LOGINVivian terduduk lemas di atas lantai kamar mandi, bersandar pada dinding kloset yang dingin. Seluruh pasokan darah di wajahnya seolah menguap habis, menyisakan rona pucat pasi yang mengerikan. Sepasang matanya menatap nanar pada benda pipih di genggamannya.Dua garis merah. Jelas dan tegas.Jemari Vivian gemetar hebat hingga alat tes kehamilan itu nyaris merosot dari tangannya. Ia mencoba memutar otak, mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mendapatkan siklus menstruasi. Namun, kepalanya terlalu pening. Yang pasti, sudah berbulan-bulan lamanya ia tidak kedatangan tamu bulanan itu.Vivian menunduk, menatap lurus ke arah perutnya yang kini tersembunyi di balik baju kaus longgar. Perut itu sudah membuncit nyata. Itu artinya, usia janin di dalam rahimnya sudah berjalan beberapa bulan. Bukan lagi hitungan minggu.Vivian selalu minum obat kontrasepsi. Ia sangat yakin obat itu bekerja dengan baik. Namun ada beberapa kali ia lupa minum obat sesuai jadwal. Dipikirnya tidak masalah. Tidak rutin
Khusus hari ini, sipir memberikan sedikit kelonggaran di lorong blok tahanan tersebut. Sebuah televisi tabung berukuran 21 inci diletakkan di atas meja luar, tepat di depan deretan jeruji besi sel, menayangkan siaran langsung pesta pertunangan megah Alicia dan Devan Alexander.Bagi Tonny, kelonggaran ini justru berubah menjadi ruang eksekusi batin yang paling jahanam. Terlebih lagi, ia tidak menontonnya sendirian. Seluruh narapidana yang berada di satu lorong dengannya ikut berkerumun di balik jeruji masing-masing, menatap layar dengan mata berbinar."Wah, gila! Cantik banget anakmu, Ton! Spek bidadari!" seru seorang napi bertato dari sel sebelah, menggelengkan kepala kagum saat kamera menyorot Alicia. "Dapat pengusaha sukses sekelas Devan Alexander pula. Tujuh turunan langsung kaya raya itu!""Iya, Ton. Beruntung banget kamu punya darah daging secantik dan secerdas itu," sahut napi lain dari ujung lorong, ikut menimpali.Mendengar pujian yang bertubi-tubi untuk putrinya, air mat
Begitu sesi dansa Devan dan Alicia selesai, sorot lampu kristal di tengah ballroom secara mengejutkan tidak meredup. Sebaliknya, Thomas melangkah mantap mendekati Sofia, menarik perhatian seluruh tamu undangan yang baru saja hendak bernapas lega.Di depan ratusan pasang mata, pria matang yang biasanya terkenal dingin dan penuh perhitungan itu tiba-tiba menurunkan satu lututnya ke lantai. Ia membuka sebuah kotak beludru kecil, memamerkan seulas cincin berlian yang berkilau mewah."Sofia Hartono, maukah kamu menjadi pelengkap hari tuaku? Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Thomas lantang, lugas tanpa basa-basi.Sofia seketika membeku. Wajahnya memerah sempurna, campur aduk antara haru dan kepanikan yang luar biasa. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang mendadak hening, lalu berbisik dengan nada setengah mendesis, "Thomas! Kamu gila, ya? Kenapa harus melamar di sini? Di depan semua orang?!"Thomas menatap Sofia dengan binar penuh harap, meskipun di dalam hati ia sebenarnya
Suara televisi kecil di sudut ruang kunjungan lapas terasa mendominasi keheningan. Di layar kaca, siaran tunda pesta pertunangan Alicia masih berlangsung, menampilkan kemegahan *ballroom* dan deretan tamu papan atas.Tonny duduk terpaku, sepasang matanya tidak mampu beralih dari layar. Dadanya mendadak terasa dihantam beban berat saat kamera menyorot Sofia. Wanita yang dulu menyembah cintanya, kini berdiri anggun di samping Thomas dengan senyuman lepas. Senyuman seorang wanita yang akhirnya menemukan kebahagiaan sejati."Aku... aku benar-benar kehilangan semuanya," gumam Tonny lirih, menunduk menatap jemarinya yang gemetar.Charlotte duduk di depannya sambil menatap layar televisi."Bagaimana, Papi?" suara Charlotte terdengar datar dan dingin. "Mereka tampak sangat bahagia dan terhormat di atas sana, ya?"Tonny menghela napas berat, matanya kembali menatap wajah Alicia di layar televisi. "Aku senang, Charlotte. Setidaknya, aku masih bisa melihat anakku bahagia. Ternyata selama ini Pap
Di dalam kamar apartemen kecil yang pengap dan sunyi, Vivian duduk meringkuk di depan televisi. Tatapannya kosong, namun air matanya terus mengalir deras membasahi pipi.Layar televisi di hadapannya sedang menayangkan siaran langsung pesta pertunangan Devan dan Alicia. Sorot kamera yang menampilkan kemegahan ballroom dan senyum bahagia Devan malam itu rasanya seperti sebilah pisau yang sengaja digesekkan ke dadanya. Panas dan menyiksa."Kenapa..." bisik Vivian lirih, mencengkeram selimutnya hingga kukunya memutih. "Kenapa kamu bisa sebahagia itu tanpaku, Devan?"Hati Vivian hancur berkeping-keping. Dicampakkan oleh Nicholas tidak pernah membuat dadanya sesak sampai ingin mati seperti ini. Detik itu, Vivian baru tersadar akan satu kenyataan pahit: cintanya yang sesungguhnya ternyata hanya untuk Devan. Nicholas hanyalah mainan ego masa mudanya, sedangkan Devan adalah poros hidupnya.Ia menatap damba pada layar. Tatapan dingin Devan yang dulu hanya akan melunak untuknya, kini sepenuhnya
Di tengah riuhnya ucapan selamat dari para tamu undangan, Luna berdiri menyendiri di dekat meja bar. Jemarinya menggenggam tangkai gelas jus dengan erat, namun tatapannya lurus terkunci pada sosok wanita bergaun gelap di seberang ruangan.Sofia.Begitu pandangan mereka berbenturan, keduanya langsung membeku. Ada jeda panjang yang melelahkan, sampai akhirnya Sofia menunduk lebih dulu, mencoba meraup napasnya yang mendadak terasa sesak.Tuk. Tuk.Suara langkah kaki yang ritmis membuat Sofia kembali mendongak. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat begitu menyadari Luna sudah berdiri tepat di hadapannya. Hanya berjarak satu meter."Sudah lama sekali," suara Luna memecah keheningan di antara mereka.Suara itu membuat sudut mata Sofia seketika memanas. Masih memiliki ketegasan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Sofia menelan ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan. "Iya. Sangat lama."Luna menyunggingkan senyum tipis, menatap lekat guratan usia di wajah sahabat lamanya. So







