Share

Bab 111

Author: Liazta
last update publish date: 2026-01-26 23:41:47

Sejak pagi, ruang kerja Devan terasa terlalu sunyi. Bukan karena tidak ada suara—telepon berdering, pintu dibuka-tutup, langkah kaki para staf berlalu-lalang—melainkan karena satu hal yang biasanya selalu ada… kini tiada.

Alicia.

Biasanya, di jam seperti ini, ia sudah berdiri di dekat meja kerja Devan. Membuka kotak obat kecil, memastikan jadwal minum obat lambungnya tepat waktu. Menatap jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Devan dengan wajah tenang namun tegas.

“Sepuluh menit lagi baru b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Trilasiah
semoga perceraian Devan tidak ada kendala
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 466

    Pintu kamar bridal suite berukir mewah itu akhirnya tertutup rapat. Bunyi klik pengunci pintu seolah menjadi gumpalan ketegangan baru yang mendadak menyergap seluruh sudut ruangan.Aroma terapi lavender dan taburan kelopak mawar merah di atas tempat tidur berukuran king size tak lantas membuat suasana menjadi rileks. Sebaliknya, dua insan yang kini resmi menjadi suami istri itu justru berdiri kaku seperti dua patung es yang dipajang berhadapan.Rayan, seorang pengusaha muda yang begitu dominan dan kaku di dunia bisnis, kini berdiri kikuk di dekat meja rias. Longgaran dasinya sudah ia lepas, namun napasnya masih terasa tertahan. Sepanjang hidupnya, Rayan tidak pernah berpacaran. Dunia kepalanya selama ini hanya berisi angka, grafik saham, dan ekspansi bisnis. Ia benar-benar polos dan buta total mengenai dinamika hubungan asmara—terutama tentang apa yang harus dilakukan di atas ranjang pada malam pertama.Di sisi lain ruangan, Rebecca berdiri meremas jemarinya sendiri di depan lemari. W

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 465

    Setelah Charlotte melangkah pergi membawa kedamaian di hatinya, panggung pelaminan yang tadinya formal kini sepenuhnya dikuasai oleh keceriaan keluarga kecil Thomas."Mami, Papi! Ayo foto! Arabella mau gaya yang ini!" seru Arabella penuh semangat. Gadis kecil itu melompat kecil, lalu memasang pose love besar di atas kepalanya dengan kedua tangan.Sofia tertawa renyah, rasa lelah yang menumpuk selama dua hari penuh seolah menguap begitu saja melihat binar bahagia di mata putri kecilnya. Tanpa ragu, Sofia langsung menirukan gaya Arabella.Thomas yang berdiri di samping istrinya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum terkembang lebar. Pria paruh baya yang biasanya tampil berwibawa dan disegani di dunia bisnis itu kini menurut tanpa bantahan. Ia ikut mengangkat kedua tangannya yang kekar, membentuk lambang hati separuh di atas kepalanya bersama Sofia.Cprekk!"Sekarang gaya yang konyol, Pi! Papi pegang pipi Mami, Mami pegang hidung Papi!" titah Arabella lagi bak sutradara ci

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 464

    Sofia diam sesaat. Matanya menatap lekat-lekat pada raut wajah Charlotte yang penuh penyesalan. Setelah keheningan yang terasa begitu panjang dan menghimpit dada, Sofia akhirnya menganggukkan kepalanya pelan."Aku akan berusaha," ucap Sofia lirih namun tulus."Aku janji tidak akan mengganggu kehidupan Mami lagi... Aku janji akan menjadi anak yang baik," racau Charlotte dengan air mata yang menetes semakin deras membasahi pipinya. "Tapi aku mohon, Mi... jangan benci aku. Aku sungguh tidak sanggup kalau Mami membenciku. Aku benar-benar sayang Mami... Sembilan belas tahun aku dibesarkan Mami Sofia. Aku benar-benar menganggap Mami adalah ibu kandungku sendiri..."Sofia meremas pelan jemari Charlotte yang dingin. "Charlotte... seperti yang kamu katakan tadi, kita semua di sini adalah korban. Aku akan berusaha untuk tidak membencimu."Mendengar bisikan kehangatan itu, pertahanan Charlotte runtuh seketika. Tanpa peduli lagi pada tempatnya berada, gadis itu langsung meluncur turun dari kursin

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 463

    Gedung pesta yang tadinya riuh perlahan mulai tenang. Di sudut ruangan yang agak terisolasi, Charlotte masih duduk berhadapan dengan Sofia. Jemari gadis itu saling bertautan erat, bergetar hebat menahan gejolak yang mendesak dadanya."Mami... ada yang ingin aku sampaikan," ucap Charlotte lirih seraya menundukkan kepalanya. Ada keraguan yang begitu besar dalam raut wajahnya.Sofia menatap gadis di hadapannya dengan tenang. "Katakan saja."Charlotte menelan ludahnya yang terasa begitu pahit. Setiap kata yang hendak ia susun serasa menjadi duri tajam yang menyangkut di tenggorokan, membuatnya tercekik dan kesulitan bernapas."Tonny... memang pria yang sangat brengsek. Sinta... juga wanita yang sangat jahat," tutur Charlotte dengan suara terbata-bata, menekan rasa perih yang teramat sangat di dalam hatinya. Butuh waktu yang sangat lama baginya untuk bisa menerima kenyataan pahit ini. "Hanya saja... mereka tetap orang tua kandungku, Mi."Sofia tetap diam, namun matanya menatap Charlotte de

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   BAB 462

    Di sudut meja area keluarga yang mulai tenang, Charlotte duduk berhadapan dengan Sofia. Riuk-pikuk pesta, denting dentang piring, dan tawa para tamu seolah mengabur di sekitar mereka. Charlotte menatap paras anggun wanita di hadapannya dengan binar mata yang penuh kerinduan—kerinduan seorang anak pada sosok ibu yang pernah memberinya kehangatan tiada tara."Mami... terima kasih," lirih Charlotte dengan suara bergetar.Sofia yang sedang memegang cangkir tehnya menoleh pelan. "Untuk apa?""Karena... karena Mami tidak mengusirku," bisik Charlotte menundukkan kepala. "Dulu... dulu aku begitu keras kepala, tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Tapi sekarang... sekarang aku sudah bisa menerimanya, Mi."Sofia hanya diam. Pikirannya sempat menerawang ke masa lalu yang penuh luka. Sejujurnya, ia tak lagi berminat untuk mengorek lembaran lama yang telah terkubur rapi bersama bahagianya kehidupan barunya sekarang. Namun melihat ketulusan dan kepasrahan di wajah Charlotte, Sofia memilih tetap

  • Dokter, Jangan Gitu Dong   Bab 461

    Aroma cairan antiseptik bercampur wangi Bunga Lili yang memenuhi kamar VIP ruang perawatan tak mampu menenangkan gejolak di dada Devan. Pria jangkung itu berbaring dengan posisi miring di atas bangsal dengan dahi berkerut tajam, matanya tak lepas menatap jam dinding yang berdetik dengan sangat lambat.Pukul empat sore lewat sepuluh menit."Lama sekali..." gumam Devan gusar. Ia berbalik miring ke kanan, meringis sebentar karena bahunya yang diperban sedikit tertarik, lalu berbalik miring ke kiri. Gerakannya persis seperti cacing yang kepanasan."Bukankah di sana banyak artis? Itu artinya banyak aktor tampan? Apa ada yang menganggu Alicia?" Devan semakin gelisah. Sangat tidak tenang! Padahal Alicia pamit pergi ke resepsi pernikahan Rayan dan Rebecca cuma untuk menyapa dan menyerahkan kado mewakili dirinya yang masih terbaring. Tapi ini sudah jam berapa? Kenapa gadis itu belum memunculkan batang hidungnya juga?!"Jangan-jangan di sana dia ketemu cowok lain? Atau jalanan macet terus dia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status