MasukDi bawah atap musuh terbesar, cinta menjadi senjata yang paling mematikan. Sejak nenek angkatnya meninggal, Chloe Thorne hidup dalam neraka buatan keluarga Thorne yang menyiksanya. Namun, pintu keluar dari neraka itu justru membawanya ke jurang yang lebih dalam. Jason Thorne, ayah angkatnya yang licik, menumbalkannya dalam pernikahan politik dengan Adam Hawk—pria berdarah dingin yang baru saja menghancurkan bisnis keluarga mereka. Tujuannya hanya satu: Chloe harus meracuni Adam Hawk di malam pernikahan mereka jika ia ingin bebas. Adam Hawk menerima kesepakatan itu dengan satu niat: menjadikan Chloe mainan dalam balas dendamnya terhadap keluarga Thorne. Ia bersumpah akan membuat hidup putri keluarga Thorne itu berantakan. Tapi satu bulan di bawah satu atap, rencana mereka hancur total. Adam menemukan luka di balik kecantikan Chloe, dan Chloe menemukan perlindungan di balik kedinginan Adam. Saat racun sudah di tangan dan cinta mulai tumbuh, siapakah yang akan mereka hancurkan? Diri mereka sendiri, atau perasaan mereka?
Lihat lebih banyak"Kau harus membunuhnya tepat di tengah malam sebelum janji suci itu diucapkan, Chloe. Atau kau tak akan pernah menyentuh peninggalan nenekmu selamanya."
Suara dingin Jason Thorne menggema di ruang kerja bergaya gothic yang remang. Aroma debu kertas tua dan tembakau menyengat bercampur dengan hawa dingin malam yang menusuk. Di atas meja kayu mahoni berukir kelam, sebuah dokumen tebal berisi kesepakatan penyerahan Chloe kepada Adam Hawk sudah terhampar dengan tanda tangan basah ber tinta hitam.
Chloe berdiri mematung di tengah ruangan. Gaun sederhana yang melekat di tubuhnya tampak teramat kontras dengan kemewahan interior ruang kerja ayah angkatnya. Matanya tertuju lurus pada sebuah botol kaca kecil berukuran tak lebih dari ibu jari yang diletakkan Jason tepat di samping berkas perjanjian. Cairan di dalamnya jernih, menyerupai air murni, tetapi membawakan aroma keputusasaan yang begitu nyata.
"Tapi... Dia menghancurkan seluruh lini bisnis Thorne Corp hanya dalam kurun waktu tiga minggu, Papa," suara Chloe bergetar, namun ia berusaha keras menatap langsung manik mata pria yang selama ini menjadi sumber dari segala neraka dalam hidupnya. "Papa malah ingin aku masuk ke kediamannya untuk meracuninya? Aku rasa Adam Hawk bukan pria bodoh yang bisa diperdaya dengan mudah."
"Justru karena dia merasa menang, dia akan lengah!" Jason berdiri dari kursi kulit mewahnya. Langkah kakinya yang berat ketukan sepatu kulit mahal terdengar mengintimidasi saat ia berjalan melintasi karpet Persia, mengikis jarak di antara mereka.
Pria paruh baya itu berhenti tepat di hadapan Chloe. Wajahnya yang tirus dan matanya yang cekung memancarkan keserakahan yang berbaur dengan kepanikan luar biasa. Kehancuran kekaisaran bisnis Thorne telah merenggut seluruh kesombongannya, menyisakan sesosok binatang pemburu yang terdesak di sudut ruangan.
"Dia menerima kesepakatan pernikahan politik ini hanya untuk mempermalukan kita secara publik," lanjut Jason dengan nada berbisik yang penuh bisa. "Dia menginginkanmu bukan sebagai seorang istri, Chloe. Pria berdarah dingin itu menginginkan anak gadis keluarga Thorne untuk dijadikan tawanan di bawah kakinya, mainan untuk memuaskan dendam bisnisnya pada keluarga ini."
“Artinya... Seharusnya Amanda yang menikah dengannya...”
Jason merentangkan tangannya, lalu tanpa peringatan, kedua telapak tangannya meremas bahu Chloe dengan amat kencang. Cengkeramannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menusuk tepat di balik bekas luka memar yang belum sepenuhnya pulih di pundak wanita muda itu. Chloe menahan napas, menolak untuk merintih di hadapan pria ini.
"Ingat posisi tempatmu berdiri, anak buangan tak tahu diri. Kau berani menyuruhku menumbalkan anakku sendiri?" bisik Jason tepat di samping telinga Chloe, menyebarkan aroma minuman keras yang pekat. "Nenek Brenda sudah mati. Wanita tua yang memungutmu dari jalanan itu sudah membusuk di dalam tanah! Tak ada lagi dinding pelindungmu di rumah ini."
Nama itu... Nenek Brenda Thorne, berhasil menyengat dada Chloe bagaikan hantaman tajam. Bayangan wajah lembut sang nenek angkat, satu-satunya manusia yang pernah memeluknya dengan hangat di rumah terkutuk ini, melintas sekilas di benaknya. Nenek lah yang menolongnya dari dinginnya panti asuhan, menjadikannya cucu, dan mengajarkannya cara melukis di tengah isolasi kelam keluarga Thorne. Namun sejak wanita tua itu memejamkan mata beberapa tahun yang lalu, hidup Chloe sepenuhnya berubah menjadi abu.
Ia dikurung, diasingkan ke bangunan belakang, dan diperlakukan tak lebih dari pelayan tanpa gaji oleh Jason dan istrinya.
"Nenek meyakinkanku bahwa ada surat wasiat dan hak atas peninggalannya yang ia titipkan padamu," kata Chloe dengan nada datar, berusaha menyembunyikan getaran hebat di dadanya. "Serahkan kotak peninggalan Nenek padaku malam ini, dan aku akan pergi dari rumah ini tanpa menuntut sepeser pun dari harta Thorne."
Jason tertawa keras. Suara tawa sumbang yang dipaksakan dan terdengar mengerikan di ruangan sunyi itu.
"Kau mengajukan penawaran denganku?" Jason melepaskan cengkeramannya di bahu Chloe, lalu berjalan kembali ke meja kerjanya. Dengan gerakan pelan, ia membuka laci tersembunyi di balik meja dan mengeluarkan sebuah kotak kayu berukir mawar kelam. Kotak peninggalan Nenek Brenda yang selama ini dicari-cari oleh Chloe. Kunci kuningan terpasang rapat di bagian depannya.
Mata Chloe membelalak. Tangannya refleks terulur setengah langkah ke depan. "Itu milikku..."
"Ini milikmu jika kau menyelesaikan tugamu," potong Jason tajam. Ia menepuk permukaan kotak kayu itu dengan jarinya. "Di dalam kotak ini terdapat hak penuh atas tanah galeri kuno Brenda dan surat wasiat aslinya. Tapi ingat ini, Chloe... jika kau gagal, atau jika kau mencoba melarikan diri dari kesepakatan ini, aku tidak hanya akan menghancurkan kotak ini. Aku akan menyuruh orang-orangku membongkar makam Brenda dan meratakan sisa-sisa peninggalannya hingga tak berbekas."
"Kau gila!" pekik Chloe, suaranya akhirnya pecah. Air mata yang berusaha ia tahan kini membendung di pelupuk matanya. "Nenek Brenda adalah ibumu!"
"Dia lebih mencintai anak buangan sepertimu daripada memikirkan masa depan bisnis anak kandungnya sendiri!" bentak Jason dengan mata memerah. "Aku tak peduli lagi pada moralitas, Chloe! Thorne Corp sedang menuju kehancuran total. Adam Hawk telah memblokir seluruh rekening bank kami, menyita aset kami, dan dalam empat puluh delapan jam, kita semua akan menjadi pengemis di jalanan!"
Jason mengambil botol kaca berisi cairan bening itu dan memaksakannya ke dalam genggaman tangan Chloe. Dinginnya kaca itu terasa membakar telapak tangan Chloe.
"Racun ini tidak berbau dan tidak berasa. Masukkan ke dalam cangkir teh atau minumannya tepat pada malam pertama kalian. Dalam hitungan jam, jantungnya akan berhenti secara alami tanpa meninggalkan jejak kimia yang mencurigakan bagi autopsi awam," instruksi Jason tanpa wujud rasa bersalah sedikit pun. "Setelah Adam Hawk tewas, kekacauan di Hawk Corp akan memberi waktu bagi Thorne Corp untuk bangkit. Dan saat itulah... kau akan mendapatkan kotak ini beserta kebebasanmu."
Chloe menatap botol kecil di genggamannya. Rahangnya mengeras. Ia terjebak dalam sangkar tak bertepi. Di satu sisi, ada pembunuhan terhadap seorang pria yang bahkan tak pernah ia temui secara pribadi. Seorang taipan bisnis bernama Adam Hawk yang terkenal berdarah dingin, protektif, dan kejam pada musuh-musuhnya.
"Bagaimana jika Adam mengetahui rencana ini sebelum aku sempat mendekatinya?" tanya Chloe pelan.
"Maka kau harus menggunakan paras cantik yang selalu dipuji wanita tua itu," jawab Jason dingin. "Adam Hawk menerima pernikahan ini karena ia pikir ia sedang membeli korban serahan keluarga Thorne yang lemah. Jadilah wanita pasrah yang ia inginkan. Buat dia percaya bahwa kau adalah burung sangkar yang mudah dijinakkan."
Pintu ruang kerja mendadak diketuk dari luar. Tanpa menunggu diizinkan, seorang pria berjas hitam dengan logo seragam pengawal pribadi melangkah masuk.
"Tuan Thorne, mobil pengawal dari Hawk Corporation sudah tiba di gerbang depan," lapor pria itu tegas. "Tuan Adam Hawk meminta Nona Muda Thorne untuk segera dibawa ke penthouse malam ini juga."
Jason tersenyum penuh kemenangan. Sebuah senyuman beracun yang mengakhiri seluruh masa lalu Chloe di rumah ini. Ia menatap Chloe dengan pandangan menghina.
"Pergilah, Chloe. Suamimu sudah menunggu," bisik Jason. "Ingat pesanku. Bawa nyawa Adam Hawk padaku, atau kau akan menyaksikan nama Brenda Thorne terhapus selamanya dari dunia ini."
Chloe memejamkan mata sejenak, meresapi rasa dingin racun di genggamannya yang kini ia sembunyikan rapat-rapat di dalam saku gaunnya. Ketika ia membuka matanya kembali, tak ada lagi rasa takut yang tersisa, melainkan hanya kehampaan yang memotong jalan pikirannya.
Ia berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun, melangkah keluar dari ruang kerja kelam itu menuju takdir barunya di dalam pelukan sang musuh terbesar.
***
Suasana kamar tidur yang tenang mendadak diwarnai ketegangan halus tatkala Mary berdiri dari ranjang, menepuk-nepuk gaun seragamnya yang rapi, lalu melangkah mantap menuju lemari pakaian raksasa berukir elegan di sudut ruangan. Chloe masih duduk terpaku, mencoba mencerna setiap patah kata yang baru saja diucapkan Mary mengenai luka dan masa lalu kelam Adam Hawk. Kebingungan masih menggelayut di benaknya tatkala Mary menarik pintu lemari tersebut hingga terbuka lebar."Nona, kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai," ucap Mary dengan suara profesional namun hangat. "Tuan Adam telah menginstruksikan agar Anda mendampingi beliau untuk makan malam bersama di ruang makan utama malam ini."Chloe tersentak dari lamunannya. "Makan malam... bersama Tuan Hawk?""Benar," Mary tersenyum tipis sembari menunjuk ke arah bagian dalam lemari. "Dan Tuan Adam secara khusus meminta Anda mengenakan pakaian yang sudah disiapkan di sini."Chloe memiringkan kepalanya, perlahan berdiri dan melangkah mend
Langkah kaki Chloe beriringan dengan seorang wanita paruh baya berambut keperakan yang mengenakan seragam pelayan rapi berwarna abu-abu gelap. Mary, nama pelayan tua itu, berjalan dengan postur tubuh yang tenang dan keibuan, jemarinya yang terampil membawakan koper tua kusam milik Chloe tanpa sedikit pun menyiratkan rasa risih atau jijik. Lorong panjang penthouse itu dilapisi karpet tebal bernuansa monokrom yang meredam setiap jejak langkah mereka, melewati dinding-dinding marmer yang dihiasi lukisan abstrak berbingkai logam dingin.Ketika Mary menekan handle pintu kayu mahoni di ujung lorong sebelah kiri, pintu itu terdorong pelan tanpa suara. Suasana di dalam ruangan seketika menyajikan kejutan luar biasa bagi Chloe. Sebuah kamar tidur luas berdesain elegan dengan dominasi warna krem hangat dan pencahayaan lampu temaram menyapa pandangannya. Di tengah ruangan, berdiri kokoh sebuah tempat tidur berukuran king-size berbingkai kayu jati halus, dilapisi sprei katun tebal serta selimut b
Chloe berdiri membatu di tengah ruangan, memeluk koper tuanya rapat-rapat seolah benda kusam itu adalah satu-satunya perisai yang tersisa antara dirinya dan bahaya yang tak kasatmata.Perlahan, sangat perlahan, kursi kulit hitam di depan sana berputar. Gerakannya tenang, presisi, tanpa keraguan sedikit pun. Sosok Adam Hawk akhirnya memanifestasikan dirinya secara utuh di depan mata Chloe. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, mengungkapkan garis otot lengan yang tegap dan jam tangan baja yang memantulkan cahaya remang ruangan. Wajahnya seperti pahatan batu pualam yang dingin, dengan garis rahang yang tajam, hidung mancung yang tegas, serta sepasang mata kelabu gelap yang memancarkan kebencian murni.Chloe sempat terkejut sesaat. Ia tak menyangka jika Adam Hawk yang banyak dibicarakan orang itu, ternyata adalah pria yang cukup tampan.Tatapan Adam menyapu sosok Chloe dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa penasaran,
Kamar kecil di sebuah gudang usang di belakang rumah itu terasa makin sempit malam ini. Chloe memasukkan potong demi potong pakaian sederhananya ke dalam koper tua berbahan kain kusam. Tak banyak yang ia bawa, hanya dua gaun katun rumahan yang pudar, serta satu set cat air tua peninggalan Nyonya Brenda dengan kuas yang bulunya mulai rontok. Keluarga Thorne tidak pernah membiarkannya memiliki barang berharga, terlebih lagi pakaian mahal.Pintu kamar mendadak terdorong kasar hingga membentur dinding kayu. Langkah kaki dengan sepatu hak tinggi menggelegar angkuh menyertai sosok Amanda Thorne yang melangkah masuk. Saudara angkat Chloe itu berdiri melipat dada, mengenakan gaun sutra merah menyala yang berkilau, menatap koper tua Chloe dengan derai tawa meremehkan."Coba lihat anak jalanan yang miskin ini," cemooh Amanda, bibirnya yang berpoles gincu merah terangkat tajam. "Bahkan koper yang kau pakai lebih mirip tas gelandangan. Papa sungguh berbaik hati masih sudi memberikan marga Thorne
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.