LOGINDi tengah riuhnya ucapan selamat dari para tamu undangan, Luna berdiri menyendiri di dekat meja bar. Jemarinya menggenggam tangkai gelas jus dengan erat, namun tatapannya lurus terkunci pada sosok wanita bergaun gelap di seberang ruangan.Sofia.Begitu pandangan mereka berbenturan, keduanya langsung membeku. Ada jeda panjang yang melelahkan, sampai akhirnya Sofia menunduk lebih dulu, mencoba meraup napasnya yang mendadak terasa sesak.Tuk. Tuk.Suara langkah kaki yang ritmis membuat Sofia kembali mendongak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat begitu menyadari Luna sudah berdiri tepat di hadapannya. Hanya berjarak satu meter."Sudah lama sekali," suara Luna memecah keheningan di antara mereka.Suara itu membuat sudut mata Sofia seketika memanas. Masih memiliki ketegasan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Sofia menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. "Iya. Sangat lama."Luna menyunggingkan senyum tipis, menatap lekat guratan usia di wajah sahabat lamanya. So
Pintu besar ballroom terbuka lebar, menghentikan seluruh bisik-bisik para tamu undangan.Alicia melangkah masuk. Kehadirannya malam itu seketika membuat kemegahan dekorasi bernilai miliaran rupiah di sekelilingnya mendadak kehilangan panggung.Di atas panggung utama, Devan Alexander langsung membeku. Sepasang matanya yang biasa dingin dan tajam, kini terkunci sepenuhnya pada sosok Alicia yang berjalan anggun didampingi Rayan. Devan bahkan sempat lupa bagaimana caranya mengembuskan napas.Begitu Alicia tiba di tangga panggung, Rayan menepuk bahu Devan pelan sebelum menyerahkan punggung tangan adiknya. "Jaga adikku dengan baik, Devan. Dia sudah terlalu lama menderita. Aku tidak ingin melihatnya menangis lagi karena pria."Devan menerima jemari Alicia, menggenggamnya mantap. "Tanpa kau minta, Rayan. Nyawaku taruhannya."Rayan tersenyum tipis, lalu melangkah mundur memberikan ruang.Begitu jarak mereka mengikis, Devan menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga A
Devan mengalihkan tatapannya dari panggung, menatap Bara dengan sorot mata yang teramat dalam. "Karena wanita yang akan berdiri di sana bersamaku adalah Alicia."Jawaban ringkas itu sukses membuat Bara bungkam seribu bahasa. Ia tahu persis apa arti di balik kalimat itu. Selama bertahun-tahun mengabdi sebagai asisten sekaligus orang kepercayaan Devan, ia belum pernah melihat sisi rapuh dan manusiawi dari pria ini.Biasanya, Devan selalu tampil sebagai sosok yang tenang, rasional, penuh perhitungan, dan memegang kendali penuh atas emosinya. Namun, begitu nama Alicia masuk ke dalam persamaan hidupnya... semua kemampuan defensif itu seolah meleleh tak bersisa."Aku bahkan merasa jauh lebih tenang saat harus menandatangani kontrak kerja sama bernilai ratusan miliar rupiah di depan para konglomerat, daripada harus mempersiapkan acara pertunangan ini," gumam Devan sembari terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri.Bara ikut tertawa rendah, mencoba mencairkan ketegangan bosnya. "Kalau Nona
Hari itu benar-benar menguras seluruh sisa energi Devan.Sejak fajar menyingsing, ia sudah harus berada di bandara untuk mengejar penerbangan luar kota paling awal. Salah satu perusahaan cabang miliknya mengalami badai operasional yang cukup fatal—jenis masalah pelik yang tidak akan bisa selesai hanya dengan membaca tumpukan laporan di atas meja kerja, atau sekadar melakukan rapat daring lintas layar. Sebagai pemimpin tertinggi, Devan tahu ia harus turun langsung melempar tubuhnya ke medan laga.Dari satu ruang rapat pengap ke ruang rapat lainnya. Dari meneliti ratusan lembar audit hingga melakukan inspeksi mendadak ke lapangan di bawah terik matahari. Dari siang yang memanggang hingga malam yang mendingin.Jadwalnya begitu padat merayap, bahkan waktu makan siangnya pun terlewat begitu saja tanpa sempat ia pusingkan.Namun, bagi Devan, yang paling menyiksa hari itu sama sekali bukan beban pekerjaan yang menumpuk. Melainkan fakta tak kasatmata bahwa sejak pagi buta, ia belum bertemu de
"Jadi, apa ada tempat yang ingin kalian kunjungi lagi setelah ini?" tanya Thomas menawarkan.Sofia menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di bantalan kursi. "Sepertinya tidak ada. Aku ingin langsung pulang ke rumah.""Aku juga ingin langsung pulang," sahut Alicia membenarkan."Sama, aku juga," timpal Rayan ikut menimpali.Ada rasa lega setelah bertemu dengan Tonny. Namun tetap saja ia tidak puas, karena melihat Tonny masih bernapas.Thomas mengangguk paham. "Baiklah, kita langsung pulang."Mobil bergerak mulus meninggalkan area luar lapas yang semakin menjauh di spion. Beberapa menit pertama berlalu dalam keheningan yang teramat nyaman dan menenangkan. Sampai tiba-tiba, di tengah lampu merah, Thomas melirik ke arah Sofia yang sedang sibuk membuka botol air mineral."Ayo nonton bioskop malam ini," ajak Thomas tiba-tiba dengan nada kasual.Uhuk!Sofia yang baru saja meneguk airnya seketika tersedak ringan. Ia buru-buru menyeka bibirnya dengan tisu, menatap Thomas dengan mata membelala
Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu ruang kunjungan lapas, Sofia langsung menarik napas panjang. Ia mengembuskan udara pengap dari dalam sana perlahan-lahan.Entah kenapa, dadanya terasa jauh lebih ringan sekarang. Plong, seolah beban berat yang selama bertahun-tahun ini menggelayuti pundaknya mendadak menguap tanpa sisa. Mungkin karena akhirnya ia melihat dengan mata kepala sendiri betapa mengenaskannya keadaan Tonny sekarang. Atau mungkin juga, karena untuk pertama kalinya ia benar-benar tersadar bahwa rasa cintanya pada pria itu sudah mati total. Yang tersisa hanyalah rasa hambar.Sofia, Alicia, dan Rayan sudah duduk di dalam mobil, sementara Thomas masih tertinggal di belakang. Mereka menunggu hampir sepuluh menit di bawah terik matahari halaman parkir lapas. Barulah sosok pria matang itu muncul dari pintu utama dengan langkah tegap dan santai seperti biasa, seolah tidak baru saja melempar bom mental pada narapidana di dalam sana.Begitu Thomas membuka pintu mobil dan mendu







