Se connecterKeheningan yang amat pekat mendadak mencengkeram ruang tamu kediaman Soedirja. Suasana terasa dingin mematikan, bagai ketegangan sebelum pelatuk senjata ditarik.Letnan Jenderal (Purn.) Hartono Soedirja menatap tajam pria muda di hadapannya. Manik matanya yang berpengalaman puluhan tahun di medan tempur seolah sedang menguliti setiap inci ketulusan dan keberanian Rayan. Di sampingnya, Danu dan Arya masih berdiri tegap dengan raut wajah penuh intimidasi, menunggu perintah sang ayah.Rebecca menahan napas, meremas gaunnya hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup begitu liar hingga kepalanya terasa pening. Antara diterima atau ditolak... nasib hubungan mereka berada di ujung tanduk malam ini.Hartono bersedekap, menyandarkan punggungnya perlahan namun tatapannya tak pernah lepas dari Rayan."Alasan yang bagus," ucap Hartono dingin, suaranya berat dan menggelegar. "Tapi cinta dan kata-kata manis tidak cukup untuk membawanya dalam tiga hari, Rayan. Berikan aku alasan yang masu
Suasana di ruang tamu kediaman Soedirja yang semula kaku dan dipenuhi aura tegang militer, perlahan sedikit mencair begitu Papi Thomas dan Mami Sofia menyapa Hartono dengan senyum hangat khas besan kelas atas.Danu dan Arya tetap berdiri tegap di samping sang ayah dengan tatapan menilai, sementara Sulastri—Mama Rebecca—menyajikan teh hangat. Di sofa tunggal, Rayan duduk tegak lurus dengan posisi sempurna. Wajah tampannya memamerkan ekspresi poker face nan tenang, padahal telapak tangannya di bawah meja meremas celana kain formal miliknya sendiri sampai kusut."Jadi begini, Bang Hartono... Maksud dan tujuan kedatangan saya, istri, dan putra sulung kami, Rayan, malam-malam begini adalah untuk silaturahmi yang sangat krusial," buka Thomas dengan nada bicara yang begitu berwibawa dan penuh percaya diri.Hartono menyunggingkan senyum tipis, menyesap tehnya. "Silaturahmi biasa tentu selalu kami sambut, Thomas. Tapi melihat kamu memboyong Rayan pakai batik begini... jangan bilang putra kali
Panggilan telepon dari Thomas beberapa menit lalu bagaikan detektor ancaman siaga satu di kediaman keluarga Soedirja. Pasalnya, dalam sambungan singkat itu, Thomas sama sekali tidak menjelaskan secara detail apa tujuan kedatangannya. Pria itu hanya mengatakan ada hal yang sangat krusial dan mendesak yang harus dibicarakan malam ini juga, terkait dengan Rayan putranya dan juga Rebecca.Sontak saja, Letnan Jenderal (Purn.) Hartono Soedirja langsung gempar. Tanpa membuang waktu satu detik pun, sang jenderal menelepon seluruh putra perwiranya untuk pulang dan merapat ke rumah utama malam ini juga.Suasana kediaman berarsitektur megah dan bernuansa militer itu mendadak tegang luar biasa. Rebecca yang baru saja selesai mengganti pakaian santainya dibuat kebingungan setengah mati saat melihat dua abangnya—Danu dan Arya—tiba di rumah dengan seragam dinas yang masih melekat rapi di tubuh tegap mereka."Sebenarnya ada apa ini? Mengapa mereka datangnya mendadak seperti ini? Kita belum ada persia
"Mami, selama ini ketika Mami tanya kenapa aku tidak pernah bercerita tentang wanita yang aku cintai, atau wanita yang ingin aku nikahi, itu semua karena aku memang tidak memilikinya. Bukan karena aku ingin menyembunyikannya dari Mami lalu tiba-tiba bicara mendadak begini. Aku benar-benar tidak ada niat membuat Mami terkena serangan jantung," ungkap Rayan dengan jujur dan raut memelas."Maksud kamu bagaimana?" tanya Thomas yang sudah sangat penasaran, memiringkan tubuhnya di sofa."Rebecca itu adik tingkatku waktu kuliah, Pi. Bahkan waktu SMA juga dia adik kelas. Aku kelas dua belas, dia siswa kelas 10. Dulu kami sempat ketemu lagi di universitas, dan kami sangat dekat. Tapi... sempat ada kesalahpahaman di antara kami. Karena itu aku memilih pergi melanjutkan bisnis keluarga di luar negeri," beber Rayan pelan.Sofia tidak menyela. Ia memilih diam mendengarkan terlebih dahulu, membiarkan putra sulungnya menumpahkan seluruh rahasia asmara yang selama ini tersimpan rapat."Dua hari yang
Rayan akhirnya tiba di kediaman Thomas. Langkah kakinya tergesa-gesa masuk ke dalam rumah megah itu, mencari keberadaan sang Mami. Wajah tampan yang biasanya selalu memamerkan ekspresi poker face dingin itu kini tampak menanggung beban yang luar biasa berat."Mami!" panggil Rayan setengah berteriak begitu menemukan Mami Sofia di ruang keluarga.Sofia yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir cokelat hangat langsung menoleh. Sorot matanya memancarkan rasa kesal yang sudah mencapai ubun-ubun.Di sebelahnya, Thomas yang sedang menyeruput kopi hitamnya menghentikan cangkirnya di udara. Pria paruh baya itu tidak menguarkan sepatah kata pun, namun tatapan matanya yang tajam tampak sangat menilai dan memendam tawa melihat tingkah anak tirinya."Ada apa?!" sembur Sofia dengan raut wajah sangat kesal dan marah."M-Mami... pernikahanku bagaimana?" bisik Rayan lirih.Pria itu benar-benar bingung dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Pada akhirnya, hanya kalimat memelas itu yang sanggu
Wajah Devan masih agak pucat. Bagaimana tidak? Setelah berjuang mati-matian melewati masa kritis, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pernikahannya dengan Alicia kembali tertunda! Dan yang lebih menyebalkan lagi, Rayan—abang iparnya yang selama ini paling dingin, kaku, dan tak pernah sekalipun mengungkit masalah asmara—malah mendadak memotong jalur dan menguasai pelaminan yang sudah dipersiapkannya!"Tunggu dulu! Ini tidak bisa begini!" protes Devan dengan nada vokal yang dinaikkan, mencoba duduk lebih tegak meski punggungnya masih ditahan bantal. "Itu acara milikku dan Alicia! Gedung itu, konsep dekorasinya, kateringnya, semuanya aku yang pilih! Kenapa malah Rayan yang enak-enak naik pelaminan?!"Mendengar ocehan putranya, Luna memutar tubuhnya perlahan. Ia melangkah mendekati brankar dan mendelik, menatap Devan dengan tatapan tajam dan menyeramkan—tipe tatapan maut seorang ibu yang sanggup membungkam siapa saja."Biarkan Rayan yang menikah di tanggal itu!" potong Luna tegas, sua







