itu, dia juga tidak berkata apa-apa lagi."Hehe."Menanggapi hal itu, Shindy hanya tersenyum sinis.Hanya saja, Shindy sama sekali tidak tahu semua orang bisa menghargai Tirta sebenarnya karena kehendak Afifah. Begitu Suryana melaporkan masalah ini pada Afifah, Shindy pasti tidak akan mampu menanggung akibatnya. Jika bukan karena dia baik hati, mana mungkin Shindy masih bisa begitu sombong.Sejak saat itu, kedua orang itu tidak berbicara dengan satu sama lain lagi. Tatapan mereka sama-sama tertuju pada kabut hitam yang luas dan menutupi wilayah itu dengan pikiran mereka masing-masing."Guru, suamiku seharusnya baik-baik saja, 'kan?" tanya Nova
"Benarkah? Sebelum datang ke sini, aku dengar salah satu paman di sukumu bilang tugas ini awalnya adalah tingkat dua tahap awal. Tapi, karena ulahmu, tugas ini sengaja diubah jadi tingkat tiga tahap akhir dan dibagikan. Yunda, kamu nggak berniat menjelaskan ini padamu?" kata Suryana dengan nada dingin.Suryana sangat memahami kekuatan Tirta, sehingga dia sebenarnya tidak begitu khawatir dengan keselamatan Tirta. Namun, Tirta sudah pergi begitu lama dan masih belum kembali, berarti ada sesuatu yang mencurigakan. Oleh karena itu, dia sengaja menyelidiki masalah ini sebelum berangkat.Maka dari itu, Suryana merasa sangat kesal saat menghadapi tipu muslihat dari Yunda. Tidak peduli betapa menyebalkannya Tirta, Tirta tetap adalah muridnya."Oh?"Mendengar perkataan itu, Shindy juga langsung menyipitkan matanya dan menoleh ke arah Tirta. Bahkan dia sendiri pun ditipu dalam masalah ini, sehingga dia merasa sangat kesal."Apa? Mungkin Bibi Guru yang salah dengar. Aku ... benar-benar nggak tahu
Tirta bahkan sama sekali tidak terpengaruh.Namun, saat Tirta sadar kembali, dia malah terkejut saat mendapati ada dua wanita di dalam pelukannya. Di pelukan sebelah kiri adalah Yumika, sedangkan yang di sebelah kanan tentu saja adalah cucu kandung dari ketua Dinasti Pembunuh itu. Setelah jubah hitamnya lepas, wajah cantik wanita itu memberi Tirta rasa takjub yang sama sekali tidak kalah dibandingkan saat melihat Arshala."Gawat ... aku malah meniduri mereka berdua dalam keadaan tanpa sadar. Ini benar-benar .... Ah. Kalau Kak Yumika sih masih mudah dijelaskan, setidaknya kami dari sekte yang sama. Masalahnya ... bagaimana dengan pembunuh wanita ini ya," gumam Tirta.Menghadapi situasi seperti ini, Tirta sendiri juga tidak tahu harus berkata apa. Terlebih lagi, kedua wanita itu tidak seperti dirinya yang mampu menahan racun dari naga purba jahat itu, sehingga mereka tidak memiliki akal sehat lagi ...."Ah, nggak perlu dipikirkan dulu. Paling-paling setelah mereka sadar nanti, aku akan p
Pada saat yang bersamaan, Yunda juga berharap Yandi percaya pada ucapannya. Saat Yandi pergi mencari orang lain, dia bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri."Huh. Ini nggak perlu. Tapi, setelah aku dapat artefak itu, kamu harus ikut aku ke Dinasti Pembunuh untuk verifikasi secara langsung," kata Yandi dengan tegas yang ternyata sama sekali tidak percaya dengan ucapan Yunda."Baik, aku setuju .... Aku setuju," jawab Yunda dengan terpaksa karena tidak memiliki pilihan lain."Oh ya, masih ada satu pertanyaan. Karena artefak itu bisa menahan siapa pun yang mendekat, jadi bagaimana kita mengambilnya?" tanya Yandi lagi yang tiba-tiba teringat sesuatu."Yandi, tadi kamu sendiri sudah bilang bocah itu pakai teknik rahasia, kultivasinya pasti akan segera habis dan dia juga akan mengalami serangan balik yang besar. Begitu kultivasinya benar-benar habis, dia masih mampu mengendalikan artefak itu?" kata Yunda."Benar juga. Tadi aku terlalu gugup sampai melupakan hal yang begitu pent
"Apa caranya? Kalau kamu nggak bisa bilang jelas dalam hitungan ketiga, aku akan langsung membunuhmu. Lagi pula, aku juga nggak akan bisa hidup lagi, jadi nggak peduli dengan reputasi Dinasti Pembunuh lagi," kata Yandi itu dengan tatapan dingin dan suara rendah serta muram.Buzz buzz buzz!Saat itu, tiba-tiba ada banyak pedang tajam yang berkumpul di udara sampai memenuhi langit dan mengunci Yunda dari segala arah. Semuanya terlihat seolah-olah pada detik berikutnya tubuhnya akan ditusuk-tusuk hingga muncul banyak lubang."Satu ... Dua ....""Yandi, jangan gegabah. Aku ... sudah memikirkannya, kamu nggak perlu begitu," seru Yunda buru-buru tepat saat Yandi hampir meneriakkan angka tiga."Aku juga nggak mau membunuhmu. Cepat bilang!" teriak Yandi.Sebenarnya, semua yang dikatakan Yunda tadi hanya karangan untuk mengulur waktu saja. Namun, di saat genting seperti ini, dia benar-benar berhasil memikirkan sebuah cara."Aku bilang ... aku bilang .... Sebenarnya ... aku mau bunuh bocah itu k
Pembunuh pria di samping berbicara dengan penuh penyesalan. Pada saat yang bersamaan, dia juga merasa heran mengapa kedua naga purba jahat itu tidak memanfaatkan kesempatan untuk menyerang karena tidak mengetahui keberadaan pedang kecil itu."Itu juga nggak masalah. Selama bisa mendengar suara itu, sudah cukup untuk buat Yumika nggak bisa angkat kepala di Istana Samara selamanya," kata Yunda dengan nada tidak rela. Saat ini, naga purba jahat telah menyemburkan racun. Bukan hanya dia tidak berani mendekat, bahkan pembunuh di sampingnya pun tidak ingin mengambil risiko.Jangan lihat kultivasi pembunuh pria itu jauh lebih tinggi daripada naga purba jahat itu. Namun, begitu terkena racun dari naga itu, dia juga akan langsung kehilangan akal sehat.Di tempat lain, pembunuh wanita itu buru-buru hendak mundur ribuan mil saat naga purba jahat menyebarkan racunnya agar tidak ikut terkena dampaknya. "Celaka .... Kenapa ... bisa jadi begini ...."Namun, karena Tirta mengeluarkan pedang kecil itu,
Arata menjawab, "Belum, Axel. Petunjuk yang kamu berikan terlalu sedikit, jadi aku cuma bisa suruh bawahanku untuk memeriksa satu per satu orang Negara Darsia yang turun dari pesawat. Nanti aku baru bisa menyelidiki keberadaan pemuda itu."Arata bertanya, "Apa kamu sama sekali nggak ingat tampangnya
Tanah ini berjarak sekitar 1.500 meter dari puncak Gunung Fozi. Tanah ini terletak di lereng gunung sebelum Gunung Fozi meledak. Bentuknya seperti bukit.Namun, sebenarnya itu adalah anjing hitam yang sudah membuka segelnya. Hanya saja, tubuhnya tertutupi pecahan batu.Ledakan rudal terlalu cepat se
Apalagi, sekarang pasukan Negara Darsia masih berada di area perbatasan maritim. Para pejabat merasa takut.Melihat sikap para pejabat, Sagara marah-marah lagi, "Kenapa? Dasar segerombolan pecundang, masa kalian sama sekali nggak punya ide?"Tiba-tiba, terdengar teriakan panik dari luar ruang tamu.
Suara pasukan Negara Yumai memang sangat keras dan aura mereka sangat mengintimidasi. Namun, mereka hanya pecundang yang lemah bagi Tirta.Sebelum mendekati Tirta, pasukan Negara Yumai sudah dicincang Mantra Pedang Spiritual yang dikerahkan olehnya.Tirta membunuh pasukan Negara Yumai sambil mengham







