LOGINSuamiku berselingkuh. Padahal aku sendiri tidak pernah disentuh. Kupikir vonis impotennya adalah alasan tak mau menyentuhku. Tapi melihatnya berselingkuh dengan istri sahabatnya, membuatku bertanya. Kesalahan apa yang membuatku tak dicinta? Namun ketika sahabat suamiku juga memergoki mereka dengan tatapan yang sama hancurnya. Kenapa kita tak membalasnya saja?
View More“Suamimu berselingkuh, Aira.”
Aira mendongak, nafasnya tertahan di tenggorokan saat matanya menatap lurus gelapnya manik mata Devan. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap wanita di depannya dengan pandangan yang tidak biasa. Ada kilatan dingin yang bercampur dengan amarah tertahan di balik ketenangannya. Aira tahu pria ini. Sangat tahu, bahkan terbilang sering bertemu karena hubungan pertemanan suaminya dengan pria itu. Tapi, apa alasan pria ini repot-repot datang ke rumahnya, hanya untuk memberitahunya hal sehina itu? "Kamu sedih?" tanya Devan pelan. Aira terkekeh hambar, suara yang keluar dari mulutnya terdengar parau dan sumbang. Sedih? Bagaimana bisa dia menangis untuk pria yang bahkan tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri? Rugi apa dia? Dua tahun. Sudah dua tahun penuh Aira menjalani pernikahan hampa bersama Rian, namun tak sekalipun pria itu menyentuh tubuhnya. Setiap kali Aira mencoba mendekat, Rian selalu menarik diri dengan seribu alasan tak masuk akal–mengaku lelah, tertekan pekerjaan, hingga rela mengatakan bahwa pria itu memiliki kelainan. Aira yang dulu terlalu lugu memercayai cerita konyol itu bulat-bulat. Ia bahkan sering merasa bersalah setiap kali menginginkan kehangatan seorang suami, sampai rela tidur di kamar terpisah demi menjaga harga diri pria yang dicintainya. Dan sekarang, Devan, sahabat suaminya sendiri berdiri di ruang tamunya, membongkar kebohongan busuk itu dalam satu detik. Pria yang mengaku impoten itu rupanya sedang bersenang-senang di luar sana, membagikan gairahnya kepada wanita lain. “Kamu ... bercanda?” bisik Aira menahan getar di bibirnya. Tangannya mengepal kuat di sisi daster rumahan yang ia kenakan hingga buku-buku jarinya memutih. "Saya tidak bercanda," sahut Devan tanpa memalingkan pandangan barang sedetik pun. "Dia di hotel sekarang kalau kamu butuh bukti langsung." Aira memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menguasai dirinya yang nyaris runtuh bukan karena patah hati, melainkan karena rasa muak yang membakar dada. Pria di depannya ini adalah orang yang paling tahu betapa dekat hubungannya dengan Rian sejak zaman kuliah. "Kalau kabar itu benar, apa urusanmu memberitahuku?" hardik Aira tajam. Dia melangkah satu tapak lebih dekat ke arah Devan, menolak terlihat rapuh. "Kamu sahabatnya," lanjut Aira dengan intonasi yang kian menusuk. “Untuk apa kamu membeberkan kelakuan suamiku sendiri padaku? Apa keuntungannya buat kamu?" Devan menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu, menyilangkan kedua lengan di dada yang terbungkus kemeja hitam pekat. Raut wajahnya kaku, tidak ada sedikitpun penyesalan karena telah mengkhianati rahasia sahabat karibnya sendiri. Rahang pria itu mengeras, menikmati sensasi terbakar yang merayapi benaknya setelah beberapa saat yang lalu mengetahui satu fakta menyakitkan dengan mata kepalanya sendiri. Bukannya biasanya sahabat menutupi keburukan sahabat lainnya? Apa ini lelucon? Atau jangan-jangan ini adalah akal-akalan suaminya sendiri yang sengaja mengirim Devan, untuk memancing keributan agar memiliki alasan sah menceraikannya? Pikiran buruk itu terus berputar liar di kepala Aira. Ruang tamu minimalis itu mendadak terasa mencekam dan kekurangan oksigen. Jam dinding berdetik teratur, kontras dengan gemuruh yang mengoyak ketenangan malam mereka. “Saya cuma menyampaikan apa yang perlu kamu tahu," balas Devan singkat, suaranya tetap datar tanpa riak emosi berlebih. Aira mendengus sinis. Devan terkenal sebagai pria dingin dan arogan yang tidak pernah membuang waktu sedetik pun untuk mengurusi drama rumah tangga orang lain. Tapi apa motif tersembunyi hingga pria kaku ini rela mengotori tangannya sendiri malam-malam begini? “Terima kasih informasinya. Tapi aku tidak butuh simpati darimu,” potong Aira tajam, suaranya makin menegang di dalam ruang tamu yang sunyi. ”Seingatku, kita tidak pernah berbicara, Devan. Kenapa tiba-tiba malam ini kamu sepeduli ini dengan nasib rumah tanggaku?” Aira menanti jawaban dengan dada yang naik turun menahan emosi yang kian meluap. Dia ingin tahu permainan busuk apa yang sedang dicoba oleh sahabat suaminya ini. Devan menurunkan kedua tangannya dari dada. Keheningan merayap saat langkah kakinya berderap pelan di atas lantai marmer. Ia melangkah maju dua tapak lalu menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam pupil mata Aira dengan tatapan gelap penuh dendam. “Karena suamimu berselingkuh dengan istriku.”Pintu gudang terbuka pelan, kaki Aira melangkah masuk perlahan menyapu setiap sudut ruangan yang terlihat temaram. Pandangan tajam, menatap sudut gelap tempat persembunyian Maya berada."Maya!" teriak Aira. "Keluar kamu! Jangan terus bersembunyi!" Hening. Tidak ada jawaban sama sekali, hanya desau angin yang menjawab teriakan Aira. Wanita itu terdiam, tangannya mencengkeram kuat senter yang ia genggam."May!" Di balik tumpukan karung, Maya meringkuk ketakutan. Gaun pesta minimnya kini robek di bagian bawah dan kotor oleh noda tanah merah. Riasan tebal di wajahnya luntur bercampur air mata dan keringat.Melihat Aira berdiri tegap di ambang pintu dengan sorot mata dingin tanpa belas kasihan, Maya seketika merangkak keluar dari persembunyiannya."Ai ... Aira ..." bisik Maya gemetar, kedua tangannya terangkat memohon. "Aira, tolong, jangan bunuh aku. Aku minta maaf, Ai ... aku benar-benar minta maaf!"Aira menatap wanita di bawah kakinya itu tanpa berkedip. Tidak ada lagi sisa kehang
Lutut Aira mendadak kehilangan daya. Ia merosot perlahan, bertumpu pada pinggiran meja kayu peninggalan ayahnya. Napasnya terasa sesak, sementara dadanya terasa nyeri akibat ketegangan yang baru saja lewat."Sudah kubilang, jangan langsung lemas begitu musuh pergi," celetuk Kael seraya melangkah santai ke arah jendela, melongokkan kepala untuk memastikan halaman benar-benar bersih. "Akan terlihat menyedihkan bila seperti itu." Aira mendongak, matanya yang basah menatap punggung tegap pria itu dengan bibir gemetar. "Kamu ... kamu hampir mati tertembak tadi, Kael! Bagaimana bisa kamu sesantai itu?"Kael berbalik, menyandarkan pinggulnya ke kusen jendela seraya bersedekap. "Kalau aku panik, apa peluru Devan bakal otomatis berbalik arah? Lagipula, aku tahu dokter cerewet ini ada di dekat sini."Arga yang tengah menginjak puntung rokok di dekat pintu mendengus geli. "Jangan bawa-bawa namaku seolah kau memperhitungkan kedatanganku, El. Kau cuma beruntung Sarah mengancam tidak akan mem
Tubuh Aira menegang hebat saat manik matanya bertabrakan dengan sorot tajam Devan. Wanita itu melangkah mundur, mencari perlindungan di balik tubuh tinggi Kael.Hal itu mengundang bara yang berkobar dalam diri Devan, ia tidak terima wanita yang selama ini ia incar berpihak pada musuh yang berusaha ia tumbangkan bertahun-tahun lamanya."Keluar dari balik punggungnya, Aira," desis Devan dingin, suaranya bergetar menahan luapan murka yang siap meledak. Matanya menyala menatap jemari Aira yang meremas ujung jaket kulit Kael. "Kamu pikir pria itu bisa menyelamatkanmu selamanya, hah?"Aira tidak bergeming. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya di balik bayang-bayang punggung lebar Kael, menatap Devan dengan tatapan penuh kebencian yang dalam."Aku lebih baik mati daripada harus kembali padamu, Devan!" balas Aira lantang, suaranya menggema membelah ketegangan di ruang tamu itu.Devan tertawa sumbang, tawa hampa yang sarat racun kegilaan. "Mati bersamanya? Semudah itu kamu menyerahkan kese
Udara pagi desa Sukasari menyambut kedatangan Aira, luasnya perkebunan teh menjadi saksi betapa besarnya pengaruh keluarga Aira di kampung ini. Tangan Aira terkepal perlahan di atas pangkuan.Mungkin, bila tidak bertemu Rian, dia tidak mungkin merasa seburuk ini menjadi wanita. Mobil hitam Kael berhenti tepat di depan pagar kayu pekarangan rumah Aira. Deru mesin mati, menyisakan desau angin pegunungan yang seharusnya damai. Namun, kedamaian itu pecah seketika oleh dentuman musik disko yang menggelegar dari dalam rumah.Alis Kael terangkat satu, melirik Aira di kursi penumpang. "Penyambutan yang meriah untuk kepulangan sang pemilik rumah."Aira mematung, keningnya berkerut dalam. Matanya menatap halaman depan yang dipenuhi puntung rokok, botol-botol minuman keras berserakan, dan dua mobil yang terparkir di halaman depan."Apa-apaan ini," gumam Aira bergetar, rasa syok seketika menyengat dadanya.Tanpa menunggu Kael, Aira mendorong pintu mobil dan melangkah cepat menaiki anak tangg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore