MasukBerikut adalah kelanjutan Bab 451 yang dikemas lebih menggemaskan, nakal, sekaligus penuh godaan manis di antara kecemasan dan rasa sakit Devan:BAB 451: Ujian Tubuh Tuan Devan"Alicia... kamu ini berniat membersihkan tubuhku atau mau berbuat mesum, sih?!" sembur Devan dengan wajah memerah padam bagai kepiting rebus.Bagaimana tidak kesal bercampur panik? Setelah dengan tenang membuka baju pasien, jemari lincah Alicia tanpa ragu sedikit pun melucuti celana hingga pria tegap itu kini benar-down pasrah tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh bagian bawahnya!"Tubuhmu ini sudah dua hari tidak tersentuh air, Devan. Kotor, bau keringat, dan harus dibersihkan total," sahut Alicia santai dengan wajah sok polos dan profesional, padahal sudut bibirnya mengukir senyum penuh kemenangan."Tapi tidak perlu sampai polos begini juga, Dokter Alicia!" desis Devan serak, menahan napasnya seraya berusaha menutup area intimnya dengan salah satu paha, walau pergerakan sekecil apa pun langsung memicu
Wajah Devan benar-benar terlipat kesal. Pria itu bahkan sengaja membuang mukanya ke arah dinding, sama sekali tidak mau memandang wajah Alicia yang duduk di samping brankar rumah sakit."Mau sampai kapan marahnya?" tanya Alicia seraya menghela napas panjang, memandangi calon suaminya itu. Kalau Devan sudah merajuk dengan mode sulk seperti ini, membujuknya memang jauh lebih sulit daripada menaklukkan tender miliaran rupiah.Devan tak menjawab. Pria itu hanya mendengus halus dengan bibir yang makin cemberut."Pernikahan kita itu cuma ditunda sebentar, Devan. Bukan dibatalkan," bujuk Alicia lagi dengan suara selembut mungkin."Kenapa harus ditunda?!" sembur Devan akhirnya memutar sedikit lehernya, menatap Alicia dengan raut melas bercampur sebal. "Padahal aku bisa! Aku ini mampu!"Bayangkan saja, Devan sudah berulang kali menghafalkan kalimat ijab kabul di depan cermin sampai tenggorokannya kering, mempersiapkan mentalnya agar tidak gugup di hadapan penghulu. Namun nyatanya, pernikahan i
Jawaban singkat Rebecca bagaikan petir di siang bolong yang seketika meruntuhkan sisa-sisa pertahanan di ruang tamu tersebut.Sofia bernapas lega sambil mengusap dadanya, sementara Thomas menyunggingkan senyum kemenangan tipis.Di sisi lain, Rayan—pria kaku yang malam ini bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi mendapatkan restu keluarga calon istrinya—seketika merasakan beban berat di pundaknya menguap begitu saja. Telapak tangannya yang tadi dingin dan berkeringat perlahan mengendur. Kepercayaan dirinya yang sempat menghilang pun kembali.Hartono terdiam sejenak.Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.Anak muda zaman sekarang memang seperti ini?Mengapa mereka begitu suka membuat keputusan mendadak yang bisa membuat orang tua terkena serangan jantung?"Rebecca, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Kalau boleh Papa tahu, sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Hartono sambil menahan denyutan di pelipisnya."Dua hari yang lalu, Pa..." jawab Rebecca polos.Hartono langs
Keheningan yang amat pekat mendadak mencengkeram ruang tamu kediaman Soedirja. Suasana terasa dingin mematikan, bagai ketegangan sebelum pelatuk senjata ditarik.Letnan Jenderal (Purn.) Hartono Soedirja menatap tajam pria muda di hadapannya. Manik matanya yang berpengalaman puluhan tahun di medan tempur seolah sedang menguliti setiap inci ketulusan dan keberanian Rayan. Di sampingnya, Danu dan Arya masih berdiri tegap dengan raut wajah penuh intimidasi, menunggu perintah sang ayah.Rebecca menahan napas, meremas gaunnya hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup begitu liar hingga kepalanya terasa pening. Antara diterima atau ditolak... nasib hubungan mereka berada di ujung tanduk malam ini.Hartono bersedekap, menyandarkan punggungnya perlahan namun tatapannya tak pernah lepas dari Rayan."Alasan yang bagus," ucap Hartono dingin, suaranya berat dan menggelegar. "Tapi cinta dan kata-kata manis tidak cukup untuk membawanya dalam tiga hari, Rayan. Berikan aku alasan yang masu
Suasana di ruang tamu kediaman Soedirja yang semula kaku dan dipenuhi aura tegang militer, perlahan sedikit mencair begitu Papi Thomas dan Mami Sofia menyapa Hartono dengan senyum hangat khas besan kelas atas.Danu dan Arya tetap berdiri tegap di samping sang ayah dengan tatapan menilai, sementara Sulastri—Mama Rebecca—menyajikan teh hangat. Di sofa tunggal, Rayan duduk tegak lurus dengan posisi sempurna. Wajah tampannya memamerkan ekspresi poker face nan tenang, padahal telapak tangannya di bawah meja meremas celana kain formal miliknya sendiri sampai kusut."Jadi begini, Bang Hartono... Maksud dan tujuan kedatangan saya, istri, dan putra sulung kami, Rayan, malam-malam begini adalah untuk silaturahmi yang sangat krusial," buka Thomas dengan nada bicara yang begitu berwibawa dan penuh percaya diri.Hartono menyunggingkan senyum tipis, menyesap tehnya. "Silaturahmi biasa tentu selalu kami sambut, Thomas. Tapi melihat kamu memboyong Rayan pakai batik begini... jangan bilang putra kali
Panggilan telepon dari Thomas beberapa menit lalu bagaikan detektor ancaman siaga satu di kediaman keluarga Soedirja. Pasalnya, dalam sambungan singkat itu, Thomas sama sekali tidak menjelaskan secara detail apa tujuan kedatangannya. Pria itu hanya mengatakan ada hal yang sangat krusial dan mendesak yang harus dibicarakan malam ini juga, terkait dengan Rayan putranya dan juga Rebecca.Sontak saja, Letnan Jenderal (Purn.) Hartono Soedirja langsung gempar. Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang jenderal menelepon seluruh putra perwiranya untuk pulang dan merapat ke rumah utama malam ini juga.Suasana kediaman berarsitektur megah dan bernuansa militer itu mendadak tegang luar biasa. Rebecca yang baru saja selesai mengganti pakaian santainya dibuat kebingungan setengah mati saat melihat dua abangnya—Danu dan Arya—tiba di rumah dengan seragam dinas yang masih melekat rapi di tubuh tegap mereka."Sebenarnya ada apa ini? Mengapa mereka datangnya mendadak seperti ini? Kita belum ada persia







