Mag-log inSembilan puluh sembilan kali rencana pernikahan mereka gagal. Di kegagalan yang ke-100, batas sabar Jane akhirnya hancur tak tersisa. Lelah terus mengalah pada Samuel yang selalu memprioritaskan janda pamannya, Jane memilih menyetujui taruhan gila bersama Jasper, kakak tiri Samuel yang dingin dan ternyata juga seseorang yang sangat berkuasa. Hari itu, Jane tidak membatalkan pesta pernikahannya, melainkan mengganti nama pengantin prianya di pelaminan. "Pernikahan ini tetap berjalan. Gantilah nama Samuel Jake Blackwood dengan Jasper Keith Blackwood di seluruh undangan."
view more"Tolong undur acaranya tujuh hari saja, Jane. Cuma tujuh hari. Aku janji ini yang terakhir."
Suara Samuel di ujung telepon terdengar memohon, namun tak ada lagi sisa kehangatan yang bisa dirasakan Jane dari pria itu. Momen yang sangat familier. Sembilan puluh sembilan kali rencana pernikahan mereka berujung kegagalan selama tujuh tahun terakhir, dan ini adalah rencana yang ke-100.
"Tujuh hari?" ulang Jane datar. Matanya menatap dingin ke arah gaun pengantin putih yang terbungkus plastik transparan di sudut kamar, lalu beralih ke lingkaran merah tebal di kalender mejanya.
"Iya, Sayang. Kerabatku jatuh dari kuda, keadaannya kritis. Aku harus kesana malam ini," selak Samuel cepat, nadanya dipenuhi ketergesaan yang dipaksakan. "Tolong kamu yang hubungi WO ya, Jane. Minta mereka geser tanggalnya."
“Okay, Sam. Aku tahu memang pernikahan ini tak penting buat kamu” jawab Jane malas dan benar-benar tanpa emosi sedikitpun.
“Ayolah sayang, jangan ngambek. Hanya tunda. Bukan tidak jadi! Aku tahu kamu sangat pengertian!” ucap Samuel lagi.
Dulu, Jane adalah tipe kekasih yang sangat penurut. Perempuan manis yang tidak pernah meragukan satu kata pun yang keluar dari mulut Samuel.
Ketika Samuel minta konsep pernikahan outdoor diganti indoor secara mendadak, Jane mengangguk manis.
Ketika Samuel memintanya mengalah demi jadwal pekerjaannya, Jane tersenyum dan mengerti. Bahkan ketika teman-teman kerjanya meledek hubungannya mirip cicilan KPR yang tak kunjung lunas, Jane selalu pasang badan membela pria itu.
Jane cukup bodoh untuk percaya pada alasan mobil mogok, berkas terselip, hingga musibah mendadak. Ia selalu menjadi pihak yang mengalah, merapikan kekacauan, dan menata kembali puing-puing harapannya yang runtuh.
Sampai dua bulan lalu, kebenaran pahit itu terkuak, kerabat yang selalu diprioritaskan Samuel adalah Sonya. Teman masa kecil Samuel sekaligus janda dari mendiang pamannya. Perempuan yang selalu sanggup menggagalkan pernikahan Jane hanya dengan satu panggilan telepon berdalih 'butuh bantuan'.
Dan Jane yang penurut itu... akhirnya habis batas sabarnya.
"Okay, Sam. Tujuh tahun saja bisa aku jalani, apalagi cuma tujuh hari," sahut Jane lambat.
Di ujung sana, Samuel mendesah lega. Ia terdengar sangat puas, seolah sudah menebak Jane tidak akan pernah sanggup menolaknya. "Ah... benarkah, Sayang? Terima kasih! Kamu memang selalu pengertian. I love you, aku janji kali ini tidak akan aku tunda lagi."
"Sama-sama," gumam Jane pelan sebelum memutus panggilan.
Seulas senyum sinis muncul di bibirnya. Aku yakin setelah ini kamu akan memiliki alasan ke-101 untuk menundanya lagi, Sam, batinnya.
Jemari Jane bergerak cepat membuka aplikasi pesan singkat, mencari satu nama di daftar kontaknya; Jasper. Lalu mengetik pesan baru.
[Jane: Kamu menang. Samuel membatalkan pernikahan kami lagi. Sesuai kesepakatan, aku akan menikah denganmu.]
Siapa sebenarnya pria bernama Jasper ini?
Dia adalah kakak tiri Samuel. Pria dingin, berkharisma, dan irit bicara yang hampir tak pernah terlihat akrab dengan adiknya.
Dua bulan lalu, saat kegagalan ke-99 terjadi, Jasper datang dan berakting layaknya seorang peramal. Dengan penuh keyakinan, ia menyodorkan sebuah taruhan gila, Samuel pasti akan membatalkan rencana pernikahan ke-100 ini. Dan jika ramalannya terbukti benar, syarat taruhannya sederhana: Jane harus menikah dengannya.
Layar ponsel Jane kembali menyala, menampilkan satu balasan singkat.
[Jasper: Baik. Sampai jumpa di pelaminan, calon pengantinku!]
Jane memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang, lalu memantapkan hatinya. Selama tujuh tahun ia menjadi boneka penurut yang selalu mengedepankan perasaan Samuel dan mengorbankan harga dirinya. Kali ini, untuk pertama kalinya dalam hidup, Jane akan mengambil kendali penuh atas jalannya takdir.
Tanpa ragu, ia menekan nomor kontak Wedding Organizer. Bukan untuk membatalkan acara seperti yang diminta Samuel, melainkan mengeksekusi rencananya sendiri.
"Mbak, untuk pesta tiga hari lagi, semuanya berjalan dengan baik?," ucapan Jane mengalir tenang begitu suara staff WO menyapa di ujung telepon.
"Eh? Baik, Bu Jane, semua aman terkendali sesuai dengan instruksi, tidak ada perubahan lagi, bukan?" tanya staf WO memastikan.
"Apa masih bisa melakukan perubahan?" tanya Jane.
“Bisa” Jawab staf WO.
"Hanya ada satu perubahan. Tolong ganti nama pengantin prianya di semua cetakan. Mulai dari papan welcome banner di depan pintu ballroom hotel, papan kue pernikahan, sampai kartu undangan digital."
Suara staf WO terdengar terkejut dan ragu di ujung sana. "B-baik... Jadi diganti atas nama siapa, Bu?"
Jane mengusap lembut gaun pengantin putih di depannya, lalu menjawab dengan suara yang sangat mantap.
"Gantilah nama Samuel Jake Blackwood dengan Jasper Keith Blackwood."
“Jadi ini balasanmu setelah semua hal yang kuberikan padamu, Sam?!” jerit Sonya.Sonya melangkah masuk ke dalam bangunan terbengkalai itu dengan langkah cepat. Di belakangnya, dua pria berbadan besar, berkulit gelap, dengan wajah garang juga ikut melangkah masuk.Jane memundurkan langkahnya perlahan hingga punggungnya membentur tiang kayu di belakangnya. Ketakutan baru seketika mencengkeram dada Jane saat melihat dua pria besar itu berdiri di depannya dan Samuel.Namun, tiba-tiba salah satu dari mereka menekan alat komunikasi di telinganya. Pria itu menunduk dan berbisik pada Sonya.Wajah Sonya tampak pucat pasi di bawah cahaya lampu temaram, sementara matanya berkali-kali menoleh ke arah jendela.Sonya merogoh ponsel di sakunya dan matanya melebar seketika.“Mereka sudah menemukan titik lokasi ini! Anak buah Jasper memblokir jalan utama!” teriak Sonya seraya membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.Serpihan plastik dan kaca ponsel itu terpental menghantam lantai
“Sampai kapan kamu mau membiarkan dirimu dibodohi oleh Sonya, Sam?!” tanya Jane pelan. Namun, suaranya memecah keheningan gudang itu.Samuel masih saja duduk terdiam di sana.Sonya telah menghilang sejak tadi. Wanita itu memutuskan memindahkan Jane dan Samuel ke gudang terbengkalai di sisi lain kota, menyerahkan tugas menjaga Jane kepada Samuel sementara dia pergi memantau lokasi penukaran.Jane menggerakkan pergelangan tangannya yang masih terikat erat pada sandaran kursi kayu tempat dirinya duduk. Tatapan Jane tertuju pada gulungan kain yang terbebat seadanya di telapak tangan Samuel, membiarkan darah segar terus merembes dan menetes perlahan ke lantai beton.Bau hanyir yang menyengat bercampur pemandangan lelehan darah itu membuat perut Jane bergejolak. Rasa mual naik hingga ke tenggorokannya. Namun, Jane tidak mau menyerah begitu saja.“Bahkan darah di tanganmu sendiri tidak juga diobati dengan benar,” bisik Jane dengan napas lemah.Samuel terhenyak di tempat duduknya, mengepalkan
“Bagaimana bisa kalian membiarkan Jane dibawa pergi begitu saja?!” amuk Jasper dengan suara menggelegar yang menggetarkan seluruh ruangan.“Mohon maaf, Pak. Keadaan di lokasi sangat kacau akibat alarm kebakaran,” sahut Marco dengan suara bergetar, masih menundukkan kepalanya.“Kami gagal melindunginya. Pelaku bergerak sangat cepat di tengah kepulan asap,” tambah Marion yang berdiri menegang di samping Marco.Marco dan Marion menundukkan kepala dalam-dalam di hadapan atasan mereka. Tubuh kedua pengawal terpercaya tersebut bergetar hebat di bawah tekanan ekspresi murka Jasper.Kepala Jasper langsung berdenyut membayangkan keselamatan wanita yang sangat dicintainya kini berada di dalam cengkeraman orang lain. Pria itu mengepalkan tangannya di ata
“Jangan lakukan itu, Sonya! Jauhkan pisau itu dari leher Jane!” teriak Samuel dengan suara gemetar.Mata Samuel terpaku pada air mata yang perlahan menetes membasahi pipi pucat Jane. Kilatan keputusasaan di mata wanita itu seolah meremas jantung Samuel hingga dadanya terasa nyeri.Tetesan air mata Jane memicu sengatan penyesalan di benak Samuel.Memori masa lalu tiba-tiba saja berputar di kepalanya, membawanya kembali pada setiap kebodohan yang pernah dia lakukan saat Jane masih berada di sisinya.Dia teringat saat-saat di mana dia dengan tega menunda pernikahan mereka berkali-kali. Pikiran dan raganya kala itu sepenuhnya terobsesi pada satu nama wanita yang terus membelenggu jiwanya: Sonya.“Maafkan aku, Jane… aku benar-benar pria paling bodoh di dunia ini,” bisik
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu